Sistem Tanam Paksa

Sistem Tanam Paksa

Sistem Tanam Paksa – Pasca Perang Jawa berakhir pada tahun 1830, Belanda berada di ujung kebangkrutan yang mengakibatkan roda perekonomian hancur.

Kerugian yang diakibatkan dari Perang Jawa yang terjadi pada tahun 1825-1830 ini terbilang sangat besar, yaitu mencapai 20 juta Gulden.

Selain itu, Belanda juga harus menghadapi Perang Padri yang tidak kunjung usai serta Revolusi Belgia yang meledak di tahun yang sama juga semakin merugikan Belanda. Hal ini menjadikan kas Belanda mengalami kekosongan dan hutang semakin menumpuk.

Sistem Tanam Paksa yang Menyengsarakan Rakyat Indonesia

Sistem Tanam Paksa
Sumber Gambar: i.ytimg.com

Krisis yang dialami oleh Belanda ini membuat Raja Wiliam I pada saat Perang Jawa terjadi memerintahkan agar Jawa dieksploitasi untuk dijadikan sebagai sumber pemasukan Kerajaan Belanda.

Namun tidak ada satu usulan pun yang dianggap dapat menutupi kerugian dan melunasi hutang-hutang Belanda setelah Perang Jawa usai.

Kemudian Raja Wiliam I memanggil seseorang yang bernama Johannes van den Bosch di tahun 1828. Johannes van den Bosch kemudian diutus untuk mengatasi krisis ekonomi yang sedang menerpa Kerajaan Belanda.

Selain itu, Johannes van den Bosch diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia-Belanda yang baru dan diberi tugas untuk melakukan eksploitasi Jawa demi menyelamatkan Kerajaan Belanda dari kebangkrutan.

Akhirnya pada bulan Januari 1830, Johannes menginjakkan kakinya di Indonesia yang kala itu masih bernama Hindia Belanda. Johannes membawa rancangan kebijakan-kebijakan yang disebut Cultuurstelsel (Sistem Kultivasi).

Melalui rancangan kebijakan yang dibuatnya ini Johannes berniat untuk menghapus sistem kebijakan liberal yang dibuat oleh Raffles.

Sistem liberal karangan Raffles ini bertumpu pada pajak tanah dan juga sewa tanah yang dianggap menyengsarakan rakyat Hindia-Belanda dengan sistem pajaknya yang berupa uang yang kemudian Johannes mengubahnya menjadi hasil tanaman laku ekspor dan juga sistem kerja.

Praktik Sistem Tanam Paksa

Sistem Tanam Paksa
Sumber Gambar: filososial.blogspot.com

Cultuurstelsel atau Sistem Kultivasi yang dirancang oleh Johannes van den Bosch memiliki beberapa aturan, seperti:

  • Petani Hindia Belanda yang mempunyai tanah diwajibkan untuk menyiapkan 20% dari tanah yang mereka punya untuk ditanami tanaman laku ekspor yang telah ditentukan oleh pemerintah Hindia Belanda.
    Adapun beberapa tanaman laku ekspor yang saat itu sedang menjadi primadona adalah kopi, teh, tebu, dan tarum (nila).
    Hasil panen ini nantinya akan dibayar dengan harga yang juga telah ditentukan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk kemudian hasil dari tanaman tersebut akan di ekspor.
  • Tanah yang dikhususkan untuk menanam tanaman laku ekspor ini akan dibebaskan dari pajak karena telah dianggap sebagai pengganti alat pembayaran pajak.
  • Adapun bagi petani Hindia Belanda yang tidak memiliki tanah akan diwajibkan untuk mengganti bentuk pajak.
    Bentuk pajak yang dimaksud adalah dengan cara bekerja selama 66 hari dalam kurun waktu setahun di perkebunan pemerintah Hindia Belanda.
  • Waktu pengerjaan tanaman laku ekspor ini hanya berlangsung dalam kurun waktu sekitar tiga bulan sejak awal pengerjaannya.
  • Jika terdapat kelebihan hasil dari produksi tanaman laku ekspor yang berada di luar ketentuan yang di tetapkan oleh pemerintah Hindia Belanda, maka hasilnya akan diserahkan kepada rakyat Hindia Belanda/Indonesia.
  • Kerugian gagal panen yang diakibatkan tanaman terserang hama atau bencana alam sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah Hindia Belanda.
  • Pelaksanaan Sistem Kultivasi ini diserahkan serta diawasi oleh bupati, kepala desa dan pejabat desa.
    Sedangkan pemerintah Hindia Belanda sendiri hanya akan mengawasi bagian kontrol panen dan transportasi. Tujuannya agar semua proses berjalan sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan.

Meskipun sudah dibuat kebijakan yang jelas, namun pada praktiknya, Sistem Kultivasi rancangan Johannes ini mengalami banyak penyimpangan-penyimpangan yang malah membuat rakyat Indonesia semakin miskin dan sengsara.

Sehingga para sejarawan menyebut sistem ini sebagai Sistem Tanam Paksa atau Enforcing Planting. Seluruh wilayah pertanian pada akhirnya wajib untuk ditanami tanaman laku ekspor dan para petani yang tidak memiliki lahan dipaksa untuk bekerja selama setahun penuh.

Bukan hanya itu saja, dalam proses panen, pemerintah Hindia Belanda sama sekali tidak mengembalikan kelebihan hasil panen kepada petani sedangkan jika terjadi gagal panen maka yang menanggung adalah para petani itu sendiri.

Ironisnya, berbagai masalah penyimpangan ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda saja, namun juga dilakukan oleh para bupati dan juga pejabat desa yang dipercaya untuk mengawasi pelaksanaan tanam paksa.

Mereka dengan sengaja melakukan penyimpangan ini demi mendapatkan bonus berupa presentase penjualan tanaman laku ekspor sehingga menimbulkan kemiskinan terstruktur bagi rakyat Indonesia kala itu.

Berbagai penyimpangan-penyimpangan ini membuat Johannes berhasil mencapai target yang diberikan oleh Kerajaan Belanda kepadanya.

Kerajaan Belanda dapat melunasi semua hutangnya serta dapat mengisi kembali kas kerajaan dari hasil keuntungan yang dihasilkan dari kebijakan sistem ini.

Tercatat dalam kurun waktu 10 tahun sistem ini diterapkan, Kerajaan Belanda berhasil menaikkan rata-rata ekspor Hindia Belanda hingga mencapai 14%.

Jika ditotal selama empat dekade, kebijakan tanam paksa tercatat telah menyumbang sekitar 823 juta Gulden masuk ke kas Kerajaan Belanda. Karena jasanya ini, van den Bosch kemudian gelar Graaf oleh Raja Belanda di tanggal 25 Desember 1839.

Baca Juga: Jenis Pekerjaan yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Sumber Daya Laut

Kritikan Terhadap Kebijakan Sistem Tanam Paksa

Dengan jam kerja yang tidak manusiawi yang diberlakukan pada masa tanam paksa ini membuat para petani hanya sibuk mengurus lahan untuk tanaman laku ekspor milik pemerintah Hindia Belanda saja.

Hal ini membuat mereka tidak memiliki waktu untuk menggarap lahan padi mereka sendiri. Padahal para petani menanam padi untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka sendiri.

Akibat dari kebijakan tersebut, banyak petani yang pada akhirnya meninggal karena kelelahan dan kelaparan.

Dengan banyaknya petani yang kelaparan ini membuat Cultuurstelsel yang dirancang oleh Johannes mendapatkan kritikan keras dari para golongan liberal dan juga golongan humanis.

Mereka mengkritik Kerajaan Belanda yang telah terang-terangan melakukan eksploitasi yang berlebihan terhadap rakyat Hindia Belanda serta menuntut agar sistem tersebut dihentikan.

Adapun salah satu kritikan paling keras ini dilancarkan oleh penulis Eduard Douwes Dekker. Douwes Dekker sendiri mengkritik kebijakan ini melalui roman tentang tanam paksa yang terjadi di Lebak, Banten.

Namun agar selamat dari persekusi Belanda, Douwes Dekker menggunakan nama samaran untuk mengkritik pihak pemerintah Hindia Belanda. Ia menggunakan nama samaran Multatuli.

Karyanya ini diterbitkan pada tahun 1860 dengan judul Max Havelaar, of de koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij (Max Havelaar, atau jika diartikan dalam bahasa Indonesia menjadi Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda).

Kritikan-kritikan yang mereka lancarkan ini akhirnya didengar oleh pihak Kerajaan Belanda.

Sehingga pada tahun 1870, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan UU Agraria dan UU Gula yang mengakibatkan Cultuurstesel dihentikan yang kemudian mengawali era baru, yaitu era liberalisasi ekonomi.

Dampak Akibat Kebijakan Sistem Tanam Paksa

Sistem Tanam Paksa
Sumber Gambar: images.theconversation.com

Terdapat banyak dampak yang diakibatkan dari kebijakan tanam paksa, baik itu bagi Belanda maupun rakyat Indonesia yang kala itu di jajah.

Namun dampak positif hanya dirasakan oleh pihak pemerintahan Hindia Belanda saja, yaitu meningkatnya hasil tanaman laku ekspor sehingga dapat mengembalikan kejayaan, melunasi defisit hutang, dan kestabilan keuangan mereka yang sebelumnya krisis akibat peperangan.

Sedangkan bagi rakyat Indonesia, sistem ini merupakan suatu penyiksaan yang menyebabkan rakyat menjadi kelaparan, kemiskinan merajalela serta mengalami penderitaan baik itu fisik maupun mental.

Bukan hanya itu saja, rakyat Indonesia juga semakin tersiksa akibat beban pajak yang harus ditanggung menjadi semakin banyak.

Itulah pembahasan mengenai sejarah kelam Sistem Tanam Paksa yang sangat menyengsarakan rakyat Indonesia. Semoga sejarah kelam tersebut tidak akan terulang kembali di Indonesia mengingat saat ini negara kita ini sudah menjadi negara merdeka.

Runtuhnya Kerajaan Majapahit

Runtuhnya Kerajaan Majapahit

Runtuhnya Kerajaan Majapahit – Kerajaan Majapahit merupakan salah satu kerajaan bercorak Hindu-Buddha terbesar yang pernah berdiri di Nusantara pada abad ke-13.

Meskipun tidak termasuk dalam sejarah sebagai kerajaan tertua di Indonesia, namun Kerajaan Majapahit disebut-sebut sebagai kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang pernah menguasai hampir seluruh wilayah di Nusantara dan bahkan mancanegara.

Kerajaan ini didirikan oleh Raden Wijaya yang mana ia merupakan menantu Raja Kertanegara dari Singosari. Ia dinobatkan menjadi raja Majapahit pada tahun 1293 Masehi yang bergelar Kertarajasa Jayawardhana (1293-1309 M).

5 Faktor Utama Penyebab Runtuhnya Kerajaan Majapahit

Runtuhnya Kerajaan Majapahit
Sumber Gambar: blue.kumparan.com

Terkenal dengan Sumpah Palapa-nya yang sangat melegenda, Kemaharajaan Majapahit di bawah pimpinan Mahapatih Gajah Mada berhasil menyatukan wilayah-wilayah di Nusantara serta mengantarkan Majapahit ke masa kejayaan dengan rajanya yang kala itu di pimpin oleh Hayam Wuruk.

Tercatat lebih dari 98 kerajaan bernaung di bawah kekuasaan Majapahit baik itu dari kerajaan yang ada di Nusantara hingga mancanegara.

Penyebab utama runtuhnya kerajaan ini hingga kini masih menjadi perbincangan di kalangan para ahli. Banyak perbedaan yang menyebut mengenai berakhirnya Kemaharajaan Majapahit.

Namun banyak juga yang menyimpulkan bahwa Kerajaan Majapahit runtuh pada tahun 1400 saka (1478 M). Keruntuhannya ini disimpulkan dalam Candrasengakala “sirna ilang kertaning bhumi”.

Untuk mengetahui faktor apa saja yang menyebabkan keruntuhan Kerajaan Majapahit, di bawah ini akan kami jelaskan mengenai 5 faktor utama yang menyebabkan runtuhnya Kerajaan Majapahit yang berhasil kami rangkum dari berbagai sumber.

1. Meninggalnya Hayam Wuruk dan Gajah Mada

Ya, kedua tokoh tersebut merupakan dua tokoh yang berperan sangat penting dalam kejayaan Kerajaan Majapahit di Nusantara. Namun setelah keduanya meninggal, kejayaan kerajaan ini berangsur-angsur meredup.

Disebutkan bahwa setelah Gajah Mada wafat, Hayam Wuruk menjadi bimbang. Berdasarkan sejarah, Hayam Wuruk sampai meminta saran kepada ibu, kedua adik serta kedua iparnya untuk mendiskusikan siapa yang pantas untuk menggantikan kedudukan sang Patih.

Akan tetapi setelah melakukan perundingan, Hayam Wuruk tidak juga menemukan pengganti yang pantas untuk menggantikannya.

Saking sedihnya akibat Gajah Mada meninggal, Hayam Wuruk tidak menunjuk Mahapatih baru untuk menggantikannya sehingga posisi tersebut ia pegang sendiri hingga beliau meninggal dunia.

Bukan hanya sampai disitu, akibat meninggalnya Gajah Mada dan juga Hayam Wuruk, beberapa wilayah yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Majapahit pada akhirnya mulai melepaskan diri.

2. Perang Saudara atau Perang Paregreg (1405-1406)

Sepeninggal Hayam Wuruk, terjadilah perebutan kekuasaan untuk menggantikannya hingga mengakibatkan perang saudara atau lebih dikenal dengan nama Perang Paregreg antara Wikramawardhana melawan Bhre Wirabuhi.

Wikramawardhana merupakan suami dari putri Hayam Wuruk dari permaisuri yang bernama Kusumawarhani. Sedangkan Bhre Wirabhumi merupakan putra Hayam Wuruk yang dihasilkan dari istri selir.

3. Banyak Wilayah Kekuasaan yang Melepaskan Diri dari Majapahit

Meski setelah Hayam Wuruk wafat, Kerajaan Majapahit tetap memiliki raja, namun karena kepemiminannya tidak ada yang mampu menandingi Hayam Wuruk dan Gajah Mada, maka hal tersebut menyebabkan kewibawaan dan pengaruh Kerajaan Majapahit memudar.

Hal inilah yang membuat banyak wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh Majapahit pada akhirnya kehilangan kepercayaan sehingga mereka lebih memilih untuk melepaskan diri.

4. Pengaruh Perkembangan Islam

Faktor selanjutnya yang mempengaruhi kemunduran Majapahit adalah mulai berkembangnya agama Islam di pesisir utara Pulau Jawa sehingga secara tidak langsung mengurangi dukungan terhadap Kerajaan Majapahit.

5. Serangan dari Kerajaan Demak

Meskipun dalam sejarah kerajaan Islam di Jawa,  Demak menjadi bagian dari Majapahit, namun Demak telah menjadi sebuah kerajaan yang berlandaskan Islam.

Hal tersebutlah yang mendorong Demak untuk dapat melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit dan mendirikan kerajaan sendiri yang berlandaskan Islam hingga di kemudian hari Kesultanan Demak berbalik menyerang Kerajaan Majapahit.

Berdirinya Kerajaan Majapahit

Runtuhnya Kerajaan Majapahit
Sumber Gambar: diadona.id

Kerajaan Majapahit didirkan oleh Raden Wijaya yang mana ia setelah menjadi raja diberi gelar Kertarajasa Jayawardhana (1293-1309).

Nama Majapahit sendiri berasal dari kata “buah maja yang memiliki rasa pahit” yang mana buah tersebut banyak ditemukan di daerah hutan di mana kerajaan ini berdiri.

Pada awalnya, Majapahit berpusat di Mojokerto, namun pada masa Jayanegara, ibukota dari kerajaan ini dipindahkan ke Triwulan, hingga pada tahun 1456 Masehi, ibukota Majapahit kembali dipindahkan ke Kediri.

Baca Juga : Kerajaan Pajajaran

Silsilah Raja Majapahit

Runtuhnya Kerajaan Majapahit
Sumber Gambar: theinsidemag.com

Kerajaan Majapahit berdiri hampir mencapai 2 abad. Adapun beberapa raja yang pernah menduduki tahta tertinggi di Kerajaan Majapahit adalah:

  • Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana), pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Majapahit yang berkuasa pada tahun 1293-1309 M
  • Jayanegara, berkuasa pada tahun 1309-1328 M
  • Tribuana Tunggadewi, menjadi raja Majapahit pada tahun 1328-1350 M
  • Hayam Wuruk, raja yang berhasil membawa Kerajaan Majapahit mencapai masa kejayaan dengan di dampingi oleh Mahapatih Gajah Mada. Berkuasa pada tahun 1350-1389 M
  • Kusumawardani Wikramawardhana, melanjutkan kepemimpinan Raja Hayam Wuruk pada tahun 1389-1399 M
  • Suhita di tahun 1399-1429 M
  • Bhre Tumapel atau Kertawijaya, menjadi raja Majapahit pada tahun 1447-1451 M
  • Rajasawardhana, berkuasa di Majapahit pada tahun 1451-1453 M
  • Purwawisesa, raja Majapahit pada tahun 1456-1466 M
  • Kertabumi, raja Kerajaan Majapahit yang berkuasa pada tahun 1466-1478 M

Meskipun setelah Raja Hayam Wuruk meninggal, pergantian kekuasaan di kerajaan ini masih terus berlanjut, namun tetap tidak ada yang mampu menandingi kekuatannya yang dibantu oleh Mahapatih Gajah Mada untuk memerintah Kerajaan Majapahit.

Hingga pada akhirnya Kerajaan Majapahit benar-benar runtuh setelah diserang oleh Kesultanan Demak pada tahun 1478 Masehi. Kala itu, Kesultanan Demak dipimpin oleh Pati Unus yang berhasil menduduki Majapahit untuk kemudian mengambil alih pemerintahan.

Itulah penjelasan singkat mengenai 5 faktor utama runtuhnya Kerajaan Majapahit. Meski telah lama runtuh, namun kebesaran dari Kerajaan Majapahit hingga saat ini masih dapat dirasakan baik itu dari peninggalan-peninggalan maupun sejarahnya.

Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Pajajaran atau lebih dikenal dengan nama Pakuan Pajajaran merupakan kerajaan bercorak Hindu yang terletak di Jawa Barat yang mana kerajaan ini beribukota di Pajajaran atau sekarang adalah Bogor.

Seperti adat kebiasaan di Asia Tenggara yang mana pada masa itu dalam menyebut nama suatu kerajaan biasanya masyarakat menyebutnya dengan nama dari ibukotanya.

Didalam sejarah tercatat bahwa pendiri dari kerajaan ini adalah Sri Jayabhupati yang didirikan pada tahun 923 Masehi. Sementara itu, Pakuan Pajajaran secara resmi dinyatakan berdiri adalah pada saat Jayadewata naik tahta di tahun 1482 dan bergelar Sri Baduga Maharaja.

Baca Juga: Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Sejarah Lengkap Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Pajajaran
Sumber Gambar: www.historyofcirebon.id

Sebelum Pakuan Pajajaran berdiri, terdapat dua kerajaan di tanah Parahyangan (Jawa Barat), yaitu Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda. Dari kedua kerajaan ini memiliki ikatan tali perkawinan antara putra dari raja Galuh dan putri raja Sunda.

Adapun Kerajaan Galuh dipimpin oleh seorang raja yang bernama Dewa Niskala, sedangkan Kerajaan Sunda dipimpin oleh Raja Susuktunggal.

Pada saat Kerajaan Majapahit diambang kehancuran, tepatnya pada tahun 1400-an Masehi, para rombongan pengungsi dari Majapahit datang ke Kerajaan Galuh kemudian kerajaan ini menerimanya dengan baik.

Tidak hanya berhenti disitu, kepala rombongan pengungsi yang masih ikatan keluarga dari Prabu Kertabumi (raja Majapahit) yang bernama Raden Baribin akhirnya dinikahkan dengan salah satu dari putri Galuh yang bernama Ratna Ayu Kirana.

Kemudian sang raja mengambil seorang istri yang ikut dalam rombongan pengungsi dari Majapahit.

Namun tindakan ini menyebabkan kemarahan dari raja Sunda dan menuduh bahwa raja Galuh melupakan aturan bahwasanya orang Sunda dan Galuh dilarang keras untuk menikahi orang yang berasal dari Majapahit.

Kedua raja yang terlibat pertalian besan ini pada akhirnya terlibat sengketa yang mengakibatkan di antara kerajaan tersebut terancam perang. Namun dewan penasehat dari kedua kerajaan kemudian berunding serta meminta para raja untuk turun dari tahta kerajaan.

Kemudian mereka bersama-sama menunjuk seorang pengganti untuk memimpin kedua kerajaan. Tidak disangka, nama yang ditunjuk oleh kedua raja adalah nama yang sama, yaitu Jayadewata.

Dengan penunjukannya tersebut, maka terselesaikanlah masalah persengketaan yaitu dengan jalan menyatukan kedua kerajaan di bawah pimpinan satu raja. Raja Jayadewata ini lebih dikenal dengan nama Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi.

Letak

Pajajaran merupakan sebuah kerajaan bercorak Hindu yang diperkirakan beribukota di Pakuan (Bogor) Jawa Barat. Selain itu, di dalam naskah-naskah kuno Nusantara, kerajaan ini disebut juga Negeri Sunda, Pasundan atau disebut juga dengan nama Pakuan Pajajaran.

Silsilah Raja Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Pajajaran
Sumber Gambar: rumus.co.id

Berikut ini adalah beberapa raja yang pernah berkuasa di Pakuan Pajajaran, di antaranya adalah:

  • Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi, berkuasa dari tahun 1482-1521 Masehi. Bertahta di Pakuan (Bogor),
  • Surawisesa, menjadi raja pada tahun 1521-1535 Masehi dan bertahta di Pakuan,
  • Ratu Dewata, pemerintahannya dimulai pada tahun 1535-1543 Masehi, bertahta di Pakuan,
  • Ratu Sakti pada tahun 1543-1551 Masehi. Ia juga bertahta di Pakuan,
  • Ratu Nilakendra di tahun 1551-1567 Masehi. Pada masa pemerintahannya ini, ia meninggalkan Pakuan karena terjadi serangan dari Hasanudin dan anaknya, Maulana Yusuf,
  • Raga Mulya, memerintah pada tahun 1567-1579 Masehi. Dikenal juga dengan nama Prabu Surya Kencana dan memerintah di Pandeglang.

Masa Kejayaan

Kerajaan Tertua di Indonesia
Sumber Gambar: www.pasundan.id

Pada masa kepemimpinan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi, kerajaan ini mengalami puncak kejayaan. Berbagai pembangunan fisik terus dilakukan dengan tujuan untuk memudahkan kehidupan kerajaan dan rakyatnya.

Dibawah ini adalah beberapa pencapaian-pencapaian yang dilakukan oleh Sri Baduga Maharaja.

Pembangunan Fisik

Karena pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja kerajaan ini masih berstatus sebagai kerajaan baru, maka ia banyak melakukan pembangunan fisik guna memudahkan kehidupan pemerintahan dan rakyatnya.

Beberapa pembangunan fisik yang dilakukan oleh Prabu Siliwangi adalah:

  • Membuat telaga besar yang mana telaga ini diberi nama Talaga Maharena Wijaya,
  • Membuat/membangun jalan dari ibukota (Pakuan) sampai ke Wanagiri,
  • Membangun keputren atau kabinihajian (tempat tinggal para putri),
  • Serta membangun tempat hiburan (pamingtonan).

Administrasi Pemerintahan

Selain fokus pada pembangunan fisik, Prabu Siliwangi juga memperhatikan mengenai administrasi pemerintahan, yaitu dengan cara memberikan tugas-tugas yang spesifik kepada para abdi raja.

Menyusun undang-undang untuk menata kehidupan bernegara serta membuat aturan mengenai pemungutan upeti/pajak supaya tidak terjadi kesewenang-wenangan di dalam proses penarikannya.

Bidang Militer

Memperhatikan pertahanan negara dengan cara memperkuat angkatan militer dengan tujuan agar Peristiwa Bubat tidak terulang. Mendirikan kesatrian atau asrama untuk para prajurit guna menarik minat para pemuda supaya mereka mau menjadi tentara/prajurit.

Bukan hanya mendirikan asrama, para prajurit juga diberi latihan militer dengan berbagai macam formasi tempur.

Keagamaan

Agama merupakan bagian terpenting di dalam kehidupan manusia. Di masa pemerintahan Prabu Siliwangi, desa-desa perdikan di kerajaan ini kemudian dibagikan para pendeta dan murid-muridnya. Desa atau tanah perdikan merupakan suatu wilayah yang tidak di pungut pajak.

Hal ini bertujuan agar para pendeta dan murid-muridnya dapat lebih leluasa dalam memimpin ritual keagamaan tanpa harus memikirkan masalah duniawi (upeti).

Baca Juga: Sejarah Kerajaan Kutai

Kehidupan Masyarakat

Kehidupan masyarakat di Pajajaran dapat dilihat dari beberapa aspek utamanya, seperti ekonomi, sosial serta aspek budaya.

Ekonomi

Sebagian besar masyarakat Pajajaran bermata pencaharian sebagai petani/pertanian. Namun terdapat juga kegiatan berdagang dan pelayaran.

Pada masa kejayaannya, kerajaan ini setidaknya memiliki enam pelabuhan yang cukup penting, yaitu Pelabuhan Banten, Cigede, Sunda Kelapa, Pontang, Tamgara dan Cimanuk (Pamanukan).

Sosial

Dalam kesehariannya, masyarakat Pakuan Pajajaran digolongkan berdasarkan pekerjaannya. Seperti golongan seniman yang terdiri dari para pemain musik gamelan, badut, dan penari.

Golongan petani dan pedagang adalah mereka yang bermata pencaharian sebagai petani dan perdagangan. Selain itu, ada juga golongan penjahat, yaitu mereka yang berprofesi di bidang kejahatan seperti pembunuh, perampok, pencuri, dan lain sebagainya.

Budaya

Agama yang dianut oleh kerajaan ini adalah agama Hindu, maka praktik hidup kesehariannya sangat kental dengan ritual keagamaan agama Hindu.

Runtuhnya Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Pajajaran
Sumber Gambar: www.artisanalbistro.com

Setelah Sri Baduga Maharaja tidak lagi memimpin Pakuan Pajajaran, penerus-penerus selanjutnya tidak ada yang mampu menandingi kemasyhurannya.

Adapun semua catatan mengenai masa kejayaan kerajaan ini yang terabadikan baik dalam kidung, pantun, cerita, babad, sampai yang terukir dalam prasasti-prasasti merupakan hasil kerja keras dari sang Prabu atau sang raja pertama Pakuan Pajajaran.

Keruntuhan Pajajaran terjadi di tahun 1579 Masehi akibat dari serangan Kesultanan Banten atau anak/bagian dari Kesultanan Demak di Jawa Tengah.

Kehancurannya ini ditandai dengan pemboyongan Palangka Sriman Sriwacana atau singgasana raja yang awalnya di terdapat di Pakuan Pajajaran kemudian dipindahkan ke Keraton Surosowan di Banten yang dipimpin oleh Maulana Yusuf.

Pemboyongan singgasana batu ini dijadikan sebagai simbolis terhadap tradisi politik pada masa itu dengan tujuan agar Pakuan Pajajaran tidak bisa menobatkan raja baru.

Setelah itu, Maulana Yusuf kemudian didaulat sebagai penguasa sah Sunda, hal ini karena beliau masih memiliki darah Sunda serta merupakan canggah dari Sri Baduga Maharaja.

Dengan berakhirnya masa kerajaan ini adalah juga sebagai akhir dari kekuasaan Hindu di Parahyangan sekaligus awal dari masa Dinasti Islam.

Menurut sejarah, konon sebagian abdi istana akhirnya menetap di Lebak serta menerapkan cara kehidupan mandala yang sangat ketat. Saat ini, keturunan dari para abdi istana adalah yang biasa kita kenal sebagai Suku Baduy.

Peninggalan Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Pajajaran
Sumber Gambar: ahmadsamantho.files.wordpress.com

Seperti halnya kerajaan tertua di Indonesia lainnya, kerajaan ini juga meninggalkan beberapa peninggalan yang hingga saat ini masih dapat kita jumpai. Beberapa peninggalan-peninggalannya adalah:

Prasasti Cikapundang

Karena ditemukan di sekitar Sungai Cikapundang, Bandung, maka prasasti ini diberi nama Prasasti Cikapundang yang ditemukan pada tanggal 8 Oktober 2010. Prasasti yang ditulis menggunakan huruf Sunda Kuno ini diperkirakan berasal dari abad ke-14.

Prasasti ini memiliki gambar wajah, telapak tangan, telapak kaki serta terdapat dua baris huruf Sunda Kuno yang bertuliskan “unggal jagat jalmah hendap”, yang berarti semua manusia di dunia akan mengalami sesuatu.

Sampai dengan saat ini, para peneliti dari Balai Arkeologi masih terus mengkaji batu prasasti tersebut. Batu prasasti ini memiliki ukuran panjang sekitar 178 cm, lebar 80 cm, serta tinggi 55 cm.

Prasasti Pasir Datar

Peninggalan dari Pakuan Pajajaran selanjutnya adalah Prasasti Pasir Datar yang ditemukan di kompleks Perkebunan Kopi Pasir Datar, Cisadane, Sukabumi dan ditemukan pada tahun 1872 Masehi.

Saat ini Prasasti Pasir Datar disimpan di Museum Nasional Indonesia yang terletak di Jakarta. Prasasti yang dibuat dari batu alam ini hingga saat ini masih belum ditraskripsi sehingga belum diketahui isinya secara pasti.

Prasasti Huludayeuh

Prasasti Huludayeuh ditemukan di persawahan di Kampung Huludayeuh, Desa Cikahalang, di Kecamatan Sumber dan setelah pemekaran wilayah, prasasti ini masuk ke wilayah Kecamatan Dukupuntang Cirebon.

Meski telah lama diketahui oleh penduduk setempat, namun prasasti ini baru diketahui oleh para ahli pada bulan September 1991 dan diumumkan dalam media cetak Harian Pikiran Rakyat pada tanggal 11 September 1991 dan juga Harian Kompas di tanggal 12 September 1991.

Prasasti Perjanjian Sunda-Portugis

Prasasti Perjanjian Sunda-Portugis juga menjadi peninggalan dari Pakuan Pajajaran selanjutnya yang berbentuk tugu batu serta ditemukan di Jakarta pada tahun 1918.

Adanya prasasti ini menandai perjanjian antara Kerajaan Sunda dengan Kerajaan Portugal yang dibuat oleh utusan dagang Portugis yang berasal dari Malaka.

Sedangkan yang memimpin utusan tersebut adalah Enrique Leme yang mana mereka juga membawa barang-barang untuk “Raja Saiman” atau Sanghyang, yang dimaksud adalah Sang Hyang Surawisesa.

Peninggalan berupa prasasti ini didirikan di atas tanah yang ditunjuk sebagai tempat yang nantinya akan dibangun benteng dan juga gudang bagi para orang Portugis.

Cerita ditemukannya prasasti ini adalah pada saat melakukan penggalian untuk membangun gudang di sudut Prinsenstraat atau sekarang menjadi Jalan Cengkeh dan juga Groenestraat atau Jalan Kali Besar Timur I. Saat ini daerah tersebut masuk ke wilayah Jakarta Barat.

Seperti halnya Prasasti Pasir Datar, saat ini Prasasti Perjanjian Sunda-Portugis juga disimpan di Museum Nasional Indonesia sedangkan replikanya dipamerkan di Museum Sejarah Jakarta.

Prasasti Ulubelu

Prasasti ini diperkirakan sebagai peninggalan dari Kerajaan Sunda di abad ke-15 Masehi. Ditemukan di Ulubelu, Rebangpunggung, Kotaagung, Lampung pada tahun 1936.

Meski ditemukan di Lampung, namun beberapa sejarawan menganggap jika aksara yang digunakan pada prasasti ini merupakan aksara Sunda Kuno. Sehingga mereka menganggap bahwa Prasasti Ulubelu merupakan peninggalan dari Kerajaan Sunda.

Isi dari prasasti ini berupa mantra-mantra permintaan tolong terhadap dewa-dewa utama, seperti Batara Guru (Siwa), Wisnu, dan Brahma serta kepada dewa penguasa air, tanah, dan juga pohon guna menjaga keselamatan.

Prasasti Kebon Kopi II

Prasasti Pasir Muara atau Prasasti Kebon Kopi II adalah peninggalan dari Kerajaan Sunda-Galuh yang ditemukan tidak jauh dari Prasasti Kebon Kopi I yang mana Prasasti Kebon Kopi I ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Tarumanegara.

Namun naas, prasasti ini hilang dicuri pada tahun 1940-an. Meskipun demikian, pakar F. D. K. Bosch sempat mempelajarinya bahwa prasasti ini ditulis menggunakan bahasa Melayu Kuno.

Mengenai isi dari prasasti tersebut adalah menyatakan seorang Raja Sunda menduduki kembali tahtanya serta menafsirkan angka tahun peristiwa ini tertarikh 932 Masehi.

Ditemukan di Kampung Pasir Muara, Desa Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Kabupaten Bogor Jawa Barat dan berjarak sekitar 1 Km dari Prasasti Kebon Kopi I.

Situs Karangkamulyan

Peninggalan terakhir yang masih berhubungan dengan Pakuan Pajajaran adalah Situs Karangkamulyan. Situs ini merupakan situs yang terletak di Desa Karangkamulyan, Ciamis Jawa Barat. Adapun situs ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Galuh yang bercorak Hindu-Buddha.

Mengenai legenda dari situs ini adalah berkisah tentang Ciung Wanara yang berhubungan dengan Kerajaan Galuh.

Cerita ini dibumbui dengan seorang tokoh kepahlawanan yang begitu luar biasa seperti misalnya kesaktian dan juga keperkasaan yang tidak dimiliki oleh orang biasa namun dimiliki oleh Ciung Wanara.

Kawasan situs ini memiliki luas sekitar 25 Ha yang di dalamnya menyimpan berbagai benda-benda yang diduga kuat mengandung sejarah tentang Kerajaan Galuh.

Kebanyakan benda-benda ini berbentuk batu yang letaknya tidak berdekatan namun menyebar dengan bentuk yang berbeda-beda. Batu-batu ini berada dalam sebuah bangunan yang mana strukturnya terbuat dari tumpukan batu yang berbentuk hampir sama.

Jika dilihat dengan seksama, struktur bangunan ini memiliki sebuah pintu sehingga mirip menyerupai sebuah kamar.

Demikianlah pembahasan mengenai sejarah Kerajaan Pajajaran atau Pakuan Pajajaran mulai dari letak, masa kejayaan, kehidupan, masa keruntuhan hingga peninggalan-peninggalannya. Semoga bermanfaat!

Kerajaan Tertua di Indonesia

Kerajaan Tertua di Indonesia

Kerajaan Tertua di Indonesia – Jauh sebelum Indonesia merdeka, negara kita ini merupakan negara yang mempunyai banyak kerajaan baik itu kerajaan bercorak Hindu, Buddha, Hindu-Buddha, dan Islam yang pernah berjaya pada masanya.

Namun terdapat beberapa hal yang sering kali terabaikan, salah satunya adalah terkait kerajaan tertua yang pernah berdiri di Indonesia.

Untuk dapat mengatakan mengenai berapa usia dari suatu kerajaan, tentu dibutuhkan bukti yang kuat dari berbagai penelitian ilmiah yang didukung dengan penemuan secara arkeologis.

10 Kerajaan Tertua yang Pernah Ada di Indonesia

Dari berbagai penelusuran sejumlah sumber yang kuat dan dapat dipercaya, ternyata terdapat beberapa kerajaan yang usianya tidak dibahas atau bahkan tidak ditampilkan di dalam sejarah Indonesia serta tidak dipelajari di sekolah-sekolah.

Dalam berbagai sumber mengatakan bahwa Kerajaan Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia. Tapi faktanya masih banyak kerajaan-kerajaan yang berusia lebih tua dari kerajaan tersebut.

Berikut ini adalah pembahasan mengenai 10 kerajaan tertua yang pernah berdiri dan berjaya di Indonesia.

Kerajaan Kandis (sebelum Masehi)

Kerajaan Tertua di Indonesia
www.suratkabar.id

Kerajaan tertua di Nusantara yang pertama adalah Kerajaan Kandis yang diyakini berdiri sebelum Masehi dan mendahului berdirinya Kerajaan Moloyou dan Kerajaan Dharmasraya.

Adapun dua tokoh utama yang sering disebut sebagai raja di kerajaan ini adalah Patih dan juga Tumenggung.

Sementara itu, nenek moyang Lubuk Jambi disinyalir berasal dari keturunan Waliyullah Raja Iskandar Zulkarnain serta tiga orang putra dari raja tersebut, diantaranya adalah Maharaja Alif, Maharaja Depang dan Maharaja Diraja yang mana mereka berpencar untuk mencari daerah baru.

Pada akhirnya, Maharaja Alif ke daerah Banda Ruhum, Maharaja Depang ke daerah Bandar Cina, sedangkan Maharaja Diraja ke Pulau Emas (Sumatra).

Ketika berlabuh di Pulau Emas ini, Maharaja Diraja beserta rombongannya mendirikan sebuah kerajaan yang diberi nama Kerajaan Kandis yang terletak di Bukit Bakar atau Bukit Bakau.

Dijadikannya daerah tersebut untuk mendirikan sebuah kerajaan adalah karena pada waktu itu daerah tersebut merupakan daerah yang subur dan hijau serta dikelilingi oleh aliran sungai yang jernih.

Kerajaan Salakanagara (103-362 M)

Kerajaan Tertua di Indonesia
histori.id

Berdasarkan bukti-bukti sejarah, Kerajaan Salakanagara merupakan kerajaan pertama yang pernah berdiri dan terletak di Jawa Barat.

Salah satu bukti sejarahnya adalah terdapat pada Naskah Wangsakerta Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara (disusun sebuah panitia yang diketuai oleh keturunan Pangeran Wangsakerta), diperkirakan bahwa Salakanagara merupakan salah satu kerajaan yang paling awal yang terdapat di Nusantara.

Terkait nama-nama ahli atau sejarawan yang membuktikan tentang tatar Banten pernah memiliki nilai-nilai sejarah yang panjang dan tinggi adalah Tb. H. Achmad, Halwany Michrob, Mu’arif Ambary, Husein Djajadiningrat, dan lainnya.

Banyak temuan-temuan mereka yang disusun menjadi tulisan-tulisan, ulasan maupun di rangkum menjadi buku.

Selain itu, terdapat juga nama-nama lainnya, di antaranya adalah Ayatrohaedi, Saleh Danasasmita, Atja, Claude Guillot, John Miksic, Wishnu Handoko, Yoseph Iskandar, Takashi dan lainnya yang menambah pengetahuan seputar Banten.

Berkat mereka, sehingga menjadi semakin luas dan juga terbuka dengan karya-karya yang mereka buat baik itu dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.

Adapun pendiri dari Kerajaan Salakanagara adalah Dewawarman yang mana ia juga merupakan duta keliling, pedagang sekaligus pendatang dari Pallawa, Bharata (India) yang pada akhirnya menetap karena ia menikah dengan seorang putri dari penghulu setempat.

Kerajaan Melayu Tua Jambi (Abad ke-2 M)

Kerajaan Tertua di Indonesia
2.bp.blogspot.com

Dharmasraya adalah nama dari ibukota Kerajaan Melayu yang terletak di Sumatra. Nama tersebut muncul seiring dengan melemahnya Kerajaan Sriwijaya pasca penyerangan yang dilancarkan oleh Rajendra Coladewa raja Chola dari Koromandel, India di tahun 1025 Masehi.

Didalam naskah yang berjudul Chu-fan-chi karya Chau Ju-kua tahun 1225 Masehi disebutkan, bahwasanya negeri San-fo-tsi memiliki 15 daerah bawahan.

Daerah bawahan yang dimaksud adalah Che-lan (Kamboja), Tan-ma-ling (Tambralingga, selatan Thailand), Kia-lo-hi (Grahi, Ch’ai-ya atau Chaiya sekarang menjadi selatan Thailand), Ling-ya-si-kia (Langkasuka, selatan Thailand), Ji-lo-t’ing (Cherating, daerah di pantai timur semenanjung Malaya),  Ki-lan-tan atau Kelantan.

Fo-lo-an (muara Sungai Dungun, daerah Terengganu sekarang), Tong-ya-nong (Terengganu), Pa-t’a (Sungai Paka, pantai timur di semenanjung Malaya), Tsien-mai (Semawe, pantai timur semenanjung Malaya), Pong-fong (Pahang),  Sin-to (Sunda), Pa-lin-fong (Palembang), Kien-pi (Jambi), Lan-mu-li (Lamuri, daerah Aceh sekarang).

Kerajaan Sekala Brak (Abad ke-3 M)

Kerajaan Tertua di Indonesia
4.bp.blogspot.com

Sekala Brak atau dibaca Sekala Bekhak merupakan kerajaan yang bercorak Hindu yang dikenal dengan nama Kerajaan Sekala Brak Hindu.

Meskipun pada awal berdirinya Kerajaan Sekala Brak ini bercorak Hindu, namun setelah kedatangan Empat Umpu dari Pagaruyung yang menyebarkan agama Islam, maka kerajaan ini pada akhirnya berubah nama menjadi Kepaksian Sekala Brak.

Terletak di kaki Gunung Pesagi yang merupakan gunung tertinggi provinsi Lampung. Kerajaan ini merupakan sebuah kerajaan yang menjadi cikal-bakal suku bangsa etnis Lampung yang bertahan hingga saat ini.

Kerajaan Kutai Martadipura/Martapura (350-400 M)

Kerajaan Tertua di Indonesia
blue.kumparan.com

Kutai Martadipura atau dikenal juga dengan nama Kerajaan Kutai Martapura merupakan sebuah kerajaan bercorak Hindu yang memiliki sejarah tertua di Nusantara. Letaknya berada di Muara Kaman, Kalimantan Timur.

Menurut para ahli, nama Kutai didapat dari ditemukannya prasasti yang tertuju pada eksistensi kerajaan tersebut. Meskipun tidak terdapat prasasti yang secara detail menyebutkan nama kerajaan ini.

Hal ini karena memang sangat sedikit informasi yang diperoleh dari peninggalan-peninggalan kerajaan tersebut.

Kerajaan Tarumanegara (358-669 M)

Kerajaan Tertua di Indonesia
www.goodnewsfromindonesia.id

Kerajaan Taruma atau Tarumanegara merupakan sebuah kerajaan yang pernah berdiri dan berkuasa di wilayah barat pulau Jawa. Berdiri pada abad ke-4 hingga abad ke-7 Masehi.

Seperti halnya Kerajaan Kutai, kerajaan ini juga menjadi salah satu kerajaan tertua di Indonesia yang meninggalkan bukti catatan sejarah.

Beberapa catatan sejarah dan bukti-bukti peninggalannya ini berupa artefak di sekitar lokasi kerajaan, terlihat juga bahwa Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan bercorak Hindu beraliran Wisnu.

Bila melihat dari catatan sejarah atau prasasti yang ditemukan, tidak ada penjelasan mengenai siapakah yang pertama kali mendirikan kerajaan ini. Namun terdapat bukti yang menjelaskan bahwa salah satu raja yang pernah berkuasa dan sangat terkenal adalah Purnawarman.

Sekitar tahun 417 Masehi, Purnawarman memerintahkan penggalian Sungai Gomati dan Candrabhaga (Kali Bekasi) sepanjang 6112 tombak atau sekitar 11 Km.

Setelah penggalian selesai, sang prabu mengadakan selamatan yang dilakukan dengan cara menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada para brahmana.

Mengenai bukti dari keberadaan kerajaan ini dapat diketahui dari prasasti-prasasti yang ditemukan, seperti Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Munjul, Prasasti Tugu dan lain sebagainya.

Kerajaan Barus (Abad ke-6 M)

Kerajaan Tertua di Indonesia
pwmu.co

Kesultanan Barus adalah lanjutan dari kerajaan yang terletak di Barus setelah masuknya Islam ke daerah ini. Agama Islam masuk ke Barus bertepatan pada masa awal munculnya agama Islam di semenanjung Arab.

Dari sebuah peninggalan arkeologi, ditemukan Makam Mahligai atau sebuah pemakanan bersejarah yaitu Syeh Usuluddin dan Syeh Rukunuddin yang menjadi tanda masuknya Islam pertama ke Nusantara adalah pada abad ke-7 Masehi di Kecamatan Barus.

Makam ini memiliki panjang sekitar 7 meter yang dihiasi oleh beberapa batu nisan yang khas dan juga unik dengan bertuliskan bahasa Arab, Tarikh 48 Hijriyah.

Saat ini, makam Mahligai dijadikan sebagai Obyek Wisata Religius bagi para umat Islam di seluruh dunia yang mana makam ini berjarak sekitar 75 Km dari Sibolga dan 359 Km dari Kota Medan.

Sementara itu, raja pertama yang memeluk Islam adalah Raja Kadir yang dilanjutkan kepada para putra-putranya yang pada akhirnya bergelar Sultan.

Raja Kadir merupakan penerus dari kerajaan yang telah turun-temurun memerintah di Barus serta merupakan keturunan dari Raja Alang Pardosi yang pertama sekali mendirikan pusat kerajaan di Toddang (Tundang), Pakkat (dikenal sebagai negeri Rambe), dan Tukka yang kemudian bermigrasi dari Balige yang berasal dari marga Pohan.

Di abad ke-6 Masehi,  berdiri sebuah otoritas baru yang terletak di Barus. Adapun pendirinya adalah Sultan Ibrahimsyah yang datang dari Tarusan, Minang, seorang keturunan Batak dari kumpulan marga Pasaribu hingga akhirnya membentuk Dualisme kepemimpinan di daerah tersebut.

Kerajaan Kalingga (Abad ke-6 M)

Kerajaan Tertua di Indonesia
www.artisanalbistro.com

Kerajaan Kalingga merupakan sebuah kerajaan bercorak Hindu yang terletak di Jawa Tengah. Para ahli menyebut bahwa kerajaan ini berpusat di daerah Kabupaten Jepara.

Telah ada sejak abad ke-6 Masehi yang mana dapat diketahui dari sumber-sumber Tiongkok menjadikan kerajaan ini sebagai salah satu kerajaan tertua di Indonesia.

Masa kejayaan dari Kerajaan Kalingga adalah terjadi pada masa pemerintahan Ratu Shima yang terkenal memiliki peraturan cukup tegas namun adil.

Seperti misalnya bagi siapa saja yang mencuri baik itu dari kalangan rakyat atau keluarga kerajaan, maka ia akan dipotong tangannya.

Putri Maharani Shima, Parwati, kemudian menikah dengan salah satu putra mahkota dari Kerajaan Galuh yang bernama Mandiminyak yang dikemudian hari ia menjadi raja kedua di Kerajaan Galuh.

Maharani Shima mempunyai cucu yang bernama Sanaha yang setelah dewasa menikah dengan raja ketiga dari Kerajaan Galuh yang bernama Brantasenawa.

Kemudian Sanaha dan Brantasenawa mempunyai anak yang diberi nama Sanjaya, kelak Sanjaya akan menjadi raja Kerajaan Sunda sekaligus menjadi raja di Kerajaan Galuh (723-732 M).

Sepeninggal Maharani Shima di tahun 732 Masehi, Sanjaya kemudian menggantikan buyutnya sehingga ia menjadi raja di Kerajaan Kalingga Utara atau yang disebut dengan Bhumi Mataram. Selanjutnya ia mendirikan Dinasti/Wangsa Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno.

Setelah menjadi raja di Kalingga Utara, kekuasaan di Jawa Barat akhirnya diserahkan kepada putranya dari Tejakencana yang bernama Tamperan Barmawijaya atau Rakeyan Panaraban.

Raja Sanjaya menikah dengan Sudiwara, putri dari Dewasinga, Raja dari Kalingga Selatan atau Bhumi Sambara. Pernikahannya dikaruniai putra yang diberi nama Rakai Panangkaran.

Kerajaan Kanjuruhan (Abad ke-6 M)

Kerajaan Tertua di Indonesia
upload.wikimedia.org

Kanjuruhan merupakan sebuah kerajaan yang bercorak Hindu di Jawa Timur yang mana pusat dari kerajaan ini sekarang terletak di dekat Kota Malang.

Kerajaan ini diduga telah berdiri pada abad ke-6 Masehi atau semasa dengan Kerajaan Tarumanegara yang terletak di sekitar Bogor dan Bekasi.

Adapun bukti tertulis dari kerajaan ini adalah ditemukannya Prasasti Dinoyo. Sementara itu, raja yang terkenal di kerajaan ini adalah Gajayana. Beberapa peninggalan-peninggalan lainnya dari kerajaan ini adalah Candi Wurun dan juga Candi Badut.

Kerajaan Sunda (669-1579 M)

Kerajaan Tertua di Indonesia
www.pasundan.id

Menurut Wangsakerta, berdirinya Kerajaan Sunda adalah untuk melanjutkan atau menggantikan Kerajaan Tarumanegara. Pendiri dari Kerajaan Sunda adalah Tarusbawa, didirikan pada tahun 591 Caka Sunda atau 669 Masehi.

Berdasarkan sumber sejarah primer yang berasal dari abad ke-16, Kerajaan Sunda adalah suatu kerajaan yang meliputi wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Jawa Barat, Banten, Jakarta serta sebagian barat Provinsi Jawa Tengah.

Ada pula naskah kuno primer Bujangga Manik, naskah ini menceritakan perjalanan Bujangga Manik yang merupakan seorang pendeta Hindu Sunda. Ia mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu yang terletak di Pulau Jawa dan Bali di awal abad ke-16.

Saat ini naskah tersebut disimpan di Perpustakaan Boedlian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627 Masehi.

Mengenai batas dari Kerajaan Sunda di sebelah timur adalah Ci Pamali atau Sungai Pamali (sekarang disebut Kali Brebes) dan Ci Serayu atau Kali Serayu yang terletak di Provinsi Jawa Tengah.

Itulah pembahasan mengenai kerajaan tertua yang pernah berdiri di Indonesia. Meski beberapa diantarnya tidak memiliki bukti yang cukup kuat terkait keberadaannya, namun para ahli berhasil mengungkap terkait bukti keberadaannya dari benda semisal prasasti yang ditinggalkannya.

Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Sejarah Kerajaan Sriwijaya – Tidak dapat dipungkiri, jauh sebelum Indonesia merdeka, berdirilah kerajaan-kerajaan yang sangat terkenal hingga ke berbagai penjuru dunia. Sebut saja Kerajaan Kutai atau Kerajaan Sriwijaya.

Kerajaan Sriwijaya berdiri di pulau Sumatra yang mana kerajaan ini termasuk ke dalam Kerajaan Melayu Kuno.

Sementara itu, nama Sriwijaya sendiri diambil dari bahasa Sansekerta, yaitu Sri yang berarti bercahaya dan Wijaya berarti kemenangan. Maka jika digabungkan, Sriwijaya mempunyai arti “Cahaya Kemenangan”.

Sejarah Lengkap Kerajaan Sriwijaya

Sejarah Kerajaan Sriwijaya
i2.wp.com

Sejarah awal berdirinya Kerajaan Sriwijaya bermula dari daerah pantai timur Sumatra yang telah menjadi jalur perdagangan internasional sehingga banyak para pedagang dari luar negeri khususnya berasal dari India yang berlalu-lalang.

Hal inilah yang menjadi titik awal munculnya pusat-pusat perdagangan di sekitar wilayah tersebut.

Seiring berjalannya waktu, pusat-pusat perdagangan ini berkembang menjadi kerajaan-kerajaan kecil di abad ke-7 Masehi. Beberapa kerajaan-kerajaan keci ini adalah Tulangbawang, Melayu dan Sriwijaya.

Dari ketiga kerajaan tersebut, Kerajaan Sriwijaya merupakan satu-satunya kerajaan yang berhasil berkembang dengan pesat hingga mencapai puncak kejayaan sehingga menjadi salah satu kerajaan terbesar di Nusantara pada masanya.

Meski Kerajaan Melayu juga sempat berkembang di wilayah Jambi, namun pada akhirnya berhasil ditaklukkan oleh Sriwijaya.

Letak Kerajaan Sriwijaya

Diperkirakan bahwa kerajaan ini terletak di Palembang, namun ada juga yang berpendapat di daerah Jambi atau bahkan di luar Nusantara.

Meski terjadi perbedaan pendapat, namun pendapat paling kuat terkait letak dari Kerajaan Sriwijaya adalah terdapat di Palembang. Terdapat juga yang berpendapat bahwa Kerajaan Sriwijaya merupakan sebuah kerajaan maritim yang tidak memiliki sistem ketatanegaraan yang rapi.

Mereka lebih memilih terus mengawasi kekuasaannya di perairan/lautan serta tidak terlalu memperhatikan pusat pemerintahan di darat.

Pendapat inilah yang menyatakan bahwa Kerajaan Sriwijaya merupakan sebuah kerajaan Nomaden (selalu berpindah-pindah) serta tidak memiliki lokasi pusat pemerintahan yang tetap.

Akan tetapi, dari hasil penelitian sejarah yang paling banyak/kuat menunjukkan bahwa pusat kerajaan ini terletak di Palembang walaupun pada saat pusat Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran, pusat pemerintahannya dipindahkan ke Jambi.

Daerah Kekuasaan Kerajaan Sriwijaya

Meskipun berpusat di Sumatra Selatan, namun daerah kekuasaannya mencapai hingga ke sebagian Malaysia serta sebagian besar di pulau Jawa.

Namun pada saat Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaan, wilayah kekuasaannya juga terbilang sangat luas, yaitu mulai dari Thailand, Semenanjung Malaya, Kamboja, Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

Silsilah Kerajaan Sriwijaya

Dapunta Hyang Sri Jayanaga (683 M)

Raja pertama sekaligus pendiri dari Kerajaan Sriwijaya adalah Dapunta Hyang Sri Jayanaga. Tertulis dalam Prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuo, dan Prasasti Kota Kapur bahwa sang raja menaklukkan Kerajaan Melayu dan juga Tarumanegara pada masa pemerintahannya.

Indravarman (702 M)

Raja kedua Kerajaan Sriwijaya adalah Indravarman yang mana ia sempat mengirim utusan ke Tiongkok, tepatnya pada tahun 702-716, dan 724 Masehi.

Rurda Vikraman/Lieou-t’eng-wei-kong (728 M)

Pada tahun 729-748 Masehi, Rudra Vikraman sempat mengirim utusannya ke Tiongkok.

Sangramadhananjaya/Wisnu/Vishnu (775 M)

Di masa kepemimpinannya ini, Raja Wisnu pernah menaklukkan Kamboja Selatan.

Dharmasetu (790 M)

Samaratungga (792 M)

Sepeninggal Raja Dharmasetu, kepemimpinannya dilanjutkan oleh Samaratungga. Namun pada tahun 802 Masehi, ia gagal mempertahankan wilayah kekuasaannya di Kamboja Selatan

Balaputra Sri Kaluhunan atau Balaputradewa (835 M)

Setelah itu, Kerajaan Sriwijaya dipimpin oleh Balaputradewa. Balaputradewa membawa kerajaan ini untuk mencapai masa kejayaan. Bukan hanya itu, ia juga memerintahkan untuk membuat biara yang dikhususkan untuk Kerajaan Cola di India serta meninggalkan Prasasti Nalanda.

Sri Udayadityawarman (960 M)

Sri Udayadityawarman sempat mengirim utusan ke China pada tahun 960 Masehi.

Sri Wuja atau Sri Udayadityan (961 M)

Mengirim utusan ke negeri China pada tahun (961-962 M).

Hsiae-she (980 M)

Pada saat masa kepemimpinannya ini, ia pernah mengirim utusan ke China pada tahun 980-983 Masehi.

Sri Cudamaniwarmadewa (988 M)

Saat Kerajaan Sriwijaya dipimpin oleh Sri Cudamaniwarmadewa, terjadi tragedi penyerangan dari Jawa terhadap kerajaan ini.

Sri Marawijyaottunggawarman (1008 M)

Sri Marawijayottunggawarman mengirimkan utusan ke China pada tahun 1008 Masehi.

Sumatrabhumi (1017 M)

Mengirim utusan ke China di tahun 1017 Masehi.

Sri Sanggramawijayottunggawarman (1025 M)

Pada saat kepemimpinannya ini, Sriwijaya pernah ditaklukkan oleh Kerajaan Cola dari India, namun kemudian dilepaskan kembali.

Sri Deva (1028 M)

Ia mengirim utusan ke China di tahun 1028 Masehi.

Dharmavira (1064 M)

Sri Maharaja (1156 M)

Sri Maharaja mengirim utusan ke China di tahun 1156 Masehi.

Trailokaraja Maulibhusana Varmadeva (1178 M)

Pada masa pemerintahannya ini, ia pernah mengirim utusan ke China, tepatnya pada tahun 1178 Masehi.

Perkembangan Kerajaan Sriwijaya

Sejarah Kerajaan Sriwijaya
i.ytimg.com

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan Kerajaan Sriwijaya. Diantaranya adalah:

  • Letak Kerajaan yang Geografis

Di sekitar muara sungai Musi terdapat pulau-pulau yang bisa difungsikan sebagai pelindung sehingga cukup ideal untuk dijadikan sebagai pertahanan dan juga pemerintahan Kerajaan Sriwijaya.

Selain itu, lokasi tersebut juga merupakan jalur perdagangan internasional, terutama pedagang dari India dan Cina.

  • Berakhirnya Kerajaan Funan di Vietnam

Kerajaan Funan merupakan salah satu kerajaan yang terdapat di Vietnam yang mana kerajaan tersebut berhasil ditaklukkan oleh Kamboja. Sehingga memberikan dampak pada Kerajaan Sriwijaya untuk cepat berkembang sebagai negara maritim.

Kehidupan Agama

Sejarah kehidupan beragama di Kerajaan Sriwijaya terbilang sangat kuat. Buktinya adalah pada saat itu Kerajaan Sriwijaya dijadikan sebagai pusat studi agama Buddha Mahayana di kawasan Asia Tenggara.

Didalam catatan I-tsing menceritakan bahwa saat itu ribuan pelajar dari berbagai penjuru negeri dan juga tokoh agama Buddha tinggal di Sriwijaya.

Salah satu tokoh agama/pendeta Buddha yang cukup terkenal adalah Sakyakirti. Banyak para pelajar yang berasal dari luar negeri yang sengaja datang ke Sriwijaya guna untuk mempelajari bahasa Sansekerta.

Pada tahun 1011-1023 Masehi, Atisa yang merupakan seorang pendeta agama Buddha yang berasal dari Tibet juga sempat datang ke Sriwijaya untuk memperdalam ilmu agamanya.

Terdapat beberapa peninggalan-peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya yang berhubungan dengan perkembangan agama pada masa itu. Beberapa peninggalan-peninggalan yang dimaksud adalah:

  • Arca Buddha, ditemukan di sekitar Bukit Siguntang.
  • Candi Muara Takus. Candi ini ditemukan di dekat Sungai Kampar Riau.
  • Wihara Nagipattana, didirikan oleh Sriwijaya di daerah Nagipattana, India Selatan.

Selain itu, Raja Balaputra juga sempat menghadiahkan sebidang tanah kepada Balaputradewa. Tujuannya adalah untuk mendirikan sebuah asrama yang diperuntukkan bagi para pelajar yang sedang belajar di Nalanda.

Sedangkan pembiayaan seluruhnya di tanggung oleh Balaputradewa yang saat itu sebagai “Dharma”.

Peristiwa tersebut tercatat di dalam Prasasti Nalanda. Prasasti ini sekarang berada di Universitas Nawa Nalanda, India. Bukan hanya itu, bentuk asramanya juga mempunyai kesamaan arsitektur dengan Candi Muara Jambi yang terletak di Provinsi Jambi.

Hal ini membuktikan bahwa Sriwijaya sangat memperhatikan ilmu pengetahuan, utamanya adalah pengetahuan seputar agama Buddha dan bahasa Sansekerta.

Kehidupan Ekonomi

Pada awal berdirinya Kerajaan Sriwijaya, sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani. Namun karena kerajaan ini terletak di tepi Sungai Musi yang bermuara langsung ke lautan lepas, maka sungai ini menjadi jalur perdagangan yang strategis.

Berdasarkan hal tersebut, sebagian besar rakyat Sriwijaya pada akhirnya bermata pencaharian sebagai pedagang.

Karena dilalui jalur perdagangan internasional. maka banyak para saudagar dari luar negeri yang pada akhirnya singgah di Sriwijaya.

Hal itulah yang menjadikan Kerajaan Sriwijaya menjadi ramai dan berkembang pesat menjadi pusat perdagangan. Seiring berjalannya waktu, kerajaan ini mulai menguasai jalur perdagangan lokal maupun internasional.

Jalur perdagangan Kerajaan Sriwijaya ini membentang mulai dari Laut Natuna sampai ke Selat Sunda, kemudian Laut Jawa dan bahkan hingga ke kawasan Asia Tenggara yang mana kawasan ini merupakan jalur perdagangan internasional antara India dan Cina.

Selain memperoleh keuntungan langsung dari para pedagang, kerajaan ini juga mendapatkan keuntungan tidak langsung.

Keuntungan tidak langsung ini didapatkan dari kapal-kapal yang singgah dan melakukan bongkar muat di Sriwijaya yang diharuskan untuk membayar pajak pada pemerintah. Inilah yang menjadikan Kerajaan Sriwijaya semakin makmur.

Sementara itu, beberapa hasil unggulan dari Kerajaan Sriwijaya yang dijadikan sebagai barang ekspor utama adalah gading gajah, kulit, dan beberapa jenis binatang langka.

Meski memiliki hasil unggulan untuk di ekspor, Kerajaan Sriwijaya juga melakukan impor dari luar negeri, beberapa barang/bahan yang biasanya diimpor adalah beras, kayu manis, rempah-rempah, emas, kemenyan, dan beberapa jenis binatang,

Perkembangan Politik dan Pemerintahan

Seperti yang dijelaskan di atas bahwa kerajaan ini mulai berkembang pada abad ke-7 Masehi yang mana pada masa-masa awal perkembangannya sang raja disebut Dapunta Hyang (Prasasti Kedukan Bukit dan Talang Tuo).

Sang raja secara terus-menerus melakukan usaha perluasan untuk daerah kekuasaan Sriwijaya. Dibawah ini adalah runtunan kekuasaannya.

  • Penguasaan pertama adalah Tulang Bawang yang terletak di provinsi Lampung.
  • Kedua adalah terletak di pantai barat Semenanjung Melayu. Daerah tersebut menjadi daerah yang sangat penting untuk pengembangan perdagangan dengan India. Menurut I-tsing, penaklukan Kedah berlangsung antara tahun 682-685 Masehi.
  • Pulau Bangka merupakan salah satu daerah yang dilewati jalur perdagangan internasional. Sriwijaya menguasai daerah ini pada tahun 686 Masehi berdasarkan bukti yang terdapat pada Prasasti Kota Kapur.
  • Selanjutnya adalah daerah Jambi, tepatnya di tepi Sungai Batanghari. Pada saat itu, daerah ini memiliki kedudukan yang cukup penting untuk memperlancar perdagangan yang terdapat di pantai timur Sumatra. Adapun penaklukannya terjadi pada tahun 686 Masehi. Bukti ini diambil dari Prasasti Karang Berahi.
  • Tanah Genting terletak di bagian utara Semenanjung Melayu. Penguasaannya ini dapat diketahui dari Prasasti Ligor yang tertulis tahun 775 Masehi.
  • Menurut berita Cina, terdapat penjelasan mengenai penyerangan terhadap Kerajaan Kalingga dan juga Mataram Kuno. Dugaan kuat yang menyerang dan menaklukkan kedua kerajaan tersebut adalah Kerajaan Sriwijaya.

Semua penguasaan tersebut berdasar pada jalur perdagangan yang dianggap sangat penting untuk mengembangkan perekonomian maritim Kerajaan Sriwijaya.

Akibat perluasan daerah kekuasaan ini, Sriwijaya menjadi kerajaan yang cukup besar dan tersohor dimana-mana. Agar pertahanannya semakin kuat, pada tahun 775 Masehi, Kerajaan Sriwijaya akhirnya membangun pangkalan kerajaan yang terletak di Ligor atas perintah dari Raja Darmasetra.

Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya

Dari sekian banyak sejarah raja yang pernah memimpin Kerajaan Sriwijaya, Raja Balaputradewa adalah raja yang paling terkenal yang memerintah pada abad ke-9 Masehi.

Disebut sebagai raja paling terkenal adalah karena pada masa pemerintahannya, Kerajaan Sriwijaya mencapai masa kejayaan.

Balaputradewa berhasil menumbuhkan perekonomian kerajaan serta memperluas kekuasaannya hingga ke luar negeri.

Raja Balaputradewa merupakan keturunan dari Dinasti Syailendra, yaitu putra dari Raja Samaratungga dengan pasangan Dewi Tara dari Sriwijaya. Keterangan tersebut tertulis di dalam Prasasti Nalanda.

Ia merupakan seorang raja yang dibesarkan di Sriwijaya yang kemudian ia menjalin hubungan erat dengan Kerajaan Benggala yang pada saat itu diperintah oleh Raja Dewapala Dewa.

Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya

Berdasarkan sejarah, faktor utama yang menyebabkan runtuhnya Kerajaan Sriwijaya adalah karena kerajaan ini terlalu bergantung pada perdagangan laut, mengabaikan kekuasaan wilayah darat karena terlalu fokus mengembangkan sektor kelautan, dan sistem ketatanegaraan yang tidak tertata dengan baik.

Sementara itu, beberapa faktor lainnya yang mengakibatkan Kerajaan Sriwijaya runtuh adalah:

  • Banyak daerah kekuasaan yang memisahkan diri dari Sriwijaya. Penyebabnya adalah karena melemahnya angkatan laut Sriwijaya.
  • Keadaan alam sekitar Kerajaan Sriwijaya yang lambat laun berubah, tidak dekat lagi dengan pantai. Hal ini disebabkan oleh perubahan aliran sungai Musi, Ogan, dan Komering yang banyak membawa lumpur sehingga mempengaruhi perdagangan.
  • Mendapat serangan dari kerajaan-kerajaan lain. Salah satunya adalah serangan yang dilakukan oleh Raja Rajendracola dari Kerajaan Colamandala di tahun 1017 dan juga 1024 Masehi.
    Setelah itu, pada tahun 1275 Masehi, Kartanegara dari Kerajaan Singhasari melakukan ekspedisi Pamalayu yang mengakibatkan daerah Melayu melepaskan diri dari Sriwijaya.

Puncak dari kehancuran Kerajaan Sriwijaya adalah terjadi pada tahun 1377 Masehi yang mana kerajaan ini diserang dan berhasil ditaklukkan oleh Kerajaan Majapahit.

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Sejarah Kerajaan Sriwijaya
upload.wikimedia.org

Beberapa sumber mengenai sejarah Kerajaan Sriwijaya adalah ditemukannya prasasti-prasasti. Berikut adalah prasasti-prasasti yang berhasil ditemukan sebagai bukti keberadaan Kerajaan Sriwijaya.

Prasasti Kedukan Bukit

Prasasti yang pertama adalah Prasasti Kedukan Bukit, ditemukan di tepi Sungai Tatang di dekat Palembang. Adapun prasasti ini bertuliskan angka tahun 605 Saka (683 M).

Isi dari prasasti ini adalah menerangkan tentang seorang yang bernama Dapunta Hyang yang mengadakan perjalanan suci (siddhayatra) dengan menggunakan perahu.

Tertulis bahwa Dapunta Hyang berangkat dari Minangtamwan dengan membawa bala tentara sebanyak 20.000 personel.

Poerbatjaraka & Soekmono mengatakan bahwa Minangtamwan terletak di hulu Sungai Kampar, tepatnya adalah terletak di pertemuan Sungai Kampar Kanan dan Sungai Kampar Kiri.

Selain itu, Poerbatjaraka juga menyebutkan bahwa Minangatamwan merupakan nama lama dari Minangkabau. Berbeda dengan Poerbatjaraka, Buchari berpendapat jika Minanga terletak di hulu Sungai Batang Kuantan.

Prasasti Talang Tuo

Pada masa sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada saat Residen Palembang dijabat Louis Constant, ia menemukan prasasti ini pada tanggal 17 November 1920.

Ditemukan di kaki Bukit Seguntang di sekitaran tepian utara Sungai Musi. Mengenai isi dari prasasti ini adalah berupa doa-doa yang didedikasikan dan menunjukkan berkembangnya agama Buddha di Kerajaan Sriwijaya.

Agama Buddha di Sriwijaya beraliran Mahayana, buktinya adalah terdapat kata-kata dari Buddha Mahayana seperti vajrasarira, bodhicitta, dan lainnya.

Prasasti Telaga Batu

Prasasti Telaga Batu ditemukan di sekitar kolam Telaga Batu, Kelurahan 3 Ilir, Ilir Timur II, Kota Palembang. Adapun isinya adalah mengenai kutukan bagi mereka yang melakukan perbuatan jahat di Sriwijaya. Saat ini Prasasti Telaga Batu disimpan di Museum Nasional Indonesia.

Prasasti Kota Kapur

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya selanjutnya adalah Prasasti Kota Kapur yang berada di Barat Pulau Bangka. Prasasti ini ditulis menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno. Ditemukan oleh J. K van der Meulen sekitar 1892 bulan Desember.

Terkait isi dari prasasti ini adalah mengenai kutukan bagi siapa saja yang membantah perintah dan kekuasaan raja.

Prasasti Karang Berahi

Prasasti Karang Berahi ditemukan oleh Kontrolir L.M. Berkhout pada tahun 1904 di Desa Karang Berahi, Jambi. Didalam prasasti ini bertuliskan angka 608 Saka atau 686 Masehi.

Adapun isi dari prasasti ini hampir mirip seperti yang tertulis pada Prasasti Kota Kapur dan juga Prasasti Telaga Batu, yaitu mengenai kutukan bagi siapa saja yang tidak patuh dan tunduk kepada Sriwijaya.

Prasasti Ligor

Prasasti Ligor ditemukan di Thailand Selatan dan memiliki dua sisi, yaitu sisi A dan sisi B. Sisi A menjelaskan tentang gagahnya raja Sriwijaya. Didalam Prasasti Ligor tertulis bahwa raja Sriwijaya adalah raja dari segala raja dunia yang sudah mendirikan Trisamaya Caiya bagi Kajara.

Sementara itu, pada sisi B tertulis mengenai pemberian gelar Visnu Sesawarimadawimathana. Gelar ini diberikan kepada Sri Maharaja yang berasal dari keluarga Sailendravamasa.

Prasasti Palas Pasemah

Prasasti ini ditemukan di Desa Palas Pasemah, Lampung Selatan. Ditulis menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno serta terdiri dari 13 baris kalimat.

Terkait isi dari prasasti ini adalah tentang kutukan terhadap siapa saja yang tidak patuh dan tunduk kepada kekuasaan Sriwijaya. Berdasarkan bukti sejarah yang ditemukan, prasasti ini berasal dari abad ke-7 Masehi.

Seperti halnya Kerajaan Mataram Kuno, sejarah Kerajaan Sriwijaya juga pernah mengalami masa kejayaan. Bukti sejarahnya tertulis di berbagai berita baik dari dalam atau di luar negeri, mulai kabar dari Arab hingga Cina.

Demikian pembahasan lengkap mengenai sejarah Kerajaan Sriwijaya yang berhasil kami rangkum dari berbagai sumber terpercaya. Semoga bermanfaat.

Sejarah Kerajaan Kutai

Sejarah Kerajaan Kutai

Sejarah Kerajaan Kutai – Kerajaan Kutai merupakan kerajaan bercorak Hindu dengan bukti sejarah tertua yang pernah berdiri di Nusantara. Berdiri sejak abad ke-4 yang mana informasi utamanya ini berasal dari ditemukannya 7 buah Yupa.

Yupa sendiri merupakan prasasti berbentuk tiang batu yang ditulis menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Pada masanya, Yupa mempunyai 3 fungsi utama, yaitu sebagai prasasti, lambang kebesaran raja dan tiang pengikat hewan kurban untuk upacara keagamaan.

Sementara itu, Kerajaan Kutai sendiri dapat merujuk pada dua kerajaan yang berbeda, yaitu Kutai Mulawarman/Martapura dan Kutai Kartanegara. Kutai Mulawarman merupakan kerajaan Hindu Buddha pertama di Nusantara.

Sedangkan Kutai Kartanegara merupakan sebuah kerajaan yang pada akhirnya menaklukkan Kutai Mulawarman/Martapura yang pada akhirnya berubah haluan menjadi Kesultanan Islam.

Baca Juga : Sejarah Kerajaan Mataram Kuno

Sejarah Lengkap Kerajaan Kutai

Sejarah Kerajaan Kutai
Sumber Gambar: nusadaily.com

Meski Kutai tidak termasuk ke dalam jalur perdagangan internasional di Nusantara, namun pada masa kejayaannya, kerajaan ini memiliki hubungan dagang dengan India. Nah, melalui jalur inilah pengaruh Hindu-Buddha mulai masuk dan menyebar di Nusantara.

Adapun salah satu bukti bahwa Kerajaan Kutai memiliki hubungan erat dengan India adalah ditemukannya Yupa atau batu berbentuk tiang yang bertuliskan menggunakan bahasa Sansekerta.

Sansekerrta merupakan bahasa Hindu asli yang mana dalam penulisannya menggunakan aksara Pallawa. Aksara ini telah digunakan oleh agama Hindu sekitar 400 Masehi.

Berdasarkan temuan ini, para sejarawan menyimpulkan bahwa Kerajaan Kutai merupakan kerajaan bercorak Hindu tertua di Indonesia.

Letak Kerajaan Kutai

Sejarah Kerajaan Kutai
Sumber Gambar: sejarahdunia66.blogspot.com

Diperkirakan, letak dari kerajaan ini berada di daerah Muara Kaman di tepi sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Sungai ini merupakan sungai yang cukup besar serta memiliki beberapa anak sungai.

Nah, lokasi pertemuan antara sungai Mahakam dengan anak sungai ini yang diperkirakan menjadi letak Muara Kaman di masa lalu.

Karena sungai Mahakam bermuara langsung ke lautan lepas, maka kapal-kapal kecil dapat berlayar hingga masuk ke Muara Kaman. Hal ini yang menjadikan lokasinya strategis sebagai jalur perdagangan.

Pendiri Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai Mulawarman/Martadipura didirikan oleh pembesar dari Kerajaan Campa (Kamboja) yang bernama Kudungga, selanjutnya menurunkan Raja Aswawarman, selanjutnya Raja Mulawarman.

Dari ketiga raja tersebut adalah raja yang paling terkenal yang pernah menjadi raja di Kerajaan Kutai (terutama Mulawarman) karena pada masanya, ia berhasil membawa kerajaan ini ke masa kejayaan atau keemasan.

Bukan hanya itu, para sejarawan juga menganggap jika Mulawarman merupakan pendiri dari Kerajaan Kutai karena berhasil membawa kepada stabilitas sosial, politik dan ekonomi.

Berdasarkan tulisan yang terdapat pada Prasasti Yupa, nama Raja Kudungga disinyalir merupakan nama asli Indonesia. Namun pada generasi selanjutnya, yaitu Aswawarman dan Mulawarman merujuk pada nama yang telah terpengaruh serta diambil dari nama India.

Silsilah Raja di Kerajaan Kutai

Sejarah Kerajaan Kutai
Sumber Gambar: www.yuksinau.id

Tercatat, bahwa kerajaan ini bertahan hingga 21 generasi. Adapun nama-nama raja dari setiap generasi adalah:

  • Maharaja Kudungga yang bergelar Anumerta Dewawarman (pendiri Kerajaan Kutai)
  • Maharaja Aswawarman, bergelar Wangsakerta dan juga Dewa Ansuman (anak Kudungga)
  • Maharaja Mulawarman (anak Aswawarman). Raja ketiga ini disebut-sebut sebagai raja paling terkenal dan juga raja terbesar. Hal ini karena pada masa kepemimpinannya, Kerajaan Kutai mencapai masa kejayaan.

Sepeninggal Maharaja Mulawarman, Kerajaan Kutai selanjutnya dipimpin oleh Maharaja Marawijaya Warman, Maharaja Gajayana Warman, Maharaja Tungga Warman, Maharaja Tungga Warman, Maharaja Jayanaga Warman, Maharaja Nalasinga Warman, Maharaja Gadingga Warman Dewa.

Maharaja Indra Warman Dewa, Maharaja Sangga Warman Dewa, Maharaja Candrawarman, Maharaja Sri Langka Dewa, Maharaja Guna Parana Dewa, Maharaja Wijaya Warman, Maharaja Sri Aji Dewa, Maharaja Mulia Putera, Maharaja Nala Pandita, Maharaja Indra Paruta Dewa dan terakhir adalah Maharaja Dharma Setia. Dikutip dari serupa.id

Kehidupan Kerajaan Kutai

Pada masanya, kehidupan Kerajaan Kutai berpusat pada keunggulan letak geografisnya yang mana kerajaan ini berdiri di lokasi yang cukup strategis, yaitu dapat diakses melalui jalur maritim.

Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai sejarah kehidupan Kerajaan Kutai dilihat dari beberapa aspek utamanya.

Kehidupan Politik

Raja Mulawarman merupakan sosok raja yang paling disegani oleh rakyatnya. Hal ini terlihat dari wataknya yang bijaksana dan murah hati.

Bahkan mereka menyebut bahwa Kudungga yang notabenenya adalah leluhur sekaligus pendiri dari Kerajaan Kutai dikatakan bukanlah pendiri Kutai karena dianggap masih terlalu banyak menerapkan konsep kerajaan yang sangat tertutup dan terbatas terhadap keluarga kerajaan saja.

Berbeda dengan Mulawarman yang berhasil menciptakan stabilitas politik dengan cara melibatkan golongan lainnya di dalam kerajaan.

Bukti ini tertulis dalam salah satu Yupa yang ditemukan. Dalam Yupa tersebut tertulis bahwa “Mulawarman merupakan seorang raja yang paling berkuasa, kuat, namun bijaksana.” Maharaja Mulawarman juga terkenal sebagai raja yang sangat dekat dengan kaum Brahmana dan rakyat jelata.

Kehidupan Ekonomi

Karena letaknya di tepi sungai Mahakam, maka aktivitas utama masyarakatnya adalah bergerak di bidang pertanian. Namun beberapa diantaranya juga melakukan perdagangan dengan luar negeri. Sedangkan mata pencaharian utama dari masyarakat di Kerajaan Kutai adalah beternak sapi.

Didalam salah satu Yupa yang ditemukan, tertulis bahwa Raja Mulawarman pernah memberikan sapi sebanyak 20.000 ekor kepada para Brahmana. Inilah yang menjadi rujukan bahwa pada abad ke-5 Masehi, terdapat suatu peternakan yang sangat maju yang terletak di Kerajaan Kutai.

Kehidupan Sosial

Kerajaan Kutai terkenal karena memiliki golongan masyarakat yang mampu menguasai bahasa Sansekerta serta sudah terbiasa menulis menggunakan huruf Palawa, meski hanya terbatas pada golongan Brahmana saja.

Akan tetapi, penggolongan kelas masyarakat disini justru menjadi salah satu bukti sistem sosial di Kerajaan Kutai.

Adapun golongan lainnya adalah para Ksatria yang terdiri dari kerabat-kerabat kerajaan. Nah, sebagian masyarakat Kutai sendiri adalah penduduk yang sangat menjunjung tinggi suatu kepercayaan asli dari leluhurnya secara turun-temurun.

Sementara kerajaannya sendiri berdasarkan agama Hindu Syiwa dan juga golongan para Brahmana, termasuk Maharaja Mulawarman sendiri.

Masa Kejayaan Kerajaan Kutai

Sejarah Kerajaan Kutai
Sumber Gambar: blue.kumparan.com

Seperti yang telah dijelaskan diatas, bahwa masa kejayaan dari Kerajaan Kutai adalah ketika dipimpin oleh Maharaja Mulawarman.

Pada masanya itu, roda perekonomian masyarakatnya mengalami perkembangan yang sangat pesat. Kejayaannya ini dapat dilihat ari aktivitas ekonomi di kala itu.

Dalam salah satu Prasasti Yupa juga tertulis bahwa Raja Mulawarman telah melakukan upacara slametan emas yang cukup banyak.

Bukan hanya itu, diperkirakan bahwa kerajaan ini telah menjalin hubungan dagang internasional dengan para saudagar yang melewati jalur perdagangan internasional yang berasal dari India melewati Selat Makassar, dilanjutkan ke Filipina hingga sampai di Cina.

Diperkirakan para saudagar tersebut biasanya singgah di Kutai dan hal inilah yang membuat Kerajaan Kutai semakin ramai dan juga makmur. Selain itu, kejayaannya juga tampak dari terdapatnya golongan terdidik.

Golongan terdidik ini terdiri dari Brahmana dan Ksatria yang diperkirakan telah berlayar ke India atau pusat-pusat penyebaran agama Hindu lainnya di kawasan Asia Tenggara yang mana masyarakat golongan tersebut mendapat kedudukan terhormat di Kerajaan Kutai.

Runtuhnya Kerajaan Kutai

Sejarah Kerajaan Kutai
Sumber Gambar: theinsidemag.com

Faktor utama yang menjadi penyebab runtuhnya Kerajaan Kutai adalah ketika Raja Kutai tewas dalam peperangannya melawan calon Raja Kutai Kartanegara yang ke-13, yaitu Aji Pangeran Anum Panji Mendapa.

Sementara itu, Kutai Kartanegara ini merupakan kerajaan berbeda dengan kerajaan yang terletak di Kutai Lama (Tanjung Kute).

Terdapat sumber lain yang mengatakan bahwa yang berhasil menaklukkan Kutai Martapura/Kutai Mulawarman adalah seseorang yang bernama Sultan Aji Muhammad Idris.

Dengan kekalahannya ini, Kerajaan Kutai pada akhirnya berubah menjadi Kerajaan Islam atau disebut dengan Kesultanan Kutai Kartanegara. Gelar yang awalnya raja otomatis berubah menjadi Sultan.

Baca Juga : Kerajaan Islam Tertua di Indonesia

Bukti Peninggalan Kerajaan Kutai

Beberapa bukti-bukti peninggalan dari Kerajaan Kutai adalah:

Ketopong Sultan

Sejarah Kerajaan Kutai
Sumber Gambar: moondoggiesmusic.com

Ketopang Sultan merupakan sejenis mahkota raja yang dipakai oleh raja di Kerajaan Kutai. Mahkota ini terbuat dari bahan emas dengan berat total sekitar 1.98 kg. Saat ini, Ketopang Sultan Kutai tersimpan dengan baik di Museum Nasional Jakarta.

Prasasti Yupa

Sejarah Kerajaan Kutai
Sumber Gambar: makemeask.blogspot.com

Bukti sejarah pernah berdirinya Kerajaan Kutai selanjutnya adalah ditemukannya Prasasti Yupa. Prasasti yang ditulis menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta ini berbentuk seperti tiang batu.

Prasasti Yupa juga menjadi bukti sejarah bahwa kerajaan ini menjadi salah satu kerajaan bercorak Hindu tertua yang pernah berdiri di Nusantara.

Pedang Sultan Kutai

Sejarah Kerajaan Kutai
Sumber Gambar: cagarbudaya.kemdikbud.go.id

Peninggalan Kerajaan Kutai selanjutnya adalah Pedang Sultan Kutai. Pedang ini terbuat dari bahan emas yang cukup padat. Pada bagian gagangnya, terdapat ukiran bermotif seekor binatang harimau yang terlihat akan menerkam musuhnya.

Sedangkan pada ujung sarung atau wadahnya dihiasi oleh ukiran motif seekor buaya. Hingga saat ini, Pedang Sultan Kutai tersimpan di Museum Nasional Jakarta.

Keris Bukit Kang

Sejarah Kerajaan Kutai
Sumber Gambar: alif.id (Gambar Hanya Ilustrasi)

Keris Bukit Kang merupakan salah satu senjata pusaka yang digunakan oleh Permaisuri Aji Putri Karang Melenu yang menjabat sebagai Sultan Kutai Kartanegara pertama.

Kalung Uncal

Kalung Uncal adalah kalung emas yang memiliki berat sekitar 170 gram yang mana pada kalung tersebut terdapat hiasan liontin berelief Kisah Ramayana.

Dahulu, kalung ini dijadikan sebagai salah satu atribut dari Kerajaan Kutai yang biasa dipakai oleh Sultan Kutai Kartanegara.

Beberapa ahli memperkirakan bahwa kalung ini berasal dari India. Sampai dengan saat ini, hanya terdapat dua Kalung Uncal yang ada di dunia. Pertama terdapat di India dan yang kedua terdapat di Indonesia, tepatnya berada di Museum Mulawarman, Kota Tenggarong.

Kalung Ciwa

Selain Kalung Uncal, terdapat juga Kalung Ciwa sebagai peninggalan Kerajaan Kutai. Kalung ini ditemukan pada saat kepemimpinan Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Ditemukan di sekitar Danau Lipan, Muara Kaman pada tahun 1890 Masehi.

Sampai dengan saat ini, Kalung Ciwa masih digunakan sebagai perhiasan yang dikenakan oleh raja. Namun penggunaan kalung ini hanya dipakai pada saat acara-acara tertentu, semisal acara pesta pengangkatan raja baru.

Kura-Kura Emas

Sejarah Kerajaan Kutai
Sumber Gambar: pbs.twimg.com (Gambar Hanya Ilustrasi)

Kura-kura emas menjadi peninggalan Kerajaan Kutai selanjutnya yang saat ini tersimpan di Museum Mulawarman. Memiliki ukuran setengah kepalan tangan. Ditemukan di daerah Long Lalang di hulu Sungai Mahakam.

Kelambu Kuning

Sejarah Kerajaan Kutai
Sumber Gambar: moondoggiesmusic.com

Meski hanya berupa kelambu berwarna kuning, namun benda ini dipercaya memiliki kekuatan mistis. Di dalamnya, terdapat benda-benda dari Kerajaan Kutai yang juga memiliki kekuatan magis.

Tali Juwita

Tali Juwita terbuat dari benang 21 helai, digunakan pada saat upacara adat seperti Bepelas. Selain itu, Tali Juwita juga menjadi simbol tujuh muara dari tiga anak sungai, yaitu Sungai Kedang Pahu, Kelinjau dan Belayan.

Tempat Duduk Raja (Singgasana Raja)

Sejarah Kerajaan Kutai
Sumber Gambar: naldoleum.blogspot.com

Benda peninggalan bersejarah dari Kerajaan Kutai selanjutnya adalah singgasana atau tempat duduk raja. Saat ini, benda ini masih tersimpan dengan baik di Museum Mulawarman.

Demikianlah pembahasan lengkap mengenai sejarah Kerajaan Kutai hingga peninggalan-peninggalannya. Dengan pembahasan ini, semoga dapat menambah wawasan kita tentang sejarah-sejarah yang pernah terjadi di negara kita ini.

Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno merupakan kerajaan yang terletak di Bumi Mataram atau tepatnya di tiga wilayah yaitu Kedu, Yogyakarta dan Surakarta Jawa Tengah.

Daerah ini merupakan wilayah yang sangat subur karena berada di tengah-tengah gunung Sindoro, Sumbing, Perahu, Merbabu, Merapi, Lawu dan juga pegunungan Sewu. Selain itu, kerajaan ini juga disebut dengan nama Kerajaan Medang dan merupakan sebuah kerajaan agraris.

Pada saat masih berdiri, kerajaan ini pernah diperintah oleh tiga dinasti, yaitu Dinasti Sanjaya (menganut agama Hindu), Dinasti Syailendra (menganut agama Buddha) dan Dinasti Isana.

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno
Sumber Gambar: https://id.wikipedia.org/wiki/Medang

Kerajaan ini terletak di wilayah aliran sungai Bogowonto, Progo, Elo dan Bengawan Solo, Jawa Tengah. Namun lokasi kerajaan ini juga sempat berpindah-pindah karena faktor yang disebabkan oleh bencana alam.

Sementara itu, agama yang dianut oleh rakyatnya adalah Hindu Siwa yang kemudian berganti menjadi Buddha Mahayana.

Berdasarkan sejarah, kerajaan ini tercatat pernah menaklukkan tiga dinasti yaitu Wangsa Sanjaya, Wangsa Syailendra dan Wangsa Isana. Berdirinya kerajaan ini juga sekaligus sebagai penerus tahta dari Kerajaan Kalingga.

Pendiri Kerajaan Mataram Kuno

Adapun orang yang mendirikan kerajaan ini adalah Sanjaya, yang mana ia juga sebagai pendiri dari Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu. Setelah Sanjaya tutup usia, posisinya ini kemudian diteruskan oleh Rakai Panangkaran.

Nah, pada masa kepemimpinannya ini, agama yang dianut berpindah dari yang semula adalah agama Hindu berubah menjadi Buddha Mahayana.

Silsilah Raja Mataram Kuno

Setidaknya terdapat 16 raja yang pernah menduduki tahta tertinggi di Kerajaan Medang, di antaranya adalah:

Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya

Penguasa pertama adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya yang memerintah dalam kurun waktu sekitar 29 tahun, tepatnya dimulai pada tahun 717-746 Masehi.

Pada masa kekuasaannya ini, tercatat sudah berdiri kerajaan lain yang berkuasa di Pulau Jawa, yaitu Sana yang merupakan saudara dari sang ibunda Ratu.

Sri Maharaja Rakai Panangkaran Dyah Pancapana

Raja selanjutnya adalah bergelar Sri Maharaja Rakai Panangkaran Dyah Pancapana yang berkuasa pada abad ke-770 Masehi. Nah, pada masanya ini tercatat bahwa ia telah mampu membangun sebuah candi yang saat ini dikenal dengan nama Candi Kalasan.

Dharanindra atau Indra

Penerus selanjutnya adalah Dharanindra atau Indra yang merupakan Wangsa Syailendra serta berkuasa atas Kerajaan Medang dan Kerajaan Sriwijaya, tepatnya pada abad ke-782 Masehi.

Dalam prasasti yang ditemukan, tercatat bahwa mulai dari semenanjung Malaya hingga ke daratan Indocina pernah berhasil ia taklukkan. Karena jasanya ini, ia diberi julukan sebagai penumpas musuh-musuh atau Wairiwarawiramardana.

Sri Maharaja Rakai Warak

Nama asli dari Sri Maharaja Rakai Warak adalah Samaragrawira yang di daulat sebagai penguasa keempat di kerajaan ini dan juga menguasai Kerajaan Sriwijaya.

Kekuasaannya dimulai pada abad ke-802 Masehi. Samaragrawira merupakan putra dari raja sebelumnya yang diberi julukan Wairiwarawiramardana.

Rakai Garung

Penguasa kelima dari kerajaan ini adalah Rakai Garung yang merupakan wangsa Sanjaya. Ia berkuasa antara abad ke-828-847 Masehi. Dalam salah satu prasasati yang ditemukan, ia bersama Partapan Pu Palar melakukan upacara Sima.

Sri Maharaja Rakai Pikatan Mpu Manuku

Sri Maharaja Rakai Pikatan Mpu Manuku adalah raja keenam yang berkuasa sekitar abad ke-840-856 Masehi. Pada masa kepemimpinannya, ia berhasil membuat bangunan suci Siwaghara atau kini lebih dikenal sebagai Candi Siwa.

Bukan hanya itu, sang raja juga mendapat gelar Jatiningrat tepatnya di masa-masa pemerintahannya yaitu pada tahun 856 Masehi. Setelah itu, kekuasaannya diwariskan kepada anak terakhirnya yang bernama Dyah Lokapala.

Sri Maharaja Rakai Kayuwangi

Dyah Lokapala atau Sri Maharaja Rakai Kayuwangi adalah putra terakhir dari raja sebelumnya yang bergelar Sri Maharaja Rakai Pikatan Mpu Manuku. Sri Maharaja Rakai Kayuwangi mulai memimpin sejak 856-889-an Masehi.

Sri Maharaja Rakai Watuhumalang

Mahkota kerajaan setelahnya dilanjutkan oleh Sri Maharaja Rakai Watuhumalang di abad ke-890-an Masehi. Meski tidak terdapat prasasti yang mencantumkan namanya, namun ia adalah menantu dari Rakai Pikatan dan juga merupakan saudara tiri dari Maharaja Rakai Kayuwangi.

Sri Maharaja Rakai Watukura

Sri Maharaja Rakai Watukura berkuasa sejak abad ke-899-911 Masehi yang mana pada masa pemerintahannya ini, letak kerajaan berada di Poh Pitu atau Yawapura. Adapun wilayah kekuasaannya meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali.

Mpu Daksa

Raja selanjutnya adalah Mpu Daksa, berkuasa sekitar tahun 913-919 Masehi. Mpu Daksa merupakan saudara ipar dari raja sebelumnya, yaitu Sri Maharaja Rakai Watukura.

Hal ini tercatat di dalam beberapa prasasti yang mana dalam prasasti itu tertulis mengenai hubungan kekerabatannya yang sering disandingkan dengan nama istri dari Dyah Balitung.

Sri Maharaja Rakai Layang

Setelah Mpu Daksa meninggal, kepemimpinannya dilanjutkan oleh putrinya yang pada saat menjadi raja diberi gelar Sri Maharaja Rakai Layang. Masa pemerintahannya ini dimulai pada tahun 919-924 Masehi.

Adapun penyebab dari berakhirnya Sri Maharaja Rakai Layang disebabkan oleh kudeta yang dilakukan oleh Dyah Wawa yang dibantu oleh Mpu Sindok. Hal ini diperkuat karena tercatat dalam prasasti.

Sri Maharaja Rakai Sumba

Raja ke-12 dari kerajaan ini adalah putra dari Rakai Kayuwangi sekaligus sepupu Dyah Bumijaya yang diberi gelar Sri Maharaja Rakai Sumba. Masa kekuasaannya dimulai pada abad ke-924-929 Masehi.

Terdapat salah satu prasasti yang mencatat bahwa ia pernah melakukan kudeta, prasasti tersebut bernama Prasasti Sangguran.

Mpu Sindok

Mpu Sindok adalah raja ke-13 yang tercatat dalam sejarah periode Jawa Timur yang mana ia memerintah pada tahun 929-947 Masehi.

Sri Isyana Tunggawijaya

Kerajaan ini selanjutnya dipimpin oleh seorang ratu yang bernama Sri Isyana Tunggawijaya. Berkuasa sekitar abad ke-947 Masehi dan memimpin bersama suaminya yaitu Sri Lokapala.

Sri Makutawangsawardhana

Raja di kerajaan ini selanjutnya dipimpin oleh Sri Makutawangsawardhana yang berkuasa sebelum abad ke-990 Masehi.

Beliau merupakan putra dari ratu ke-14. Adapun masa yang kepemimpinannya ini tidak diketahui pasti berapa lamanya, namun yang pasti ia memiliki seorang putri yang bernama Mahendradatta.

Sri Maharaja Isana Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa

Raja ke-16 atau raja terakhir dari Kerajaan Medang adalah Sri Maharaja Isana Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa yang berkuasa sejak abad ke-991-1016 Masehi. Berdasarkan catatan sejarah, ia menikahkan putrinya dengan Airlangga.

Namun setelah itu terjadi serangan mendadak dari Kerajaan Lwaram atas bantuan dari Kerajaan Sriwijaya yang mengakibatkan Kerajaan Medang akhirnya runtuh dan kemudian lahir kerajaan baru yang mana Airlangga dijadikan sebagai raja pertamanya.

Baca Juga: Sejarah Kerajaan Samudera Pasai

Faktor Penyebab Runtuhnya Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno
Sumber Gambar: www.yuksinau.id

Adapun beberapa faktor yang menyebabkan runtuhnya Kerajaan Mataram Kuno adalah akibat dari bencana alam dan ancaman dari musuh yaitu Kerajaan Sriwijaya.

Selain itu, terjadi juga perpecahan di dalam Kerajaan Medang, perpecahan ini terjadi tak lama setelah Samaratungga tutup usia. Kemudian anak dari Samaratungga dengan Dewi Tara yang bernama Balaputradewa bersikap menentang terhadap Pikatan (pewaris tahta).

Sampai pada akhirnya pertentangan itu mengakibatjan perang untuk memperebutkan kekuasaan antara Pikatan dengan Balaputradewa. Dalam perang inilah, Balaputradewa sempat membuat benteng pertahanan yang terletak di perbukitan di sebelah selatan Prambanan.

Benteng ini sekarang dikenal dengan nama Candi Boko. Meski telah membuat benteng pertahanan, namun pada akhirnya Balaputradewa kalah dan terdesak sehingga ia melarikan diri ke Sumatra yang kemudian Balaputradewa menjadi raja di Kerajaan Sriwijaya.

Pertentangan yang terjadi antara keluarga Mataram yang disebabkan oleh Balaputradewa dengan Pikatan terus berlangsung hingga masa pemerintahan Mpu Sinduk.

Bukan hanya itu, Kerajaan Sriwijaya tak henti menyerang Kerajaan Medang yang membuat Mpu Sindok terpaksa memindahkan ibu kota dari Medang ke Daha (Jawa Timur).

Setelah memindahkan pusat kota, Mpu Sindok akhirnya mendirikan dinasti baru yaitu Dinasti Isyanawangsa.

Perselisihan atau pertikaian baru berhenti pada masa pemerintahan Airlangga yang pernah membantu Sriwijaya ketika mendapatkan serangan dari Kerajaan Colamandala dari India.

Di tahun 1037 Masehi, Airlangga pada akhirnya berhasil mempersatukan kembali daerah-daerah yang pernah dikuasai oleh Dharmawanga. Daerah-daerah ini meliputi seluruh wilayah di Jawa Timur.

Namun pada tahun 1042 Masehi Airlangga memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai raja Kerajaan Medang dan memilih hidup sebagai petapa dengan nama Resi Gentayu (Djatinindra).

Setelah mengundurkan diri, Airlangga kemudian memerintahkan Mpu Bharada untuk membagi Kerajaan Mataram Kuno menjadi dua bagian yaitu Kerajaan Kediri dan Janggala. Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya perang saudara di antara kedua putranya yang lahir dari selir.

Prasasti Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno
Sumber Gambar: upload.wikimedia.org

Kerajaan Medang menjadi salah satu kerajaan terbesar yang pernah berdiri di Nusantara. Hal ini diperkuat dengan banyaknya peninggalan-peninggalan sejarah yang ditemukan.

Peninggalan-peninggalan ini berupa prasasti. Diantaranya adalah:

Prasasti Sojomerto

Prasasti tertua adalah Prasasti Sojomerto. Diperkirakan, prasasti ini sudah ada sejak abad ke-7 Masehi. Karena ditemukan di desa Sojomerto kabupaten Pekalongan, maka prasasti ini diberi nama Prasasti Sojomerto.

Mengenai isi dari prasasti ini adalah penjelasan bahwasanya Syailendra merupakan penganut agama Buddha.

Prasasti Canggal

Prasasti Canggal (732 M) berbentuk Candrasangkala dan ditemukan di Gunung Wukir, desa Canggal. Berbeda dengan Prasasti Sojomerto, Prasasti Canggal berisi tentang peringatan pembuatan lingga di Desa Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya.

Prasasti Kalasan

Prasasti Kalasan (778 M) memiliki bentuk tulisan yang menggunakan huruf Pranagari (India Utara) dan bahasa sansekerta serta ditemukan di desa Kalasan Yogyakarta.

Mengenai isi dari prasasti ini adalah tentang kabar Raja Syailendra yang berusaha membujuk Rakai Panangkaran untuk mendirikan bangunan suci yang diperuntukkan untuk Dewi Tara. Bangunan suci ini nantinya akan dijadikan vihara bagi para pendeta Buddha.

Prasasti Kelurak

Prasasti Kelurak (782 M) ditemukan di Desa Prambanan, Klaten. Adapun isinya adalah menceritakan tentang pembangunan arca Manjusri sebagai wujud dari sang Buddha, Dewa Wisnu dan Sanggha.

Bukan hanya menceritakan tentang pembangunan arca Manjusri, prasasti ini juga menyebut bahwa Raja Indra atau Sri Sanggramadananjaya merupakan seorang raja yang berkuasa pada masa itu. Prasasti Kelurak ditulis menggunakan huruf Pranagari serta menggunakan bahasa Sansekerta.

Prasasti Ratu Boko

Berbeda dengan Prasasti Kelurak, Prasasti Ratu Boko (856 M) menceritakan mengenai kekalahan Balaputradewa dalam kudeta atau perang melawan kakaknya, yaitu Rakai Pikatan Pramodhawardani guna merebut kekuasaannya.

Prasasti Mantyasih

Terakhir adalah Prasasti Mantyasih (907 M), ditemukan di Mantyasih, Kedu, Jawa Tengah. Mengenai isi dari prasasti ini adalah tentang silsilah raja-raja Mataram yang mendahului Bality.

Raja-raja tersebut adalah Raja Sanjaya, Rakai Panangkaran, Rakai Warak, Rakai Panunggalan, Rakai Garung, Rakai Watuhmalang, Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi dan yang terakhir adalah Rakai Dyah Balitung.

Baca Juga: Sejarah Kerajaan Pajang

Candi Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno
Sumber Gambar:3.bp.blogspot.com

Bukan hanya prasasti, kerajaan ini juga tercatat meninggalkan banyak candi yang tersebar di berbagai daerah di Pulau Jawa. Candi-candi yang dimaksud adalah:

Candi Arjuna

Candi Arjuna berbentuk mirip dengan candi yang terdapat di kopleks Gedong Songo yang mana bangunannya berbentuk persegi dengan luas sekitar 4 m².

Candi Bima

Letak daripada Candi Bima masih berdekatan dengan Candi Arjuna, tepatnya berada di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah yang masuk ke wilayah percandian paling selatan.

Adapun bentuk dari candi ini terbilang cukup unik karena memiliki kemiripan arsitektur dengan beberapa candi yang terdapat di India. Pada bagian atapnya hampir sama dengan shikara serta memiliki bentuk yang mirip seperti mangkuk terbalik.

Pada bagian atasnya juga ditemukan relung dan relief kepala yang disebut kudu.

Candi Borobudur

Peninggalan Kerajaan Medang berupa candi selanjutnya adalah Candi Borobudur. Candi ini merupakan salah satu candi yang paling terkenal di dunia, bahkan masuk ke dalam 7 keajaiban dunia yang terletak di Magelang, Jawa Tengah.

Bukan hanya itu, Candi Borobudur juga menjadi candi Buddha terbesar di dunia.

Candi Gatotkaca

Kawasan Dataran Tinggi Dieng terdapat kompleks percandian yang mana di dalamnya terdapat Candi Gatotkaca. Tepatnya adalah di sebelah kompleks Candi Arjuna, di tepi jalan menuju Candi Bima.

Candi Gatotkaca merupakan candi bercorak Hindu. Adapun penamaan Gatotkaca sendiri diambil dari tokoh pewayangan yang terdapat di cerita Mahabarata.

Candi Mendut

Candi Mendut adalah candi bercorak Buddha yang dibangun sejak Kerajaan Medang dipimpin oleh Raja Idna dari Dinasti Syailendra. Sama seperti halnya Candi Borobudur, Candi Mendut juga terletak di Magelang, Jawa Tengah.

Candi Pawon

Bukan hanya Candi Borobudur dan Candi Mendut saja yang terletak di Magelang, Candi Pawon juga terletak di Magelang, Jawa Tengah. Adapun Candi Pawon terlihat berada dalam satu garis lurus dengan kedua candi tersebut.

Candi Puntadewa

Candi ini terletak di kompleks percandian Candi Arjuna, Dieng, Jawa Tengah. Sementara itu, bangunan Candi Puntadewa memiliki ukuran yang kecil namun tinggi.

Candi Semar

Masih di kawasan kompleks Candi Arjuna, terdapat pula Candi Semar yang berada tepat di hadapan Candi Arjuna yang mana berbentuk segi empat dan membujur ke arah utara-selatan.

Itulah pembahasan lengkap tentang sejarah Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Medang. Karena terletak di antara pegunungan, maka kehidupan ekonomi masyarakatnya mengandalkan sektor pertanian dan juga perkebunan sebagai roda perekonomian utamanya.

Sejarah Kerajaan Kalingga

Sejarah Kerajaan Kalingga

Sejarah Kerajaan Kalingga – Kerajaan Kalingga atau Ho Ling, merupakan sebuah kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang terdapat di Jawa. Berdasarkan sejarah, kerajaan ini berdiri sejak abad ke-6 Masehi.

Sama seperti sejarah Kerajaan Pajang, letak wilayah kekuasaan kerajaan Kalingga juga berada di Provinsi Jawa Tengah, tepatnya di antara Jepara dan Pekalongan.

Para sejarawan menyebut bahwa Kerajaan Kalingga merupakan cikal bakal dari Kerajaan Mataram Kuno dan Sriwijaya yang mana kerajaan ini bertahan sampai abad ke-7 Masehi sebelum pada akhirnya berakhir dengan terpecahnya menjadi dua bagian.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Kalingga

Adapun terdapat beberapa sumber sejarah yang menjelaskan mengenai Kerajaan Kalingga, salah satu sumber sejarah utama dari Kerajaan Kalingga adalah berasal dari berita Cina Dinasti Tong.

Selain itu, ditemukannya Prasasti Tuk Mas di lereng Gunung Merbabu juga sedikit menjelaskan mengenai kerajaan ini.

Untuk lebih jelasnya, mari kita bahas bersama-sama tentang sejarah Kerajaan Kalingga mulai dari letak dan wilayah kekuasaannya hingga ke berita Cina yang menjelaskan tentang kerajaan ini.

Letak dan Wilayah Kekuasaan

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa kerajaan ini terletak di Jawa Tengah. Meski belum ada bukti kuat mengenai dimana letak pastinya, namun Kerajaan Kalingga diperkirakan berada di antara Pekalongan dan Jepara atau di pantai utara Jawa.

Sementara itu, Kerajaan Kalingga didirikan oleh Prabu Washumurti dimana waktu berdirinya ini hampir bersamaan dengan raja ke-8 Kerajaan Tarumanegara.

Raja-Raja yang Pernah Memerintah di Kerajaan Kalingga

Beberapa raja-raja yang pernah menduduki tahta tertinggi di Kerajaan Kalingga adalah:

  • Prabu Washumurti (594-605)

Raja pertama sekaligus pendiri dari kerajaan ini adalah Prabu Washumurti yang memerintah dalam kurun waktu sekitar 11 tahun.

  • Prabu Washugeni (605-632)

Pemegang pemerintahan Kerajaan Kalingga selanjutnya adalah Prabu Washugeni yang mana ia adalah salah satu putra dari Prabu Washumurti.

Prabu Washugeni memiliki dua orang anak, yaitu Wasudewa (Kirathasingha) dan putri Wasumurti (Ratu Shima).

  • Prabu Kirathasingha (632-648)

Prabu Wasudewa atau Kirtathasingha merupakan putra dari Prabu Washugeni. Wasudewa berkuasa selama 16 tahun hingga kemudian wafat pada tahun 648 Masehi.

Setelah wafat, Kerajaan Kalingga dipimpin oleh Kartikeyasingha dimana ia adalah menantu dari Washugeni atau suami dari Ratu Shima putri Washugeni.

  • Prabu Kartikeyashingha (648-674)

Meskipun Prabu Kartikeyashingha bukanlah keturunan asli dari Prabu Washumurti, namun Kartikeyashingha di daulat menjadi raja di Kerajaan Kalingga.

Hal ini karena Prabu Kartikeyasingha merupakan suami dari Ratu Shima sehingga ia memimpin Kalingga dengan didampingi oleh Ratu Shima. Prabu Kartikeyashingha berkuasa hingga akhir hayatnya, yaitu di tahun 674 Masehi.

  • Ratu Shima (674-695)

Ratu Shima merupakan pemimpin terakhir dari Kerajaan Kalingga sekaligus menjadi satu-satunya wanita yang pernah menduduki tahta tertinggi di kerajaan ini sebelum pada akhirnya runtuh.

Putri Wasumurti menjadi ratu di Kerajaan Kalingga menggantikan suaminya yang wafat. Banyak cerita-cerita yang muncul mengenai ketegasan dari Ratu Shima pada saat memimpin Kalingga.

Di antara ketegasannya yang paling terkenal adalah ketika Ratu Shima menghukum putra mahkotanya sendiri yang disebabkan ia mengambil barang yang bukan miliknya.

Pada masa kepemimpinan Ratu Shima, Kerajaan Kalingga dan Kerajaan Galuh memiliki hubungan yang kekerabatan yang cukup erat. Bahkan beberapa keturunan dari kedua kerajaan tersebut saling dinikahkan agar semakin mempererat tali persaudaraan di antara dua kerajaan tersebut.

Nah, salah satu diantaranya bahkan sampai membentuk Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra. Sebelum wafat pada tahun 695 Masehi, Ratu Shima membagi Kalingga menjadi dua bagian yaitu Kerajaan Keling (Bhumi Sambhara) dan Kerajaan Medang (Bhumi Mataram).

Baca Juga : Sejarah Kerajaan Samudera Pasai

Masa Kejayaan Kerajaan Kalingga

Adapun masa kejayaan dari Kerajaan Kalingga terjadi pada periode kepemimpinan Ratu Shima. Sifat jujur dan adil sangat dijunjung tinggi oleh sang ratu.

Bukan hanya itu, dalam penerapannya juga sangat tegas tanpa pandang bulu. Seperti misalnya pemerintah akan memotong tangan siapa saja bagi yang memang telah terbukti mencuri.

Bahkan Dinasti Ta-Shish pada tahun 674 Masehi tercatat pernah mengurungkan niatnya untuk menyerang Kerajaan Kalingga, penyebabnya adalah kerajaan ini dianggap masih terlalu kuat ketika dipimpin oleh Ratu Shima.

Pada masa pemerintahan Ratu Shima, Kerajaan Kalingga juga menjadi pemerintahan yang sangat menjunjung tinggi hukum.

Menurut catatan sejarah, pernah terjadi pelanggaran hukum yang dilakukan oleh salah satu anggota keluarga kerajaan, maka ia tetap diproses secara tegas dan adil sesuai dengan hukum yang berlaku.

Masa Keruntuhan Kerajaan Kalingga

Sepeninggal Ratu Shima, masa kejayaan kerajaan ini semakin hari semakin lemah bahkan berada dalam posisi di ambang kehancuran.

Salah satu faktor penyebab keruntuhan dari kerajaan ini adalah akibat serangan dari Kerajaan Sriwijaya. Saat itu, serangan dari Sriwijaya memaksa pemerintahan hingga rakyat Kalingga untuk mundur hingga ke pedalaman Pulau Jawa.

Peninggalan-Peninggalan Kerajaan Kalingga

Sejarah dari Kerajaan Kalingga dapat ditelusuri dari ditemukannya Candi Angin, Prasasti Tuk Mas dan juga berita Cina Dinasti Tang.

Meski kebanyakan peninggalan dari kerajaan ini tidak berisi informasi yang cukup jelas serta hanya berupa potongan-potongan informasi yang cukup sulit dirunut.

Seperti contohnya dari nama Kerajaan Kalingga yang berasal dari kata Kalinga. Kalinga merupakan sebuah kerajaan di India Selatan. Dengan adanya hal tersebut, bisa diperkirakan menjadi salah satu bukti bahwa Nusantara dan India telah menjalin hubungan diplomatik yang erat.

Namun ada juga sumber lain yang mengatakan bahwa Kerajaan Kalingga sejarahnya sama seperti Kerajaan Tarumanegara. Persamaannya adalah didirikan oleh pengungsi dari India yang kalah perang sehingga mencari perlindungan di Nusantara.

Adapun beberapa bukti peninggalan dari Kerajaan Kalingga adalah:

Prasasti Tuk Mas (Tukmas)

Sejarah Kerajaan Kalingga
Sumber Gambar: kebudayaan.kemdikbud.go.id

Prasasti Tukmas ditemukan di lereng bagian barat Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Prasasti ini ditulis menggunakan huruf Palawa dan bahasa Sansekerta.

Didalam Prasasti Tuk Mas ini berisi mengenai mata air yang sangat bersih dan jernih. Saking jernihnya mata air tersebut bahkan air yang mengalir di sungai dimana airnya berasal dari sumber mata air tersebut sampai diibaratkan sama seperti Sungai Gangga yang terletak di India.

Selain itu, pada prasasti ini juga terdapat gambar-gambar berupa lambang Hindu seperti kendi, trisula, keong, bunga teratai, cakra dan juga tapak.

Prasasti Sojomerto

Terdapat juga peninggalan dari Kerajaan Kalingga, yaitu Prasasti Sojomerto. Diambil dari namanya, prasasti ini ditemukan di Desa Sojomerto, Reban, Batang Jawa Tengah.

Berbeda dengan Prasasti Tukmas yang menggunakan huruf Palawa dan Bahasa Sansekerta, Prasasti Sojomerto menggunakan aksara Kawi dalam bahasa Melayu Kuno yang diperkirakan bahwa prasasti ini telah ada sejak abad ke-7 Masehi.

Dalam prasasti ini memuat tentang keluarga dari tokoh utamanya yaitu Dapunta Salendra yang tertulis sebagai pendiri dari kerajaan tersebut.

Dari penemuan inilah disimpulkan bahwa pendiri dari kerajaan ini adalah berasal dari keturunan Dinasti Syailendra/Sailendra yang mana ia adalah penguasa dari Kerajaan Mataram Kuno.

Candi Bubrah

Sejarah Kerajaan Kalingga
Sumber Gambar: www.artisanalbistro.com

Candi Bubrah adalah salah satu candi bercorak Buddha yang terdapat di dalam kompleks Candi Prambanan. Tepatnya adalah terletak di antara Percandian Roro Jonggrang dan Candi Sewu.

Adapun candi ini ditemukan di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Klaten Jawa Tengah. Diperkirakan, candi ini memiliki ukuran 12 m x 12 m dan terbuat dari batu andesit.

Namun yang ditemukan hanyalah sisa-sisa reruntuhan setinggi 2 meter saja. Pada saat ditemukannya candi ini, terdapat pula beberapa arca Buddha meskipun wujudnya sudah tidak utuh lagi.

Diberi nama Candi Bubrah adalah karena candi ini ditemukan dalam keadaan rusak atau bahasa Jawanya adalah “bubrah”. Para ahli memperkirakan bahwa candi ini dibangun pada abad ke-9 Masehi, yaitu pada zaman Kerajaan Mataram Kuno masih berhubungan dengan Kerajaan Kalingga.

Candi Angin

Sejarah Kerajaan Kalingga
Sumber Gambar: mutarnusantara.files.wordpress.com

Berbeda dengan Candi Bubrah yang ditemukan di Kabupaten Klaten, Candi Angin ditemukan di Kabupaten Jepara, tepatnya adalah di Desa Tempur Kecamatan keling.

Karena candi ini ditemukan di tempat yang sangat tinggi (berangin), maka candi ini diberi nama Candi Angin.

Para peneliti menganggap bahwa Candi Angin memiliki usia yang lebih tua dari Candi Borobudur. Bahkan beberapa ahli menganggap dan berpendapat bahwa candi ini dibangun oleh manusia purba, ini karena belum terdapat ornamen-ornamen bercorak Hindu-Buddha.

Situs Puncak Sanga Likur

Selain prasasti dan candi, keberadaan dari Kerajaan Kalingga juga dapat dilihat dari ditemukannya Situs Puncak Sanga Likur.

Situs ini ditemukan di puncak Gunung Muria, tepatnya di Rahtawu, tidak jauh dari Kecamatan Keling.

Di kompleks situs ini juga ditemukan empat arca batu, diantaranya adalah Arca Batara Guru, Wisnu, Narada dan Togog.

Sampai saat ini belum dapat dipastikan bagaimana keempat arca tersebut bisa diangkut hingga ke puncak gunung, mengingat medan pendakian ke Gunung Muria terbilang cukup berat.

Namun pada tahun 1990, Prof. Gunadi dan empat staffnya dari Balai Arkeologi Nasional Yogyakarta mengemukakan bahwa Prasasti Rahwatun diduga sebagai peninggalan dari Kerajaan Kalingga.

Di kawasan situs juga ditemukan enam tempat pemujaan dimana letaknya ini tersebar dimulai dari arah bawah hingga menjelang ke puncak gunung.

Masing-masing tempat pemujaan ini diberi nama tokoh pewayangan seperti Abiyoso, Bambang Sakri, Dewonoto, Jonggring Saloko, Kamunoyoso dan Sekutrem.

Baca Juga: Kerajaan Islam Tertua di Indonesia

Berita Cina Tentang Kerajaan Kalingga

Terdapat beberapa berita atau catatan yang berasal dari negeri Cina tentang Kerajaan Kalingga, di antaranya adalah Catatan Dinasti Tang, Catatan I-Tsing, naskah Wai-Tai-Ta dan yang terakhir adalah Catatan Dinasti Ming.

Catatan Dinasti Tang

Beberapa catatan atau keterangan yang bersumber dari Dinasti Tang adalah:

  • Letak Kalingga terdapat di Lautan Selatan dimana sebelah utaranya adalah terletak Ta-Hen-La atau Chen-La (Kamboja). Sedangkan di sebelah timur terdapat Po-Li (Pulau Bali), sebelah barat terletak Pulau Sumatra.
  • Pada Catatan Dinasti Tang juga menyebut bahwa ibu kota Kalingga dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari tonggak kayu.
  • Sementara itu, Raja atau Ratu tinggal di suatu bangunan yang besar dan bertingkat, beratap daun palem serta singasananya terbuat dari gading gajah.
  • Rakyat/penduduk Kalingga telah pandai memproduksi sejenis minuman keras yang terbuat dari bunga kelapa.
  • Terakhir adalah Kalingga disebut menghasilkan emas, perak, produk kulit penyu, cula badak dan juga gading gajah.

Catatan I-Tsing

Selanjutnya adalah Catatan I-Tsing (664-665 M) menyebutkan jika pada abad ke-7 Masehi, tanah Jawa menjadi salah satu pusat pengetahuan agama Buddha Hinaya.

Dalam hal ini, pusat yang dimaksud adalah Kalingga yang mana di daerah tersebut terdapat seorang pendeta Bernas Hwining yang menerjemahkan salah satu kitab agama Buddha ke dalam bahasa Mandarin.

Pendeta tersebut bekerja bersama dengan pendeta Jawa yang bernama Janabadra. Kitab yang diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin adalah memuat cerita tentang Nirwana.

Naskah Wai-Tai-Ta

Dalam naskah Wai-Tai-Ta dari Cina, tepatnya di abad ke-12 Masehi, Cou-Ju-Kua menyebut bahwa Chepo (Jawa) disebut juga Poe-Chua-lung.

Menurut perkembangan bahasa dan Sinologi, para ahli bahasa menyebut bahwa Poe-Chua-lung adalah sebutan untuk Pekalongan yang mana Poe-Chua-lung adalah penamaan sebuah daerah pelabuhan yang terdapat di pantai utara Jawa pada masa Dinasti Tsung.

Catatan Dinasti Ming

Berita Cina yang terakhir adalah berasal dari catatan Dinasti Ming. Pada tahun 1439 Masehi, Laksamana Cheng Ho dari Dinasti Ming singgah di Pekalongan. Beliau menyebut bahwa Poe-Chua-lung dengan Wu-Chueh adalah memiliki arti pulau yang indah.

Sebutan ini diketahui dari catatan Hma-Huan, yang merupakan sekretaris dari Laksamana Cheng-Ho yang menulis tentang sebutan Wu-Chueh dari Laksamana ini di dalam bagian Yang-Yai-Sheng-Lan atau berarti pemandangan yang indah-indah.

Demikanlah pembahasan tentang sejarah Kerajaan Kalingga yang diambil dari berbagai sumber. Beberapa peninggalannya bahkan masih dapat kita lihat hingga hari ini sehingga kita wajib untuk menjaganya dengan baik agar generasi selanjutnya masih dapat mengenali dan mempelajarinya.

Kerajaan Islam di Jawa

Kerajaan Islam di Jawa

Kerajaan Islam di Jawa – Indonesia adalah negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia. Hal ini terjadi karena beberapa faktor dimana salah satunya adalah keberadaan kerajaan Islam di Sumatera yang menjadi titik awal agama Islam menyebar ke berbagai pelosok negeri.

Fakta sejarah keterlibatan kerajaan Islam di Indonesia ini memberikan peran yang cukup penting dalam penyebaran Islam di seluruh Indonesia.

Pada awalnya, kerajaan-kerajaan Islam hanya terdapat di Pulau Sumatra saja, namun seiring berjalannya waktu, Islam mulai masuk ke Pulau Jawa melalui berbagai cara serta didukung oleh faktor kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang sebelumnya menguasai Jawa dimana kekuasaannya mulai melemah.

Sejarah Kerajaan Islam di Pulau Jawa

Pengaruh kerajaan Islam di Jawa ini memiliki peranan yang sangat penting di dalam perkembangan agama yang saat ini menjadi agama paling banyak dianut oleh bangsa Indonesia.

Untuk menambah wawasan kita akan sejarah Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, dibawah ini adalah pembahasan singkat mengenai sejarah kerajaan Islam yang terdapat di Pulau Jawa.

Kerajaan Demak

Kerajaan Islam di Jawa
Sumber Gambar: 3.bp.blogspot.com

Kerajaan Demak atau lebih dikenal dengan Kesultanan Demak merupakan kerajaan Islam pertama dan terbesar di pantai utara Jawa. Menurut sejarah Jawa, Demak sebelumnya merupakan kadipaten dari kerajaan Majapahit.

Meski Demak masih di bawah kekuasaan Majapahit, namun kemudian muncul sebagai kekuatan baru yang mewarisi kebesaran kerajaan Majapahit.

Hal ini terjadi karena faktor melemahnya Kerajaan Majapahit sehingga memberikan peluang untuk tumbuh dan berkembangnya agama Islam.

Pada tahun 1470M, Wali Songo di bawah pimpinan Sunan Ampel bersepakat dan memilih Raden Patah sebagai raja pertama Kerajaan Demak.

Awalnya, area kerajaan ini bernama Bintoro, yaitu wilayah Kerajaan Majapahit yang diberikan kepada Raden Patah. Beberapa sejarawan berpendapat bahwa Raden Patah merupakan salah satu putra dari raja Majapahit dengan istrinya yang beragama Islam keturunan Campa.

Raden Patah berjasa sangat besar dalam penyebaran agama Islam dari Wali Songo di daerah kekuasaannya hingga nantinya menjadi pusat perkembangan Islam.

Beliau memerintah di Kerajaan Demak dari tahun 1478-1518M hingga tahta Kerajaan Demak selanjutnya digantikan oleh anaknya yang bernama Pangeran Sabrang Lor atau Pati Unus (Adipati Yunus).

Setelah menjadi raja, Pati Unus bersiasat untuk merencanakan penyerangan ke Malaka. Rencana penyerangan tersebut kian besar seiring dengan takluknya Malaka oleh tentara Portugis di tahun 1511M.

Namun pada pergantian tahun 1512M ke 1513M, pasukan Pati Unus mengalami kekalahan. Adipati Yunus menduduki tahta Kerajaan Demak hanya sekitar 3 tahun, tepatnya dimulai tahun 1518-1521M.

Sepeninggal Pati Unus, Kesultanan Demak dipimpin oleh Sultan Trenggono yang sebelumnya dilantik menjadi Raja Demak oleh Sunan Gunung Jati.

Nah, pada masa pemerintahan Kesultanan Demak yang ketiga ini Islam berkembang sangat pesat hingga ke seluruh tanah jawa bahkan sampai ke Kalimantan Selatan.

Tepatnya pada tahun 1527M, Sunda Kelapa berhasil ditaklukan berkat pasukan gabungan dari Demak dan Cirebon dimana yang memimpin saat itu adalah Fadhilah Khan.

Masih di tahun yang sama, Tuban dan Majapahit jatuh ditaklukkan oleh Kerajaan Demak.

Sementara itu, Madiun juga takluk oleh Demak di tahun 1529M, disusul Blora pada tahun 1539M, Surabaya di tahun 1531M, Pasuruan di taklukkan di tahun 1535M, Blitar, Lamongan dan Wirasaba sekitar tahun 1541-1542M serta Kediri pada tahun 1544M.

Selain di Jawa, wilayah luar Jawa juga mengakui Kesultanan Demak, yaitu Palembang dan Banjarmasin.

Pada masa Sultan Trenggono, Islam berkembang hingga ke Kalimantan Selatan. Tepat di tahun 1546M, Sultan Trenggono menyebrangi lautan untuk menuju ke Kalimantan Selatan dengan tujuan untuk menyerbu Blambangan.

Namun naas, pada penyerbuan tersebut, Sultan Trenggono tewas terbunuh hingga kemudian pucuk kepemimpinan Kerajaan Demak digantikan oleh adiknya yang bernama Sultan Prawoto.

Sultan Prawoto menjadi Raja Demak tidak berlangsung lama, hal ini karena terjadi pemberontakan oleh para adipati-adipati yang menjabat di sekitar Kesultanan Demak.

Pemberontakan ini mengakibatkan tewasnya Sultan Prawoto yang dibunuh oleh Aria Penangsang yang berasal dari Jipang dimana kejadian ini terjadi pada tahun 1549M.

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kemunduran Kerajaan Demak, salah satunya adalah dipicu oleh perang saudara yang terjadi antara Pangeran Surowiyoto dan Trenggana yang mengakibatkan saling bunuh antar saudara untuk saling memperebutkan tahta tertinggi Kerajaan Demak.

Tepatnya pada tahun 1554, Kerajaan Demak mengalami keruntuhan akibat pemberontakan yang dipimpin oleh Hadiwijaya (Jaka Tingkir) hingga pada akhirnya Hadiwijaya mengalihkan pusat kekuasaan Kerajaan Demak ke daerah Pajang sehingga berdirilah Kerajaan Pajang.

Baca Juga: Sejarah Islam di Indonesia

Kerajaan Pajang

Kerajaan Islam di Jawa
Sumber Gambar: www.arcgis.com

Kerajaan ini berdiri sebagai kelanjutan dari Kerajaan Demak setelah runtuh. Kesultanan Pajang didirikan oleh Sultan Hadiwijaya atau lebih dikenal dengan nama Jaka Tingkir yang berasal dari Pengging di lereng Gunung Merapi.

Jaka Tingkir adalah menantu Sultan Trenggono yang sebelumnya diberi kekuasaan di daerah Pajang.

Setelah membunuh dan merebut tahta kerajaan Demak dari Aria Penangsang, seluruh kekuasaan dan benda pusaka dipindahkan ke Pajang. Jaka Tingkir memperoleh gelar Sultan Hadiwijaya sekaligus didaulat menjadi raja pertama Kerajaan Pajang.

Agama Islam yang awalnya berpusat di Demak, akibat runtuhnya Kerajaan Demak maka otomatis dipindahkan ke pedalaman sehingga membawa pengaruh yang cukup besar dalam penyebarannya, seperti pada bidang politik yang juga mengalami perkembangan.

Pada masa Jaka Tingkir, ia memperluas wilayah kekuasaannya ke arah timur hingga sampai ke daerah Madiun tepatnya di area pedalaman tepi aliran sungai Bengawan Solo.

Sekitar tahun 1554, Jaka Tingkir akhirnya mampu menduduki Blora disusul Kediri di tahun 1577 M.

Karena memiliki hubungan kekerabatan/sahabat antara Kerajaan Pajang dengan kerajaan-kerajaan di Jawa Timur, maka pada tahun 1577 M, Jaka Tingkir mendapatkan pengakuan sebagai sultan Islam oleh para raja yang kala itu menguasai daerah Jawa Timur.

Kerajaan Cirebon

Kerajaan Islam di Jawa
Sumber Gambar: www.goodnewsfromindonesia.id

Kerajaan Cirebon atau dikenal juga dengan nama Kesultanan Cirebon merupakan kesultanan Islam yang cukup besar yang terletak di provinsi Jawa Barat, tepatnya pada abad 15-16 Masehi.

Kesultanan yang satu ini didirikan pada tahun 1430 dimana sultan pertamanya adalah Pangeran Walangsungsang yang menjabat dari tahun 1430-1479 M.

Setelah itu, tepatnya pada tahun 1479, Sultan Cirebon I menyerahkan jabatan kekuasaannya kepada Sunan Gunung Jati dimana beliau adalah keponakan dari Pangeran Walangsungsang sehingga Sunan Gunung Jati didaulat menjadi Sultan Cirebon II.

Penerus tahta Kesultanan Cirebon selanjutnya dipegang oleh Sultan Abdul Karim. Sultan Abdul Karim merupakan Raja terakhir di Kesultanan Cirebon sebelum kesultanan ini terbagi menjadi dua bagian yaitu Kesultanan Kasepuhan dan Kesultanan Kanoman.

Kesultanan Banten

Bergeser ke provinsi paling barat di pulau Jawa, yaitu provinsi Banten. Dahulu, di provinsi ini berdiri sebuah kerajaan Islam yang sangat terkenal, yaitu Kerajaan Islam Banten atau Kesultanan Banten yang berdiri pada tahun 1526.

Adapun sultan pertama yang memimpin Kerajaan Banten adalah Sultan Maulana Hasanuddin. Setelah kewafatan Sultan Banten yang pertama, pucuk kepemimpinannya diteruskan oleh putranya yaitu Pangeran Yusuf.

Sementara itu, kemunduran Kesultanan Banten terjadi di masa kepemimpinan Sultan Abdul Muffakir.

Sedangkan sultan terakhir yang menduduki tahta tertinggi di kerajaan ini sebelum akhirnya dibubarkan oleh kolonial Inggris adalah Sultan Maulana Muhammad Syafiudin.

Namun dari beberapa raja yang pernah memimpin Kesultanan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa merupakan raja yang paling terkenal diantara raja-raja lainnya. Hal ini karena pada masa kepemimpinannya, Kesultanan Banten berada dalam masa kejayaan.

Akhir dari Kesultanan Banten ini terjadi karena beberapa faktor dimana salah satunya adalah terjadinya perang saudara yang terjadi yang mana Sultan Haji (anak dari Sultan Ageng Tirtayasa) berusaha ingin mendapatkan kekuasaan dari tangan ayahnya.

Akibat kejadian ini, akhirnya Kesultanan Banten dibubarkan oleh pemerintah Inggris yang kala itu berkuasa di Indonesia. Kejadian ini terjadi pada tahun 1813 M.

Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan Islam di Jawa
Sumber Gambar: www.yuksinau.id

Kesultanan Mataram Islam merupakan sebuah kerajaan Islam yang ada dan pernah berdiri di Pulau Jawa, tepatnya pada abad ke-16. Pusat pemerintahannya terletak di Kotagede Yogyakarta.

Mataram Islam dipimpin oleh dinasti yang mengaku sebagai keturunan Majapahit, yaitu dari keturunan Ki Ageng Sela dan juga Ki Ageng Pemanahan.

Kesultanan Mataram Islam awalnya dari Kadipaten yang masih berada di bawah kekuasaan Kesultanan Pajang dan berpusat di Bumi Metaok yang kemudian diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan sebagai hadiah atas jasanya.

Raja pertama kerajaan ini adalah Sutawijaya (Panembahan Senapati) yang mana beliau adalah putra dari Ki Ageng Pemanahan. Dibawah pemerintahannya, kerajaan ini pada akhirnya menjadi kerajaan independen.

Masa kejayaan kerajaan ini terjadi pada masa pemerintahan Mas Rangsang atau lebih dikenal dengan Sultan Agung (1613-1645M).

Mas Rangsang berhasil melakukan ekspansi serta menguasai hampir seluruh wilayah di tanah Jawa. Bukan hanya itu, beliau juga melakukan perlawanan terhadap VOC dengan cara menjalin kerjasama dengan Kesultanan Banten dan Cirebon.

Dalam bahasa Jawa, Nagari Kesultanan Mataram menerapkan kerajaan yang berbasis pada pertanian berdasarkan ajaran Islam. Beberapa peninggalan dari kerajaan ini adalah kampung Matraman di Jakarta, penggunaan hanacaraka, sistem persawahan di Pantura Jawa Barat dan lainnya.

Sebelum runtuh, kerajaan ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat

Kerajaan Islam di Jawa
Sumber Gambar: jaringtourtravel.files.wordpress.com

Kesultanan Yogyakarta adalah lanjutan dari Kerajaan Mataram Islam yang terbelah menjadi dua, yakni Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Terbelahnya kerajaan Mataran Islam disinyalir berasal dari konflik perebutan kekuasaan dari dalam dan luar keraton sehingga meruntuhkan Kerajaan Mataram.

Situasi ini dimanfaatkan oleh VOC untuk memperkeruh keadaan dengan cara memecah belah kerajaan hingga mengeluarkan Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755.

Perjanjian ini memutuskan untuk membagi kekuasaan Kerajaan Mataram Islam menjadi dua bagian, yaotu Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Dalam perjanjian ini juga menetapkan Pangeran Mangkubumi sebagai Sultan Pertama di Kesultanan Yogyakarta dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) I.

Selang waktu sekitar satu bulan setelah Perjanjian Giyanti, Sri Sultan HB I yang mana saat itu tinggal di Pesanggrahan Ambar Ketawang akhirnya mendirikan sebuah keraton yang terletak di pusat Kota Yogyakarata. Lokasi ini saat ini menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Yogyakarta.

Sementara itu, pemerintah Hindia Belanda mengakui Kesultanan Yogyakarta sebagai sebuah kerajaan dengan hak mengatur rumah tangga sendiri. Semua itu dituliskan di dalam kontrak politik yang tercantum dalam Staatsblad 1941, No. 47.

Lantas apa yang dimaksud dengan Perjanjian Giyanti?

Perjanjian Giyanti adalah sebuah perjanjian atau kesepakatan yang dilakukan antara pihak Belanda, pihak Kerajaan Mataram Islam yang diwakili oleh Sunan Pakubuwono III serta kelompok Pangeran Mangkubumi. Namun pada perjanjian ini, Pangeran Sambernyawa tidak dilibatkan.

Di dalam perjanjian ini, Pangeran Mangkubumi pada akhirnya malah memutar haluan menyebrang dari mendukung kelompok pemberontak serta bergabung dengan kelompok pemegang legitimasi kekuasaan yang memerangi pemberontak, beliau adalah Pangeran Sambernyawa.

Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Kerajaan Islam di Jawa
Sumber Gambar: koperbunda.com

Perjanjian Giyanti

Keberadaan Kasunanan Surakarta tidak lepas dari sejarah Perjanjian Giyanti yang mana perjanjian tersebut terjadi antara Sunan Pakubuwana III dan Pangeran Mangkubumi yang bersengketa di Kesultanan Mataram Islam.

Hingga pada akhirnya kedua belah pihak kemudian membuat perjanjian dengan Pemerintah Hindia Belanda (VOC). Inti dari perjanjian ini adalah Kesultanan Mataram Islam dibagi menjadi dua, yaitu Yogyakarta dan Surakarta.

Meskipun demikian, Keraton Surakarta tidak dianggap sebagai pengganti dari Kesultanan Mataram Islam meski rajanya masih memiliki darah keturunan dengan Kerajaan Mataram Islam.

Sampai pada akhirnya Keraton Surakarta menjadi sebuah kerajaan sendiri dimana setiap raja dari Kasunanan Surakarta mendapat gelar Sunan.

Tanggal 13 Februari 1755, VOC mengalami kebangkrutan sehingga pada saat itu VOC membujuk Pangeran Mangkubumi untuk bersatu dengan VOC guna melawan pemberontakan yang dilakukan oleh Raden Mas Said.

Raden Mas Said merupakan seorang tokoh yang di kemudian hari disebut dengan Kanjeng Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara I meskipun sebelumnya Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said bersekutu.

Tepat di tanggal 17 Maret 1757, terjadilah perjanjian Salatiga yang mana salah satu pokok dari intinya adalah Kasunanan Surakarta menjadi semakin kecil. Penyebabnya adalah karena Raden Mas Said menang dan diakui sebagai pangeran.

Akibat dari kemenangan itu, ia mendapatkan wilayah di tepi Sungai Pepe yang mana tempat ini menjadi tempat Pura Mangkunegaran berada.

Sejarah Singkat Keraton Surakarta

Pakubuwana IV

Pakubuwana IV adalah seorang raja yang sangat membenci penjajahan. Beliau juga merupakan seorang raja yang memiliki tujuan cita-cita yang tinggi dan keberanian penuh.

Di tahun 1790, terjadilah pengepungan terhadap Keraton Surakarta Solo yang dilakukan oleh para pejabat Negara, VOC, Mangubuwana I dan Hamengkubuwana I.

Kejadian ini dikenal dengan peristiwa Pakepung. Salah satu alasan pengepungannya adalah karena Pakubuwana IV mengusir para pejabat Negara yang tidak sepaham dengannya.

Setelah kejadian itu, Pakubuwana IV akhirnya mengakui kekalahan dan menyetujui untuk dibuang oleh VOC.

Hasil dari kejadian itu, selanjutnya mereka mengadakan perundingan yang mana perundingan tersebut berisi bahwa Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta dan Praja Mangkunegara memiliki kedudukan sama sehingga dilarang saling menyerang antara satu dengan yang lainnya.

Pakubuwana V

Pemegang tahta tertinggi Kasunanan Surakarta selanjutnya adalah Pakubuwana V yang mana beliau mendapat julukan Sunan Ngabehi karena kekayaannya. Dalam hal ini kekayaan yang dimiliki bukan hanya kekayaan harta namun juga kekayaan kesaktian.

Pakubuwana VI

Sepeninggal Pakubuwana V adalah Pakubuwana VI, beliau adalah salah satu pendukung dari Pangeran Diponegoro untuk melawan VOC.

Pakubuwana VII

Saat di bawah pemerintahan Pakubuwana VII, peperangan Diponegoro telah usai yang menyebabkan Keraton Surakarta dalam keadaan damai.

Pada masa ini juga menjadi awal tumbuh dan berkembangnya sastra secara besar-besaran. Para sejarawan menyebut, masa Pakubuwana VII merupakan masa kejayaan sastra di Kasunanan Surakarta.

Pakubuwana VIII dan IX

Era pemerintahan Pakubuwana VIII terbilang cukup singkat, yaitu hanya sekitar 3 tahun setelahnya beliau wafat. Pucuk kekuasaan setelahnya dilanjutkan oleh putra Pakubuwana VI yang bergelar Sri Susushan Pakubuwana IX.

Pakubuwana X

Masa pemerintahan Pakubuwana X, suasana politik di keraton ini sangat stabil sehingga disebut-sebut menjadi masa kejayaan dari pemerintahan Pakubuwana X.

Bukan hanya itu, pada masa ini juga terjadi sebuah transisi, yaitu perubahan dari Kerajaan era tradisional menuju era modern.

Banyak pembangunan infrastruktur pada era ini seperti dibangunnya Stasiun Solo Jebres dan juga Satwa Taru Jurug atau lebih dikenal dengan nama Kebun Binatang Jurug.

Beberapa pembangunan lainnya adalah Pasar Gedhe, Jembatan Jurug dan lain sebagainya.

Akan tetapi pada tanggal 1 Februari 1939, Pakubuwana X tutup usia. Karena pengaruhnya yang sangat besar, oleh rakyatnya, beliau dijuluki sebagai Sunan Panutup atau Raja Besar Surakarta yang terakhir.

Pakubuwana XI

Setelah Pakubuwana X wafat, pemerintahan selanjutnya dilanjutkan oleh Pakubuwana XI yang mana pada masa ini merupakan masa-masa sulit karena pada saat itu bertepatan dengan terjadinya perang dunia kedua.

Bukan hanya itu, pada tahun 1942, Indonesia juga mengalami pergantian penjajahan dari Belanda berganti ke negara Jepang.

Pakubuwana XII

Pemerintahan Pakubuwana XII terjadi dengan momen lahirnya NKRI. Kemudian pada tahun 1945-1947, Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegara patuh dan tunduk pada Pemerintahan Indonesia sehingga statusnya berubah menjadi Daerah Istimewa sama seperti halnya Yogyakarta.

Demikianlah pembahasan mengenai sejarah kerajaan Islam di Jawa. Semoga dapat menjadi rujukan serta dapat menjadi wawasan bagi kamu yang saat ini sedang membutuhkan referensi mengenai sejarah kerajaan Islam di Pulau Jawa.

Kerajaan Islam di Sumatera

Kerajaan Islam di Sumatera

Kerajaan Islam di Sumatera – Jauh sebelum Indonesia merdeka, berdirilah kerajaan-kerajaan yang tersebar di berbagai daerah di Nusantara. Kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara ini ada yang bercorak Hindu, Hindu-Buddha, Budha dan Islam.

Sejarah Islam di Indonesia salah satunya berawal dari saudagar-saudagar muslim yang umumnya berasal dari Timur Tengah dimana pada awalnya mereka datang ke Nusantara untuk berdagang.

Namun seiring berjalannya waktu, saudagar-saudagar muslim ini selain berdagang, mereka juga menyebarkan ajaran yang mereka anut hingga banyak masyarakat yang kala itu tidak mengenal Islam pada akhirnya tertarik untuk belajar tentang ajaran yang dibawa dan dianut oleh mereka.

Sejarah 4 Kerajaan Islam di Sumatera

Dari sekian banyak saudagar muslim yang menetap di Nusantara, beberapa diantaranya ada yang menikah dengan orang pribumi dan putri keturunan raja di wilayah mereka tinggal.

Berawal dari situ, berdirilah beberapa kerajaan-kerajaan Islam yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, seperti misalnya di Pulau Sumatera.

Beberapa kerajaan yang akan kami bahas disini merupakan kerajaan-kerajaan Islam yang pernah berjaya di Indonesia, tepatnya yang berada di Sumatera.

Kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera yang dimaksud adalah Kerajaan Perlak, Kerajaan Samudera Pasai, Kerajaan Malaka dan Kerajaan Aceh Darussalam.

1. Kerajaan Perlak

Kerajaan Islam di Sumatera
Sumber Gambar: i.ytimg.com

Perlak merupakan sebuah wilayah yang berada di Aceh Timur dimana wilayah ini dahulu banyak ditumbuhi oleh kayu perlak. Kayu perlak merupakan jenis kayu yang sangat bagus untuk pembuatan kapal.

Dengan adanya kayu tersebut menjadikan wilayah ini banyak dikunjungi oleh orang luar yang berniat untuk membelinya. Sebagai salah satu pelabuhan yang maju pada abad ke-8 masehi, Perlak menjadi tempat singgah untuk kapal-kapal dari Arab dan Persia.

Seiring berjalannya waktu, maka terbentuk dan berkembanglah masyarakat Islam yang diawali dan didominasi oleh perkawinan antar saudara muslim dan perempuan pribumi.

Sejarah Singkat Berdirinya Kerajaan Perlak

Perkawinan ini melahirkan keturunan-keturunan muslim dari percampuran antara darah Arab, Persia, dengan para putri-putri yang berasal dari Perlak.

Kerajaan Perlak berdiri pada hari Selasa, 1 Muharram 225 H/840 M, dimana yang menjadi raja pertamanya adalah Sultan Marhum ‘Alauudin Sayyid Maulana ‘Abdul ‘Aziz Syah Zhillullah fil ‘Alam.

Pada saat itu, ibukota daripada kerajaan ini langsung berubah dari Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah. Salah satu alasan mengapa diganti adalah untuk mengenang jasa nahkoda khalifah yang kala itu sudah membudayakan Islam terhadap masyarakat Asia Tenggara yang dimulai dari Perlak.

Sultan-Sultan Kerajaan Perlak

Sementara itu, terdapat 3 sultan yang pernah memimpin Kerajaan Perlak, yaitu:

  1. Sultan Marhum ‘Alauudin Sayyid Maulana ‘Abdul ‘Aziz Syah Zhillullah fil ‘Alam (225-249 H/840-864 M).
  2. Sultan ‘Alauddin Sayyid Maulana ‘Abdurrahim Syah Zhillullah fil ‘Alam (249-285 H/864-888 M).
  3. Sultan Marhum ‘Alauddin Sayyid Maulana ‘Abbas Syah Zhillullah fil ‘Alam (285-300 H/888-913 M).

Adapun masa pemerintahan ketiga sultan diatas disebut pemerintahan Dinasti Sayyid Maulana ‘Abdul ‘Aziz Syah, dimana pada masa pemerintahannya (aliran Syi’ah), aliran ahlus Sunnah wal Jamaah mulai berkembang di tengah-tengah masyarakat dan hal ini tidak disukai oleh Syi’ah.

Hingga pada akhir pemerintahan sultan ke-3 terjadilah perang saudara antara kedua golongan tersebut yang mengakibatkan kematian sultan sampai pada akhirnya selama 2 tahun Kerajaan Perlak tidak memiliki sultan.

Pada tahun 302-305 H/915-918 M, Sayyid ‘Ali Mughayat Syah Zhillullah fil ‘Alam diangkat menjadi sultan. Sekitar 3 tahun, tepatnya di akhir masa pemerintahannya, terjadi kembali perselisihan antara dua golongan hingga mengakibatkan peperangan.

Peperangan ini pada akhirnya dimenangkan oleh pihak ahlus Sunnah wal Jama’ah sehingga sultan selanjutnya yang diangkat untuk memerintah Perlak diambil dari golongan itu yaitu berasal dari keturunan Meurah Perlak asli (syahir Nuwi).

Adapun sultan selanjutnya yang memerintah di Kerajaan Perlak adalah:

  • Sultan Marhum ‘Alauddin ‘ Malik Abdul Qadir Syah Johan Berdaulat (306-310 H/928-932 M).
  • Sultan Marhum ‘Alauddin ‘ Malik Muhammad Amin Syah Johan Berdaulat (310-334 H/932-956 M).
  • Sultan Marhum ‘Alauddin ‘Abdul Malik Syah Johan Berdaulat (334-362 H/956-983 M).

Tepat di akhir pemerintahan Sultan Abdul Malik (sultan ke-3), terjadi kembali peperangan diantara kedua aliran. Peperangan ini terjadi dalam kurun waktu 4 tahun hingga pada akhirnya diakhiri dengan perdamaian yaitu dengan membagi wilayah kerajaan menjadi 2 bagian.

Pembagian 2 wilayah ini diberi nama Perlak pedalaman untuk golongan ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Perlak pesisir untuk golongan Syi’ah.

Sementara itu, Sultan Marhum ‘Alauddin ‘Abdul Malik Syah Johan Berdaulat (662-692 H/1263-1292 M) adalah raja/sultan terakhir dari Kerajaan Perlak.

Setelah sultan wafat, Kerajaan Perlak kemudian disatukan dengan Kerajaan Samudera Pasai tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik Al-Zahir putera Al Malik Al-Saleh.

2. Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Islam di Sumatera
Sumber Gambar: www.artisanalbistro.com

Terdapat 2 sumber yang menjelaskan mengenai Kerajaan Samudera Pasai, berikut akan kami jelaskan dengan singkat dan jelas.

Sumber ke-1

Sumber yang pertama mengatakan bahwa Kerajaan Samudera Pasai berdiri pada tahun 433 H/1024 M, dimana pendirinya adalah Meurah Khair yang sebelumnya telah menjadi seorang raja dengan gelar Maharaja Mahmud Syah. Maharaja Mahmud Syah memerintah sampai tahun 470 H/1078 M.

Sepeninggal beliau, pemerintahannya dilanjutkan oleh:

  • Maharaja Mansur Syah, yang berkuasa pada tahun 470-527 H/1078-1133 M.
  • Maharaja Ghiyasyuddin Syah. Beliau merupakan cucu dari Meurah Khair.  memerintah pada tahun 527-550 H/1133-1155 M.
  • Maharaja Nuruddin atau Meurah Noe atau Tengku Samudra atau lebih dikenal dengan nama Sultan Al-Kamil, memerintah pada tahun 550-607 H/1155-1210 M.

Sultan Al-Kamil merupakan sultan terakhir dari keturunan Meurah Khair karena setelah kewafatannya, kerajaan Islam di Sumatera menjadi rebutan para pembesar, hal ini karena tidak lagi mempunyai keturunan.

Dalam kurun waktu 50 tahun, Samudera Pasai berada dalam konflik hingga pada akhirnya Meurah Silu mengambil kekuasaan di kerajaan tersebut.

Dasar rujukan berasal dari dinastinya yang sudah memerintah Kerajaan perlak lebih dari 200 tahun hingga kemudian disatukan dengan Kerajaan Samudera Pasai di masa Sultan Muhammad Al-Zahir (1289-1326 M).

Sumber ke-2

Berbeda dengan sumber pertama, sumber kedua berasal dari berita dari Cina dan catatan Ibnu Batuttah yaitu seorang pengembara dari Maroko yang menyebutkan bawa Kerajaan Samudera Pasai berdiri pada tahun 1282 M dimana pendirinya adalah Al-Malik Al-Saleh.

Pada saat itu beliau mengirim utusan ke Quilon yang terletak di pantai barat India. Disana beliau bertemu dengan para duta dari Cina. Diantara beberapa duta ini, terdapat beberapa duta yang dikirim yaitu Husein dan Sulaiman (nama-nama muslim).

Selain itu, pada saat Marcopolo mengunjungi Sumatra, tepatnya di tahun 1346 M, menyebutkan bahwa di tempat yang ia kunjungi, Islam sudah sekitar 1 abad disiarkan dengan mazhab yang diikuti adalah mazhab Syafi’i.

Waktu itu, Samudera Pasai menjadi pusat belajar agama Islam dan dijadikan sebagai tempat berkumpulnya para ulama dari berbagai negeri untuk membicarakan masalah keagamaan dan masalah keduniaan.

Kala itu, Ibnu Battutah mengatakan bahwa kerajaan Samudera Pasai juga memiliki peran yang cukup penting dalam meng-islam-kan Jawa dan Malaka.

Sultan Al-Malik Al-Zahir adalah seorang pecinta teologi serta senantiasa memerangi orang kafir dan menjadikannya untuk memeluk agama Islam.

Basis perekonomian Kerajaan Samudera Pasai ini lebih tertuju ke pelayaran dan perdagangan sehingga terlihat sebagai kerajaan yang makmur.

Salah satu alasan disebut sebagai kerajaan yang makmur adalah karena dilihat dari segi geografis dan perekonomian pada waktu itu kerajaan ini merupakan daerah penghubung antara pusat perdagangan yang ada di salah satu kepulauan di Indonesia, India, Cina dan Arab.

Sumber kedua ini juga menyebutkan bahwa Kerajaan Samudera Pasai telah dikalahkan oleh Kerajaan Majapahit sehingga menjadi bagian dari kerajaan tersebut.

Namun sebelum tentara Majapahit pergi meninggalkan Samudera Pasai untuk kembali ke Jawa, para pembesar Majapahit akhirnya bersepakat untuk mengangkat salah seorang raja dari bangsawan Pasai yang dipilih dan dipercaya mampu memerintah kerajaan.

Adapun raja yang ditunjuk adalah Ratu Nurullah atau Malikah Nurullah binti Sultan Al-Malik Al-Zahir.

Sedangkan Ratu Nurullah mangkat pada tahun 1380 M, bertepatan dengan masa pemerintahan Kerajaan Majapahit pada kala itu dipimpin oleh Raja Hayam Wuruk.

Pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, Majapahit sedang dalam puncak kejayaannya, hal ini karena dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada.

Raja-Raja yang Memerintah Kerajaan Samudera Pasai

Beberapa raja pernah menduduki singgasana tertinggi di Kerajaan Samudera Pasai, diantaranya adalah:

  1. Sultan Al-Malik Al-Saleh. Beliau di daulat sebagai raja pertama Kerajaan Samudera Pasai yang memerintah pada tahun 1297 M.
  2. Muhammad Malik Al-Zahir, menjadi raja kedua Kerajaan Samudera Pasai, dimulai pada tahun 1297-1326 M.
  3. Muhammad Malik Al-Zahir II, menjadi raja ketiga dimulai pada tahun 1326-1345 M.
  4. Manshur Malik Al-Zahir, adalah seorang raja yang memerintah Kerajaan Samudera Pasai pada tahun 1345 M.
  5. Ahmad Malik Al-Zahir, Raja Kerajaan Samudera Pasai di tahun 1345-1383 M.
  6. Zainal Abidin Malik Al-Zahir, menjadi raja Kerajaan Samudera Pasai selanjutnya, tepatnya di tahun 1383-1405 M.
  7. Nahrasiyah di tahun 1405-?.
  8. Abu Zaid Malik Al-Zahir, menjadi raja Kerajaan Samudera Pasai dimulai pada tahun ?-1455 M.
  9. Mahmud Malik Al-Zahir, di daulat menjadi raja pada tahun 1455-1477 M.
  10. Zainal Abidin, menduduki singgasana raja Kerajaan Samudera Pasai dimulai pada tahun 1477-1500 M.
  11. Abdullah Malik Al-Zahir, raja Kerajaan Samudera Pasai dari tahun 1501-1513 M.
  12. Zainal Abidin, menjadi raja terakhir yang memerintah Kerajaan Samudera Pasai, tepatnya pada tahun 1513-1524 M.

Di masa raja terakhir, tepatnya pada tahun 1521 M, Samudera Pasai dikuasai Portugis selama 3 tahun. Pada tahun 1524 M, penguasaan Kerajaan Islam Samudera Pasai ini digantikan dengan Kerajaan Aceh Darussalam.

3. Kerajaan Malaka

Kerajaan Islam di Sumatera
Sumber Gambar: 4.bp.blogspot.com

Berdasarkan sejarah melayu, terdapat seseorang yang Parameswara. Parameswara adalah seorang keturunan dari Sang Nila Utama (anak Sang Sapurba) dari Kota Palembang yang kemudian dinikahkan dengan Sri Beni Putri.

Sri Beni merupakan permaisuri dari Iskandar Syah ratu Bintan yang sebelumnya hijrah ke Tumasik hingga diangkat  sebagai raja bergelar Tribuwana.

Di masa kekuasaan Parameswara ini, datanglah serangan dari Majapahit yang menjadikan rajanya tersudut dan akhirnya melarikan diri ke Semenanjung Melayu (Trengganu).

Beliau hidup disana sekaligus mendirikan sebuah kerajaan yang diberi nama Kerajaan Malaka. Sekitar tahun 1400 M dan sesudah masuk Islam, beliau memiliki gelar Megat Iskandar Syah, meninggal pada tahun 1424 M.

Sepeninggal beliau, digantikan oleh Sultan Muhammad Syah (1414-1444 M) dan digantikan kembali oleh Sultan Mahmud (1511 M), kemudian Malaka jatuh ke tangan Portugis.

Hingga akhirnya beliau mengungsi ke Pahang dan tinggal di Muara Pulau Bintan. Berawal dari sini beliau terus berusaha untuk melakukan serangan balik ke Malaka namun selalu gagal.

Tepatnya pada bulan Oktober 1512, terjadilah serangan terhadap Bintan oleh tentara Portugis yang dipimpin oleh Albuquerque. Namun pertahanan Bintan terlalu kuat sehingga mengakibatkan Albuquerque mengalami kekalahan.

Penyerangan dari Portugis selanjutnya terjadi pada tahun 1523 yang dipimpin oleh Henriquez dan di tahun 1524 dimana pemimpinnya adalah De Souza, dua penyerangan beruntun tersebut juga mengalami kekalahan.

Namun naas, pada tahun 1525 M, Bintan berhasil dikalahkan oleh Portugis setelah sebelumnya bersekutu dengan Lingga hingga pada akhirnya Sultan Mahmud mengungsi ke Johor.

Meskipun demikian, Sultan Mahmud selalu berusaha untuk dapat kembali merebut Malaka dari tangan Portugis, namun sampai ajal menjemput, usahanya tidak pernah berhasil.

Sampai pada akhirnya, karena usaha putranya, Kerajaan Melayu sukses dilanjutkan dan menjadikan Johor sebagai pusatnya. Berstatus sebagai Sultan Johor pertama, beliau menggunakan gelar Sultan Alaudin Riayat Syah II (1528-1564 M).

Akan tetapi pada masa pemerintahan Sultan Ibrahim (1677-1685 M), pusat kerajaan dipindahkan ke Bintan pada tahun 1678 M.

4. Kerajaan Aceh Darussalam

Kerajaan Islam di Sumatera
Sumber Gambar: upload.wikimedia.org

Tepat pada akhir abad ke-15, arus penjajahan barat ke timur terbilang sangat ramai, khususnya penjajahan barat, yaitu Kristen dari barat terhadap timur Islam.

Diantara bangsa Eropa Kristen yang saat itu sangat berambisi untuk menjajah bumi Nusantara adalah Portugis. Setelah mereka menguasai Goa di India, target selanjutnya adalah Malaka.

Hingga kemudian Malaka dikuasai oleh Portugis pada tahun 1511. Sesudah Malaka jatuh, kemudian Portugis mengatur rencana tahap demi tahap.

Beberapa langkah/cara yang diambil adalah dengan mengirim kaki tangannya ke daerah pesisir utara Sumatra dengan maksud untuk memicu kekacauan dan juga perpecahan sehingga diharapkan dapat memicu perang saudara.

Langkah kedua adalah Portugis bersiasat untuk langsung melakukan penyerangan dan seterusnya menetap serta memaksa raja yang sudah menyerah untuk menandatangani kontrak pemberian hak monopoli dagang.

Sejarah Kerajaan Aceh Darussalam

Sampai pada akhirnya Portugis berhasil memaksa raja-raja dari Kerajaan Islam Jaya, Samudera Pasai dan Islam Pidie untuk menandatangani persetujuannya. Hal itu terjadi menjelang akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16.

Berawal dari situ, muncullah seorang tokoh yang berusaha untuk mempersatukan 6 kerajaan Islam seperti Perlak, Samudera Pasai, Pidie, Indra Purba, Tamiang dan Indra Jaya.

Bertepatan pada tahun 1514, Ali Mughayat Syah dilantik sebagai Sultan (1514-1530 M) dengan nama kerajaannya yaitu Kerajaan Aceh Darussalam.

Wilayah kerajaan ini meliputi Aru sampai Pacu di pantai utara dan Jaya sampai ke Barus di pantai barat dengan ibu kotanya adalah Banda Aceh Darussalam.

Beliau selalu menetapkan satu tekad yang kuat untuk mengusir penjajah Portugis dari Sumatra Utara hingga terjadilah beberapa pertempuran dengan tentara Portugis. Pertempuran-pertempuran ini terjadi pada tahun 1521, 1526, 1528 dan 1542 M.

Akhirnya tentara Portugis berhasil ditaklukkan melalui beberapa pertempuran di berbagai daerah. Sultan Ali Mughayat pada akhirnya meninggal pada hari Selasa, bertepatan dengan tanggal 12 Dzulhijjah 936 H/7 Agustus 1530 M.

Setelah membangun pondasi yang cukup kuat untuk kerajaan Aceh Darussalam, beliau juga menciptakan bendera kerajaan yang diberi nama Alam Zulfiqaar (bendera cap pedang) berwarna merah darah dengan pedang berwarna putih.

Kerajaan Aceh Darussalam mengalami masa puncak pada kepemimpinan Sultan Ali Mughayat Syah, Sultan Alaiddin Riayat Syah II, Sultan Iskandar Muda Darmawangsa Perkasa Alam Syah dan Sultan Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan.

Terhitung setelah sepeninggalan raja-raja tersebut, kerajaan ini mengalami masa suram yang terjadi secara terus menerus. Sementara itu, kerajaan ini menjadikan Islam sebagai landasan dasar negara.

Tercatat, terdapat sekitar 31 raja yang pernah memerintah dimana raja terakhirnya adalah Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah (1870-1904 M).

Nah, itulah pembahasan mengenai sejarah kerajaan Islam di Sumatera. Sebagai bangsa Indonesia, terutama kita yang beragama Islam, maka dengan mengetahui sejarah Islam di masa lampau merupakan suatu hal yang wajib untuk diketahui.

Karena bagaimanapun juga, Islam tidak akan berkembang sampai hari ini jika tanpa adanya kerajaan-kerajaan Islam baik itu kerajaan Islam di Sumatera atau di daerah lain di Indonesia.