Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Sejarah Kerajaan Sriwijaya – Tidak dapat dipungkiri, jauh sebelum Indonesia merdeka, berdirilah kerajaan-kerajaan yang sangat terkenal hingga ke berbagai penjuru dunia. Sebut saja Kerajaan Kutai atau Kerajaan Sriwijaya.

Kerajaan Sriwijaya berdiri di pulau Sumatra yang mana kerajaan ini termasuk ke dalam Kerajaan Melayu Kuno.

Sementara itu, nama Sriwijaya sendiri diambil dari bahasa Sansekerta, yaitu Sri yang berarti bercahaya dan Wijaya berarti kemenangan. Maka jika digabungkan, Sriwijaya mempunyai arti “Cahaya Kemenangan”.

Sejarah Lengkap Kerajaan Sriwijaya

Sejarah Kerajaan Sriwijaya
i2.wp.com

Sejarah awal berdirinya Kerajaan Sriwijaya bermula dari daerah pantai timur Sumatra yang telah menjadi jalur perdagangan internasional sehingga banyak para pedagang dari luar negeri khususnya berasal dari India yang berlalu-lalang.

Hal inilah yang menjadi titik awal munculnya pusat-pusat perdagangan di sekitar wilayah tersebut.

Seiring berjalannya waktu, pusat-pusat perdagangan ini berkembang menjadi kerajaan-kerajaan kecil di abad ke-7 Masehi. Beberapa kerajaan-kerajaan keci ini adalah Tulangbawang, Melayu dan Sriwijaya.

Dari ketiga kerajaan tersebut, Kerajaan Sriwijaya merupakan satu-satunya kerajaan yang berhasil berkembang dengan pesat hingga mencapai puncak kejayaan sehingga menjadi salah satu kerajaan terbesar di Nusantara pada masanya.

Meski Kerajaan Melayu juga sempat berkembang di wilayah Jambi, namun pada akhirnya berhasil ditaklukkan oleh Sriwijaya.

Letak Kerajaan Sriwijaya

Diperkirakan bahwa kerajaan ini terletak di Palembang, namun ada juga yang berpendapat di daerah Jambi atau bahkan di luar Nusantara.

Meski terjadi perbedaan pendapat, namun pendapat paling kuat terkait letak dari Kerajaan Sriwijaya adalah terdapat di Palembang. Terdapat juga yang berpendapat bahwa Kerajaan Sriwijaya merupakan sebuah kerajaan maritim yang tidak memiliki sistem ketatanegaraan yang rapi.

Mereka lebih memilih terus mengawasi kekuasaannya di perairan/lautan serta tidak terlalu memperhatikan pusat pemerintahan di darat.

Pendapat inilah yang menyatakan bahwa Kerajaan Sriwijaya merupakan sebuah kerajaan Nomaden (selalu berpindah-pindah) serta tidak memiliki lokasi pusat pemerintahan yang tetap.

Akan tetapi, dari hasil penelitian sejarah yang paling banyak/kuat menunjukkan bahwa pusat kerajaan ini terletak di Palembang walaupun pada saat pusat Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran, pusat pemerintahannya dipindahkan ke Jambi.

Daerah Kekuasaan Kerajaan Sriwijaya

Meskipun berpusat di Sumatra Selatan, namun daerah kekuasaannya mencapai hingga ke sebagian Malaysia serta sebagian besar di pulau Jawa.

Namun pada saat Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaan, wilayah kekuasaannya juga terbilang sangat luas, yaitu mulai dari Thailand, Semenanjung Malaya, Kamboja, Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

Silsilah Kerajaan Sriwijaya

Dapunta Hyang Sri Jayanaga (683 M)

Raja pertama sekaligus pendiri dari Kerajaan Sriwijaya adalah Dapunta Hyang Sri Jayanaga. Tertulis dalam Prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuo, dan Prasasti Kota Kapur bahwa sang raja menaklukkan Kerajaan Melayu dan juga Tarumanegara pada masa pemerintahannya.

Indravarman (702 M)

Raja kedua Kerajaan Sriwijaya adalah Indravarman yang mana ia sempat mengirim utusan ke Tiongkok, tepatnya pada tahun 702-716, dan 724 Masehi.

Rurda Vikraman/Lieou-t’eng-wei-kong (728 M)

Pada tahun 729-748 Masehi, Rudra Vikraman sempat mengirim utusannya ke Tiongkok.

Sangramadhananjaya/Wisnu/Vishnu (775 M)

Di masa kepemimpinannya ini, Raja Wisnu pernah menaklukkan Kamboja Selatan.

Dharmasetu (790 M)

Samaratungga (792 M)

Sepeninggal Raja Dharmasetu, kepemimpinannya dilanjutkan oleh Samaratungga. Namun pada tahun 802 Masehi, ia gagal mempertahankan wilayah kekuasaannya di Kamboja Selatan

Balaputra Sri Kaluhunan atau Balaputradewa (835 M)

Setelah itu, Kerajaan Sriwijaya dipimpin oleh Balaputradewa. Balaputradewa membawa kerajaan ini untuk mencapai masa kejayaan. Bukan hanya itu, ia juga memerintahkan untuk membuat biara yang dikhususkan untuk Kerajaan Cola di India serta meninggalkan Prasasti Nalanda.

Sri Udayadityawarman (960 M)

Sri Udayadityawarman sempat mengirim utusan ke China pada tahun 960 Masehi.

Sri Wuja atau Sri Udayadityan (961 M)

Mengirim utusan ke negeri China pada tahun (961-962 M).

Hsiae-she (980 M)

Pada saat masa kepemimpinannya ini, ia pernah mengirim utusan ke China pada tahun 980-983 Masehi.

Sri Cudamaniwarmadewa (988 M)

Saat Kerajaan Sriwijaya dipimpin oleh Sri Cudamaniwarmadewa, terjadi tragedi penyerangan dari Jawa terhadap kerajaan ini.

Sri Marawijyaottunggawarman (1008 M)

Sri Marawijayottunggawarman mengirimkan utusan ke China pada tahun 1008 Masehi.

Sumatrabhumi (1017 M)

Mengirim utusan ke China di tahun 1017 Masehi.

Sri Sanggramawijayottunggawarman (1025 M)

Pada saat kepemimpinannya ini, Sriwijaya pernah ditaklukkan oleh Kerajaan Cola dari India, namun kemudian dilepaskan kembali.

Sri Deva (1028 M)

Ia mengirim utusan ke China di tahun 1028 Masehi.

Dharmavira (1064 M)

Sri Maharaja (1156 M)

Sri Maharaja mengirim utusan ke China di tahun 1156 Masehi.

Trailokaraja Maulibhusana Varmadeva (1178 M)

Pada masa pemerintahannya ini, ia pernah mengirim utusan ke China, tepatnya pada tahun 1178 Masehi.

Perkembangan Kerajaan Sriwijaya

Sejarah Kerajaan Sriwijaya
i.ytimg.com

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan Kerajaan Sriwijaya. Diantaranya adalah:

  • Letak Kerajaan yang Geografis

Di sekitar muara sungai Musi terdapat pulau-pulau yang bisa difungsikan sebagai pelindung sehingga cukup ideal untuk dijadikan sebagai pertahanan dan juga pemerintahan Kerajaan Sriwijaya.

Selain itu, lokasi tersebut juga merupakan jalur perdagangan internasional, terutama pedagang dari India dan Cina.

  • Berakhirnya Kerajaan Funan di Vietnam

Kerajaan Funan merupakan salah satu kerajaan yang terdapat di Vietnam yang mana kerajaan tersebut berhasil ditaklukkan oleh Kamboja. Sehingga memberikan dampak pada Kerajaan Sriwijaya untuk cepat berkembang sebagai negara maritim.

Kehidupan Agama

Sejarah kehidupan beragama di Kerajaan Sriwijaya terbilang sangat kuat. Buktinya adalah pada saat itu Kerajaan Sriwijaya dijadikan sebagai pusat studi agama Buddha Mahayana di kawasan Asia Tenggara.

Didalam catatan I-tsing menceritakan bahwa saat itu ribuan pelajar dari berbagai penjuru negeri dan juga tokoh agama Buddha tinggal di Sriwijaya.

Salah satu tokoh agama/pendeta Buddha yang cukup terkenal adalah Sakyakirti. Banyak para pelajar yang berasal dari luar negeri yang sengaja datang ke Sriwijaya guna untuk mempelajari bahasa Sansekerta.

Pada tahun 1011-1023 Masehi, Atisa yang merupakan seorang pendeta agama Buddha yang berasal dari Tibet juga sempat datang ke Sriwijaya untuk memperdalam ilmu agamanya.

Terdapat beberapa peninggalan-peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya yang berhubungan dengan perkembangan agama pada masa itu. Beberapa peninggalan-peninggalan yang dimaksud adalah:

  • Arca Buddha, ditemukan di sekitar Bukit Siguntang.
  • Candi Muara Takus. Candi ini ditemukan di dekat Sungai Kampar Riau.
  • Wihara Nagipattana, didirikan oleh Sriwijaya di daerah Nagipattana, India Selatan.

Selain itu, Raja Balaputra juga sempat menghadiahkan sebidang tanah kepada Balaputradewa. Tujuannya adalah untuk mendirikan sebuah asrama yang diperuntukkan bagi para pelajar yang sedang belajar di Nalanda.

Sedangkan pembiayaan seluruhnya di tanggung oleh Balaputradewa yang saat itu sebagai “Dharma”.

Peristiwa tersebut tercatat di dalam Prasasti Nalanda. Prasasti ini sekarang berada di Universitas Nawa Nalanda, India. Bukan hanya itu, bentuk asramanya juga mempunyai kesamaan arsitektur dengan Candi Muara Jambi yang terletak di Provinsi Jambi.

Hal ini membuktikan bahwa Sriwijaya sangat memperhatikan ilmu pengetahuan, utamanya adalah pengetahuan seputar agama Buddha dan bahasa Sansekerta.

Kehidupan Ekonomi

Pada awal berdirinya Kerajaan Sriwijaya, sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani. Namun karena kerajaan ini terletak di tepi Sungai Musi yang bermuara langsung ke lautan lepas, maka sungai ini menjadi jalur perdagangan yang strategis.

Berdasarkan hal tersebut, sebagian besar rakyat Sriwijaya pada akhirnya bermata pencaharian sebagai pedagang.

Karena dilalui jalur perdagangan internasional. maka banyak para saudagar dari luar negeri yang pada akhirnya singgah di Sriwijaya.

Hal itulah yang menjadikan Kerajaan Sriwijaya menjadi ramai dan berkembang pesat menjadi pusat perdagangan. Seiring berjalannya waktu, kerajaan ini mulai menguasai jalur perdagangan lokal maupun internasional.

Jalur perdagangan Kerajaan Sriwijaya ini membentang mulai dari Laut Natuna sampai ke Selat Sunda, kemudian Laut Jawa dan bahkan hingga ke kawasan Asia Tenggara yang mana kawasan ini merupakan jalur perdagangan internasional antara India dan Cina.

Selain memperoleh keuntungan langsung dari para pedagang, kerajaan ini juga mendapatkan keuntungan tidak langsung.

Keuntungan tidak langsung ini didapatkan dari kapal-kapal yang singgah dan melakukan bongkar muat di Sriwijaya yang diharuskan untuk membayar pajak pada pemerintah. Inilah yang menjadikan Kerajaan Sriwijaya semakin makmur.

Sementara itu, beberapa hasil unggulan dari Kerajaan Sriwijaya yang dijadikan sebagai barang ekspor utama adalah gading gajah, kulit, dan beberapa jenis binatang langka.

Meski memiliki hasil unggulan untuk di ekspor, Kerajaan Sriwijaya juga melakukan impor dari luar negeri, beberapa barang/bahan yang biasanya diimpor adalah beras, kayu manis, rempah-rempah, emas, kemenyan, dan beberapa jenis binatang,

Perkembangan Politik dan Pemerintahan

Seperti yang dijelaskan di atas bahwa kerajaan ini mulai berkembang pada abad ke-7 Masehi yang mana pada masa-masa awal perkembangannya sang raja disebut Dapunta Hyang (Prasasti Kedukan Bukit dan Talang Tuo).

Sang raja secara terus-menerus melakukan usaha perluasan untuk daerah kekuasaan Sriwijaya. Dibawah ini adalah runtunan kekuasaannya.

  • Penguasaan pertama adalah Tulang Bawang yang terletak di provinsi Lampung.
  • Kedua adalah terletak di pantai barat Semenanjung Melayu. Daerah tersebut menjadi daerah yang sangat penting untuk pengembangan perdagangan dengan India. Menurut I-tsing, penaklukan Kedah berlangsung antara tahun 682-685 Masehi.
  • Pulau Bangka merupakan salah satu daerah yang dilewati jalur perdagangan internasional. Sriwijaya menguasai daerah ini pada tahun 686 Masehi berdasarkan bukti yang terdapat pada Prasasti Kota Kapur.
  • Selanjutnya adalah daerah Jambi, tepatnya di tepi Sungai Batanghari. Pada saat itu, daerah ini memiliki kedudukan yang cukup penting untuk memperlancar perdagangan yang terdapat di pantai timur Sumatra. Adapun penaklukannya terjadi pada tahun 686 Masehi. Bukti ini diambil dari Prasasti Karang Berahi.
  • Tanah Genting terletak di bagian utara Semenanjung Melayu. Penguasaannya ini dapat diketahui dari Prasasti Ligor yang tertulis tahun 775 Masehi.
  • Menurut berita Cina, terdapat penjelasan mengenai penyerangan terhadap Kerajaan Kalingga dan juga Mataram Kuno. Dugaan kuat yang menyerang dan menaklukkan kedua kerajaan tersebut adalah Kerajaan Sriwijaya.

Semua penguasaan tersebut berdasar pada jalur perdagangan yang dianggap sangat penting untuk mengembangkan perekonomian maritim Kerajaan Sriwijaya.

Akibat perluasan daerah kekuasaan ini, Sriwijaya menjadi kerajaan yang cukup besar dan tersohor dimana-mana. Agar pertahanannya semakin kuat, pada tahun 775 Masehi, Kerajaan Sriwijaya akhirnya membangun pangkalan kerajaan yang terletak di Ligor atas perintah dari Raja Darmasetra.

Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya

Dari sekian banyak sejarah raja yang pernah memimpin Kerajaan Sriwijaya, Raja Balaputradewa adalah raja yang paling terkenal yang memerintah pada abad ke-9 Masehi.

Disebut sebagai raja paling terkenal adalah karena pada masa pemerintahannya, Kerajaan Sriwijaya mencapai masa kejayaan.

Balaputradewa berhasil menumbuhkan perekonomian kerajaan serta memperluas kekuasaannya hingga ke luar negeri.

Raja Balaputradewa merupakan keturunan dari Dinasti Syailendra, yaitu putra dari Raja Samaratungga dengan pasangan Dewi Tara dari Sriwijaya. Keterangan tersebut tertulis di dalam Prasasti Nalanda.

Ia merupakan seorang raja yang dibesarkan di Sriwijaya yang kemudian ia menjalin hubungan erat dengan Kerajaan Benggala yang pada saat itu diperintah oleh Raja Dewapala Dewa.

Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya

Berdasarkan sejarah, faktor utama yang menyebabkan runtuhnya Kerajaan Sriwijaya adalah karena kerajaan ini terlalu bergantung pada perdagangan laut, mengabaikan kekuasaan wilayah darat karena terlalu fokus mengembangkan sektor kelautan, dan sistem ketatanegaraan yang tidak tertata dengan baik.

Sementara itu, beberapa faktor lainnya yang mengakibatkan Kerajaan Sriwijaya runtuh adalah:

  • Banyak daerah kekuasaan yang memisahkan diri dari Sriwijaya. Penyebabnya adalah karena melemahnya angkatan laut Sriwijaya.
  • Keadaan alam sekitar Kerajaan Sriwijaya yang lambat laun berubah, tidak dekat lagi dengan pantai. Hal ini disebabkan oleh perubahan aliran sungai Musi, Ogan, dan Komering yang banyak membawa lumpur sehingga mempengaruhi perdagangan.
  • Mendapat serangan dari kerajaan-kerajaan lain. Salah satunya adalah serangan yang dilakukan oleh Raja Rajendracola dari Kerajaan Colamandala di tahun 1017 dan juga 1024 Masehi.
    Setelah itu, pada tahun 1275 Masehi, Kartanegara dari Kerajaan Singhasari melakukan ekspedisi Pamalayu yang mengakibatkan daerah Melayu melepaskan diri dari Sriwijaya.

Puncak dari kehancuran Kerajaan Sriwijaya adalah terjadi pada tahun 1377 Masehi yang mana kerajaan ini diserang dan berhasil ditaklukkan oleh Kerajaan Majapahit.

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Sejarah Kerajaan Sriwijaya
upload.wikimedia.org

Beberapa sumber mengenai sejarah Kerajaan Sriwijaya adalah ditemukannya prasasti-prasasti. Berikut adalah prasasti-prasasti yang berhasil ditemukan sebagai bukti keberadaan Kerajaan Sriwijaya.

Prasasti Kedukan Bukit

Prasasti yang pertama adalah Prasasti Kedukan Bukit, ditemukan di tepi Sungai Tatang di dekat Palembang. Adapun prasasti ini bertuliskan angka tahun 605 Saka (683 M).

Isi dari prasasti ini adalah menerangkan tentang seorang yang bernama Dapunta Hyang yang mengadakan perjalanan suci (siddhayatra) dengan menggunakan perahu.

Tertulis bahwa Dapunta Hyang berangkat dari Minangtamwan dengan membawa bala tentara sebanyak 20.000 personel.

Poerbatjaraka & Soekmono mengatakan bahwa Minangtamwan terletak di hulu Sungai Kampar, tepatnya adalah terletak di pertemuan Sungai Kampar Kanan dan Sungai Kampar Kiri.

Selain itu, Poerbatjaraka juga menyebutkan bahwa Minangatamwan merupakan nama lama dari Minangkabau. Berbeda dengan Poerbatjaraka, Buchari berpendapat jika Minanga terletak di hulu Sungai Batang Kuantan.

Prasasti Talang Tuo

Pada masa sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada saat Residen Palembang dijabat Louis Constant, ia menemukan prasasti ini pada tanggal 17 November 1920.

Ditemukan di kaki Bukit Seguntang di sekitaran tepian utara Sungai Musi. Mengenai isi dari prasasti ini adalah berupa doa-doa yang didedikasikan dan menunjukkan berkembangnya agama Buddha di Kerajaan Sriwijaya.

Agama Buddha di Sriwijaya beraliran Mahayana, buktinya adalah terdapat kata-kata dari Buddha Mahayana seperti vajrasarira, bodhicitta, dan lainnya.

Prasasti Telaga Batu

Prasasti Telaga Batu ditemukan di sekitar kolam Telaga Batu, Kelurahan 3 Ilir, Ilir Timur II, Kota Palembang. Adapun isinya adalah mengenai kutukan bagi mereka yang melakukan perbuatan jahat di Sriwijaya. Saat ini Prasasti Telaga Batu disimpan di Museum Nasional Indonesia.

Prasasti Kota Kapur

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya selanjutnya adalah Prasasti Kota Kapur yang berada di Barat Pulau Bangka. Prasasti ini ditulis menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno. Ditemukan oleh J. K van der Meulen sekitar 1892 bulan Desember.

Terkait isi dari prasasti ini adalah mengenai kutukan bagi siapa saja yang membantah perintah dan kekuasaan raja.

Prasasti Karang Berahi

Prasasti Karang Berahi ditemukan oleh Kontrolir L.M. Berkhout pada tahun 1904 di Desa Karang Berahi, Jambi. Didalam prasasti ini bertuliskan angka 608 Saka atau 686 Masehi.

Adapun isi dari prasasti ini hampir mirip seperti yang tertulis pada Prasasti Kota Kapur dan juga Prasasti Telaga Batu, yaitu mengenai kutukan bagi siapa saja yang tidak patuh dan tunduk kepada Sriwijaya.

Prasasti Ligor

Prasasti Ligor ditemukan di Thailand Selatan dan memiliki dua sisi, yaitu sisi A dan sisi B. Sisi A menjelaskan tentang gagahnya raja Sriwijaya. Didalam Prasasti Ligor tertulis bahwa raja Sriwijaya adalah raja dari segala raja dunia yang sudah mendirikan Trisamaya Caiya bagi Kajara.

Sementara itu, pada sisi B tertulis mengenai pemberian gelar Visnu Sesawarimadawimathana. Gelar ini diberikan kepada Sri Maharaja yang berasal dari keluarga Sailendravamasa.

Prasasti Palas Pasemah

Prasasti ini ditemukan di Desa Palas Pasemah, Lampung Selatan. Ditulis menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno serta terdiri dari 13 baris kalimat.

Terkait isi dari prasasti ini adalah tentang kutukan terhadap siapa saja yang tidak patuh dan tunduk kepada kekuasaan Sriwijaya. Berdasarkan bukti sejarah yang ditemukan, prasasti ini berasal dari abad ke-7 Masehi.

Seperti halnya Kerajaan Mataram Kuno, sejarah Kerajaan Sriwijaya juga pernah mengalami masa kejayaan. Bukti sejarahnya tertulis di berbagai berita baik dari dalam atau di luar negeri, mulai kabar dari Arab hingga Cina.

Demikian pembahasan lengkap mengenai sejarah Kerajaan Sriwijaya yang berhasil kami rangkum dari berbagai sumber terpercaya. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar