Kerajaan Islam di Sumatera

Kerajaan Islam di Sumatera

Kerajaan Islam di Sumatera – Jauh sebelum Indonesia merdeka, berdirilah kerajaan-kerajaan yang tersebar di berbagai daerah di Nusantara. Kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara ini ada yang bercorak Hindu, Hindu-Buddha, Budha dan Islam.

Sejarah Islam di Indonesia salah satunya berawal dari saudagar-saudagar muslim yang umumnya berasal dari Timur Tengah dimana pada awalnya mereka datang ke Nusantara untuk berdagang.

Namun seiring berjalannya waktu, saudagar-saudagar muslim ini selain berdagang, mereka juga menyebarkan ajaran yang mereka anut hingga banyak masyarakat yang kala itu tidak mengenal Islam pada akhirnya tertarik untuk belajar tentang ajaran yang dibawa dan dianut oleh mereka.

Sejarah 4 Kerajaan Islam di Sumatera

Dari sekian banyak saudagar muslim yang menetap di Nusantara, beberapa diantaranya ada yang menikah dengan orang pribumi dan putri keturunan raja di wilayah mereka tinggal.

Berawal dari situ, berdirilah beberapa kerajaan-kerajaan Islam yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, seperti misalnya di Pulau Sumatera.

Beberapa kerajaan yang akan kami bahas disini merupakan kerajaan-kerajaan Islam yang pernah berjaya di Indonesia, tepatnya yang berada di Sumatera.

Kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera yang dimaksud adalah Kerajaan Perlak, Kerajaan Samudera Pasai, Kerajaan Malaka dan Kerajaan Aceh Darussalam.

1. Kerajaan Perlak

Kerajaan Islam di Sumatera
Sumber Gambar: i.ytimg.com

Perlak merupakan sebuah wilayah yang berada di Aceh Timur dimana wilayah ini dahulu banyak ditumbuhi oleh kayu perlak. Kayu perlak merupakan jenis kayu yang sangat bagus untuk pembuatan kapal.

Dengan adanya kayu tersebut menjadikan wilayah ini banyak dikunjungi oleh orang luar yang berniat untuk membelinya. Sebagai salah satu pelabuhan yang maju pada abad ke-8 masehi, Perlak menjadi tempat singgah untuk kapal-kapal dari Arab dan Persia.

Seiring berjalannya waktu, maka terbentuk dan berkembanglah masyarakat Islam yang diawali dan didominasi oleh perkawinan antar saudara muslim dan perempuan pribumi.

Sejarah Singkat Berdirinya Kerajaan Perlak

Perkawinan ini melahirkan keturunan-keturunan muslim dari percampuran antara darah Arab, Persia, dengan para putri-putri yang berasal dari Perlak.

Kerajaan Perlak berdiri pada hari Selasa, 1 Muharram 225 H/840 M, dimana yang menjadi raja pertamanya adalah Sultan Marhum ‘Alauudin Sayyid Maulana ‘Abdul ‘Aziz Syah Zhillullah fil ‘Alam.

Pada saat itu, ibukota daripada kerajaan ini langsung berubah dari Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah. Salah satu alasan mengapa diganti adalah untuk mengenang jasa nahkoda khalifah yang kala itu sudah membudayakan Islam terhadap masyarakat Asia Tenggara yang dimulai dari Perlak.

Sultan-Sultan Kerajaan Perlak

Sementara itu, terdapat 3 sultan yang pernah memimpin Kerajaan Perlak, yaitu:

  1. Sultan Marhum ‘Alauudin Sayyid Maulana ‘Abdul ‘Aziz Syah Zhillullah fil ‘Alam (225-249 H/840-864 M).
  2. Sultan ‘Alauddin Sayyid Maulana ‘Abdurrahim Syah Zhillullah fil ‘Alam (249-285 H/864-888 M).
  3. Sultan Marhum ‘Alauddin Sayyid Maulana ‘Abbas Syah Zhillullah fil ‘Alam (285-300 H/888-913 M).

Adapun masa pemerintahan ketiga sultan diatas disebut pemerintahan Dinasti Sayyid Maulana ‘Abdul ‘Aziz Syah, dimana pada masa pemerintahannya (aliran Syi’ah), aliran ahlus Sunnah wal Jamaah mulai berkembang di tengah-tengah masyarakat dan hal ini tidak disukai oleh Syi’ah.

Hingga pada akhir pemerintahan sultan ke-3 terjadilah perang saudara antara kedua golongan tersebut yang mengakibatkan kematian sultan sampai pada akhirnya selama 2 tahun Kerajaan Perlak tidak memiliki sultan.

Pada tahun 302-305 H/915-918 M, Sayyid ‘Ali Mughayat Syah Zhillullah fil ‘Alam diangkat menjadi sultan. Sekitar 3 tahun, tepatnya di akhir masa pemerintahannya, terjadi kembali perselisihan antara dua golongan hingga mengakibatkan peperangan.

Peperangan ini pada akhirnya dimenangkan oleh pihak ahlus Sunnah wal Jama’ah sehingga sultan selanjutnya yang diangkat untuk memerintah Perlak diambil dari golongan itu yaitu berasal dari keturunan Meurah Perlak asli (syahir Nuwi).

Adapun sultan selanjutnya yang memerintah di Kerajaan Perlak adalah:

  • Sultan Marhum ‘Alauddin ‘ Malik Abdul Qadir Syah Johan Berdaulat (306-310 H/928-932 M).
  • Sultan Marhum ‘Alauddin ‘ Malik Muhammad Amin Syah Johan Berdaulat (310-334 H/932-956 M).
  • Sultan Marhum ‘Alauddin ‘Abdul Malik Syah Johan Berdaulat (334-362 H/956-983 M).

Tepat di akhir pemerintahan Sultan Abdul Malik (sultan ke-3), terjadi kembali peperangan diantara kedua aliran. Peperangan ini terjadi dalam kurun waktu 4 tahun hingga pada akhirnya diakhiri dengan perdamaian yaitu dengan membagi wilayah kerajaan menjadi 2 bagian.

Pembagian 2 wilayah ini diberi nama Perlak pedalaman untuk golongan ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Perlak pesisir untuk golongan Syi’ah.

Sementara itu, Sultan Marhum ‘Alauddin ‘Abdul Malik Syah Johan Berdaulat (662-692 H/1263-1292 M) adalah raja/sultan terakhir dari Kerajaan Perlak.

Setelah sultan wafat, Kerajaan Perlak kemudian disatukan dengan Kerajaan Samudera Pasai tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik Al-Zahir putera Al Malik Al-Saleh.

2. Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Islam di Sumatera
Sumber Gambar: www.artisanalbistro.com

Terdapat 2 sumber yang menjelaskan mengenai Kerajaan Samudera Pasai, berikut akan kami jelaskan dengan singkat dan jelas.

Sumber ke-1

Sumber yang pertama mengatakan bahwa Kerajaan Samudera Pasai berdiri pada tahun 433 H/1024 M, dimana pendirinya adalah Meurah Khair yang sebelumnya telah menjadi seorang raja dengan gelar Maharaja Mahmud Syah. Maharaja Mahmud Syah memerintah sampai tahun 470 H/1078 M.

Sepeninggal beliau, pemerintahannya dilanjutkan oleh:

  • Maharaja Mansur Syah, yang berkuasa pada tahun 470-527 H/1078-1133 M.
  • Maharaja Ghiyasyuddin Syah. Beliau merupakan cucu dari Meurah Khair.  memerintah pada tahun 527-550 H/1133-1155 M.
  • Maharaja Nuruddin atau Meurah Noe atau Tengku Samudra atau lebih dikenal dengan nama Sultan Al-Kamil, memerintah pada tahun 550-607 H/1155-1210 M.

Sultan Al-Kamil merupakan sultan terakhir dari keturunan Meurah Khair karena setelah kewafatannya, kerajaan Islam di Sumatera menjadi rebutan para pembesar, hal ini karena tidak lagi mempunyai keturunan.

Dalam kurun waktu 50 tahun, Samudera Pasai berada dalam konflik hingga pada akhirnya Meurah Silu mengambil kekuasaan di kerajaan tersebut.

Dasar rujukan berasal dari dinastinya yang sudah memerintah Kerajaan perlak lebih dari 200 tahun hingga kemudian disatukan dengan Kerajaan Samudera Pasai di masa Sultan Muhammad Al-Zahir (1289-1326 M).

Sumber ke-2

Berbeda dengan sumber pertama, sumber kedua berasal dari berita dari Cina dan catatan Ibnu Batuttah yaitu seorang pengembara dari Maroko yang menyebutkan bawa Kerajaan Samudera Pasai berdiri pada tahun 1282 M dimana pendirinya adalah Al-Malik Al-Saleh.

Pada saat itu beliau mengirim utusan ke Quilon yang terletak di pantai barat India. Disana beliau bertemu dengan para duta dari Cina. Diantara beberapa duta ini, terdapat beberapa duta yang dikirim yaitu Husein dan Sulaiman (nama-nama muslim).

Selain itu, pada saat Marcopolo mengunjungi Sumatra, tepatnya di tahun 1346 M, menyebutkan bahwa di tempat yang ia kunjungi, Islam sudah sekitar 1 abad disiarkan dengan mazhab yang diikuti adalah mazhab Syafi’i.

Waktu itu, Samudera Pasai menjadi pusat belajar agama Islam dan dijadikan sebagai tempat berkumpulnya para ulama dari berbagai negeri untuk membicarakan masalah keagamaan dan masalah keduniaan.

Kala itu, Ibnu Battutah mengatakan bahwa kerajaan Samudera Pasai juga memiliki peran yang cukup penting dalam meng-islam-kan Jawa dan Malaka.

Sultan Al-Malik Al-Zahir adalah seorang pecinta teologi serta senantiasa memerangi orang kafir dan menjadikannya untuk memeluk agama Islam.

Basis perekonomian Kerajaan Samudera Pasai ini lebih tertuju ke pelayaran dan perdagangan sehingga terlihat sebagai kerajaan yang makmur.

Salah satu alasan disebut sebagai kerajaan yang makmur adalah karena dilihat dari segi geografis dan perekonomian pada waktu itu kerajaan ini merupakan daerah penghubung antara pusat perdagangan yang ada di salah satu kepulauan di Indonesia, India, Cina dan Arab.

Sumber kedua ini juga menyebutkan bahwa Kerajaan Samudera Pasai telah dikalahkan oleh Kerajaan Majapahit sehingga menjadi bagian dari kerajaan tersebut.

Namun sebelum tentara Majapahit pergi meninggalkan Samudera Pasai untuk kembali ke Jawa, para pembesar Majapahit akhirnya bersepakat untuk mengangkat salah seorang raja dari bangsawan Pasai yang dipilih dan dipercaya mampu memerintah kerajaan.

Adapun raja yang ditunjuk adalah Ratu Nurullah atau Malikah Nurullah binti Sultan Al-Malik Al-Zahir.

Sedangkan Ratu Nurullah mangkat pada tahun 1380 M, bertepatan dengan masa pemerintahan Kerajaan Majapahit pada kala itu dipimpin oleh Raja Hayam Wuruk.

Pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, Majapahit sedang dalam puncak kejayaannya, hal ini karena dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada.

Raja-Raja yang Memerintah Kerajaan Samudera Pasai

Beberapa raja pernah menduduki singgasana tertinggi di Kerajaan Samudera Pasai, diantaranya adalah:

  1. Sultan Al-Malik Al-Saleh. Beliau di daulat sebagai raja pertama Kerajaan Samudera Pasai yang memerintah pada tahun 1297 M.
  2. Muhammad Malik Al-Zahir, menjadi raja kedua Kerajaan Samudera Pasai, dimulai pada tahun 1297-1326 M.
  3. Muhammad Malik Al-Zahir II, menjadi raja ketiga dimulai pada tahun 1326-1345 M.
  4. Manshur Malik Al-Zahir, adalah seorang raja yang memerintah Kerajaan Samudera Pasai pada tahun 1345 M.
  5. Ahmad Malik Al-Zahir, Raja Kerajaan Samudera Pasai di tahun 1345-1383 M.
  6. Zainal Abidin Malik Al-Zahir, menjadi raja Kerajaan Samudera Pasai selanjutnya, tepatnya di tahun 1383-1405 M.
  7. Nahrasiyah di tahun 1405-?.
  8. Abu Zaid Malik Al-Zahir, menjadi raja Kerajaan Samudera Pasai dimulai pada tahun ?-1455 M.
  9. Mahmud Malik Al-Zahir, di daulat menjadi raja pada tahun 1455-1477 M.
  10. Zainal Abidin, menduduki singgasana raja Kerajaan Samudera Pasai dimulai pada tahun 1477-1500 M.
  11. Abdullah Malik Al-Zahir, raja Kerajaan Samudera Pasai dari tahun 1501-1513 M.
  12. Zainal Abidin, menjadi raja terakhir yang memerintah Kerajaan Samudera Pasai, tepatnya pada tahun 1513-1524 M.

Di masa raja terakhir, tepatnya pada tahun 1521 M, Samudera Pasai dikuasai Portugis selama 3 tahun. Pada tahun 1524 M, penguasaan Kerajaan Islam Samudera Pasai ini digantikan dengan Kerajaan Aceh Darussalam.

3. Kerajaan Malaka

Kerajaan Islam di Sumatera
Sumber Gambar: 4.bp.blogspot.com

Berdasarkan sejarah melayu, terdapat seseorang yang Parameswara. Parameswara adalah seorang keturunan dari Sang Nila Utama (anak Sang Sapurba) dari Kota Palembang yang kemudian dinikahkan dengan Sri Beni Putri.

Sri Beni merupakan permaisuri dari Iskandar Syah ratu Bintan yang sebelumnya hijrah ke Tumasik hingga diangkat  sebagai raja bergelar Tribuwana.

Di masa kekuasaan Parameswara ini, datanglah serangan dari Majapahit yang menjadikan rajanya tersudut dan akhirnya melarikan diri ke Semenanjung Melayu (Trengganu).

Beliau hidup disana sekaligus mendirikan sebuah kerajaan yang diberi nama Kerajaan Malaka. Sekitar tahun 1400 M dan sesudah masuk Islam, beliau memiliki gelar Megat Iskandar Syah, meninggal pada tahun 1424 M.

Sepeninggal beliau, digantikan oleh Sultan Muhammad Syah (1414-1444 M) dan digantikan kembali oleh Sultan Mahmud (1511 M), kemudian Malaka jatuh ke tangan Portugis.

Hingga akhirnya beliau mengungsi ke Pahang dan tinggal di Muara Pulau Bintan. Berawal dari sini beliau terus berusaha untuk melakukan serangan balik ke Malaka namun selalu gagal.

Tepatnya pada bulan Oktober 1512, terjadilah serangan terhadap Bintan oleh tentara Portugis yang dipimpin oleh Albuquerque. Namun pertahanan Bintan terlalu kuat sehingga mengakibatkan Albuquerque mengalami kekalahan.

Penyerangan dari Portugis selanjutnya terjadi pada tahun 1523 yang dipimpin oleh Henriquez dan di tahun 1524 dimana pemimpinnya adalah De Souza, dua penyerangan beruntun tersebut juga mengalami kekalahan.

Namun naas, pada tahun 1525 M, Bintan berhasil dikalahkan oleh Portugis setelah sebelumnya bersekutu dengan Lingga hingga pada akhirnya Sultan Mahmud mengungsi ke Johor.

Meskipun demikian, Sultan Mahmud selalu berusaha untuk dapat kembali merebut Malaka dari tangan Portugis, namun sampai ajal menjemput, usahanya tidak pernah berhasil.

Sampai pada akhirnya, karena usaha putranya, Kerajaan Melayu sukses dilanjutkan dan menjadikan Johor sebagai pusatnya. Berstatus sebagai Sultan Johor pertama, beliau menggunakan gelar Sultan Alaudin Riayat Syah II (1528-1564 M).

Akan tetapi pada masa pemerintahan Sultan Ibrahim (1677-1685 M), pusat kerajaan dipindahkan ke Bintan pada tahun 1678 M.

4. Kerajaan Aceh Darussalam

Kerajaan Islam di Sumatera
Sumber Gambar: upload.wikimedia.org

Tepat pada akhir abad ke-15, arus penjajahan barat ke timur terbilang sangat ramai, khususnya penjajahan barat, yaitu Kristen dari barat terhadap timur Islam.

Diantara bangsa Eropa Kristen yang saat itu sangat berambisi untuk menjajah bumi Nusantara adalah Portugis. Setelah mereka menguasai Goa di India, target selanjutnya adalah Malaka.

Hingga kemudian Malaka dikuasai oleh Portugis pada tahun 1511. Sesudah Malaka jatuh, kemudian Portugis mengatur rencana tahap demi tahap.

Beberapa langkah/cara yang diambil adalah dengan mengirim kaki tangannya ke daerah pesisir utara Sumatra dengan maksud untuk memicu kekacauan dan juga perpecahan sehingga diharapkan dapat memicu perang saudara.

Langkah kedua adalah Portugis bersiasat untuk langsung melakukan penyerangan dan seterusnya menetap serta memaksa raja yang sudah menyerah untuk menandatangani kontrak pemberian hak monopoli dagang.

Sejarah Kerajaan Aceh Darussalam

Sampai pada akhirnya Portugis berhasil memaksa raja-raja dari Kerajaan Islam Jaya, Samudera Pasai dan Islam Pidie untuk menandatangani persetujuannya. Hal itu terjadi menjelang akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16.

Berawal dari situ, muncullah seorang tokoh yang berusaha untuk mempersatukan 6 kerajaan Islam seperti Perlak, Samudera Pasai, Pidie, Indra Purba, Tamiang dan Indra Jaya.

Bertepatan pada tahun 1514, Ali Mughayat Syah dilantik sebagai Sultan (1514-1530 M) dengan nama kerajaannya yaitu Kerajaan Aceh Darussalam.

Wilayah kerajaan ini meliputi Aru sampai Pacu di pantai utara dan Jaya sampai ke Barus di pantai barat dengan ibu kotanya adalah Banda Aceh Darussalam.

Beliau selalu menetapkan satu tekad yang kuat untuk mengusir penjajah Portugis dari Sumatra Utara hingga terjadilah beberapa pertempuran dengan tentara Portugis. Pertempuran-pertempuran ini terjadi pada tahun 1521, 1526, 1528 dan 1542 M.

Akhirnya tentara Portugis berhasil ditaklukkan melalui beberapa pertempuran di berbagai daerah. Sultan Ali Mughayat pada akhirnya meninggal pada hari Selasa, bertepatan dengan tanggal 12 Dzulhijjah 936 H/7 Agustus 1530 M.

Setelah membangun pondasi yang cukup kuat untuk kerajaan Aceh Darussalam, beliau juga menciptakan bendera kerajaan yang diberi nama Alam Zulfiqaar (bendera cap pedang) berwarna merah darah dengan pedang berwarna putih.

Kerajaan Aceh Darussalam mengalami masa puncak pada kepemimpinan Sultan Ali Mughayat Syah, Sultan Alaiddin Riayat Syah II, Sultan Iskandar Muda Darmawangsa Perkasa Alam Syah dan Sultan Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan.

Terhitung setelah sepeninggalan raja-raja tersebut, kerajaan ini mengalami masa suram yang terjadi secara terus menerus. Sementara itu, kerajaan ini menjadikan Islam sebagai landasan dasar negara.

Tercatat, terdapat sekitar 31 raja yang pernah memerintah dimana raja terakhirnya adalah Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah (1870-1904 M).

Nah, itulah pembahasan mengenai sejarah kerajaan Islam di Sumatera. Sebagai bangsa Indonesia, terutama kita yang beragama Islam, maka dengan mengetahui sejarah Islam di masa lampau merupakan suatu hal yang wajib untuk diketahui.

Karena bagaimanapun juga, Islam tidak akan berkembang sampai hari ini jika tanpa adanya kerajaan-kerajaan Islam baik itu kerajaan Islam di Sumatera atau di daerah lain di Indonesia.

Sejarah Islam di Indonesia

Sejarah Islam di Indonesia

Sejarah Islam di Indonesia – Islam merupakan agama terbesar yang dianut oleh bangsa Indonesia. Hal ini karena di dalam pertumbuhannya terbilang cukup pesat, cepat dan masif. Selain itu, Indonesia merupakan negara dengan penduduk pemeluk agama Islam terbesar di dunia.

Sejarah masuknya Islam di Indonesia ini melalui proses yang cukup panjang. Agama Islam pertama kali lahir di kota Mekkah, Arab Saudi. Sejak zaman Nabi Muhammad SAW, Islam telah disebarluaskan ke berbagai negeri.

Bahkan setelah Nabi Muhammad SAW wafat, syi’ar Islam tetap terus dilakukan oleh para khalifah dan para pemimpin Dinasti Islam sepeninggal Rasulullah SAW.

Baca Juga: Keragaman Budaya Indonesia

Sejarah Masuknya Islam di Indonesia

Agama Islam pertama kali dikenalkan di Nusantara yaitu terjadi pada masa Dinasti Umayyah yang mendirikan pangkalan dagang pertama yang terletak di pantai barat Sumatra.

Sejak dahulu, Indonesia terkenal sebagai negara yang kaya akan rempah-rempah sehingga banyak para pedagang dari berbagai penjuru dunia yang berkunjung ke Indonesia.

Para pedagang ini memiliki latar belakang kepercayaan yang berbeda-beda, salah satunya adalah pedagang yang berlatar belakang beragama Islam.

Pedagang yang menyebarkan agama Islam dan kebudayaannya di Indonesia ini melalui proses yang damai sehingga para raja dan rakyatnya dapat menerimanya dengan baik.

Selain melalui jalur perdagangan, Islam masuk ke Indonesia juga melalui beberapa jalur lainnya, seperti jalur perkawinan, pendidikan dan budaya.

Pada umumnya, terdapat tiga teori yang menjelaskan awal mula Islam masuk ke Indonesia, yaitu teori Gujarat, teori Arab dan teori Persia.

Teori Gujarat

Sejarah Islam di Indonesia
Sumber Gambar: 3.bp.blogspot.com

Teori pertama masuknya Islam pertama kali adalah teori yang berasal dari Gujarat India yang dikemukakan oleh para peneliti di Belanda, seperti Snouck Hurgronje, Pijnappel dan Moquette.

Berdasarkan teori ini diceritakan bahwa pada masa itu orang-orang Islam yang berasal dari Arab melakukan perjalanan ke Gujarat, India.

Didaerah tersebut, Islam dengan mazhab Syafi’i berkembang dimana yang mengajarkannya adalah orang-orang tersebut yang berasal dari Arab.

Setelah itu, orang-orang Gujarat membawanya ke Indonesia. Proses ini terjadi dengan damai karena pada masa itu mereka memiliki hubungan dagang dengan Nusantara sehingga Islam sedikit demi sedikit menyebar diantara para kaum pedagang.

Hal ini juga yang menjadi alasan mengapa mazhab di Indonesia dan Gujarat memiliki kesamaan yaitu mazhab Syafi’i.

Selain itu, Moquetta juga menulis bahwa masuknya Islam ke Indonesia dari Gujarat ini diperkuat dengan ditemukannya batu nisan miliki Sultan Malik Al-Saleh di Pasai. Batu nisan dengan model serupa ini ternyata juga ditemukan di Semenanjung Malaya dan Gresik.

Teori Mekkah

Sejarah Islam di Indonesia
Sumber Gambar: static.wixstatic.com

Sementara itu, teori Mekkah menyebut bahwa Islam masuk ke Nusantara terjadi pada abad pertama Hijriah atau pada abad ke-7 Masehi. Pada teori ini, seorang Ulama Buya Hamka menjelaskan bahwa Islam berasal dari tanah Arab atau Mesir yang dibawa oleh para kaum musafir yaitu kaum Sufi.

Ternyata kaum Sufi juga pernah diungkapkan oleh A. H Jhons bahwa mereka sering mengembara ke berbagai tempat di dunia untuk mendirikan suatu kumpulan atau tarekat.

Buya juga menuliskan dalam bukunya Membongkar Kejumudan: Menjawab Tuduhan-Tuduhan Salafi Wahhabi. Didalam bukunya ini menjelaskan bahwa Gujarat merupakan tempat singgah sementara para pedagang yang berasal dari Arab sebelum akhirnya masuk ke Indonesia.

Teori Persia

Sejarah Islam di Indonesia
Sumber Gambar: assets-a1.kompasiana.com

P.A Hosein Djajadiningrat menjelaskan bahwa teori sejarah Islam di Indonesia dari Persia berdasarkan alasan banyaknya persamaan budaya Islam Indonesia dengan Persia.

Beberapa contohnya adalah seperti peringatan 10 Muharram atau Assyura dalam memperingati syahidnya Husain terdapat di kedua negara tersebut. Selanjutnya adalah dalam penggunaan ejaan membaca huruf Arab antara orang Indonesia dan Persia juga memiliki kesamaan.

Kesamaan lainnya adalah terdapat pada ajaran Syaikh Siti Jenar dengan ajaran sufi Iran Al-Hallaj yang berkembang dalam bentuk puisi. Adapun teori ini juga menjelaskan bahwa Islam Persia membawa pengaruh di dalam perkembangan mazhab Syafi’i yang dianut oleh umat muslim di Nusantara.

Perkembangan Islam di Nusantara semakin pesat dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam. Nah, perkembangan kerajaan di Nusantara ini berlangsung antara abad ke-13 hingga abad ke-18 dimana kerajaan-kerajaan ini dibagi berdasarkan lokasi pusat pemerintahannya yaitu di Sumatra, Jawa, Sulawesi dan Maluku.

Berdasarkan Sejarah, kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah Kerajaan Perlak, disusul dengan berdirinya Kerajaan Samudera Pasai dan beberapa kerajaan-kerajaan Islam lainnya yang pernah berdiri dan berjaya di Indonesia.

Kerajaan-kerajaan tersebut adalah Kerajaan Demak, Kerajaan Banten, Kerajaan Mataram Islam, Kerajaan Makassar, Kerajaan Tidore dan Kerajaan Aceh Darussalam.

Demikianlah pembahasan singkat mengenai masuknya Islam di Indonesia berdasarkan beberapa teori. Semoga dapat menjadi referensi bagi kamu yang saat ini ingin lebih jauh mengetahui tentang peradaban keberadaan dan sejarah Islam di Indonesia.

Tradisi Budaya Jawa Tengah

Tradisi Budaya Jawa Tengah

Berbicara tentang keragaman budaya Indonesia memang tidak akan ada habisnya. Hampir disetiap provinsi yang ada di Indonesia memiliki budaya yang berbeda-beda. Salah satu provinsi yang kaya akan budayanya adalah Jawa Tengah. Tradisi budaya Jawa Tengah dapat ditemukan di tiap-tiap kabupaten/kota didalamnya.

Kebanyakan tradisi di Jawa Tengah ini tergolong cukup unik yang sepantasnya harus kita lestarikan agar warisan budaya dari nenek moyang kita akan tetap terjaga dan lestari.

Diantara tradisi budaya Jawa Tengah ini melibatkan banyak orang untuk melakukannya. Nah di kesempatan kali ini, kita akan bahas bersama tradisi budaya Jawa Tengah lengkap berikut dengan gambarnya.

19 Tradisi Budaya Jawa Tengah Lengkap dengan Gambar dan Penjelasannya

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: i.ytimg.com

Tradisi upacara adat merupakan suatu kegiatan atau ritual yang dilakukan oleh suku atau kelompok masyarakat. Hal ini karena kebiasaan atau kebudayaan tersebut dilakukan secara turun temurun serta bersumber dari nilai-nilai nenek moyang mereka.

Upacara adat seharusnya diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi agar dapat bertahan dan tidak punah di era modern seperti sekarang ini.

Inilah pembahasan lengkap mengenai tradisi budaya Jawa Tengah yang harus dilestarikan dan dijaga bersama-sama.

1. Tradisi Syawalan

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: fajarbanten.com

Tradisi budaya Jawa Tengah yang pertama adalah tradisi Syawalan. Tradisi Syawalan di Jawa Tengah biasanya diisi dengan berbagai ragam kegiatan oleh warga.

Beberapa diantaranya mengisi dengan mengadakan doa bersama di tempat ibadah seperti masjid atau mushola, mengadakan pengajian akbar dan lain sebagainya. Tradisi Syawalan ini sebenarnya sudah berlangsung lama di tengah-tengah masyarakat kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Asal usul tradisi Syawalan di Jawa Tengah ini bermula pada tanggal 8 Syawal. Dimana masyarakat Krapyak berhari raya kembali setelah melakukan puasa 6 hari. Pada kesempatan ini, mereka membuat acara “open house” yaitu menjamu atau menerima tamu baik itu dari luar desa atau kota.

Hal ini diketahui oleh masyarakat diluar desa Krapyak, sehingga orang-orang diluar desa Krapyak tidak melakukan silaturahmi pada hari-hari antara tanggal 2-7 di bulan Syawal dan menggantinya di tanggal 8 Syawal.

Seiring berjalannya waktu, hal tersebut semakin berkembang luas di tengah-tengah masyarakat sehingga terjadilah tradisi Syawalan hingga seperti sekarang ini.

2. Tradisi Sadranan (Sadran)

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: www.an-najah.net

Selanjutnya adalah tradisi Sadranan. Tradisi Sadranan merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Jawa untuk menyambut bulan suci Ramadhan.

Sebelum hadirnya agama Islam di Nusantara, tradisi Sadranan merupakan tradisi agama Hindu-Budha yang datang dan menyebar lebih dulu di Nusantara.

Sejak adanya Walisongo di tanah Jawa, para Sunan menyebarkan agama Islam dengan cara menggabungkan serta meluruskan tradisi-tradisi tersebut salah satunya tradisi Sadranan.

Hal ini bertujuan agar agama Islam yang dibawa oleh para Sunan dapat mudah diterima oleh masyarakat yang pada saat itu sebagian besar masih memuja roh dan beragama Hindu-Budha.

Para Sunan mengganti doa-doa didalam tradisi tersebut dengan bacaan Al Qur’an. Meski berbenturan dengan tradisi Jawa, namun lambat laun masyarakat Jawa dapat menerima dan pada akhirnya diamalkan oleh masyarakat Jawa hingga sekarang.

3. Tradisi Selikuran

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: denmasdeni.blogspot.com

Tradisi Selikuran merupakan sebuah upacara atau tradisi yang terdapat di Jawa Tengah. Malam 21 Ramadhan adalah waktu dimana tradisi ini dilaksanakan. Pada malam tersebut, masyarakat Jawa akan melakukan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat.

Bagi masyarakat Jawa, Selikur pada bulan Ramadhan mempunyai arti yang sangat spesial dimana waktu tersebut merupakan salah satu waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mendoakan orang-orang Islam yang telah meninggal.

Sebagian masyarakat Jawa menganggap kebiasaan ini sebagai salah satu wujud rasa kecintaan mereka terhadap agama Islam dan Rasulullah SAW.

4. Tradisi Muludan (Maulid Nabi SAW)

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: gdb.voanews.com

Tradisi selanjutnya yang biasanya dilakukan oleh masyarakat Jawa adalah tradisi Muludan. Muludan atau maulid nabi dalam adat Jawa mempunyai arti sebagai hari lahirnya nabi Muhammad SAW. Biasanya perayaan tradisi ini dilakukan pada tanggal 12 Rabiul Awal.

Sebenarnya tradisi maulid nabi Muhammad SAW tidak hanya berlaku di Jawa Tengah saja melainkan di berbagai wilayah di Indonesia bahkan acara maulid ini dilakukan di seluruh dunia.

5. Tradisi Grebeg

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: pengenliburan.com

Saat memasuki bulan Mulud, biasanya sering diadakan acara di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk juga di daerah Solo dan Yogyakarta. Salah satu tradisi yang dilakukan di kedua kota tersebut adalah tradisi Grebeg.

Upacara atau tradisi Grebeg sebenarnya tidak hanya dilakukan pada bulan Mulud saja, melainkan juga dilakukan pada tanggal 1 Syawal dan juga bulan ke-12. Tujuan diadakannya tradisi ini adalah sebagai ungkapan rasa syukur atas rahmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa.

6. Tradisi Sekaten

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: daftarkursusbahasaarab.files.wordpress.com

Tradisi Sekaten sebenarnya merupakan sebuah tradisi yang diadakan untuk memperingati lahirnya Nabi Muhammad SAW. Namun bedanya acara ini diadakan dalam kurun waktu tujuh hari dan biasanya hanya dilakukan di kompleks keraton.

Menurut beberapa sumber, Sekaten berasal dari istilah “Syahadatain“. Istilah ini dikenal sebagai kalimat tauhid didalam agama Islam. Upacara ini akan diselenggarakan dengan penabuhan dua gamelan dari keraton.

Kedua gamelan yang dimaksud adalah gamelan Kyai Guntursari dan gamelan Kyai Gunturmadu. Puncak atau akhir dari tradisi ini adalah tradisi grebeg gunungan di tanggal 12 Rabiul Awal atau Maulud.

7. Tradisi Siraman

Tradisi Budaya Jawa tengah
Sumber Gambar: cdn.idntimes.com

Tradisi Siraman merupakan salah satu tradisi budaya Jawa Tengah dimana calon pengantin harus dimandikan dan juga disucikan dengan air bunga 7 rupa.

Tradisi ini dilakukan dengan cara menguyurkan atau memandikan calon pengantin baik laki-laki atau perempuan dengan maksud agar dirinya suci sebelum proses acara pernikahan digelar.

Setelah tradisi Siraman selesai, biasanya calon pengantin akan di bopong oleh kedua orangtuanya atau keluarganya untuk selanjutnya akan di rias untuk acara sungkeman kepada kedua orangtuanya dengan maksud meminta restu agar pernikahannya dapat berjalan dengan lancar.

8. Padusan

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: asset-a.grid.id

Maksud dari tradisi Padusan adalah ditunjukkan untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Padusan berasal dari kata “adus” yang dalam bahasa Indonesia berarti mandi dan membersihkan diri.

Biasanya tradisi Padusan dilakukan dengan mandi bersama dimana warga setempat akan mandi sekaligus untuk mensucikan diri meliputi jiwa dan raga untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Beberapa orang menyebut bahwa tradisi Padusan merupakan salah satu tradisi peninggalan Walisongo pada saat beliau menyebarkan agama Islam dengan cara mengawinkan budaya Jawa yang saat itu masih didominasi dengan budaya Hindu-Budha.

9. Tradisi Mendak Kematian

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: delikkalbar.com

Selanjutnya adalah tradisi Mendak Kematian. Dalam bahasa Indonesia memiliki arti dan makna yaitu “memperingati kematian setelah satu tahun seseorang meninggal dunia”.

Beberapa orang menyebut bahwa tradisi ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan agama Hindu-Budha karena tradisi ini merupakan salah satu warisan budayanya.

Meskipun berasal dari tradisi Hindu-Budha, tetapi Walisongo menggunakan tradisi ini untuk menyebarkan agama Islam. Sebabnya adalah jika tidak menggunakan tradisi ini sebagai salah satu metode penyebaran agama Islam maka Walisongo akan mengalami kesulitan untuk menyebarkan ajaran Islam.

Sehingga tradisi ini merupakan salah satu strategi atau inisiatif Walisongo yang sangat baik dalam menyebarkan agama Islam di pulau Jawa.

10. Tradisi Nyewu (1000)

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: inpasonline.com

Selain tradisi Mendak untuk memperingati kematian seseorang, terdapat juga tradisi Nyewu atau memperingati kematian seseorang setelah 1000 hari. Tradisi ini masih dilakukan hingga saat ini oleh masyarakat di Jawa Tengah.

Tradisi ini dilakukan dengan cara melakukan doa bersama untuk orang yang telah meninggal dunia. Biasanya orang-orang akan membaca tahlil dan surah Yasin secara bersama-sama dan diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh tokoh agama setempat.

11. Tradisi Upacara Ruwatan

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: suarabaru.id

Ruwatan merupakan salah satu upacara adat di provinsi Jawa Tengah sebagai sarana pembebasan atau penyucian manusia dari kesalahan dan dosa.

Salah satu contoh Ruwatan yang paling terkenal adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat disekitar Dieng.

Anak-anak yang mempunyai rambut gimbal biasanya dianggap sebagai keturunan Buto Ijo dan anak-anak tersebut akan segera di ruwat dengan maksud agar selamat dari marabahaya.

12. Tradisi Upacara Kenduren

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: 14deny.files.wordpress.com

Kenduren termasuk salah satu tradisi budaya di Jawa Tengah. Sebagian masyarakat lebih mengenal dengan sebutan Slametan. Tradisi ini merupakan budaya adat yang pertama sebelum adanya agama Islam di Jawa.

Kenduren merupakan kegiatan doa bersama yang biasanya dipimpin oleh tokoh agama atau sesepuh di daerahnya. Namun di zaman dahulu, makanan dijadikan sebagai sesaji untuk persembahannya.

Setelah adanya budaya Islam, akhirnya tradisi ini mengalami perubahan yang sangat besar. Makanan yang tadinya dijadikan sebagai sesaji untuk persembahan kemudian diubah menjadi hidangan untuk dimakan bersama-sama setelah acara selesai.

13. Tradisi KeboKeboan

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: budayajawa.id

Jawa Tengah memiliki tradisi budaya yang dipercaya bisa untuk menolak bala. Tradisi ini bernama KeboKeboan dan biasanya dilakukan oleh para petani menjelang masa tanam atau masa panen.

Dengan melakukan tradisi ini maka harapannya akan diberi kemudahan untuk menanam supaya tanaman dapat tumbuh dengan baik serta mendapatkan hasil panen yang melimpah.

Didalam upacara ini biasanya ditandai dengan 30 orang yang berdandan menyerupai kerbau yang nantinya akan di arak keliling kampung. Orang-orang ini nantinya akan berjalan menyerupai kerbau yang sedang membajak sawah.

14. Tradisi Larung Sesaji

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: muslimoderat.net

Larung sesaji adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Jawa Tengah bagian pesisir pantai Selatan dan Utara. Tujuan dilakukannya tradisi ini adalah sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta atas hasil tangkapan ikan yang mereka dapat selama melaut.

Selain itu, tradisi ini dilakukan dengan maksud agar selalu diberi kelancaran, keselamatan dan juga hasil yang cukup didalam usahanya.

Tradisi ini ditandai dengan menghanyutkan berbagai bahan makanan dan hewan sembelihan ke laut. Dilaksanakannya tradisi ini yaitu pada tanggal 1 Muharram.

15. Tradisi Ngapati

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: cvfajarhazmee.files.wordpress.com

Ngapati atau Ngupati merupakan tradisi budaya yang dilakukan untuk wanita yang sedang mengandung dimana umur kandungannya telah mencapai 4 bulan.

Masyarakat Jawa melakukan acara ini karena disaat usia kandungan telah mencapai 4 bulan akan diberi nyawa oleh Allah SWT yang menjadikan orang masyarakat Jawa akan mendoakannya. Selain itu juga sebagai bentuk rasa syukur atas karunia yang telah diberikan.

Didalam tradisi Ngapati ini, orang-orang akan berdoa bersama supaya ketika bayi sudah lahir akan menjadi orang yang berguna dan bermanfaat serta dijauhkan dari hal-hal yang dilarang oleh agama.

16. Tradisi Mitoni

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: i.ytimg.com

Selain Ngapati, terdapat juga tradisi yang diperuntukkan untuk wanita yang sedang mengandung, yaitu Mitoni. Upacara Mitoni atau Tingkepan dilakukan ketika usia kandungan seorang wanita telah mencapai 7 bulan.

Salah satu rangkaian acara yang wajib dilakukan saat Mitoni adalah mandi air kembang setaman. Setelah hal itu dilakukan, biasanya para sesepuh akan mendoakan agar bayi yang dikandungnya selamat sampai proses persalinan.

17. Tradisi Dugderan

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: www.infobudaya.net

Dugderan adalah upacara adat yang biasanya dilakukan oleh masyarakat di kota Semarang untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Tradisi atau upacara ini diawali dengan pemukulan beduk yang mengeluarkan bunyi dug dug dug dan kemudian akan disambut dengan suara dentuman meriam yang terdengar kuat hingga masyarakat setempat memberi nama Dugderan.

Pada saat acara Dugderan selesai, kemudian akan digelar pawai keliling kota dimana masyarakat sekitar akan tumpah ruah mengenakan pakaian adat dan juga menyajikan aneka festival tradisional Semarang yang ditunjukkan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

18. Tradisi Wetonan (Wedalan)

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: budayajawa.id

Wetonan atau Wedalan dalam bahasa Jawa mempunyai arti “keluar”, tetapi dalam hal ini yang dimaksud keluar adalah lahirnya seseorang.

Warga setempat biasanya akan melakukan tradisi ini dengan harapan agar diberi panjang umur serta dihindarkan dari berbagai macam mara bahaya dimasa depan. Selain itu dengan dilakukannya tradisi ini yaitu agar cita-cita bayi sang anak dapat dengan mudah tercapai.

19. Tradisi Popokan

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: merahputih.com

Tradisi budaya Jawa Tengah yang terakhir adalah Tradisi Popokan. Kegiatan tradisi ini dilakukan dengan cara melempar lumpur yang dilakukan oleh warga Beringin di Semarang. Popokan dilakukan pada saat bulan Agustus pada hari Jumat Kliwon.

Berdasarkan sejarah, tradisi ini dimulai pada saat daerah Beringin didatangi oleh seekor binatang jenis macan dimana binatang tersebut dapat memberikan ancaman terhadap warga di desa tersebut sehingga segala macam peralatan digunakan untuk mengusirnya termasuk dengan melemparkan lumpur.

Sejak saat itu, tradisi Popokan ini menjadi dasar yang dilakukan oleh warga. Tujuan daripada tradisi ini yaitu untuk menghilangkan kejahatan dan juga tolak bala di daerah mereka. Sampai saat ini masyarakat didaerah tersebut masih menjaga dengan baik budaya tersebut.

Demikian penjelasan lengkap mengenai tradisi budaya Jawa Tengah. Kita sebagai bangsa Indonesia seharusnya bisa menjaga dan melestarikan tradisi budaya yang diwariskan oleh nenek moyang kita. Semoga bermanfaat.