Identitas Nasional Indonesia

Identitas Nasional Indonesia

Pada dasarnya identitas nasional Indonesia merupakan bentuk manifestasi dari nilai-nilai budaya yang tumbuh berkembang dalam suatu negara, khususnya Indonesia. Namun seiring berjalannya waktu, nilai-nilai tersebut berubah menjadi ciri khas suatu bangsa atau negara.

Identitas sendiri berasal dari kata “identity” yang berarti ciri khas, ciri-ciri, tanda-tanda, jati diri perorangan atau kelompok tertentu yang membedakannya dengan orang atau kelompok lainnya.

Sementara kata “nasional” adalah sebuah gambaran akan identitas yang melekat pada diri seseorang, kelompok tertentu, atau organisasi yang lebih besar berdasarkan kesamaan fisik, ragam, bahasa, budaya, cita-cita atau tujuan.

Pengertian Identitas Nasional Indonesia

Identitas Nasional Indonesia
jalankuliah.blogspot.com

Identitas nasional sendiri memiliki banyak pengertian, namun secara umum, Identitas nasional Indonesia adalah sebuah jati diri, ciri, atau sifat yang tumbuh dan berkembang di negara Indonesia sehingga dapat menjadi pembeda dengan negara lainnya.

Meskipun negara kita ini memiliki keragaman budaya Indonesia yang berbeda-beda, namun kita telah sepakat untuk menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika yang mempersatukan berbagai identitas, baik itu bahasa, budaya, agama, ras atau lainnya.

Sehingga dapat dikatakan bahwa identitas nasional merupakan kristalisasi dari kumpulan identitas-identitas yang heterogen.

Faktor Pembentuk Identitas Nasional

Identitas Nasional Indonesia
kresna2202.blogspot.com

Terdapat 5 faktor utama yang mempengaruhi pembentuk identitas nasional yang terdapat di suatu bangsa/negara. 5 faktor yang dimaksud adalah:

Primordialisme

Primordialisme sendiri merupakan kecintaan atau fanatisme pada suatu golongan, etnis atau suku yang sama. Dalam hal ini, kecintaan atau fanatismenya didasarkan oleh sistem kekerabatan dan kekeluargaan yang identik karena adanya hubungan darah antar anggota.

Faktor primordialisme ini menyebabkan seseorang cenderung lebih mudah berteman dan juga menyukai sesama golongan.

Seperti misalnya orang Jawa dengan orang Jawa, golongan menengah ke atas dengan golongan menengah ke atas, dan lain sebagainya.

Bukan hanya itu, primordialisme yang kuat juga menyebabkan pengelompokan individu-individu dengan karakteristik sama yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu kelompok komunitas yang memiliki karakteristik/identitas tertentu.

Pemimpin Bangsa

Pemimpin suatu bangsa merupakan figur atau tokoh pemimpin karismatik yang menjadi kebanggaan rakyatnya. Seorang pemimpin bangsa/negara yang karismatik adalah yang berprinsip sebagai pelayan masyarakat, bukan pelayan diri sendiri.

Maksudnya adalah pemimpin yang mampu membuat rakyat merasa bangga, merasa diayomi dan dilindungi oleh pemimpinnya. Seorang pemimpin yang berprinsip seperti ini nantinya akan dapat menciptakan kelompok/komunitas yang juga ingin seperti dia.

Bukan hanya itu, pemikiran dari seorang pemimpin yang baik juga dapat mempengaruhi pemikiran bangsa yang ia pimpin. Banyak negara di dunia yang memiliki seorang pemimpin yang berprinsip seperti ini.

Seperti contohnya negara kita ini, yaitu Ir. Soekarno. Beliau adalah seorang pemimpin bangsa Indonesia pertama serta seseorang yang mencetuskan dasar negara Pancasila dan kemerdekaan.

Hal-hal seperti itu yang turut berkontribusi besar dalam membentuk identitas suatu negara/bangsa.

Sejarah Bangsa

Sejarah bangsa adalah masa lalu suatu bangsa yang juga turut mempengaruhi terbentuknya memori kolektif masyarakat yang hidup di era sekarang.

Apa yang telah dialami oleh suatu bangsa akan mempengaruhi identitas dan juga pola pikir masyarakat dari bangsa tersebut.

Seperti misalnya sebuah bangsa yang sering dijajah oleh bangsa lain akan cenderung memiliki sifat menolak intervensi asing, isolasionis, dan protektif.

Namun penjajahan yang dilakukan oleh bangsa asing juga dapat memunculkan sifat lunak terhadap asing karena dianggap lebih superior dan juga hebat. Hal inilah yang dikenal dengan mental inlander dari bangsa terjajah.

Sementara bagi bangsa yang pernah menjadi superpower dunia seperti misalnya Inggris atau Amerika tentu saja secara otomatis akan memiliki pride nasionalisme yang sangat tinggi.

Bahkan terkadang mereka menganggap dirinya sendiri sebagai polisi dunia dan lebih superior dibandingkan dengan negara lain.

Praktik Keagamaan

Praktik keagamaan merupakan suatu ritual yang didasarkan pada keyakinan tiap individu yang dipraktikkan baik itu secara individu maupun kolektif.

Unsur ini berperan sangat penting guna menciptakan identitas suatu komunitas karena nilai keagamaan memiliki identitas tersendiri.

Namun aspek keagamaan juga sering kali bercampur dengan aspek kebudayaan lokal yang terdapat pada suatu komunitas. Inilah yang menyebabkan akulturasi dan asimilasi yang pada akhirnya menciptakan budaya baru.

Negara kita ini menjadi salah satu negara yang memiliki banyak keragaman budaya, salah satunya dalam hal agama. Contohnya adalah Islam kejawen yang berasal dari gabungan antara agama Islam dengan budaya lokal di Jawa.

Solidaritas Organik

Solidaritas organik merupakan suatu bentuk integrasi sosial yang terbentuk karena adanya kondisi saling ketergantungan yang dihasilkan oleh pembagian kerja.

Faktor ini muncul seiring dengan banyaknya spesialisasi yang merupakan hasil/produk dari revolusi industri dan industrialisasi massal yang terjadi di seluruh dunia. Adapun identitas yang terbentuk dari solidaritas organik adalah identitas profesional, modern, serta cenderung urban.

Unsur-Unsur Identitas Nasional

Identitas Nasional Indonesia
www.nesabamedia.com

Terdapat beberapa unsur yang menjadi bagian dari identitas nasional, di antaranya adalah:

Agama

Unsur yang pertama adalah agama. Agama adalah suatu golongan sosial yang diklasifikasikan berdasarkan aliran kepercayaan yang dianut oleh tiap-tiap individu.

Pada umumnya, seseorang yang baru lahir telah memiliki afiliasi terhadap salah satu agama di Nusantara.

Adapun afiliasi ini biasanya ditentukan oleh agama yang dianut oleh kedua orang tuanya atau keluarga besar dari seorang anak yang baru dilahirkan.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, lingkungan sekitar turut pula berperan dalam mempengaruhi kepercayaan yang dianut oleh seseorang.

Hingga banyak dijumpai seseorang yang merasakan krisis keagamaan atau bahkan kehilangan kepercayaan atas agamanya. Akibatnya orang-orang seperti ini berpotensi untuk berpindah agama.

Budaya

Budaya memiliki cakupan yang sangat luas. Saking luasnya, bahkan setiap tindakan kita di dalam kehidupan sehari-hari pasti dipengaruhi oleh keterpaparan kita terhadap suatu budaya.

Hal ini senada dengan negara kita yang banyak memiliki contoh budaya daerah yang tersebar di berbagai wilayah.

Suku Bangsa

Dapat dikatakan bahwa suku bangsa merupakan golongan sosial yang khusus dan bersifat askriptif. Maksudnya adalah seorang individu telah memilikinya sedari lahir serta tidak dapat memilih ingin berada di suku apa.

Mereka hanya dapat melakukan atau bertindak setelah menjadi bagian dari suku bangsa tersebut. Suku bangsa juga menjadi salah satu identitas yang dapat dilihat dengan cukup jelas meskipun yang terlihat bukanlah sukunya, melainkan budaya yang melekat pada suku tersebut.

Indonesia sendiri memiliki banyak contoh budaya nasional yang tersebar di berbagai wilayah dari ujung barat hingga ujung timur.

Bahasa

Dalam konteks ini, bahasa merupakan penggolongan sosial yang didasarkan pada aspek simbolik yang jika dilihat secara arbiter dibentuk untuk sarana interaksi atau berkomunikasi antar individu baik itu di dalam maupun di luar komunitas.

Semua orang pasti mempelajari simbol-simbol yang membentuk bahasa sejak ia lahir hingga meninggal dunia. Bahasa juga sangat dipengaruhi oleh budaya yang terdapat di suatu tempat/wilayah.

Sama seperti halnya budaya dan suku bangsa, Indonesia juga memiliki ratusan bahkan ribuan bahasa daerah dan juga bahasa suku yang tersebar di berbagai wilayah.

Karakteristik Identitas Nasional

Identitas Nasional Indonesia
www.suarakita.org

Dapat dikatakan, karakteristik identitas nasional adalah ciri khusus, kebiasaan atau pola hidup masyarakat yang menempati suatu wilayah. Secara umum, terdapat tiga karakteristik identitas nasional yang dimiliki oleh negara kita, yaitu:

Kesatuan Indonesia

Indonesia adalah negara kepulauan terluas di dunia. Setiap pulau yang terdapat di Indonesia memiliki adat istiadat, budaya, dan bahasa yang berbeda-beda.

Kesatuan Indonesia ini adalah karakteristik identitas nasional yang sangat berharga dan bahkan menjadi ciri khas tersendiri bagi bangsa.

Persamaan Nasib

Bukti dari persamaan nasib ini adalah bahwa bangsa Indonesia pernah dijajah oleh bangsa asing dalam waktu yang lama. Kondisi ini tentu dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia di masa itu yang kemudian tercermin dalam identitas nasional serta tercetus pada pembukaan UUD 1945.

Keinginan untuk Merdeka

Seluruh rakyat Indonesia memiliki keinginan untuk terbebas dari belenggu penjajahan baik itu penjajahan fisik maupun mental. Hal itu juga tercantum di dalam UUD 1945 yang berbunyi segala bentuk penjajahan di muka bumi harus dihapuskan.

Fungsi Identitas Nasional

Identitas Nasional Indonesia
www.smamoneblitar.sch.id

Di era globalisasi seperti sekarang ini menjadikan tantangan tersendiri untuk identitas nasional, sehingga sebagai bangsa yang baik, kita harus tetap menjaga identitas nasional. Identitas nasional sendiri memiliki beberapa fungsi, seperti:

Sebagai Alat Pemersatu Bangsa

Seperti yang telah dijelaskan di atas, negara kita ini memiliki berbagai macam kebudayaan, agama, suku, bahasa, dan ras. Nah, identitas nasional digunakan sebagai wadah untuk mempersatukan keberagaman tersebut.

Selain itu, identitas nasional juga dapat difungsikan sebagai salah satu upaya untuk memperkenalkan kebudayaan Nusantara terhadap bangsa lainnya. Salah satu buktinya adalah terdapat beberapa budaya Indonesia yang berhasil mendunia.

Sebagai Identitas Negara

Fungsi terpenting dari identitas nasional adalah dijadikan sebagai jati diri suatu negara. Dengan adanya identitas nasional ini dapat membuat suatu negara terlihat lebih menonjol dibandingkan dengan negara lainnya.

Merupakan Landasan Negara

Dengan identitas nasional juga dapat dijadikan sebagai landasan suatu negara. Artinya adalah identitas nasional dijadikan sebagai panduan dan pemersatu agar dapat mewujudkan cita-cita dari suatu negara.

Bukan hanya itu, identitas nasional juga dapat dijadikan sebagai gambaran akan potensi dan juga kemampuan yang dimiliki oleh suatu negara, sebab tiap-tiap negara berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Baca Juga: 1 Hektar Berapa Meter?

Sebagai Pembeda dengan Bangsa Lain

Terakhir adalah identitas negara berfungsi untuk membedakan dengan bangsa lainnya sehingga terlihat lebih khusus dan spesifik.

Nilai-nilai budaya nasional di Indonesia ini tidak boleh luntur dalam keadaan apa pun. Maka sebagai bangsa Indonesia, kita tetap harus berpegang teguh terhadap identitas dan nilai-nilai yang mendasari bumi pertiwi baik itu sebagai negara maupun bangsa.

Demikianlah penjelasan mengenai identitas nasional Indonesia lengkap beserta pengertian, faktor pembentuk, unsur, karakteristik, dan fungsinya. Semoga bermanfaat.

Air Terjun Tertinggi di Indonesia

Air Terjun Tertinggi di Indonesia

Air Terjun Tertinggi di Indonesia – Berstatus sebagai negara yang memiliki kekayaan alam yang tiada duanya ini membuat Indonesia menjadi negara yang banyak menyuguhkan pesona alam yang begitu indah.

Selain memiliki sungai yang termasuk ke dalam deretan sungai terpanjang di dunia, Indonesia juga dapat dikatakan sebagai negara banyak memiliki air terjun yang mana air terjun-air terjun ini memiliki ketinggian yang mencapai ratusan meter.

Karena menyuguhkan pemandangan yang indah, maka air terjun-air terjun ini juga dimanfaatkan sebagai wisata alam yang banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal bahkan mancanegara.

7 Air Terjun Tertinggi di Indonesia Lengkap Beserta Lokasinya

Salah satu daya tarik wisatawan ingin mendatangi sebuah air terjun adalah karena ketinggiannya yang di atas rata-rata. Lantas air terjun manakah yang tertinggi di negara kita ini? Berikut adalah penjelasan mengenai 7 air terjun tertinggi di Indonesia.

1. Air Terjun Ponot (250 meter)

Air Terjun Tertinggi di Indonesia
Sumber Gambar: wartawisata.id

Air terjun yang berstatus sebagai air terjun tertinggi di tanah air kita adalah Air Terjun Ponot yang terletak di Dusun Sampuransiarimo, Desa Halado yang masuk ke Kecamatan Pintu Pohan Meranti, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara.

Selain memiliki ukuran yang tinggi, air terjun ini juga memiliki debit air yang sangat deras. Air terjun ini merupakan bagian dari Sungai Asahan yang mana di sekeliling Air Terjun Ponot ini memiliki panorama hijau sehingga sangat memanjakan mata.

Bukan hanya itu saja, Air Terjun Ponot menjadi semakin indah karena di samping kanan dan kirinya terdapat batuan-batuan besar sehingga dapat dimanfaatkan sebagai spot foto.

2. Air Terjun Madakaripura (200 meter)

Air Terjun Tertinggi di Indonesia
Sumber Gambar: www.wartabromo.com

Pada bentang alam Pulau Jawa juga terdapat air terjun yang termasuk sebagai salah satu air terjun tertinggi di Nusantara.

Ya, air terjun ini terkenal dengan nama Air Terjun Madakaripura yang terletak di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Disamping memiliki ketinggian yang mencapai 20 meter, air terjun ini juga terkenal karena keindahannya bahkan hingga ke mancanegara.

Berbeda dengan air terjun pada umumnya, Air Terjun Madakaripura memiliki keunikan yang mana keunikan ini terdapat pada letaknya yang berada di ujung lembah yang sempit berbentuk ceruk serta dikelilingi oleh tebing yang curam.

Masyarakat sekitar juga menyebut air terjun ini sebagai air terjun abadi. Hal ini karena debit airnya yang selalu melimpah meskipun terjadi kemarau panjang.

Jika kita akan berwisata ke air terjun ini, maka kita akan disuguhkan pemandangan yang asri dan sejuk karena letak daripada air terjun ini terdapat di hutan Gunung Bromo.

3. Air Terjun Nokan Nayan (180 meter)

Air Terjun Tertinggi di Indonesia
Sumber Gambar: traveltodayindonesia.com

Terletak di pedalaman hutan Kalimantan Barat, Air Terjun Nokan Nayan berada di posisi ketiga sebagai air terjun tertinggi di negeri kita ini.

Hal yang menarik dari air terjun ini adalah karena persis di sampingnya terdapat air terjun lainnya yang diberi nama Air Terjun Jongonoi.

Adapun kedua air terjun ini jatuh pada lembah yang sama sehingga membuat debit air yang jatuh menjadi sangat besar yang pada akhirnya memunculkan kabut tebal yang membumbung tinggi.

Namun dibalik keindahannya itu, terdapat mitos yang cukup menyeramkan. Masyarakat sekitar percaya bahwa Air Terjun Nokan Nayan merupakan kompleks perkampungan gaib. Sehingga beberapa orang melakukan ritual gaib di sekitar air terjun untuk tujuan-tujuan tertentu.

4. Air Terjun Lembah Harau (150 meter)

Air Terjun Tertinggi di Indonesia
Sumber Gambar: hurricane193.files.wordpress.com

Air Terjun Lembah Harau merupakan sebuah air terjun yang terletak di Kota Payakumbuh, Sumatera Barat. Pemerintah setempat telah menetapkan air terjun ini sebagai tempat wisata alam unggulan.

Ini karena Air Terjun Lembah Harau memiliki pemandangan yang indah serta airnya mengalir di atas jurang yang membentang sepanjang Lembah Harau yang tinggi.

Selain menikmati pemandangan yang indah, jika kita berwisata ke air terjun ini maka kita juga dapat menjajal wahana-wahana yang telah disediakan.

Beberapa wahana yang terdapat di wisata air terjun ini adalah kolam renang, panjat tebing, dan bahkan disediakan tempat penginapan sehingga bagi kita yang berasal dari luar kota untuk tidak usah khawatir mencari penginapan.

5. Air Terjun Batang Kapas (133 meter)

Air Terjun Tertinggi di Indonesia
Sumber Gambar: pariwisata.riau.go.id

Memiliki ketinggian mencapai 133 meter, Air Terjun Batang Kapas bertengger di posisi kelima sebagai air terjun tertinggi di tanah air. Berada di Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, air terjun ini terbilang unik karena jatuh langsung di tebing yang curam.

Namun untuk mencapai air terjun ini membutuhkan usaha yang lebih mengingat medan yang sulit ditempuh dan juga jarak yang cukup panjang.

6. Air Terjun Sipiso-Piso (120 meter)

Air Terjun Tertinggi di Indonesia
Sumber Gambar: www.pengawal.id

Di Desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatera Utara juga terdapat air terjun yang sangat terkenal, yaitu Air Terjun Sipiso-Piso.

Adapun nama daripada air terjun ini diambil dari nama gunung yang berada di timur laut Air Terjun Sipiso-Piso.

Selain berstatus sebagai salah satu air terjun tertinggi di Nusantara, air terjun ini juga berada di sekitar bibir Danau Toba serta menjatuhkan debit air yang sangat deras.

Bahkan saking derasnya air yang mengalir ini membuat air yang jatuh membentuk garis vertikal yang sempurna yang membuat Air Terjun Sipiso-Piso masuk ke dalam air terjun tipe Plunge.

7. Air Terjun Tumpak Sewu (110-120 meter)

Air Terjun Tertinggi di Indonesia
Sumber Gambar: img.jakpost.net

Terjadi perdebatan di kalangan para ahli yang menjelaskan mengenai ketinggian daripada Air Terjun Tumpak Sewu. Ada yang menyebut 100 meter, 120 meter, dan bahkan ada yang menyebut ketinggiannya mencapai 180 meter.

Namun kebanyakan para ahli berpendapat bahwa air terjun Tumpak Sewu memiliki ketinggian antara 110-120 meter.

Terkenal juga dengan nama Coban Sewu, air terjun yang terletak di antara perbatasan Malang dan Lumajang, Jawa Timur ini memiliki bentuk yang unik dan jarang ditemui di daerah lain di Indonesia.

Hal ini karena Coban Sewu memiliki bentuk yang mirip dengan Air Terjun Niagara sehingga beberapa orang menyebut air terjun ini sebagai “Niagara-nya” Indonesia.

Selain ketujuh air terjun tersebut, tentunya masih terdapat banyak air terjun lainnya yang juga memiliki ketinggian di atas rata-rata.

Diantaranya adalah Air Terjun Kabut Pelangi, Air Terjun Penimbungan, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Bukan hanya terkenal karena ketinggiannya, beberapa air terjun tersebut juga menyuguhkan pemandangan yang indah sehingga sangat cocok dijadikan sebagai wisata alam yang dapat membuat hati dan pikiran menjadi lebih tenang.

Itulah pembahasan mengenai air terjun tertinggi yang ada di Indonesia. Dari sekian banyak air terjun yang telah kita bahas ini, manakah yang menjadi favorit dan akan dijadikan sebagai destinasi wisatamu? Tulis jawabannya di kolom komentar ya!

Biografi Gajah Mada

Biografi Gajah Mada

Biografi Gajah Mada – Sebelum Indonesia menjadi negara yang merdeka seperti sekarang ini, berdirilah berbagai kerajaan-kerajaan yang pernah jaya pada masanya yang banyak meninggalkan jejak sejarah berikut dengan tokoh-tokohnya.

Nah, salah satu kerajaan besar yang pernah berdiri dan berjaya di Nusantara adalah Majapahit. Ya, sebelum runtuhnya Kerajaan Majapahit, terdapat banyak tokoh besar yang sangat berpengaruh terhadap kebesaran kerajaan ini.

Tokoh besar pada masa Majapahit sendiri kebanyakan adalah seorang raja yang memegang pemerintahan tertinggi di Kerajaan Majapahit.

Namun ternyata terdapat satu tokoh yang sangat terkenal pada masa Kerajaan Majapahit yang bukan berasal dari golongan raja, dialah Gajah Mada, seorang Mahapatih Amangkubhumi.

Biografi Gajah Mada, Mahapatih Kerajaan Majapahit

Biografi Gajah Mada
Sumber Gambar: akulah-indonesia.blogspot.com

Gajah Mada sendiri merupakan Patih yang kemudian naik jabatan menjadi Mahapatih di Kerajaan Majapahit yang mana ia berperan sangat penting dalam mengantarkan kerajaan ini untuk mencapai puncak kejayaan.

Tidak diketahui secara pasti sumber sejarah yang menyatakan biografi atau kapan dan di mana Gajah Mada lahir. Namun yang pasti ia memulai karirnya di Majapahit sebagai bekel.

Karena jasanya yang berhasil menyelamatkan Prabu Jayanagara sebagai raja kedua Kerajaan Majapahit (1309-1328) serta mampu mengatasi pemberontakan yang dilakukan oleh Ra Kuti.

Kemudian ia juga diangkat sebagai Patih Kahuripan pada tahun 1319, selang dua tahun, Gajah Mada juga di angkat sebagai Patih Kediri.

Pada tahun 1329, Majapahit memiliki seorang patih yang bernama Aryo Tadah (Mpu Krewes), namun ia berniat ingin mengundurkan diri dari jabatannya. Sebelum mengundurkan diri, ia menunjuk Gajah Mada yang saat itu menjabat sebagai Patih Kediri untuk menggantikannya.

Akan tetapi, Gajah Mada tidak langsung menyetujuinya sebelum ia membuat jasa terlebih dahulu kepada Majapahit. Maksud dari jasa tersebut adalah dengan cara menaklukkan Keta dan Sadeng yang pada saat itu sedang memberontak terhadap Majapahit.

Selanjutnya Gajah Mada menyerang Keta dan Sadeng hingga akhirnya berhasil menaklukannya. Setelah itu, Gajah Mada secara resmi diangkat oleh Ratu Tribhuwana Tunggadewi sebagai patih di Kerajaan Majapahit (1334).

Sumpah Palapa

Pada saat pengangkatannya, Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa, bahwasanya ia baru akan menikmati palapa (rempah-rempah) yang diartikan sebagai kenikmatan duniawi jika benar-benar telah berhasil menaklukkan Nusantara.

Hal ini tercatat dalam kitab Pararaton dalam teks Jawa Pertengahan yang mana berbunyi seperti pada kutipan di bawah ini:

Meski terdapat sejumlah orang yang meragukan sumpahnya, namun Patih Gajah Mada pada akhirnya berhasil menaklukkan Nusantara.

Daerah yang Ditaklukkan oleh Gajah Mada

Biografi Gajah Mada
Sumber Gambar: pendidikanmu.com

Saat Majapahit di bawah pimpinan Tribhuwana Tunggadewi, Mahapatih Gajah Mada berhasil menaklukkan daerah Bedahulu (Bali), Lombok, Swarnabhumi (Sriwijaya), Palembang, Swarnadwipa (Sumatra), Tamiang, Samudera Pasai, Pulau Bintan.

Selanjutnya Tumasik (Singapura), Semenanjung Malaya, Sampit, Katingan, Kapuas, Kotawaringin, Kotalingga (Tanjunglingga), Sambas, Kandangan, Lawai, Tirem, Samadang, Sedu, Brunei, Kalka, Solok, Saludung, Barito, Pasir, Tabalung, Sawaku, Tanjungkute dan Malano.

Kemudian pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350-1289) atau pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, Mahapatih Gajah Mada menaklukkan Logajah, Sukun, Gurun, Sapi, Taliwung, Seram dan Gunungapi.

Daerah lain seperti Sasak, Hutankadali, Luwuk, Bantayan, Bunton, Makassar, Kunir, Banggai, Salayar, Galiyan, Muar (Saparua), Sumba, Bima, Solor, Wandan (Banda), Wanin, Ambon, Timor, Seran dan Dompo juga ia taklukkan.

Perang Bubat

Biografi Gajah Mada
Sumber Gambar: indonesianserikat.blogspot.com

Didalam Kidung Sunda dijelaskan bahwa Perang Bubat (1357) bermula ketika Hayam Wuruk berniat untuk menikahi Dyah Pitaloka yang merupakan putri dari Kerajaan Sunda untuk dijadikan sebagai permaisuri.

Sehingga Hayam Wuruk melamar Dyah Pitaloka. Lamarannya ini kemudian diterima oleh pihak Kerajaan Sunda. Setelah itu, rombongan besar Kerajaan Sunda datang ke Majapahit dengan maksud akan melangsungkan pernikahan.

Namun Gajah Mada yang sangat menginginkan Sundah takluk pada akhirnya memaksa untuk menginginkan Dyah Pitaloka sebagai persembahan pengakuan atas kekuasaan Majapahit.

Akan tetapi keinginan dari Gajah Mada ditolak oleh pihak Sunda sehingga terjadilah pertempuran yang tidak seimbang antara pasukan Majapahit yang di pimpin oleh Gajah Mada dengan rombongan Kerajaan Sunda.

Pertempuran ini terjadi di daerah Bubat yang mana daerah tersebut dijadikan sebagai tempat penginapan sementara rombongan Sunda.

Akibat dari pertempuran itu, raja dari Kerajaan Sunda berikut seluruh rombongannya tewas yang mengakibatkan Dyah Pitaloka bunuh diri. Dengan peristiwa yang fatal tersebut akhirnya Gajah Mada diberhentikan dari jabatannya sebagai Patih Majapahit.

Namun dalam Nagarakretagama diceritakan sedikit berbeda. Di dalamnya tertulis bahwa Raja Hayam Wuruk sangat menghargai Gajah Mada sebagai Mahamantri yang agung, bijaksana, wira, setia dan berbakti pada negara.

Namun akibat kesalahannya kemudian sang raja memberikan dukuh Madakaripura yang terletak di Tongas, Probolinggo kepada Gajah Mada.

Ada juga pendapat yang menyatakan, pada tahun 1359, Gajah Mada diangkat kembali sebagai patih, namun ia hanya dapat memerintah dari Makaripura saja.

Meninggalnya Gajah Mada

Biografi Gajah Mada
Sumber Gambar: www.suratkabar.id

Negarakretagama juga menjelaskan bahwa sekembalinya Prabu Hayam Wuruk dari upacara keagamaan di Simping, ia sempat menjumpai Gajah Mada dalam keadaan sakit.

Disebutkan juga bahwa Gajah Mada meninggal dunia pada tahun 1286 Saka atau 1364 Masehi. Namun hingga kini tidak diketahui secara pasti di mana Sang Patih dikebumikan.

Sepeninggal Gajah Mada, Hayam Wuruk kemudian menunjuk enam Mahamantri Agung untuk membantu menjalankan roda pemerintahan.

Demikianlah penjelasan mengenai biografi Mahapatih Gajah Mada yang berhasil kami rangkum dari berbagai sumber. Sampai dengan saat ini, sejarah mengenai Sang Patih masih menjadi misteri tentang kehidupannya yang sebenar-benarnya.

Runtuhnya Kerajaan Majapahit

Runtuhnya Kerajaan Majapahit

Runtuhnya Kerajaan Majapahit – Kerajaan Majapahit merupakan salah satu kerajaan bercorak Hindu-Buddha terbesar yang pernah berdiri di Nusantara pada abad ke-13.

Meskipun tidak termasuk dalam sejarah sebagai kerajaan tertua di Indonesia, namun Kerajaan Majapahit disebut-sebut sebagai kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang pernah menguasai hampir seluruh wilayah di Nusantara dan bahkan mancanegara.

Kerajaan ini didirikan oleh Raden Wijaya yang mana ia merupakan menantu Raja Kertanegara dari Singosari. Ia dinobatkan menjadi raja Majapahit pada tahun 1293 Masehi yang bergelar Kertarajasa Jayawardhana (1293-1309 M).

5 Faktor Utama Penyebab Runtuhnya Kerajaan Majapahit

Runtuhnya Kerajaan Majapahit
Sumber Gambar: blue.kumparan.com

Terkenal dengan Sumpah Palapa-nya yang sangat melegenda, Kemaharajaan Majapahit di bawah pimpinan Mahapatih Gajah Mada berhasil menyatukan wilayah-wilayah di Nusantara serta mengantarkan Majapahit ke masa kejayaan dengan rajanya yang kala itu di pimpin oleh Hayam Wuruk.

Tercatat lebih dari 98 kerajaan bernaung di bawah kekuasaan Majapahit baik itu dari kerajaan yang ada di Nusantara hingga mancanegara.

Penyebab utama runtuhnya kerajaan ini hingga kini masih menjadi perbincangan di kalangan para ahli. Banyak perbedaan yang menyebut mengenai berakhirnya Kemaharajaan Majapahit.

Namun banyak juga yang menyimpulkan bahwa Kerajaan Majapahit runtuh pada tahun 1400 saka (1478 M). Keruntuhannya ini disimpulkan dalam Candrasengakala “sirna ilang kertaning bhumi”.

Untuk mengetahui faktor apa saja yang menyebabkan keruntuhan Kerajaan Majapahit, di bawah ini akan kami jelaskan mengenai 5 faktor utama yang menyebabkan runtuhnya Kerajaan Majapahit yang berhasil kami rangkum dari berbagai sumber.

1. Meninggalnya Hayam Wuruk dan Gajah Mada

Ya, kedua tokoh tersebut merupakan dua tokoh yang berperan sangat penting dalam kejayaan Kerajaan Majapahit di Nusantara. Namun setelah keduanya meninggal, kejayaan kerajaan ini berangsur-angsur meredup.

Disebutkan bahwa setelah Gajah Mada wafat, Hayam Wuruk menjadi bimbang. Berdasarkan sejarah, Hayam Wuruk sampai meminta saran kepada ibu, kedua adik serta kedua iparnya untuk mendiskusikan siapa yang pantas untuk menggantikan kedudukan sang Patih.

Akan tetapi setelah melakukan perundingan, Hayam Wuruk tidak juga menemukan pengganti yang pantas untuk menggantikannya.

Saking sedihnya akibat Gajah Mada meninggal, Hayam Wuruk tidak menunjuk Mahapatih baru untuk menggantikannya sehingga posisi tersebut ia pegang sendiri hingga beliau meninggal dunia.

Bukan hanya sampai disitu, akibat meninggalnya Gajah Mada dan juga Hayam Wuruk, beberapa wilayah yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Majapahit pada akhirnya mulai melepaskan diri.

2. Perang Saudara atau Perang Paregreg (1405-1406)

Sepeninggal Hayam Wuruk, terjadilah perebutan kekuasaan untuk menggantikannya hingga mengakibatkan perang saudara atau lebih dikenal dengan nama Perang Paregreg antara Wikramawardhana melawan Bhre Wirabuhi.

Wikramawardhana merupakan suami dari putri Hayam Wuruk dari permaisuri yang bernama Kusumawarhani. Sedangkan Bhre Wirabhumi merupakan putra Hayam Wuruk yang dihasilkan dari istri selir.

3. Banyak Wilayah Kekuasaan yang Melepaskan Diri dari Majapahit

Meski setelah Hayam Wuruk wafat, Kerajaan Majapahit tetap memiliki raja, namun karena kepemiminannya tidak ada yang mampu menandingi Hayam Wuruk dan Gajah Mada, maka hal tersebut menyebabkan kewibawaan dan pengaruh Kerajaan Majapahit memudar.

Hal inilah yang membuat banyak wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh Majapahit pada akhirnya kehilangan kepercayaan sehingga mereka lebih memilih untuk melepaskan diri.

4. Pengaruh Perkembangan Islam

Faktor selanjutnya yang mempengaruhi kemunduran Majapahit adalah mulai berkembangnya agama Islam di pesisir utara Pulau Jawa sehingga secara tidak langsung mengurangi dukungan terhadap Kerajaan Majapahit.

5. Serangan dari Kerajaan Demak

Meskipun dalam sejarah kerajaan Islam di Jawa,  Demak menjadi bagian dari Majapahit, namun Demak telah menjadi sebuah kerajaan yang berlandaskan Islam.

Hal tersebutlah yang mendorong Demak untuk dapat melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit dan mendirikan kerajaan sendiri yang berlandaskan Islam hingga di kemudian hari Kesultanan Demak berbalik menyerang Kerajaan Majapahit.

Berdirinya Kerajaan Majapahit

Runtuhnya Kerajaan Majapahit
Sumber Gambar: diadona.id

Kerajaan Majapahit didirkan oleh Raden Wijaya yang mana ia setelah menjadi raja diberi gelar Kertarajasa Jayawardhana (1293-1309).

Nama Majapahit sendiri berasal dari kata “buah maja yang memiliki rasa pahit” yang mana buah tersebut banyak ditemukan di daerah hutan di mana kerajaan ini berdiri.

Pada awalnya, Majapahit berpusat di Mojokerto, namun pada masa Jayanegara, ibukota dari kerajaan ini dipindahkan ke Triwulan, hingga pada tahun 1456 Masehi, ibukota Majapahit kembali dipindahkan ke Kediri.

Baca Juga : Kerajaan Pajajaran

Silsilah Raja Majapahit

Runtuhnya Kerajaan Majapahit
Sumber Gambar: theinsidemag.com

Kerajaan Majapahit berdiri hampir mencapai 2 abad. Adapun beberapa raja yang pernah menduduki tahta tertinggi di Kerajaan Majapahit adalah:

  • Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana), pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Majapahit yang berkuasa pada tahun 1293-1309 M
  • Jayanegara, berkuasa pada tahun 1309-1328 M
  • Tribuana Tunggadewi, menjadi raja Majapahit pada tahun 1328-1350 M
  • Hayam Wuruk, raja yang berhasil membawa Kerajaan Majapahit mencapai masa kejayaan dengan di dampingi oleh Mahapatih Gajah Mada. Berkuasa pada tahun 1350-1389 M
  • Kusumawardani Wikramawardhana, melanjutkan kepemimpinan Raja Hayam Wuruk pada tahun 1389-1399 M
  • Suhita di tahun 1399-1429 M
  • Bhre Tumapel atau Kertawijaya, menjadi raja Majapahit pada tahun 1447-1451 M
  • Rajasawardhana, berkuasa di Majapahit pada tahun 1451-1453 M
  • Purwawisesa, raja Majapahit pada tahun 1456-1466 M
  • Kertabumi, raja Kerajaan Majapahit yang berkuasa pada tahun 1466-1478 M

Meskipun setelah Raja Hayam Wuruk meninggal, pergantian kekuasaan di kerajaan ini masih terus berlanjut, namun tetap tidak ada yang mampu menandingi kekuatannya yang dibantu oleh Mahapatih Gajah Mada untuk memerintah Kerajaan Majapahit.

Hingga pada akhirnya Kerajaan Majapahit benar-benar runtuh setelah diserang oleh Kesultanan Demak pada tahun 1478 Masehi. Kala itu, Kesultanan Demak dipimpin oleh Pati Unus yang berhasil menduduki Majapahit untuk kemudian mengambil alih pemerintahan.

Itulah penjelasan singkat mengenai 5 faktor utama runtuhnya Kerajaan Majapahit. Meski telah lama runtuh, namun kebesaran dari Kerajaan Majapahit hingga saat ini masih dapat dirasakan baik itu dari peninggalan-peninggalan maupun sejarahnya.

Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Pajajaran atau lebih dikenal dengan nama Pakuan Pajajaran merupakan kerajaan bercorak Hindu yang terletak di Jawa Barat yang mana kerajaan ini beribukota di Pajajaran atau sekarang adalah Bogor.

Seperti adat kebiasaan di Asia Tenggara yang mana pada masa itu dalam menyebut nama suatu kerajaan biasanya masyarakat menyebutnya dengan nama dari ibukotanya.

Didalam sejarah tercatat bahwa pendiri dari kerajaan ini adalah Sri Jayabhupati yang didirikan pada tahun 923 Masehi. Sementara itu, Pakuan Pajajaran secara resmi dinyatakan berdiri adalah pada saat Jayadewata naik tahta di tahun 1482 dan bergelar Sri Baduga Maharaja.

Baca Juga: Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Sejarah Lengkap Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Pajajaran
Sumber Gambar: www.historyofcirebon.id

Sebelum Pakuan Pajajaran berdiri, terdapat dua kerajaan di tanah Parahyangan (Jawa Barat), yaitu Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda. Dari kedua kerajaan ini memiliki ikatan tali perkawinan antara putra dari raja Galuh dan putri raja Sunda.

Adapun Kerajaan Galuh dipimpin oleh seorang raja yang bernama Dewa Niskala, sedangkan Kerajaan Sunda dipimpin oleh Raja Susuktunggal.

Pada saat Kerajaan Majapahit diambang kehancuran, tepatnya pada tahun 1400-an Masehi, para rombongan pengungsi dari Majapahit datang ke Kerajaan Galuh kemudian kerajaan ini menerimanya dengan baik.

Tidak hanya berhenti disitu, kepala rombongan pengungsi yang masih ikatan keluarga dari Prabu Kertabumi (raja Majapahit) yang bernama Raden Baribin akhirnya dinikahkan dengan salah satu dari putri Galuh yang bernama Ratna Ayu Kirana.

Kemudian sang raja mengambil seorang istri yang ikut dalam rombongan pengungsi dari Majapahit.

Namun tindakan ini menyebabkan kemarahan dari raja Sunda dan menuduh bahwa raja Galuh melupakan aturan bahwasanya orang Sunda dan Galuh dilarang keras untuk menikahi orang yang berasal dari Majapahit.

Kedua raja yang terlibat pertalian besan ini pada akhirnya terlibat sengketa yang mengakibatkan di antara kerajaan tersebut terancam perang. Namun dewan penasehat dari kedua kerajaan kemudian berunding serta meminta para raja untuk turun dari tahta kerajaan.

Kemudian mereka bersama-sama menunjuk seorang pengganti untuk memimpin kedua kerajaan. Tidak disangka, nama yang ditunjuk oleh kedua raja adalah nama yang sama, yaitu Jayadewata.

Dengan penunjukannya tersebut, maka terselesaikanlah masalah persengketaan yaitu dengan jalan menyatukan kedua kerajaan di bawah pimpinan satu raja. Raja Jayadewata ini lebih dikenal dengan nama Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi.

Letak

Pajajaran merupakan sebuah kerajaan bercorak Hindu yang diperkirakan beribukota di Pakuan (Bogor) Jawa Barat. Selain itu, di dalam naskah-naskah kuno Nusantara, kerajaan ini disebut juga Negeri Sunda, Pasundan atau disebut juga dengan nama Pakuan Pajajaran.

Silsilah Raja Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Pajajaran
Sumber Gambar: rumus.co.id

Berikut ini adalah beberapa raja yang pernah berkuasa di Pakuan Pajajaran, di antaranya adalah:

  • Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi, berkuasa dari tahun 1482-1521 Masehi. Bertahta di Pakuan (Bogor),
  • Surawisesa, menjadi raja pada tahun 1521-1535 Masehi dan bertahta di Pakuan,
  • Ratu Dewata, pemerintahannya dimulai pada tahun 1535-1543 Masehi, bertahta di Pakuan,
  • Ratu Sakti pada tahun 1543-1551 Masehi. Ia juga bertahta di Pakuan,
  • Ratu Nilakendra di tahun 1551-1567 Masehi. Pada masa pemerintahannya ini, ia meninggalkan Pakuan karena terjadi serangan dari Hasanudin dan anaknya, Maulana Yusuf,
  • Raga Mulya, memerintah pada tahun 1567-1579 Masehi. Dikenal juga dengan nama Prabu Surya Kencana dan memerintah di Pandeglang.

Masa Kejayaan

Kerajaan Tertua di Indonesia
Sumber Gambar: www.pasundan.id

Pada masa kepemimpinan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi, kerajaan ini mengalami puncak kejayaan. Berbagai pembangunan fisik terus dilakukan dengan tujuan untuk memudahkan kehidupan kerajaan dan rakyatnya.

Dibawah ini adalah beberapa pencapaian-pencapaian yang dilakukan oleh Sri Baduga Maharaja.

Pembangunan Fisik

Karena pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja kerajaan ini masih berstatus sebagai kerajaan baru, maka ia banyak melakukan pembangunan fisik guna memudahkan kehidupan pemerintahan dan rakyatnya.

Beberapa pembangunan fisik yang dilakukan oleh Prabu Siliwangi adalah:

  • Membuat telaga besar yang mana telaga ini diberi nama Talaga Maharena Wijaya,
  • Membuat/membangun jalan dari ibukota (Pakuan) sampai ke Wanagiri,
  • Membangun keputren atau kabinihajian (tempat tinggal para putri),
  • Serta membangun tempat hiburan (pamingtonan).

Administrasi Pemerintahan

Selain fokus pada pembangunan fisik, Prabu Siliwangi juga memperhatikan mengenai administrasi pemerintahan, yaitu dengan cara memberikan tugas-tugas yang spesifik kepada para abdi raja.

Menyusun undang-undang untuk menata kehidupan bernegara serta membuat aturan mengenai pemungutan upeti/pajak supaya tidak terjadi kesewenang-wenangan di dalam proses penarikannya.

Bidang Militer

Memperhatikan pertahanan negara dengan cara memperkuat angkatan militer dengan tujuan agar Peristiwa Bubat tidak terulang. Mendirikan kesatrian atau asrama untuk para prajurit guna menarik minat para pemuda supaya mereka mau menjadi tentara/prajurit.

Bukan hanya mendirikan asrama, para prajurit juga diberi latihan militer dengan berbagai macam formasi tempur.

Keagamaan

Agama merupakan bagian terpenting di dalam kehidupan manusia. Di masa pemerintahan Prabu Siliwangi, desa-desa perdikan di kerajaan ini kemudian dibagikan para pendeta dan murid-muridnya. Desa atau tanah perdikan merupakan suatu wilayah yang tidak di pungut pajak.

Hal ini bertujuan agar para pendeta dan murid-muridnya dapat lebih leluasa dalam memimpin ritual keagamaan tanpa harus memikirkan masalah duniawi (upeti).

Baca Juga: Sejarah Kerajaan Kutai

Kehidupan Masyarakat

Kehidupan masyarakat di Pajajaran dapat dilihat dari beberapa aspek utamanya, seperti ekonomi, sosial serta aspek budaya.

Ekonomi

Sebagian besar masyarakat Pajajaran bermata pencaharian sebagai petani/pertanian. Namun terdapat juga kegiatan berdagang dan pelayaran.

Pada masa kejayaannya, kerajaan ini setidaknya memiliki enam pelabuhan yang cukup penting, yaitu Pelabuhan Banten, Cigede, Sunda Kelapa, Pontang, Tamgara dan Cimanuk (Pamanukan).

Sosial

Dalam kesehariannya, masyarakat Pakuan Pajajaran digolongkan berdasarkan pekerjaannya. Seperti golongan seniman yang terdiri dari para pemain musik gamelan, badut, dan penari.

Golongan petani dan pedagang adalah mereka yang bermata pencaharian sebagai petani dan perdagangan. Selain itu, ada juga golongan penjahat, yaitu mereka yang berprofesi di bidang kejahatan seperti pembunuh, perampok, pencuri, dan lain sebagainya.

Budaya

Agama yang dianut oleh kerajaan ini adalah agama Hindu, maka praktik hidup kesehariannya sangat kental dengan ritual keagamaan agama Hindu.

Runtuhnya Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Pajajaran
Sumber Gambar: www.artisanalbistro.com

Setelah Sri Baduga Maharaja tidak lagi memimpin Pakuan Pajajaran, penerus-penerus selanjutnya tidak ada yang mampu menandingi kemasyhurannya.

Adapun semua catatan mengenai masa kejayaan kerajaan ini yang terabadikan baik dalam kidung, pantun, cerita, babad, sampai yang terukir dalam prasasti-prasasti merupakan hasil kerja keras dari sang Prabu atau sang raja pertama Pakuan Pajajaran.

Keruntuhan Pajajaran terjadi di tahun 1579 Masehi akibat dari serangan Kesultanan Banten atau anak/bagian dari Kesultanan Demak di Jawa Tengah.

Kehancurannya ini ditandai dengan pemboyongan Palangka Sriman Sriwacana atau singgasana raja yang awalnya di terdapat di Pakuan Pajajaran kemudian dipindahkan ke Keraton Surosowan di Banten yang dipimpin oleh Maulana Yusuf.

Pemboyongan singgasana batu ini dijadikan sebagai simbolis terhadap tradisi politik pada masa itu dengan tujuan agar Pakuan Pajajaran tidak bisa menobatkan raja baru.

Setelah itu, Maulana Yusuf kemudian didaulat sebagai penguasa sah Sunda, hal ini karena beliau masih memiliki darah Sunda serta merupakan canggah dari Sri Baduga Maharaja.

Dengan berakhirnya masa kerajaan ini adalah juga sebagai akhir dari kekuasaan Hindu di Parahyangan sekaligus awal dari masa Dinasti Islam.

Menurut sejarah, konon sebagian abdi istana akhirnya menetap di Lebak serta menerapkan cara kehidupan mandala yang sangat ketat. Saat ini, keturunan dari para abdi istana adalah yang biasa kita kenal sebagai Suku Baduy.

Peninggalan Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Pajajaran
Sumber Gambar: ahmadsamantho.files.wordpress.com

Seperti halnya kerajaan tertua di Indonesia lainnya, kerajaan ini juga meninggalkan beberapa peninggalan yang hingga saat ini masih dapat kita jumpai. Beberapa peninggalan-peninggalannya adalah:

Prasasti Cikapundang

Karena ditemukan di sekitar Sungai Cikapundang, Bandung, maka prasasti ini diberi nama Prasasti Cikapundang yang ditemukan pada tanggal 8 Oktober 2010. Prasasti yang ditulis menggunakan huruf Sunda Kuno ini diperkirakan berasal dari abad ke-14.

Prasasti ini memiliki gambar wajah, telapak tangan, telapak kaki serta terdapat dua baris huruf Sunda Kuno yang bertuliskan “unggal jagat jalmah hendap”, yang berarti semua manusia di dunia akan mengalami sesuatu.

Sampai dengan saat ini, para peneliti dari Balai Arkeologi masih terus mengkaji batu prasasti tersebut. Batu prasasti ini memiliki ukuran panjang sekitar 178 cm, lebar 80 cm, serta tinggi 55 cm.

Prasasti Pasir Datar

Peninggalan dari Pakuan Pajajaran selanjutnya adalah Prasasti Pasir Datar yang ditemukan di kompleks Perkebunan Kopi Pasir Datar, Cisadane, Sukabumi dan ditemukan pada tahun 1872 Masehi.

Saat ini Prasasti Pasir Datar disimpan di Museum Nasional Indonesia yang terletak di Jakarta. Prasasti yang dibuat dari batu alam ini hingga saat ini masih belum ditraskripsi sehingga belum diketahui isinya secara pasti.

Prasasti Huludayeuh

Prasasti Huludayeuh ditemukan di persawahan di Kampung Huludayeuh, Desa Cikahalang, di Kecamatan Sumber dan setelah pemekaran wilayah, prasasti ini masuk ke wilayah Kecamatan Dukupuntang Cirebon.

Meski telah lama diketahui oleh penduduk setempat, namun prasasti ini baru diketahui oleh para ahli pada bulan September 1991 dan diumumkan dalam media cetak Harian Pikiran Rakyat pada tanggal 11 September 1991 dan juga Harian Kompas di tanggal 12 September 1991.

Prasasti Perjanjian Sunda-Portugis

Prasasti Perjanjian Sunda-Portugis juga menjadi peninggalan dari Pakuan Pajajaran selanjutnya yang berbentuk tugu batu serta ditemukan di Jakarta pada tahun 1918.

Adanya prasasti ini menandai perjanjian antara Kerajaan Sunda dengan Kerajaan Portugal yang dibuat oleh utusan dagang Portugis yang berasal dari Malaka.

Sedangkan yang memimpin utusan tersebut adalah Enrique Leme yang mana mereka juga membawa barang-barang untuk “Raja Saiman” atau Sanghyang, yang dimaksud adalah Sang Hyang Surawisesa.

Peninggalan berupa prasasti ini didirikan di atas tanah yang ditunjuk sebagai tempat yang nantinya akan dibangun benteng dan juga gudang bagi para orang Portugis.

Cerita ditemukannya prasasti ini adalah pada saat melakukan penggalian untuk membangun gudang di sudut Prinsenstraat atau sekarang menjadi Jalan Cengkeh dan juga Groenestraat atau Jalan Kali Besar Timur I. Saat ini daerah tersebut masuk ke wilayah Jakarta Barat.

Seperti halnya Prasasti Pasir Datar, saat ini Prasasti Perjanjian Sunda-Portugis juga disimpan di Museum Nasional Indonesia sedangkan replikanya dipamerkan di Museum Sejarah Jakarta.

Prasasti Ulubelu

Prasasti ini diperkirakan sebagai peninggalan dari Kerajaan Sunda di abad ke-15 Masehi. Ditemukan di Ulubelu, Rebangpunggung, Kotaagung, Lampung pada tahun 1936.

Meski ditemukan di Lampung, namun beberapa sejarawan menganggap jika aksara yang digunakan pada prasasti ini merupakan aksara Sunda Kuno. Sehingga mereka menganggap bahwa Prasasti Ulubelu merupakan peninggalan dari Kerajaan Sunda.

Isi dari prasasti ini berupa mantra-mantra permintaan tolong terhadap dewa-dewa utama, seperti Batara Guru (Siwa), Wisnu, dan Brahma serta kepada dewa penguasa air, tanah, dan juga pohon guna menjaga keselamatan.

Prasasti Kebon Kopi II

Prasasti Pasir Muara atau Prasasti Kebon Kopi II adalah peninggalan dari Kerajaan Sunda-Galuh yang ditemukan tidak jauh dari Prasasti Kebon Kopi I yang mana Prasasti Kebon Kopi I ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Tarumanegara.

Namun naas, prasasti ini hilang dicuri pada tahun 1940-an. Meskipun demikian, pakar F. D. K. Bosch sempat mempelajarinya bahwa prasasti ini ditulis menggunakan bahasa Melayu Kuno.

Mengenai isi dari prasasti tersebut adalah menyatakan seorang Raja Sunda menduduki kembali tahtanya serta menafsirkan angka tahun peristiwa ini tertarikh 932 Masehi.

Ditemukan di Kampung Pasir Muara, Desa Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Kabupaten Bogor Jawa Barat dan berjarak sekitar 1 Km dari Prasasti Kebon Kopi I.

Situs Karangkamulyan

Peninggalan terakhir yang masih berhubungan dengan Pakuan Pajajaran adalah Situs Karangkamulyan. Situs ini merupakan situs yang terletak di Desa Karangkamulyan, Ciamis Jawa Barat. Adapun situs ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Galuh yang bercorak Hindu-Buddha.

Mengenai legenda dari situs ini adalah berkisah tentang Ciung Wanara yang berhubungan dengan Kerajaan Galuh.

Cerita ini dibumbui dengan seorang tokoh kepahlawanan yang begitu luar biasa seperti misalnya kesaktian dan juga keperkasaan yang tidak dimiliki oleh orang biasa namun dimiliki oleh Ciung Wanara.

Kawasan situs ini memiliki luas sekitar 25 Ha yang di dalamnya menyimpan berbagai benda-benda yang diduga kuat mengandung sejarah tentang Kerajaan Galuh.

Kebanyakan benda-benda ini berbentuk batu yang letaknya tidak berdekatan namun menyebar dengan bentuk yang berbeda-beda. Batu-batu ini berada dalam sebuah bangunan yang mana strukturnya terbuat dari tumpukan batu yang berbentuk hampir sama.

Jika dilihat dengan seksama, struktur bangunan ini memiliki sebuah pintu sehingga mirip menyerupai sebuah kamar.

Demikianlah pembahasan mengenai sejarah Kerajaan Pajajaran atau Pakuan Pajajaran mulai dari letak, masa kejayaan, kehidupan, masa keruntuhan hingga peninggalan-peninggalannya. Semoga bermanfaat!

Kerajaan Tertua di Indonesia

Kerajaan Tertua di Indonesia

Kerajaan Tertua di Indonesia – Jauh sebelum Indonesia merdeka, negara kita ini merupakan negara yang mempunyai banyak kerajaan baik itu kerajaan bercorak Hindu, Buddha, Hindu-Buddha, dan Islam yang pernah berjaya pada masanya.

Namun terdapat beberapa hal yang sering kali terabaikan, salah satunya adalah terkait kerajaan tertua yang pernah berdiri di Indonesia.

Untuk dapat mengatakan mengenai berapa usia dari suatu kerajaan, tentu dibutuhkan bukti yang kuat dari berbagai penelitian ilmiah yang didukung dengan penemuan secara arkeologis.

10 Kerajaan Tertua yang Pernah Ada di Indonesia

Dari berbagai penelusuran sejumlah sumber yang kuat dan dapat dipercaya, ternyata terdapat beberapa kerajaan yang usianya tidak dibahas atau bahkan tidak ditampilkan di dalam sejarah Indonesia serta tidak dipelajari di sekolah-sekolah.

Dalam berbagai sumber mengatakan bahwa Kerajaan Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia. Tapi faktanya masih banyak kerajaan-kerajaan yang berusia lebih tua dari kerajaan tersebut.

Berikut ini adalah pembahasan mengenai 10 kerajaan tertua yang pernah berdiri dan berjaya di Indonesia.

Kerajaan Kandis (sebelum Masehi)

Kerajaan Tertua di Indonesia
www.suratkabar.id

Kerajaan tertua di Nusantara yang pertama adalah Kerajaan Kandis yang diyakini berdiri sebelum Masehi dan mendahului berdirinya Kerajaan Moloyou dan Kerajaan Dharmasraya.

Adapun dua tokoh utama yang sering disebut sebagai raja di kerajaan ini adalah Patih dan juga Tumenggung.

Sementara itu, nenek moyang Lubuk Jambi disinyalir berasal dari keturunan Waliyullah Raja Iskandar Zulkarnain serta tiga orang putra dari raja tersebut, diantaranya adalah Maharaja Alif, Maharaja Depang dan Maharaja Diraja yang mana mereka berpencar untuk mencari daerah baru.

Pada akhirnya, Maharaja Alif ke daerah Banda Ruhum, Maharaja Depang ke daerah Bandar Cina, sedangkan Maharaja Diraja ke Pulau Emas (Sumatra).

Ketika berlabuh di Pulau Emas ini, Maharaja Diraja beserta rombongannya mendirikan sebuah kerajaan yang diberi nama Kerajaan Kandis yang terletak di Bukit Bakar atau Bukit Bakau.

Dijadikannya daerah tersebut untuk mendirikan sebuah kerajaan adalah karena pada waktu itu daerah tersebut merupakan daerah yang subur dan hijau serta dikelilingi oleh aliran sungai yang jernih.

Kerajaan Salakanagara (103-362 M)

Kerajaan Tertua di Indonesia
histori.id

Berdasarkan bukti-bukti sejarah, Kerajaan Salakanagara merupakan kerajaan pertama yang pernah berdiri dan terletak di Jawa Barat.

Salah satu bukti sejarahnya adalah terdapat pada Naskah Wangsakerta Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara (disusun sebuah panitia yang diketuai oleh keturunan Pangeran Wangsakerta), diperkirakan bahwa Salakanagara merupakan salah satu kerajaan yang paling awal yang terdapat di Nusantara.

Terkait nama-nama ahli atau sejarawan yang membuktikan tentang tatar Banten pernah memiliki nilai-nilai sejarah yang panjang dan tinggi adalah Tb. H. Achmad, Halwany Michrob, Mu’arif Ambary, Husein Djajadiningrat, dan lainnya.

Banyak temuan-temuan mereka yang disusun menjadi tulisan-tulisan, ulasan maupun di rangkum menjadi buku.

Selain itu, terdapat juga nama-nama lainnya, di antaranya adalah Ayatrohaedi, Saleh Danasasmita, Atja, Claude Guillot, John Miksic, Wishnu Handoko, Yoseph Iskandar, Takashi dan lainnya yang menambah pengetahuan seputar Banten.

Berkat mereka, sehingga menjadi semakin luas dan juga terbuka dengan karya-karya yang mereka buat baik itu dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.

Adapun pendiri dari Kerajaan Salakanagara adalah Dewawarman yang mana ia juga merupakan duta keliling, pedagang sekaligus pendatang dari Pallawa, Bharata (India) yang pada akhirnya menetap karena ia menikah dengan seorang putri dari penghulu setempat.

Kerajaan Melayu Tua Jambi (Abad ke-2 M)

Kerajaan Tertua di Indonesia
2.bp.blogspot.com

Dharmasraya adalah nama dari ibukota Kerajaan Melayu yang terletak di Sumatra. Nama tersebut muncul seiring dengan melemahnya Kerajaan Sriwijaya pasca penyerangan yang dilancarkan oleh Rajendra Coladewa raja Chola dari Koromandel, India di tahun 1025 Masehi.

Didalam naskah yang berjudul Chu-fan-chi karya Chau Ju-kua tahun 1225 Masehi disebutkan, bahwasanya negeri San-fo-tsi memiliki 15 daerah bawahan.

Daerah bawahan yang dimaksud adalah Che-lan (Kamboja), Tan-ma-ling (Tambralingga, selatan Thailand), Kia-lo-hi (Grahi, Ch’ai-ya atau Chaiya sekarang menjadi selatan Thailand), Ling-ya-si-kia (Langkasuka, selatan Thailand), Ji-lo-t’ing (Cherating, daerah di pantai timur semenanjung Malaya),  Ki-lan-tan atau Kelantan.

Fo-lo-an (muara Sungai Dungun, daerah Terengganu sekarang), Tong-ya-nong (Terengganu), Pa-t’a (Sungai Paka, pantai timur di semenanjung Malaya), Tsien-mai (Semawe, pantai timur semenanjung Malaya), Pong-fong (Pahang),  Sin-to (Sunda), Pa-lin-fong (Palembang), Kien-pi (Jambi), Lan-mu-li (Lamuri, daerah Aceh sekarang).

Kerajaan Sekala Brak (Abad ke-3 M)

Kerajaan Tertua di Indonesia
4.bp.blogspot.com

Sekala Brak atau dibaca Sekala Bekhak merupakan kerajaan yang bercorak Hindu yang dikenal dengan nama Kerajaan Sekala Brak Hindu.

Meskipun pada awal berdirinya Kerajaan Sekala Brak ini bercorak Hindu, namun setelah kedatangan Empat Umpu dari Pagaruyung yang menyebarkan agama Islam, maka kerajaan ini pada akhirnya berubah nama menjadi Kepaksian Sekala Brak.

Terletak di kaki Gunung Pesagi yang merupakan gunung tertinggi provinsi Lampung. Kerajaan ini merupakan sebuah kerajaan yang menjadi cikal-bakal suku bangsa etnis Lampung yang bertahan hingga saat ini.

Kerajaan Kutai Martadipura/Martapura (350-400 M)

Kerajaan Tertua di Indonesia
blue.kumparan.com

Kutai Martadipura atau dikenal juga dengan nama Kerajaan Kutai Martapura merupakan sebuah kerajaan bercorak Hindu yang memiliki sejarah tertua di Nusantara. Letaknya berada di Muara Kaman, Kalimantan Timur.

Menurut para ahli, nama Kutai didapat dari ditemukannya prasasti yang tertuju pada eksistensi kerajaan tersebut. Meskipun tidak terdapat prasasti yang secara detail menyebutkan nama kerajaan ini.

Hal ini karena memang sangat sedikit informasi yang diperoleh dari peninggalan-peninggalan kerajaan tersebut.

Kerajaan Tarumanegara (358-669 M)

Kerajaan Tertua di Indonesia
www.goodnewsfromindonesia.id

Kerajaan Taruma atau Tarumanegara merupakan sebuah kerajaan yang pernah berdiri dan berkuasa di wilayah barat pulau Jawa. Berdiri pada abad ke-4 hingga abad ke-7 Masehi.

Seperti halnya Kerajaan Kutai, kerajaan ini juga menjadi salah satu kerajaan tertua di Indonesia yang meninggalkan bukti catatan sejarah.

Beberapa catatan sejarah dan bukti-bukti peninggalannya ini berupa artefak di sekitar lokasi kerajaan, terlihat juga bahwa Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan bercorak Hindu beraliran Wisnu.

Bila melihat dari catatan sejarah atau prasasti yang ditemukan, tidak ada penjelasan mengenai siapakah yang pertama kali mendirikan kerajaan ini. Namun terdapat bukti yang menjelaskan bahwa salah satu raja yang pernah berkuasa dan sangat terkenal adalah Purnawarman.

Sekitar tahun 417 Masehi, Purnawarman memerintahkan penggalian Sungai Gomati dan Candrabhaga (Kali Bekasi) sepanjang 6112 tombak atau sekitar 11 Km.

Setelah penggalian selesai, sang prabu mengadakan selamatan yang dilakukan dengan cara menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada para brahmana.

Mengenai bukti dari keberadaan kerajaan ini dapat diketahui dari prasasti-prasasti yang ditemukan, seperti Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Munjul, Prasasti Tugu dan lain sebagainya.

Kerajaan Barus (Abad ke-6 M)

Kerajaan Tertua di Indonesia
pwmu.co

Kesultanan Barus adalah lanjutan dari kerajaan yang terletak di Barus setelah masuknya Islam ke daerah ini. Agama Islam masuk ke Barus bertepatan pada masa awal munculnya agama Islam di semenanjung Arab.

Dari sebuah peninggalan arkeologi, ditemukan Makam Mahligai atau sebuah pemakanan bersejarah yaitu Syeh Usuluddin dan Syeh Rukunuddin yang menjadi tanda masuknya Islam pertama ke Nusantara adalah pada abad ke-7 Masehi di Kecamatan Barus.

Makam ini memiliki panjang sekitar 7 meter yang dihiasi oleh beberapa batu nisan yang khas dan juga unik dengan bertuliskan bahasa Arab, Tarikh 48 Hijriyah.

Saat ini, makam Mahligai dijadikan sebagai Obyek Wisata Religius bagi para umat Islam di seluruh dunia yang mana makam ini berjarak sekitar 75 Km dari Sibolga dan 359 Km dari Kota Medan.

Sementara itu, raja pertama yang memeluk Islam adalah Raja Kadir yang dilanjutkan kepada para putra-putranya yang pada akhirnya bergelar Sultan.

Raja Kadir merupakan penerus dari kerajaan yang telah turun-temurun memerintah di Barus serta merupakan keturunan dari Raja Alang Pardosi yang pertama sekali mendirikan pusat kerajaan di Toddang (Tundang), Pakkat (dikenal sebagai negeri Rambe), dan Tukka yang kemudian bermigrasi dari Balige yang berasal dari marga Pohan.

Di abad ke-6 Masehi,  berdiri sebuah otoritas baru yang terletak di Barus. Adapun pendirinya adalah Sultan Ibrahimsyah yang datang dari Tarusan, Minang, seorang keturunan Batak dari kumpulan marga Pasaribu hingga akhirnya membentuk Dualisme kepemimpinan di daerah tersebut.

Kerajaan Kalingga (Abad ke-6 M)

Kerajaan Tertua di Indonesia
www.artisanalbistro.com

Kerajaan Kalingga merupakan sebuah kerajaan bercorak Hindu yang terletak di Jawa Tengah. Para ahli menyebut bahwa kerajaan ini berpusat di daerah Kabupaten Jepara.

Telah ada sejak abad ke-6 Masehi yang mana dapat diketahui dari sumber-sumber Tiongkok menjadikan kerajaan ini sebagai salah satu kerajaan tertua di Indonesia.

Masa kejayaan dari Kerajaan Kalingga adalah terjadi pada masa pemerintahan Ratu Shima yang terkenal memiliki peraturan cukup tegas namun adil.

Seperti misalnya bagi siapa saja yang mencuri baik itu dari kalangan rakyat atau keluarga kerajaan, maka ia akan dipotong tangannya.

Putri Maharani Shima, Parwati, kemudian menikah dengan salah satu putra mahkota dari Kerajaan Galuh yang bernama Mandiminyak yang dikemudian hari ia menjadi raja kedua di Kerajaan Galuh.

Maharani Shima mempunyai cucu yang bernama Sanaha yang setelah dewasa menikah dengan raja ketiga dari Kerajaan Galuh yang bernama Brantasenawa.

Kemudian Sanaha dan Brantasenawa mempunyai anak yang diberi nama Sanjaya, kelak Sanjaya akan menjadi raja Kerajaan Sunda sekaligus menjadi raja di Kerajaan Galuh (723-732 M).

Sepeninggal Maharani Shima di tahun 732 Masehi, Sanjaya kemudian menggantikan buyutnya sehingga ia menjadi raja di Kerajaan Kalingga Utara atau yang disebut dengan Bhumi Mataram. Selanjutnya ia mendirikan Dinasti/Wangsa Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno.

Setelah menjadi raja di Kalingga Utara, kekuasaan di Jawa Barat akhirnya diserahkan kepada putranya dari Tejakencana yang bernama Tamperan Barmawijaya atau Rakeyan Panaraban.

Raja Sanjaya menikah dengan Sudiwara, putri dari Dewasinga, Raja dari Kalingga Selatan atau Bhumi Sambara. Pernikahannya dikaruniai putra yang diberi nama Rakai Panangkaran.

Kerajaan Kanjuruhan (Abad ke-6 M)

Kerajaan Tertua di Indonesia
upload.wikimedia.org

Kanjuruhan merupakan sebuah kerajaan yang bercorak Hindu di Jawa Timur yang mana pusat dari kerajaan ini sekarang terletak di dekat Kota Malang.

Kerajaan ini diduga telah berdiri pada abad ke-6 Masehi atau semasa dengan Kerajaan Tarumanegara yang terletak di sekitar Bogor dan Bekasi.

Adapun bukti tertulis dari kerajaan ini adalah ditemukannya Prasasti Dinoyo. Sementara itu, raja yang terkenal di kerajaan ini adalah Gajayana. Beberapa peninggalan-peninggalan lainnya dari kerajaan ini adalah Candi Wurun dan juga Candi Badut.

Kerajaan Sunda (669-1579 M)

Kerajaan Tertua di Indonesia
www.pasundan.id

Menurut Wangsakerta, berdirinya Kerajaan Sunda adalah untuk melanjutkan atau menggantikan Kerajaan Tarumanegara. Pendiri dari Kerajaan Sunda adalah Tarusbawa, didirikan pada tahun 591 Caka Sunda atau 669 Masehi.

Berdasarkan sumber sejarah primer yang berasal dari abad ke-16, Kerajaan Sunda adalah suatu kerajaan yang meliputi wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Jawa Barat, Banten, Jakarta serta sebagian barat Provinsi Jawa Tengah.

Ada pula naskah kuno primer Bujangga Manik, naskah ini menceritakan perjalanan Bujangga Manik yang merupakan seorang pendeta Hindu Sunda. Ia mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu yang terletak di Pulau Jawa dan Bali di awal abad ke-16.

Saat ini naskah tersebut disimpan di Perpustakaan Boedlian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627 Masehi.

Mengenai batas dari Kerajaan Sunda di sebelah timur adalah Ci Pamali atau Sungai Pamali (sekarang disebut Kali Brebes) dan Ci Serayu atau Kali Serayu yang terletak di Provinsi Jawa Tengah.

Itulah pembahasan mengenai kerajaan tertua yang pernah berdiri di Indonesia. Meski beberapa diantarnya tidak memiliki bukti yang cukup kuat terkait keberadaannya, namun para ahli berhasil mengungkap terkait bukti keberadaannya dari benda semisal prasasti yang ditinggalkannya.

Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Sejarah Kerajaan Sriwijaya – Tidak dapat dipungkiri, jauh sebelum Indonesia merdeka, berdirilah kerajaan-kerajaan yang sangat terkenal hingga ke berbagai penjuru dunia. Sebut saja Kerajaan Kutai atau Kerajaan Sriwijaya.

Kerajaan Sriwijaya berdiri di pulau Sumatra yang mana kerajaan ini termasuk ke dalam Kerajaan Melayu Kuno.

Sementara itu, nama Sriwijaya sendiri diambil dari bahasa Sansekerta, yaitu Sri yang berarti bercahaya dan Wijaya berarti kemenangan. Maka jika digabungkan, Sriwijaya mempunyai arti “Cahaya Kemenangan”.

Sejarah Lengkap Kerajaan Sriwijaya

Sejarah Kerajaan Sriwijaya
i2.wp.com

Sejarah awal berdirinya Kerajaan Sriwijaya bermula dari daerah pantai timur Sumatra yang telah menjadi jalur perdagangan internasional sehingga banyak para pedagang dari luar negeri khususnya berasal dari India yang berlalu-lalang.

Hal inilah yang menjadi titik awal munculnya pusat-pusat perdagangan di sekitar wilayah tersebut.

Seiring berjalannya waktu, pusat-pusat perdagangan ini berkembang menjadi kerajaan-kerajaan kecil di abad ke-7 Masehi. Beberapa kerajaan-kerajaan keci ini adalah Tulangbawang, Melayu dan Sriwijaya.

Dari ketiga kerajaan tersebut, Kerajaan Sriwijaya merupakan satu-satunya kerajaan yang berhasil berkembang dengan pesat hingga mencapai puncak kejayaan sehingga menjadi salah satu kerajaan terbesar di Nusantara pada masanya.

Meski Kerajaan Melayu juga sempat berkembang di wilayah Jambi, namun pada akhirnya berhasil ditaklukkan oleh Sriwijaya.

Letak Kerajaan Sriwijaya

Diperkirakan bahwa kerajaan ini terletak di Palembang, namun ada juga yang berpendapat di daerah Jambi atau bahkan di luar Nusantara.

Meski terjadi perbedaan pendapat, namun pendapat paling kuat terkait letak dari Kerajaan Sriwijaya adalah terdapat di Palembang. Terdapat juga yang berpendapat bahwa Kerajaan Sriwijaya merupakan sebuah kerajaan maritim yang tidak memiliki sistem ketatanegaraan yang rapi.

Mereka lebih memilih terus mengawasi kekuasaannya di perairan/lautan serta tidak terlalu memperhatikan pusat pemerintahan di darat.

Pendapat inilah yang menyatakan bahwa Kerajaan Sriwijaya merupakan sebuah kerajaan Nomaden (selalu berpindah-pindah) serta tidak memiliki lokasi pusat pemerintahan yang tetap.

Akan tetapi, dari hasil penelitian sejarah yang paling banyak/kuat menunjukkan bahwa pusat kerajaan ini terletak di Palembang walaupun pada saat pusat Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran, pusat pemerintahannya dipindahkan ke Jambi.

Daerah Kekuasaan Kerajaan Sriwijaya

Meskipun berpusat di Sumatra Selatan, namun daerah kekuasaannya mencapai hingga ke sebagian Malaysia serta sebagian besar di pulau Jawa.

Namun pada saat Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaan, wilayah kekuasaannya juga terbilang sangat luas, yaitu mulai dari Thailand, Semenanjung Malaya, Kamboja, Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

Silsilah Kerajaan Sriwijaya

Dapunta Hyang Sri Jayanaga (683 M)

Raja pertama sekaligus pendiri dari Kerajaan Sriwijaya adalah Dapunta Hyang Sri Jayanaga. Tertulis dalam Prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuo, dan Prasasti Kota Kapur bahwa sang raja menaklukkan Kerajaan Melayu dan juga Tarumanegara pada masa pemerintahannya.

Indravarman (702 M)

Raja kedua Kerajaan Sriwijaya adalah Indravarman yang mana ia sempat mengirim utusan ke Tiongkok, tepatnya pada tahun 702-716, dan 724 Masehi.

Rurda Vikraman/Lieou-t’eng-wei-kong (728 M)

Pada tahun 729-748 Masehi, Rudra Vikraman sempat mengirim utusannya ke Tiongkok.

Sangramadhananjaya/Wisnu/Vishnu (775 M)

Di masa kepemimpinannya ini, Raja Wisnu pernah menaklukkan Kamboja Selatan.

Dharmasetu (790 M)

Samaratungga (792 M)

Sepeninggal Raja Dharmasetu, kepemimpinannya dilanjutkan oleh Samaratungga. Namun pada tahun 802 Masehi, ia gagal mempertahankan wilayah kekuasaannya di Kamboja Selatan

Balaputra Sri Kaluhunan atau Balaputradewa (835 M)

Setelah itu, Kerajaan Sriwijaya dipimpin oleh Balaputradewa. Balaputradewa membawa kerajaan ini untuk mencapai masa kejayaan. Bukan hanya itu, ia juga memerintahkan untuk membuat biara yang dikhususkan untuk Kerajaan Cola di India serta meninggalkan Prasasti Nalanda.

Sri Udayadityawarman (960 M)

Sri Udayadityawarman sempat mengirim utusan ke China pada tahun 960 Masehi.

Sri Wuja atau Sri Udayadityan (961 M)

Mengirim utusan ke negeri China pada tahun (961-962 M).

Hsiae-she (980 M)

Pada saat masa kepemimpinannya ini, ia pernah mengirim utusan ke China pada tahun 980-983 Masehi.

Sri Cudamaniwarmadewa (988 M)

Saat Kerajaan Sriwijaya dipimpin oleh Sri Cudamaniwarmadewa, terjadi tragedi penyerangan dari Jawa terhadap kerajaan ini.

Sri Marawijyaottunggawarman (1008 M)

Sri Marawijayottunggawarman mengirimkan utusan ke China pada tahun 1008 Masehi.

Sumatrabhumi (1017 M)

Mengirim utusan ke China di tahun 1017 Masehi.

Sri Sanggramawijayottunggawarman (1025 M)

Pada saat kepemimpinannya ini, Sriwijaya pernah ditaklukkan oleh Kerajaan Cola dari India, namun kemudian dilepaskan kembali.

Sri Deva (1028 M)

Ia mengirim utusan ke China di tahun 1028 Masehi.

Dharmavira (1064 M)

Sri Maharaja (1156 M)

Sri Maharaja mengirim utusan ke China di tahun 1156 Masehi.

Trailokaraja Maulibhusana Varmadeva (1178 M)

Pada masa pemerintahannya ini, ia pernah mengirim utusan ke China, tepatnya pada tahun 1178 Masehi.

Perkembangan Kerajaan Sriwijaya

Sejarah Kerajaan Sriwijaya
i.ytimg.com

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan Kerajaan Sriwijaya. Diantaranya adalah:

  • Letak Kerajaan yang Geografis

Di sekitar muara sungai Musi terdapat pulau-pulau yang bisa difungsikan sebagai pelindung sehingga cukup ideal untuk dijadikan sebagai pertahanan dan juga pemerintahan Kerajaan Sriwijaya.

Selain itu, lokasi tersebut juga merupakan jalur perdagangan internasional, terutama pedagang dari India dan Cina.

  • Berakhirnya Kerajaan Funan di Vietnam

Kerajaan Funan merupakan salah satu kerajaan yang terdapat di Vietnam yang mana kerajaan tersebut berhasil ditaklukkan oleh Kamboja. Sehingga memberikan dampak pada Kerajaan Sriwijaya untuk cepat berkembang sebagai negara maritim.

Kehidupan Agama

Sejarah kehidupan beragama di Kerajaan Sriwijaya terbilang sangat kuat. Buktinya adalah pada saat itu Kerajaan Sriwijaya dijadikan sebagai pusat studi agama Buddha Mahayana di kawasan Asia Tenggara.

Didalam catatan I-tsing menceritakan bahwa saat itu ribuan pelajar dari berbagai penjuru negeri dan juga tokoh agama Buddha tinggal di Sriwijaya.

Salah satu tokoh agama/pendeta Buddha yang cukup terkenal adalah Sakyakirti. Banyak para pelajar yang berasal dari luar negeri yang sengaja datang ke Sriwijaya guna untuk mempelajari bahasa Sansekerta.

Pada tahun 1011-1023 Masehi, Atisa yang merupakan seorang pendeta agama Buddha yang berasal dari Tibet juga sempat datang ke Sriwijaya untuk memperdalam ilmu agamanya.

Terdapat beberapa peninggalan-peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya yang berhubungan dengan perkembangan agama pada masa itu. Beberapa peninggalan-peninggalan yang dimaksud adalah:

  • Arca Buddha, ditemukan di sekitar Bukit Siguntang.
  • Candi Muara Takus. Candi ini ditemukan di dekat Sungai Kampar Riau.
  • Wihara Nagipattana, didirikan oleh Sriwijaya di daerah Nagipattana, India Selatan.

Selain itu, Raja Balaputra juga sempat menghadiahkan sebidang tanah kepada Balaputradewa. Tujuannya adalah untuk mendirikan sebuah asrama yang diperuntukkan bagi para pelajar yang sedang belajar di Nalanda.

Sedangkan pembiayaan seluruhnya di tanggung oleh Balaputradewa yang saat itu sebagai “Dharma”.

Peristiwa tersebut tercatat di dalam Prasasti Nalanda. Prasasti ini sekarang berada di Universitas Nawa Nalanda, India. Bukan hanya itu, bentuk asramanya juga mempunyai kesamaan arsitektur dengan Candi Muara Jambi yang terletak di Provinsi Jambi.

Hal ini membuktikan bahwa Sriwijaya sangat memperhatikan ilmu pengetahuan, utamanya adalah pengetahuan seputar agama Buddha dan bahasa Sansekerta.

Kehidupan Ekonomi

Pada awal berdirinya Kerajaan Sriwijaya, sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani. Namun karena kerajaan ini terletak di tepi Sungai Musi yang bermuara langsung ke lautan lepas, maka sungai ini menjadi jalur perdagangan yang strategis.

Berdasarkan hal tersebut, sebagian besar rakyat Sriwijaya pada akhirnya bermata pencaharian sebagai pedagang.

Karena dilalui jalur perdagangan internasional. maka banyak para saudagar dari luar negeri yang pada akhirnya singgah di Sriwijaya.

Hal itulah yang menjadikan Kerajaan Sriwijaya menjadi ramai dan berkembang pesat menjadi pusat perdagangan. Seiring berjalannya waktu, kerajaan ini mulai menguasai jalur perdagangan lokal maupun internasional.

Jalur perdagangan Kerajaan Sriwijaya ini membentang mulai dari Laut Natuna sampai ke Selat Sunda, kemudian Laut Jawa dan bahkan hingga ke kawasan Asia Tenggara yang mana kawasan ini merupakan jalur perdagangan internasional antara India dan Cina.

Selain memperoleh keuntungan langsung dari para pedagang, kerajaan ini juga mendapatkan keuntungan tidak langsung.

Keuntungan tidak langsung ini didapatkan dari kapal-kapal yang singgah dan melakukan bongkar muat di Sriwijaya yang diharuskan untuk membayar pajak pada pemerintah. Inilah yang menjadikan Kerajaan Sriwijaya semakin makmur.

Sementara itu, beberapa hasil unggulan dari Kerajaan Sriwijaya yang dijadikan sebagai barang ekspor utama adalah gading gajah, kulit, dan beberapa jenis binatang langka.

Meski memiliki hasil unggulan untuk di ekspor, Kerajaan Sriwijaya juga melakukan impor dari luar negeri, beberapa barang/bahan yang biasanya diimpor adalah beras, kayu manis, rempah-rempah, emas, kemenyan, dan beberapa jenis binatang,

Perkembangan Politik dan Pemerintahan

Seperti yang dijelaskan di atas bahwa kerajaan ini mulai berkembang pada abad ke-7 Masehi yang mana pada masa-masa awal perkembangannya sang raja disebut Dapunta Hyang (Prasasti Kedukan Bukit dan Talang Tuo).

Sang raja secara terus-menerus melakukan usaha perluasan untuk daerah kekuasaan Sriwijaya. Dibawah ini adalah runtunan kekuasaannya.

  • Penguasaan pertama adalah Tulang Bawang yang terletak di provinsi Lampung.
  • Kedua adalah terletak di pantai barat Semenanjung Melayu. Daerah tersebut menjadi daerah yang sangat penting untuk pengembangan perdagangan dengan India. Menurut I-tsing, penaklukan Kedah berlangsung antara tahun 682-685 Masehi.
  • Pulau Bangka merupakan salah satu daerah yang dilewati jalur perdagangan internasional. Sriwijaya menguasai daerah ini pada tahun 686 Masehi berdasarkan bukti yang terdapat pada Prasasti Kota Kapur.
  • Selanjutnya adalah daerah Jambi, tepatnya di tepi Sungai Batanghari. Pada saat itu, daerah ini memiliki kedudukan yang cukup penting untuk memperlancar perdagangan yang terdapat di pantai timur Sumatra. Adapun penaklukannya terjadi pada tahun 686 Masehi. Bukti ini diambil dari Prasasti Karang Berahi.
  • Tanah Genting terletak di bagian utara Semenanjung Melayu. Penguasaannya ini dapat diketahui dari Prasasti Ligor yang tertulis tahun 775 Masehi.
  • Menurut berita Cina, terdapat penjelasan mengenai penyerangan terhadap Kerajaan Kalingga dan juga Mataram Kuno. Dugaan kuat yang menyerang dan menaklukkan kedua kerajaan tersebut adalah Kerajaan Sriwijaya.

Semua penguasaan tersebut berdasar pada jalur perdagangan yang dianggap sangat penting untuk mengembangkan perekonomian maritim Kerajaan Sriwijaya.

Akibat perluasan daerah kekuasaan ini, Sriwijaya menjadi kerajaan yang cukup besar dan tersohor dimana-mana. Agar pertahanannya semakin kuat, pada tahun 775 Masehi, Kerajaan Sriwijaya akhirnya membangun pangkalan kerajaan yang terletak di Ligor atas perintah dari Raja Darmasetra.

Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya

Dari sekian banyak sejarah raja yang pernah memimpin Kerajaan Sriwijaya, Raja Balaputradewa adalah raja yang paling terkenal yang memerintah pada abad ke-9 Masehi.

Disebut sebagai raja paling terkenal adalah karena pada masa pemerintahannya, Kerajaan Sriwijaya mencapai masa kejayaan.

Balaputradewa berhasil menumbuhkan perekonomian kerajaan serta memperluas kekuasaannya hingga ke luar negeri.

Raja Balaputradewa merupakan keturunan dari Dinasti Syailendra, yaitu putra dari Raja Samaratungga dengan pasangan Dewi Tara dari Sriwijaya. Keterangan tersebut tertulis di dalam Prasasti Nalanda.

Ia merupakan seorang raja yang dibesarkan di Sriwijaya yang kemudian ia menjalin hubungan erat dengan Kerajaan Benggala yang pada saat itu diperintah oleh Raja Dewapala Dewa.

Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya

Berdasarkan sejarah, faktor utama yang menyebabkan runtuhnya Kerajaan Sriwijaya adalah karena kerajaan ini terlalu bergantung pada perdagangan laut, mengabaikan kekuasaan wilayah darat karena terlalu fokus mengembangkan sektor kelautan, dan sistem ketatanegaraan yang tidak tertata dengan baik.

Sementara itu, beberapa faktor lainnya yang mengakibatkan Kerajaan Sriwijaya runtuh adalah:

  • Banyak daerah kekuasaan yang memisahkan diri dari Sriwijaya. Penyebabnya adalah karena melemahnya angkatan laut Sriwijaya.
  • Keadaan alam sekitar Kerajaan Sriwijaya yang lambat laun berubah, tidak dekat lagi dengan pantai. Hal ini disebabkan oleh perubahan aliran sungai Musi, Ogan, dan Komering yang banyak membawa lumpur sehingga mempengaruhi perdagangan.
  • Mendapat serangan dari kerajaan-kerajaan lain. Salah satunya adalah serangan yang dilakukan oleh Raja Rajendracola dari Kerajaan Colamandala di tahun 1017 dan juga 1024 Masehi.
    Setelah itu, pada tahun 1275 Masehi, Kartanegara dari Kerajaan Singhasari melakukan ekspedisi Pamalayu yang mengakibatkan daerah Melayu melepaskan diri dari Sriwijaya.

Puncak dari kehancuran Kerajaan Sriwijaya adalah terjadi pada tahun 1377 Masehi yang mana kerajaan ini diserang dan berhasil ditaklukkan oleh Kerajaan Majapahit.

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Sejarah Kerajaan Sriwijaya
upload.wikimedia.org

Beberapa sumber mengenai sejarah Kerajaan Sriwijaya adalah ditemukannya prasasti-prasasti. Berikut adalah prasasti-prasasti yang berhasil ditemukan sebagai bukti keberadaan Kerajaan Sriwijaya.

Prasasti Kedukan Bukit

Prasasti yang pertama adalah Prasasti Kedukan Bukit, ditemukan di tepi Sungai Tatang di dekat Palembang. Adapun prasasti ini bertuliskan angka tahun 605 Saka (683 M).

Isi dari prasasti ini adalah menerangkan tentang seorang yang bernama Dapunta Hyang yang mengadakan perjalanan suci (siddhayatra) dengan menggunakan perahu.

Tertulis bahwa Dapunta Hyang berangkat dari Minangtamwan dengan membawa bala tentara sebanyak 20.000 personel.

Poerbatjaraka & Soekmono mengatakan bahwa Minangtamwan terletak di hulu Sungai Kampar, tepatnya adalah terletak di pertemuan Sungai Kampar Kanan dan Sungai Kampar Kiri.

Selain itu, Poerbatjaraka juga menyebutkan bahwa Minangatamwan merupakan nama lama dari Minangkabau. Berbeda dengan Poerbatjaraka, Buchari berpendapat jika Minanga terletak di hulu Sungai Batang Kuantan.

Prasasti Talang Tuo

Pada masa sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada saat Residen Palembang dijabat Louis Constant, ia menemukan prasasti ini pada tanggal 17 November 1920.

Ditemukan di kaki Bukit Seguntang di sekitaran tepian utara Sungai Musi. Mengenai isi dari prasasti ini adalah berupa doa-doa yang didedikasikan dan menunjukkan berkembangnya agama Buddha di Kerajaan Sriwijaya.

Agama Buddha di Sriwijaya beraliran Mahayana, buktinya adalah terdapat kata-kata dari Buddha Mahayana seperti vajrasarira, bodhicitta, dan lainnya.

Prasasti Telaga Batu

Prasasti Telaga Batu ditemukan di sekitar kolam Telaga Batu, Kelurahan 3 Ilir, Ilir Timur II, Kota Palembang. Adapun isinya adalah mengenai kutukan bagi mereka yang melakukan perbuatan jahat di Sriwijaya. Saat ini Prasasti Telaga Batu disimpan di Museum Nasional Indonesia.

Prasasti Kota Kapur

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya selanjutnya adalah Prasasti Kota Kapur yang berada di Barat Pulau Bangka. Prasasti ini ditulis menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno. Ditemukan oleh J. K van der Meulen sekitar 1892 bulan Desember.

Terkait isi dari prasasti ini adalah mengenai kutukan bagi siapa saja yang membantah perintah dan kekuasaan raja.

Prasasti Karang Berahi

Prasasti Karang Berahi ditemukan oleh Kontrolir L.M. Berkhout pada tahun 1904 di Desa Karang Berahi, Jambi. Didalam prasasti ini bertuliskan angka 608 Saka atau 686 Masehi.

Adapun isi dari prasasti ini hampir mirip seperti yang tertulis pada Prasasti Kota Kapur dan juga Prasasti Telaga Batu, yaitu mengenai kutukan bagi siapa saja yang tidak patuh dan tunduk kepada Sriwijaya.

Prasasti Ligor

Prasasti Ligor ditemukan di Thailand Selatan dan memiliki dua sisi, yaitu sisi A dan sisi B. Sisi A menjelaskan tentang gagahnya raja Sriwijaya. Didalam Prasasti Ligor tertulis bahwa raja Sriwijaya adalah raja dari segala raja dunia yang sudah mendirikan Trisamaya Caiya bagi Kajara.

Sementara itu, pada sisi B tertulis mengenai pemberian gelar Visnu Sesawarimadawimathana. Gelar ini diberikan kepada Sri Maharaja yang berasal dari keluarga Sailendravamasa.

Prasasti Palas Pasemah

Prasasti ini ditemukan di Desa Palas Pasemah, Lampung Selatan. Ditulis menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno serta terdiri dari 13 baris kalimat.

Terkait isi dari prasasti ini adalah tentang kutukan terhadap siapa saja yang tidak patuh dan tunduk kepada kekuasaan Sriwijaya. Berdasarkan bukti sejarah yang ditemukan, prasasti ini berasal dari abad ke-7 Masehi.

Seperti halnya Kerajaan Mataram Kuno, sejarah Kerajaan Sriwijaya juga pernah mengalami masa kejayaan. Bukti sejarahnya tertulis di berbagai berita baik dari dalam atau di luar negeri, mulai kabar dari Arab hingga Cina.

Demikian pembahasan lengkap mengenai sejarah Kerajaan Sriwijaya yang berhasil kami rangkum dari berbagai sumber terpercaya. Semoga bermanfaat.

Sejarah Kerajaan Kutai

Sejarah Kerajaan Kutai

Sejarah Kerajaan Kutai – Kerajaan Kutai merupakan kerajaan bercorak Hindu dengan bukti sejarah tertua yang pernah berdiri di Nusantara. Berdiri sejak abad ke-4 yang mana informasi utamanya ini berasal dari ditemukannya 7 buah Yupa.

Yupa sendiri merupakan prasasti berbentuk tiang batu yang ditulis menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Pada masanya, Yupa mempunyai 3 fungsi utama, yaitu sebagai prasasti, lambang kebesaran raja dan tiang pengikat hewan kurban untuk upacara keagamaan.

Sementara itu, Kerajaan Kutai sendiri dapat merujuk pada dua kerajaan yang berbeda, yaitu Kutai Mulawarman/Martapura dan Kutai Kartanegara. Kutai Mulawarman merupakan kerajaan Hindu Buddha pertama di Nusantara.

Sedangkan Kutai Kartanegara merupakan sebuah kerajaan yang pada akhirnya menaklukkan Kutai Mulawarman/Martapura yang pada akhirnya berubah haluan menjadi Kesultanan Islam.

Baca Juga : Sejarah Kerajaan Mataram Kuno

Sejarah Lengkap Kerajaan Kutai

Sejarah Kerajaan Kutai
Sumber Gambar: nusadaily.com

Meski Kutai tidak termasuk ke dalam jalur perdagangan internasional di Nusantara, namun pada masa kejayaannya, kerajaan ini memiliki hubungan dagang dengan India. Nah, melalui jalur inilah pengaruh Hindu-Buddha mulai masuk dan menyebar di Nusantara.

Adapun salah satu bukti bahwa Kerajaan Kutai memiliki hubungan erat dengan India adalah ditemukannya Yupa atau batu berbentuk tiang yang bertuliskan menggunakan bahasa Sansekerta.

Sansekerrta merupakan bahasa Hindu asli yang mana dalam penulisannya menggunakan aksara Pallawa. Aksara ini telah digunakan oleh agama Hindu sekitar 400 Masehi.

Berdasarkan temuan ini, para sejarawan menyimpulkan bahwa Kerajaan Kutai merupakan kerajaan bercorak Hindu tertua di Indonesia.

Letak Kerajaan Kutai

Sejarah Kerajaan Kutai
Sumber Gambar: sejarahdunia66.blogspot.com

Diperkirakan, letak dari kerajaan ini berada di daerah Muara Kaman di tepi sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Sungai ini merupakan sungai yang cukup besar serta memiliki beberapa anak sungai.

Nah, lokasi pertemuan antara sungai Mahakam dengan anak sungai ini yang diperkirakan menjadi letak Muara Kaman di masa lalu.

Karena sungai Mahakam bermuara langsung ke lautan lepas, maka kapal-kapal kecil dapat berlayar hingga masuk ke Muara Kaman. Hal ini yang menjadikan lokasinya strategis sebagai jalur perdagangan.

Pendiri Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai Mulawarman/Martadipura didirikan oleh pembesar dari Kerajaan Campa (Kamboja) yang bernama Kudungga, selanjutnya menurunkan Raja Aswawarman, selanjutnya Raja Mulawarman.

Dari ketiga raja tersebut adalah raja yang paling terkenal yang pernah menjadi raja di Kerajaan Kutai (terutama Mulawarman) karena pada masanya, ia berhasil membawa kerajaan ini ke masa kejayaan atau keemasan.

Bukan hanya itu, para sejarawan juga menganggap jika Mulawarman merupakan pendiri dari Kerajaan Kutai karena berhasil membawa kepada stabilitas sosial, politik dan ekonomi.

Berdasarkan tulisan yang terdapat pada Prasasti Yupa, nama Raja Kudungga disinyalir merupakan nama asli Indonesia. Namun pada generasi selanjutnya, yaitu Aswawarman dan Mulawarman merujuk pada nama yang telah terpengaruh serta diambil dari nama India.

Silsilah Raja di Kerajaan Kutai

Sejarah Kerajaan Kutai
Sumber Gambar: www.yuksinau.id

Tercatat, bahwa kerajaan ini bertahan hingga 21 generasi. Adapun nama-nama raja dari setiap generasi adalah:

  • Maharaja Kudungga yang bergelar Anumerta Dewawarman (pendiri Kerajaan Kutai)
  • Maharaja Aswawarman, bergelar Wangsakerta dan juga Dewa Ansuman (anak Kudungga)
  • Maharaja Mulawarman (anak Aswawarman). Raja ketiga ini disebut-sebut sebagai raja paling terkenal dan juga raja terbesar. Hal ini karena pada masa kepemimpinannya, Kerajaan Kutai mencapai masa kejayaan.

Sepeninggal Maharaja Mulawarman, Kerajaan Kutai selanjutnya dipimpin oleh Maharaja Marawijaya Warman, Maharaja Gajayana Warman, Maharaja Tungga Warman, Maharaja Tungga Warman, Maharaja Jayanaga Warman, Maharaja Nalasinga Warman, Maharaja Gadingga Warman Dewa.

Maharaja Indra Warman Dewa, Maharaja Sangga Warman Dewa, Maharaja Candrawarman, Maharaja Sri Langka Dewa, Maharaja Guna Parana Dewa, Maharaja Wijaya Warman, Maharaja Sri Aji Dewa, Maharaja Mulia Putera, Maharaja Nala Pandita, Maharaja Indra Paruta Dewa dan terakhir adalah Maharaja Dharma Setia. Dikutip dari serupa.id

Kehidupan Kerajaan Kutai

Pada masanya, kehidupan Kerajaan Kutai berpusat pada keunggulan letak geografisnya yang mana kerajaan ini berdiri di lokasi yang cukup strategis, yaitu dapat diakses melalui jalur maritim.

Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai sejarah kehidupan Kerajaan Kutai dilihat dari beberapa aspek utamanya.

Kehidupan Politik

Raja Mulawarman merupakan sosok raja yang paling disegani oleh rakyatnya. Hal ini terlihat dari wataknya yang bijaksana dan murah hati.

Bahkan mereka menyebut bahwa Kudungga yang notabenenya adalah leluhur sekaligus pendiri dari Kerajaan Kutai dikatakan bukanlah pendiri Kutai karena dianggap masih terlalu banyak menerapkan konsep kerajaan yang sangat tertutup dan terbatas terhadap keluarga kerajaan saja.

Berbeda dengan Mulawarman yang berhasil menciptakan stabilitas politik dengan cara melibatkan golongan lainnya di dalam kerajaan.

Bukti ini tertulis dalam salah satu Yupa yang ditemukan. Dalam Yupa tersebut tertulis bahwa “Mulawarman merupakan seorang raja yang paling berkuasa, kuat, namun bijaksana.” Maharaja Mulawarman juga terkenal sebagai raja yang sangat dekat dengan kaum Brahmana dan rakyat jelata.

Kehidupan Ekonomi

Karena letaknya di tepi sungai Mahakam, maka aktivitas utama masyarakatnya adalah bergerak di bidang pertanian. Namun beberapa diantaranya juga melakukan perdagangan dengan luar negeri. Sedangkan mata pencaharian utama dari masyarakat di Kerajaan Kutai adalah beternak sapi.

Didalam salah satu Yupa yang ditemukan, tertulis bahwa Raja Mulawarman pernah memberikan sapi sebanyak 20.000 ekor kepada para Brahmana. Inilah yang menjadi rujukan bahwa pada abad ke-5 Masehi, terdapat suatu peternakan yang sangat maju yang terletak di Kerajaan Kutai.

Kehidupan Sosial

Kerajaan Kutai terkenal karena memiliki golongan masyarakat yang mampu menguasai bahasa Sansekerta serta sudah terbiasa menulis menggunakan huruf Palawa, meski hanya terbatas pada golongan Brahmana saja.

Akan tetapi, penggolongan kelas masyarakat disini justru menjadi salah satu bukti sistem sosial di Kerajaan Kutai.

Adapun golongan lainnya adalah para Ksatria yang terdiri dari kerabat-kerabat kerajaan. Nah, sebagian masyarakat Kutai sendiri adalah penduduk yang sangat menjunjung tinggi suatu kepercayaan asli dari leluhurnya secara turun-temurun.

Sementara kerajaannya sendiri berdasarkan agama Hindu Syiwa dan juga golongan para Brahmana, termasuk Maharaja Mulawarman sendiri.

Masa Kejayaan Kerajaan Kutai

Sejarah Kerajaan Kutai
Sumber Gambar: blue.kumparan.com

Seperti yang telah dijelaskan diatas, bahwa masa kejayaan dari Kerajaan Kutai adalah ketika dipimpin oleh Maharaja Mulawarman.

Pada masanya itu, roda perekonomian masyarakatnya mengalami perkembangan yang sangat pesat. Kejayaannya ini dapat dilihat ari aktivitas ekonomi di kala itu.

Dalam salah satu Prasasti Yupa juga tertulis bahwa Raja Mulawarman telah melakukan upacara slametan emas yang cukup banyak.

Bukan hanya itu, diperkirakan bahwa kerajaan ini telah menjalin hubungan dagang internasional dengan para saudagar yang melewati jalur perdagangan internasional yang berasal dari India melewati Selat Makassar, dilanjutkan ke Filipina hingga sampai di Cina.

Diperkirakan para saudagar tersebut biasanya singgah di Kutai dan hal inilah yang membuat Kerajaan Kutai semakin ramai dan juga makmur. Selain itu, kejayaannya juga tampak dari terdapatnya golongan terdidik.

Golongan terdidik ini terdiri dari Brahmana dan Ksatria yang diperkirakan telah berlayar ke India atau pusat-pusat penyebaran agama Hindu lainnya di kawasan Asia Tenggara yang mana masyarakat golongan tersebut mendapat kedudukan terhormat di Kerajaan Kutai.

Runtuhnya Kerajaan Kutai

Sejarah Kerajaan Kutai
Sumber Gambar: theinsidemag.com

Faktor utama yang menjadi penyebab runtuhnya Kerajaan Kutai adalah ketika Raja Kutai tewas dalam peperangannya melawan calon Raja Kutai Kartanegara yang ke-13, yaitu Aji Pangeran Anum Panji Mendapa.

Sementara itu, Kutai Kartanegara ini merupakan kerajaan berbeda dengan kerajaan yang terletak di Kutai Lama (Tanjung Kute).

Terdapat sumber lain yang mengatakan bahwa yang berhasil menaklukkan Kutai Martapura/Kutai Mulawarman adalah seseorang yang bernama Sultan Aji Muhammad Idris.

Dengan kekalahannya ini, Kerajaan Kutai pada akhirnya berubah menjadi Kerajaan Islam atau disebut dengan Kesultanan Kutai Kartanegara. Gelar yang awalnya raja otomatis berubah menjadi Sultan.

Baca Juga : Kerajaan Islam Tertua di Indonesia

Bukti Peninggalan Kerajaan Kutai

Beberapa bukti-bukti peninggalan dari Kerajaan Kutai adalah:

Ketopong Sultan

Sejarah Kerajaan Kutai
Sumber Gambar: moondoggiesmusic.com

Ketopang Sultan merupakan sejenis mahkota raja yang dipakai oleh raja di Kerajaan Kutai. Mahkota ini terbuat dari bahan emas dengan berat total sekitar 1.98 kg. Saat ini, Ketopang Sultan Kutai tersimpan dengan baik di Museum Nasional Jakarta.

Prasasti Yupa

Sejarah Kerajaan Kutai
Sumber Gambar: makemeask.blogspot.com

Bukti sejarah pernah berdirinya Kerajaan Kutai selanjutnya adalah ditemukannya Prasasti Yupa. Prasasti yang ditulis menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta ini berbentuk seperti tiang batu.

Prasasti Yupa juga menjadi bukti sejarah bahwa kerajaan ini menjadi salah satu kerajaan bercorak Hindu tertua yang pernah berdiri di Nusantara.

Pedang Sultan Kutai

Sejarah Kerajaan Kutai
Sumber Gambar: cagarbudaya.kemdikbud.go.id

Peninggalan Kerajaan Kutai selanjutnya adalah Pedang Sultan Kutai. Pedang ini terbuat dari bahan emas yang cukup padat. Pada bagian gagangnya, terdapat ukiran bermotif seekor binatang harimau yang terlihat akan menerkam musuhnya.

Sedangkan pada ujung sarung atau wadahnya dihiasi oleh ukiran motif seekor buaya. Hingga saat ini, Pedang Sultan Kutai tersimpan di Museum Nasional Jakarta.

Keris Bukit Kang

Sejarah Kerajaan Kutai
Sumber Gambar: alif.id (Gambar Hanya Ilustrasi)

Keris Bukit Kang merupakan salah satu senjata pusaka yang digunakan oleh Permaisuri Aji Putri Karang Melenu yang menjabat sebagai Sultan Kutai Kartanegara pertama.

Kalung Uncal

Kalung Uncal adalah kalung emas yang memiliki berat sekitar 170 gram yang mana pada kalung tersebut terdapat hiasan liontin berelief Kisah Ramayana.

Dahulu, kalung ini dijadikan sebagai salah satu atribut dari Kerajaan Kutai yang biasa dipakai oleh Sultan Kutai Kartanegara.

Beberapa ahli memperkirakan bahwa kalung ini berasal dari India. Sampai dengan saat ini, hanya terdapat dua Kalung Uncal yang ada di dunia. Pertama terdapat di India dan yang kedua terdapat di Indonesia, tepatnya berada di Museum Mulawarman, Kota Tenggarong.

Kalung Ciwa

Selain Kalung Uncal, terdapat juga Kalung Ciwa sebagai peninggalan Kerajaan Kutai. Kalung ini ditemukan pada saat kepemimpinan Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Ditemukan di sekitar Danau Lipan, Muara Kaman pada tahun 1890 Masehi.

Sampai dengan saat ini, Kalung Ciwa masih digunakan sebagai perhiasan yang dikenakan oleh raja. Namun penggunaan kalung ini hanya dipakai pada saat acara-acara tertentu, semisal acara pesta pengangkatan raja baru.

Kura-Kura Emas

Sejarah Kerajaan Kutai
Sumber Gambar: pbs.twimg.com (Gambar Hanya Ilustrasi)

Kura-kura emas menjadi peninggalan Kerajaan Kutai selanjutnya yang saat ini tersimpan di Museum Mulawarman. Memiliki ukuran setengah kepalan tangan. Ditemukan di daerah Long Lalang di hulu Sungai Mahakam.

Kelambu Kuning

Sejarah Kerajaan Kutai
Sumber Gambar: moondoggiesmusic.com

Meski hanya berupa kelambu berwarna kuning, namun benda ini dipercaya memiliki kekuatan mistis. Di dalamnya, terdapat benda-benda dari Kerajaan Kutai yang juga memiliki kekuatan magis.

Tali Juwita

Tali Juwita terbuat dari benang 21 helai, digunakan pada saat upacara adat seperti Bepelas. Selain itu, Tali Juwita juga menjadi simbol tujuh muara dari tiga anak sungai, yaitu Sungai Kedang Pahu, Kelinjau dan Belayan.

Tempat Duduk Raja (Singgasana Raja)

Sejarah Kerajaan Kutai
Sumber Gambar: naldoleum.blogspot.com

Benda peninggalan bersejarah dari Kerajaan Kutai selanjutnya adalah singgasana atau tempat duduk raja. Saat ini, benda ini masih tersimpan dengan baik di Museum Mulawarman.

Demikianlah pembahasan lengkap mengenai sejarah Kerajaan Kutai hingga peninggalan-peninggalannya. Dengan pembahasan ini, semoga dapat menambah wawasan kita tentang sejarah-sejarah yang pernah terjadi di negara kita ini.

Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno merupakan kerajaan yang terletak di Bumi Mataram atau tepatnya di tiga wilayah yaitu Kedu, Yogyakarta dan Surakarta Jawa Tengah.

Daerah ini merupakan wilayah yang sangat subur karena berada di tengah-tengah gunung Sindoro, Sumbing, Perahu, Merbabu, Merapi, Lawu dan juga pegunungan Sewu. Selain itu, kerajaan ini juga disebut dengan nama Kerajaan Medang dan merupakan sebuah kerajaan agraris.

Pada saat masih berdiri, kerajaan ini pernah diperintah oleh tiga dinasti, yaitu Dinasti Sanjaya (menganut agama Hindu), Dinasti Syailendra (menganut agama Buddha) dan Dinasti Isana.

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno
Sumber Gambar: https://id.wikipedia.org/wiki/Medang

Kerajaan ini terletak di wilayah aliran sungai Bogowonto, Progo, Elo dan Bengawan Solo, Jawa Tengah. Namun lokasi kerajaan ini juga sempat berpindah-pindah karena faktor yang disebabkan oleh bencana alam.

Sementara itu, agama yang dianut oleh rakyatnya adalah Hindu Siwa yang kemudian berganti menjadi Buddha Mahayana.

Berdasarkan sejarah, kerajaan ini tercatat pernah menaklukkan tiga dinasti yaitu Wangsa Sanjaya, Wangsa Syailendra dan Wangsa Isana. Berdirinya kerajaan ini juga sekaligus sebagai penerus tahta dari Kerajaan Kalingga.

Pendiri Kerajaan Mataram Kuno

Adapun orang yang mendirikan kerajaan ini adalah Sanjaya, yang mana ia juga sebagai pendiri dari Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu. Setelah Sanjaya tutup usia, posisinya ini kemudian diteruskan oleh Rakai Panangkaran.

Nah, pada masa kepemimpinannya ini, agama yang dianut berpindah dari yang semula adalah agama Hindu berubah menjadi Buddha Mahayana.

Silsilah Raja Mataram Kuno

Setidaknya terdapat 16 raja yang pernah menduduki tahta tertinggi di Kerajaan Medang, di antaranya adalah:

Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya

Penguasa pertama adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya yang memerintah dalam kurun waktu sekitar 29 tahun, tepatnya dimulai pada tahun 717-746 Masehi.

Pada masa kekuasaannya ini, tercatat sudah berdiri kerajaan lain yang berkuasa di Pulau Jawa, yaitu Sana yang merupakan saudara dari sang ibunda Ratu.

Sri Maharaja Rakai Panangkaran Dyah Pancapana

Raja selanjutnya adalah bergelar Sri Maharaja Rakai Panangkaran Dyah Pancapana yang berkuasa pada abad ke-770 Masehi. Nah, pada masanya ini tercatat bahwa ia telah mampu membangun sebuah candi yang saat ini dikenal dengan nama Candi Kalasan.

Dharanindra atau Indra

Penerus selanjutnya adalah Dharanindra atau Indra yang merupakan Wangsa Syailendra serta berkuasa atas Kerajaan Medang dan Kerajaan Sriwijaya, tepatnya pada abad ke-782 Masehi.

Dalam prasasti yang ditemukan, tercatat bahwa mulai dari semenanjung Malaya hingga ke daratan Indocina pernah berhasil ia taklukkan. Karena jasanya ini, ia diberi julukan sebagai penumpas musuh-musuh atau Wairiwarawiramardana.

Sri Maharaja Rakai Warak

Nama asli dari Sri Maharaja Rakai Warak adalah Samaragrawira yang di daulat sebagai penguasa keempat di kerajaan ini dan juga menguasai Kerajaan Sriwijaya.

Kekuasaannya dimulai pada abad ke-802 Masehi. Samaragrawira merupakan putra dari raja sebelumnya yang diberi julukan Wairiwarawiramardana.

Rakai Garung

Penguasa kelima dari kerajaan ini adalah Rakai Garung yang merupakan wangsa Sanjaya. Ia berkuasa antara abad ke-828-847 Masehi. Dalam salah satu prasasati yang ditemukan, ia bersama Partapan Pu Palar melakukan upacara Sima.

Sri Maharaja Rakai Pikatan Mpu Manuku

Sri Maharaja Rakai Pikatan Mpu Manuku adalah raja keenam yang berkuasa sekitar abad ke-840-856 Masehi. Pada masa kepemimpinannya, ia berhasil membuat bangunan suci Siwaghara atau kini lebih dikenal sebagai Candi Siwa.

Bukan hanya itu, sang raja juga mendapat gelar Jatiningrat tepatnya di masa-masa pemerintahannya yaitu pada tahun 856 Masehi. Setelah itu, kekuasaannya diwariskan kepada anak terakhirnya yang bernama Dyah Lokapala.

Sri Maharaja Rakai Kayuwangi

Dyah Lokapala atau Sri Maharaja Rakai Kayuwangi adalah putra terakhir dari raja sebelumnya yang bergelar Sri Maharaja Rakai Pikatan Mpu Manuku. Sri Maharaja Rakai Kayuwangi mulai memimpin sejak 856-889-an Masehi.

Sri Maharaja Rakai Watuhumalang

Mahkota kerajaan setelahnya dilanjutkan oleh Sri Maharaja Rakai Watuhumalang di abad ke-890-an Masehi. Meski tidak terdapat prasasti yang mencantumkan namanya, namun ia adalah menantu dari Rakai Pikatan dan juga merupakan saudara tiri dari Maharaja Rakai Kayuwangi.

Sri Maharaja Rakai Watukura

Sri Maharaja Rakai Watukura berkuasa sejak abad ke-899-911 Masehi yang mana pada masa pemerintahannya ini, letak kerajaan berada di Poh Pitu atau Yawapura. Adapun wilayah kekuasaannya meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali.

Mpu Daksa

Raja selanjutnya adalah Mpu Daksa, berkuasa sekitar tahun 913-919 Masehi. Mpu Daksa merupakan saudara ipar dari raja sebelumnya, yaitu Sri Maharaja Rakai Watukura.

Hal ini tercatat di dalam beberapa prasasti yang mana dalam prasasti itu tertulis mengenai hubungan kekerabatannya yang sering disandingkan dengan nama istri dari Dyah Balitung.

Sri Maharaja Rakai Layang

Setelah Mpu Daksa meninggal, kepemimpinannya dilanjutkan oleh putrinya yang pada saat menjadi raja diberi gelar Sri Maharaja Rakai Layang. Masa pemerintahannya ini dimulai pada tahun 919-924 Masehi.

Adapun penyebab dari berakhirnya Sri Maharaja Rakai Layang disebabkan oleh kudeta yang dilakukan oleh Dyah Wawa yang dibantu oleh Mpu Sindok. Hal ini diperkuat karena tercatat dalam prasasti.

Sri Maharaja Rakai Sumba

Raja ke-12 dari kerajaan ini adalah putra dari Rakai Kayuwangi sekaligus sepupu Dyah Bumijaya yang diberi gelar Sri Maharaja Rakai Sumba. Masa kekuasaannya dimulai pada abad ke-924-929 Masehi.

Terdapat salah satu prasasti yang mencatat bahwa ia pernah melakukan kudeta, prasasti tersebut bernama Prasasti Sangguran.

Mpu Sindok

Mpu Sindok adalah raja ke-13 yang tercatat dalam sejarah periode Jawa Timur yang mana ia memerintah pada tahun 929-947 Masehi.

Sri Isyana Tunggawijaya

Kerajaan ini selanjutnya dipimpin oleh seorang ratu yang bernama Sri Isyana Tunggawijaya. Berkuasa sekitar abad ke-947 Masehi dan memimpin bersama suaminya yaitu Sri Lokapala.

Sri Makutawangsawardhana

Raja di kerajaan ini selanjutnya dipimpin oleh Sri Makutawangsawardhana yang berkuasa sebelum abad ke-990 Masehi.

Beliau merupakan putra dari ratu ke-14. Adapun masa yang kepemimpinannya ini tidak diketahui pasti berapa lamanya, namun yang pasti ia memiliki seorang putri yang bernama Mahendradatta.

Sri Maharaja Isana Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa

Raja ke-16 atau raja terakhir dari Kerajaan Medang adalah Sri Maharaja Isana Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa yang berkuasa sejak abad ke-991-1016 Masehi. Berdasarkan catatan sejarah, ia menikahkan putrinya dengan Airlangga.

Namun setelah itu terjadi serangan mendadak dari Kerajaan Lwaram atas bantuan dari Kerajaan Sriwijaya yang mengakibatkan Kerajaan Medang akhirnya runtuh dan kemudian lahir kerajaan baru yang mana Airlangga dijadikan sebagai raja pertamanya.

Baca Juga: Sejarah Kerajaan Samudera Pasai

Faktor Penyebab Runtuhnya Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno
Sumber Gambar: www.yuksinau.id

Adapun beberapa faktor yang menyebabkan runtuhnya Kerajaan Mataram Kuno adalah akibat dari bencana alam dan ancaman dari musuh yaitu Kerajaan Sriwijaya.

Selain itu, terjadi juga perpecahan di dalam Kerajaan Medang, perpecahan ini terjadi tak lama setelah Samaratungga tutup usia. Kemudian anak dari Samaratungga dengan Dewi Tara yang bernama Balaputradewa bersikap menentang terhadap Pikatan (pewaris tahta).

Sampai pada akhirnya pertentangan itu mengakibatjan perang untuk memperebutkan kekuasaan antara Pikatan dengan Balaputradewa. Dalam perang inilah, Balaputradewa sempat membuat benteng pertahanan yang terletak di perbukitan di sebelah selatan Prambanan.

Benteng ini sekarang dikenal dengan nama Candi Boko. Meski telah membuat benteng pertahanan, namun pada akhirnya Balaputradewa kalah dan terdesak sehingga ia melarikan diri ke Sumatra yang kemudian Balaputradewa menjadi raja di Kerajaan Sriwijaya.

Pertentangan yang terjadi antara keluarga Mataram yang disebabkan oleh Balaputradewa dengan Pikatan terus berlangsung hingga masa pemerintahan Mpu Sinduk.

Bukan hanya itu, Kerajaan Sriwijaya tak henti menyerang Kerajaan Medang yang membuat Mpu Sindok terpaksa memindahkan ibu kota dari Medang ke Daha (Jawa Timur).

Setelah memindahkan pusat kota, Mpu Sindok akhirnya mendirikan dinasti baru yaitu Dinasti Isyanawangsa.

Perselisihan atau pertikaian baru berhenti pada masa pemerintahan Airlangga yang pernah membantu Sriwijaya ketika mendapatkan serangan dari Kerajaan Colamandala dari India.

Di tahun 1037 Masehi, Airlangga pada akhirnya berhasil mempersatukan kembali daerah-daerah yang pernah dikuasai oleh Dharmawanga. Daerah-daerah ini meliputi seluruh wilayah di Jawa Timur.

Namun pada tahun 1042 Masehi Airlangga memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai raja Kerajaan Medang dan memilih hidup sebagai petapa dengan nama Resi Gentayu (Djatinindra).

Setelah mengundurkan diri, Airlangga kemudian memerintahkan Mpu Bharada untuk membagi Kerajaan Mataram Kuno menjadi dua bagian yaitu Kerajaan Kediri dan Janggala. Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya perang saudara di antara kedua putranya yang lahir dari selir.

Prasasti Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno
Sumber Gambar: upload.wikimedia.org

Kerajaan Medang menjadi salah satu kerajaan terbesar yang pernah berdiri di Nusantara. Hal ini diperkuat dengan banyaknya peninggalan-peninggalan sejarah yang ditemukan.

Peninggalan-peninggalan ini berupa prasasti. Diantaranya adalah:

Prasasti Sojomerto

Prasasti tertua adalah Prasasti Sojomerto. Diperkirakan, prasasti ini sudah ada sejak abad ke-7 Masehi. Karena ditemukan di desa Sojomerto kabupaten Pekalongan, maka prasasti ini diberi nama Prasasti Sojomerto.

Mengenai isi dari prasasti ini adalah penjelasan bahwasanya Syailendra merupakan penganut agama Buddha.

Prasasti Canggal

Prasasti Canggal (732 M) berbentuk Candrasangkala dan ditemukan di Gunung Wukir, desa Canggal. Berbeda dengan Prasasti Sojomerto, Prasasti Canggal berisi tentang peringatan pembuatan lingga di Desa Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya.

Prasasti Kalasan

Prasasti Kalasan (778 M) memiliki bentuk tulisan yang menggunakan huruf Pranagari (India Utara) dan bahasa sansekerta serta ditemukan di desa Kalasan Yogyakarta.

Mengenai isi dari prasasti ini adalah tentang kabar Raja Syailendra yang berusaha membujuk Rakai Panangkaran untuk mendirikan bangunan suci yang diperuntukkan untuk Dewi Tara. Bangunan suci ini nantinya akan dijadikan vihara bagi para pendeta Buddha.

Prasasti Kelurak

Prasasti Kelurak (782 M) ditemukan di Desa Prambanan, Klaten. Adapun isinya adalah menceritakan tentang pembangunan arca Manjusri sebagai wujud dari sang Buddha, Dewa Wisnu dan Sanggha.

Bukan hanya menceritakan tentang pembangunan arca Manjusri, prasasti ini juga menyebut bahwa Raja Indra atau Sri Sanggramadananjaya merupakan seorang raja yang berkuasa pada masa itu. Prasasti Kelurak ditulis menggunakan huruf Pranagari serta menggunakan bahasa Sansekerta.

Prasasti Ratu Boko

Berbeda dengan Prasasti Kelurak, Prasasti Ratu Boko (856 M) menceritakan mengenai kekalahan Balaputradewa dalam kudeta atau perang melawan kakaknya, yaitu Rakai Pikatan Pramodhawardani guna merebut kekuasaannya.

Prasasti Mantyasih

Terakhir adalah Prasasti Mantyasih (907 M), ditemukan di Mantyasih, Kedu, Jawa Tengah. Mengenai isi dari prasasti ini adalah tentang silsilah raja-raja Mataram yang mendahului Bality.

Raja-raja tersebut adalah Raja Sanjaya, Rakai Panangkaran, Rakai Warak, Rakai Panunggalan, Rakai Garung, Rakai Watuhmalang, Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi dan yang terakhir adalah Rakai Dyah Balitung.

Baca Juga: Sejarah Kerajaan Pajang

Candi Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno
Sumber Gambar:3.bp.blogspot.com

Bukan hanya prasasti, kerajaan ini juga tercatat meninggalkan banyak candi yang tersebar di berbagai daerah di Pulau Jawa. Candi-candi yang dimaksud adalah:

Candi Arjuna

Candi Arjuna berbentuk mirip dengan candi yang terdapat di kopleks Gedong Songo yang mana bangunannya berbentuk persegi dengan luas sekitar 4 m².

Candi Bima

Letak daripada Candi Bima masih berdekatan dengan Candi Arjuna, tepatnya berada di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah yang masuk ke wilayah percandian paling selatan.

Adapun bentuk dari candi ini terbilang cukup unik karena memiliki kemiripan arsitektur dengan beberapa candi yang terdapat di India. Pada bagian atapnya hampir sama dengan shikara serta memiliki bentuk yang mirip seperti mangkuk terbalik.

Pada bagian atasnya juga ditemukan relung dan relief kepala yang disebut kudu.

Candi Borobudur

Peninggalan Kerajaan Medang berupa candi selanjutnya adalah Candi Borobudur. Candi ini merupakan salah satu candi yang paling terkenal di dunia, bahkan masuk ke dalam 7 keajaiban dunia yang terletak di Magelang, Jawa Tengah.

Bukan hanya itu, Candi Borobudur juga menjadi candi Buddha terbesar di dunia.

Candi Gatotkaca

Kawasan Dataran Tinggi Dieng terdapat kompleks percandian yang mana di dalamnya terdapat Candi Gatotkaca. Tepatnya adalah di sebelah kompleks Candi Arjuna, di tepi jalan menuju Candi Bima.

Candi Gatotkaca merupakan candi bercorak Hindu. Adapun penamaan Gatotkaca sendiri diambil dari tokoh pewayangan yang terdapat di cerita Mahabarata.

Candi Mendut

Candi Mendut adalah candi bercorak Buddha yang dibangun sejak Kerajaan Medang dipimpin oleh Raja Idna dari Dinasti Syailendra. Sama seperti halnya Candi Borobudur, Candi Mendut juga terletak di Magelang, Jawa Tengah.

Candi Pawon

Bukan hanya Candi Borobudur dan Candi Mendut saja yang terletak di Magelang, Candi Pawon juga terletak di Magelang, Jawa Tengah. Adapun Candi Pawon terlihat berada dalam satu garis lurus dengan kedua candi tersebut.

Candi Puntadewa

Candi ini terletak di kompleks percandian Candi Arjuna, Dieng, Jawa Tengah. Sementara itu, bangunan Candi Puntadewa memiliki ukuran yang kecil namun tinggi.

Candi Semar

Masih di kawasan kompleks Candi Arjuna, terdapat pula Candi Semar yang berada tepat di hadapan Candi Arjuna yang mana berbentuk segi empat dan membujur ke arah utara-selatan.

Itulah pembahasan lengkap tentang sejarah Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Medang. Karena terletak di antara pegunungan, maka kehidupan ekonomi masyarakatnya mengandalkan sektor pertanian dan juga perkebunan sebagai roda perekonomian utamanya.

Sejarah Kerajaan Kalingga

Sejarah Kerajaan Kalingga

Sejarah Kerajaan Kalingga – Kerajaan Kalingga atau Ho Ling, merupakan sebuah kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang terdapat di Jawa. Berdasarkan sejarah, kerajaan ini berdiri sejak abad ke-6 Masehi.

Sama seperti sejarah Kerajaan Pajang, letak wilayah kekuasaan kerajaan Kalingga juga berada di Provinsi Jawa Tengah, tepatnya di antara Jepara dan Pekalongan.

Para sejarawan menyebut bahwa Kerajaan Kalingga merupakan cikal bakal dari Kerajaan Mataram Kuno dan Sriwijaya yang mana kerajaan ini bertahan sampai abad ke-7 Masehi sebelum pada akhirnya berakhir dengan terpecahnya menjadi dua bagian.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Kalingga

Adapun terdapat beberapa sumber sejarah yang menjelaskan mengenai Kerajaan Kalingga, salah satu sumber sejarah utama dari Kerajaan Kalingga adalah berasal dari berita Cina Dinasti Tong.

Selain itu, ditemukannya Prasasti Tuk Mas di lereng Gunung Merbabu juga sedikit menjelaskan mengenai kerajaan ini.

Untuk lebih jelasnya, mari kita bahas bersama-sama tentang sejarah Kerajaan Kalingga mulai dari letak dan wilayah kekuasaannya hingga ke berita Cina yang menjelaskan tentang kerajaan ini.

Letak dan Wilayah Kekuasaan

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa kerajaan ini terletak di Jawa Tengah. Meski belum ada bukti kuat mengenai dimana letak pastinya, namun Kerajaan Kalingga diperkirakan berada di antara Pekalongan dan Jepara atau di pantai utara Jawa.

Sementara itu, Kerajaan Kalingga didirikan oleh Prabu Washumurti dimana waktu berdirinya ini hampir bersamaan dengan raja ke-8 Kerajaan Tarumanegara.

Raja-Raja yang Pernah Memerintah di Kerajaan Kalingga

Beberapa raja-raja yang pernah menduduki tahta tertinggi di Kerajaan Kalingga adalah:

  • Prabu Washumurti (594-605)

Raja pertama sekaligus pendiri dari kerajaan ini adalah Prabu Washumurti yang memerintah dalam kurun waktu sekitar 11 tahun.

  • Prabu Washugeni (605-632)

Pemegang pemerintahan Kerajaan Kalingga selanjutnya adalah Prabu Washugeni yang mana ia adalah salah satu putra dari Prabu Washumurti.

Prabu Washugeni memiliki dua orang anak, yaitu Wasudewa (Kirathasingha) dan putri Wasumurti (Ratu Shima).

  • Prabu Kirathasingha (632-648)

Prabu Wasudewa atau Kirtathasingha merupakan putra dari Prabu Washugeni. Wasudewa berkuasa selama 16 tahun hingga kemudian wafat pada tahun 648 Masehi.

Setelah wafat, Kerajaan Kalingga dipimpin oleh Kartikeyasingha dimana ia adalah menantu dari Washugeni atau suami dari Ratu Shima putri Washugeni.

  • Prabu Kartikeyashingha (648-674)

Meskipun Prabu Kartikeyashingha bukanlah keturunan asli dari Prabu Washumurti, namun Kartikeyashingha di daulat menjadi raja di Kerajaan Kalingga.

Hal ini karena Prabu Kartikeyasingha merupakan suami dari Ratu Shima sehingga ia memimpin Kalingga dengan didampingi oleh Ratu Shima. Prabu Kartikeyashingha berkuasa hingga akhir hayatnya, yaitu di tahun 674 Masehi.

  • Ratu Shima (674-695)

Ratu Shima merupakan pemimpin terakhir dari Kerajaan Kalingga sekaligus menjadi satu-satunya wanita yang pernah menduduki tahta tertinggi di kerajaan ini sebelum pada akhirnya runtuh.

Putri Wasumurti menjadi ratu di Kerajaan Kalingga menggantikan suaminya yang wafat. Banyak cerita-cerita yang muncul mengenai ketegasan dari Ratu Shima pada saat memimpin Kalingga.

Di antara ketegasannya yang paling terkenal adalah ketika Ratu Shima menghukum putra mahkotanya sendiri yang disebabkan ia mengambil barang yang bukan miliknya.

Pada masa kepemimpinan Ratu Shima, Kerajaan Kalingga dan Kerajaan Galuh memiliki hubungan yang kekerabatan yang cukup erat. Bahkan beberapa keturunan dari kedua kerajaan tersebut saling dinikahkan agar semakin mempererat tali persaudaraan di antara dua kerajaan tersebut.

Nah, salah satu diantaranya bahkan sampai membentuk Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra. Sebelum wafat pada tahun 695 Masehi, Ratu Shima membagi Kalingga menjadi dua bagian yaitu Kerajaan Keling (Bhumi Sambhara) dan Kerajaan Medang (Bhumi Mataram).

Baca Juga : Sejarah Kerajaan Samudera Pasai

Masa Kejayaan Kerajaan Kalingga

Adapun masa kejayaan dari Kerajaan Kalingga terjadi pada periode kepemimpinan Ratu Shima. Sifat jujur dan adil sangat dijunjung tinggi oleh sang ratu.

Bukan hanya itu, dalam penerapannya juga sangat tegas tanpa pandang bulu. Seperti misalnya pemerintah akan memotong tangan siapa saja bagi yang memang telah terbukti mencuri.

Bahkan Dinasti Ta-Shish pada tahun 674 Masehi tercatat pernah mengurungkan niatnya untuk menyerang Kerajaan Kalingga, penyebabnya adalah kerajaan ini dianggap masih terlalu kuat ketika dipimpin oleh Ratu Shima.

Pada masa pemerintahan Ratu Shima, Kerajaan Kalingga juga menjadi pemerintahan yang sangat menjunjung tinggi hukum.

Menurut catatan sejarah, pernah terjadi pelanggaran hukum yang dilakukan oleh salah satu anggota keluarga kerajaan, maka ia tetap diproses secara tegas dan adil sesuai dengan hukum yang berlaku.

Masa Keruntuhan Kerajaan Kalingga

Sepeninggal Ratu Shima, masa kejayaan kerajaan ini semakin hari semakin lemah bahkan berada dalam posisi di ambang kehancuran.

Salah satu faktor penyebab keruntuhan dari kerajaan ini adalah akibat serangan dari Kerajaan Sriwijaya. Saat itu, serangan dari Sriwijaya memaksa pemerintahan hingga rakyat Kalingga untuk mundur hingga ke pedalaman Pulau Jawa.

Peninggalan-Peninggalan Kerajaan Kalingga

Sejarah dari Kerajaan Kalingga dapat ditelusuri dari ditemukannya Candi Angin, Prasasti Tuk Mas dan juga berita Cina Dinasti Tang.

Meski kebanyakan peninggalan dari kerajaan ini tidak berisi informasi yang cukup jelas serta hanya berupa potongan-potongan informasi yang cukup sulit dirunut.

Seperti contohnya dari nama Kerajaan Kalingga yang berasal dari kata Kalinga. Kalinga merupakan sebuah kerajaan di India Selatan. Dengan adanya hal tersebut, bisa diperkirakan menjadi salah satu bukti bahwa Nusantara dan India telah menjalin hubungan diplomatik yang erat.

Namun ada juga sumber lain yang mengatakan bahwa Kerajaan Kalingga sejarahnya sama seperti Kerajaan Tarumanegara. Persamaannya adalah didirikan oleh pengungsi dari India yang kalah perang sehingga mencari perlindungan di Nusantara.

Adapun beberapa bukti peninggalan dari Kerajaan Kalingga adalah:

Prasasti Tuk Mas (Tukmas)

Sejarah Kerajaan Kalingga
Sumber Gambar: kebudayaan.kemdikbud.go.id

Prasasti Tukmas ditemukan di lereng bagian barat Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Prasasti ini ditulis menggunakan huruf Palawa dan bahasa Sansekerta.

Didalam Prasasti Tuk Mas ini berisi mengenai mata air yang sangat bersih dan jernih. Saking jernihnya mata air tersebut bahkan air yang mengalir di sungai dimana airnya berasal dari sumber mata air tersebut sampai diibaratkan sama seperti Sungai Gangga yang terletak di India.

Selain itu, pada prasasti ini juga terdapat gambar-gambar berupa lambang Hindu seperti kendi, trisula, keong, bunga teratai, cakra dan juga tapak.

Prasasti Sojomerto

Terdapat juga peninggalan dari Kerajaan Kalingga, yaitu Prasasti Sojomerto. Diambil dari namanya, prasasti ini ditemukan di Desa Sojomerto, Reban, Batang Jawa Tengah.

Berbeda dengan Prasasti Tukmas yang menggunakan huruf Palawa dan Bahasa Sansekerta, Prasasti Sojomerto menggunakan aksara Kawi dalam bahasa Melayu Kuno yang diperkirakan bahwa prasasti ini telah ada sejak abad ke-7 Masehi.

Dalam prasasti ini memuat tentang keluarga dari tokoh utamanya yaitu Dapunta Salendra yang tertulis sebagai pendiri dari kerajaan tersebut.

Dari penemuan inilah disimpulkan bahwa pendiri dari kerajaan ini adalah berasal dari keturunan Dinasti Syailendra/Sailendra yang mana ia adalah penguasa dari Kerajaan Mataram Kuno.

Candi Bubrah

Sejarah Kerajaan Kalingga
Sumber Gambar: www.artisanalbistro.com

Candi Bubrah adalah salah satu candi bercorak Buddha yang terdapat di dalam kompleks Candi Prambanan. Tepatnya adalah terletak di antara Percandian Roro Jonggrang dan Candi Sewu.

Adapun candi ini ditemukan di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Klaten Jawa Tengah. Diperkirakan, candi ini memiliki ukuran 12 m x 12 m dan terbuat dari batu andesit.

Namun yang ditemukan hanyalah sisa-sisa reruntuhan setinggi 2 meter saja. Pada saat ditemukannya candi ini, terdapat pula beberapa arca Buddha meskipun wujudnya sudah tidak utuh lagi.

Diberi nama Candi Bubrah adalah karena candi ini ditemukan dalam keadaan rusak atau bahasa Jawanya adalah “bubrah”. Para ahli memperkirakan bahwa candi ini dibangun pada abad ke-9 Masehi, yaitu pada zaman Kerajaan Mataram Kuno masih berhubungan dengan Kerajaan Kalingga.

Candi Angin

Sejarah Kerajaan Kalingga
Sumber Gambar: mutarnusantara.files.wordpress.com

Berbeda dengan Candi Bubrah yang ditemukan di Kabupaten Klaten, Candi Angin ditemukan di Kabupaten Jepara, tepatnya adalah di Desa Tempur Kecamatan keling.

Karena candi ini ditemukan di tempat yang sangat tinggi (berangin), maka candi ini diberi nama Candi Angin.

Para peneliti menganggap bahwa Candi Angin memiliki usia yang lebih tua dari Candi Borobudur. Bahkan beberapa ahli menganggap dan berpendapat bahwa candi ini dibangun oleh manusia purba, ini karena belum terdapat ornamen-ornamen bercorak Hindu-Buddha.

Situs Puncak Sanga Likur

Selain prasasti dan candi, keberadaan dari Kerajaan Kalingga juga dapat dilihat dari ditemukannya Situs Puncak Sanga Likur.

Situs ini ditemukan di puncak Gunung Muria, tepatnya di Rahtawu, tidak jauh dari Kecamatan Keling.

Di kompleks situs ini juga ditemukan empat arca batu, diantaranya adalah Arca Batara Guru, Wisnu, Narada dan Togog.

Sampai saat ini belum dapat dipastikan bagaimana keempat arca tersebut bisa diangkut hingga ke puncak gunung, mengingat medan pendakian ke Gunung Muria terbilang cukup berat.

Namun pada tahun 1990, Prof. Gunadi dan empat staffnya dari Balai Arkeologi Nasional Yogyakarta mengemukakan bahwa Prasasti Rahwatun diduga sebagai peninggalan dari Kerajaan Kalingga.

Di kawasan situs juga ditemukan enam tempat pemujaan dimana letaknya ini tersebar dimulai dari arah bawah hingga menjelang ke puncak gunung.

Masing-masing tempat pemujaan ini diberi nama tokoh pewayangan seperti Abiyoso, Bambang Sakri, Dewonoto, Jonggring Saloko, Kamunoyoso dan Sekutrem.

Baca Juga: Kerajaan Islam Tertua di Indonesia

Berita Cina Tentang Kerajaan Kalingga

Terdapat beberapa berita atau catatan yang berasal dari negeri Cina tentang Kerajaan Kalingga, di antaranya adalah Catatan Dinasti Tang, Catatan I-Tsing, naskah Wai-Tai-Ta dan yang terakhir adalah Catatan Dinasti Ming.

Catatan Dinasti Tang

Beberapa catatan atau keterangan yang bersumber dari Dinasti Tang adalah:

  • Letak Kalingga terdapat di Lautan Selatan dimana sebelah utaranya adalah terletak Ta-Hen-La atau Chen-La (Kamboja). Sedangkan di sebelah timur terdapat Po-Li (Pulau Bali), sebelah barat terletak Pulau Sumatra.
  • Pada Catatan Dinasti Tang juga menyebut bahwa ibu kota Kalingga dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari tonggak kayu.
  • Sementara itu, Raja atau Ratu tinggal di suatu bangunan yang besar dan bertingkat, beratap daun palem serta singasananya terbuat dari gading gajah.
  • Rakyat/penduduk Kalingga telah pandai memproduksi sejenis minuman keras yang terbuat dari bunga kelapa.
  • Terakhir adalah Kalingga disebut menghasilkan emas, perak, produk kulit penyu, cula badak dan juga gading gajah.

Catatan I-Tsing

Selanjutnya adalah Catatan I-Tsing (664-665 M) menyebutkan jika pada abad ke-7 Masehi, tanah Jawa menjadi salah satu pusat pengetahuan agama Buddha Hinaya.

Dalam hal ini, pusat yang dimaksud adalah Kalingga yang mana di daerah tersebut terdapat seorang pendeta Bernas Hwining yang menerjemahkan salah satu kitab agama Buddha ke dalam bahasa Mandarin.

Pendeta tersebut bekerja bersama dengan pendeta Jawa yang bernama Janabadra. Kitab yang diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin adalah memuat cerita tentang Nirwana.

Naskah Wai-Tai-Ta

Dalam naskah Wai-Tai-Ta dari Cina, tepatnya di abad ke-12 Masehi, Cou-Ju-Kua menyebut bahwa Chepo (Jawa) disebut juga Poe-Chua-lung.

Menurut perkembangan bahasa dan Sinologi, para ahli bahasa menyebut bahwa Poe-Chua-lung adalah sebutan untuk Pekalongan yang mana Poe-Chua-lung adalah penamaan sebuah daerah pelabuhan yang terdapat di pantai utara Jawa pada masa Dinasti Tsung.

Catatan Dinasti Ming

Berita Cina yang terakhir adalah berasal dari catatan Dinasti Ming. Pada tahun 1439 Masehi, Laksamana Cheng Ho dari Dinasti Ming singgah di Pekalongan. Beliau menyebut bahwa Poe-Chua-lung dengan Wu-Chueh adalah memiliki arti pulau yang indah.

Sebutan ini diketahui dari catatan Hma-Huan, yang merupakan sekretaris dari Laksamana Cheng-Ho yang menulis tentang sebutan Wu-Chueh dari Laksamana ini di dalam bagian Yang-Yai-Sheng-Lan atau berarti pemandangan yang indah-indah.

Demikanlah pembahasan tentang sejarah Kerajaan Kalingga yang diambil dari berbagai sumber. Beberapa peninggalannya bahkan masih dapat kita lihat hingga hari ini sehingga kita wajib untuk menjaganya dengan baik agar generasi selanjutnya masih dapat mengenali dan mempelajarinya.