Contoh Budaya Daerah

Contoh Budaya Daerah

Di era seperti sekarang ini, contoh budaya daerah memiliki kegunaan sebagai identitas bangsa Indonesia. Indonesia sendiri memiliki beberapa budaya yang eksistensinya bahkan sampai ke mancanegara.

Keragaman budaya Indonesia dapat membawa efek positif bagi bangsa Indonesia. Dengan adanya keberagaman budaya yang ada di Indonesia maka dapat menjadi salah satu magnet untuk menarik wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia.

Secara umum budaya dapat dibedakan menjadi 2, yaitu budaya daerah dan budaya nasional. Diantara kedua budaya ini terdapat budaya Indonesia yang mendunia.  Untuk menambah pengetahuan kita akan budaya Indonesia, maka pada kesempatan kali ini kita akan membahas bersama mengenai beberapa contoh budaya daerah di Indonesia.

Contoh Budaya Daerah Indonesia Lengkap

Contoh Budaya Daerah
Sumber Gambar: puzzze.blogspot.com

Budaya daerah merupakan sebuah kebiasaan yang didalamnya mengandung nilai-nilai yang penting dan fundamental. Biasanya nilai-nilai ini diwariskan dari generasi ke generasi.

Seperti halnya seni budaya lainnya, budaya daerah terlahir dari berbagai faktor dan juga komponen yang mempengaruhinya. Diantara faktor-faktor yang mempengaruhi lahirnya budaya daerah yaitu seperti faktor agama, kawasan atau kewilayahan, politik, ekonomi, adat istiadat, dan beberapa faktor lainnya.

Inilah beberapa contoh budaya daerah di Indonesia.

Upacara Potong Jari

Contoh Budaya Daerah
Sumber Gambar: scontent-mia3-2.cdninstagram.com

Provinsi papua memiliki budaya yang sangat ekstrim, yaitu upacara potong jari. Upacara potong jari ini dilakukan ketika terdapat salah satu orang yang mereka cintai meninggal.

Hal ini dilakukan untuk memaknai kesedihan karena ditinggal oleh orang yang dicintainya. Dalam budaya mereka, tradisi ini merupakan tradisi yang wajib dilakukan ketika mereka kehilangan salah satu orang yang dicintai atau salah satu anggota keluarganya.

Masyarakat pegunungan tengah di Papua percaya, bahwa dengan memotong salah satu jari merupakan simbol dari rasa sakit dan pedihnya seseorang yang kehilangan anggota keluarganya.

Pesta Bakar Batu

Contoh Budaya Daerah
Sumber Gambar: www.goodnewsfromindonesia.id

Selain itu, masyarakat papua juga memiliki tradisi yaitu pesta bakar batu. Dilakukannya ritual ini merupakan simbol bentuk rasa syukur karena mendapatkan berkat yang melimpah.

Selain untuk simbol mendapatkan berkat melimpah, tradisi ini juga dilakukan sebagai simbol perdamaian.

Tanam Sasi

Contoh Budaya Daerah
Sumber Gambar: yennyletsoin.blogspot.com

Tanam sasi merupakan bentuk atau wujud upacara kematian yang dilakukan oleh Suku Marin yang berasal dari Merauke. Sasi merupakan sejenis kayu yang ditanam sesaat setelah seseorang meninggal. Kemudian Sasi yang ditanam akan dicabut kembali setelah mencapai 1000 hari.

Yamko Rambe Yamko

Contoh Budaya Daerah
Sumber Gambar: raw.cdn.baca.co.id

Yamko Rambe Yamko merupakan salah satu judul lagu daerah yang berasal dari Provinsi Papua. Meski irama pada lagu ini seperti menggambarkan kesan yang menyenangkan, namun sebenarnya syair lagu ini berisi tentang kesedihan akibat peperangan.

Misalnya kesedihan terhadap pertikaian, perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan, dan kesedihan yang diakibatkan Papua ingin memisahkan diri dari Indonesia.

Tari Suanggi

Contoh budaya daerah selanjutnya adalah Tari Suanggi. Tari Suanggi adalah tarian daerah yang asalnya dari Papua Barat dimana didalamnya mengisahkan seorang istri yang meninggal akibat korban angi-angi atau jejadian.

Seperti halnya tari daerah lainnya, tari daerah ini juga mengandung gerakan-gerakan yang mengarah kepada ritual atau upacara keagamaan.

Diceritakan, Suanggi merupakan roh jahat (Kapes) yang belum mendapatkan kenyamanan di alam baka. Roh jahat ini nantinya akan merasuk pada tubuh wanita.

Bau Nyale

Contoh Budaya Daerah
Sumber Gambar: media.beritagar.id

Bau Nyale merupakan salah satu upacara atau budaya daerah yang berasal dari Lombok. Dalam bahasa sasak, “Bau” memiliki arti menangkap, sedangkan “Nyale” merupakan sebutan untuk cacing laut didaerah Lombok.

Pelaksanaan upacara Bau Nyale ini biasanya diadakan di antara bulan Februari dan bulan Maret. Masyarakat Lombok akan turun ke pantai saat air laut mengalami pasang-surut, yaitu pada waktu dini hari untuk bersama-sama menangkap Nyale.

Mereka biasanya akan memakan atau menjual hasil tangkapan Nyale ini. Upacara Bau Nyale ini berawal dari legenda Putri Mandalika yang diperebutkan oleh para Pangeran dari berbagai kerajaan untuk dijadikan permaisuri.

Karena sang Putri merasa gusar dan ditakutkan akan terjadi pertempuran karena memperebutkan dirinya, maka Sang Putri memutuskan untuk mengundang seluruh pangeran beserta rakyatnya untuk bertemu di Pantai Kuta Lombok pada tanggal 20 bulan ke 10 dalam perhitungan bulan sasak di waktu sebelum Subuh.

Undangan ini disambut dan disetujui oleh seluruh Pangeran dan rakyat-rakyatnya. Sehingga tepat di tanggal tersebut, mereka berbondong-bondong menuju lokasi yang telah ditentukan oleh Sang Putri.

Pada waktu yang di tunggu-tunggu, akhirnya Sang Putri Mandalika muncul dengan dikawal oleh prajurit-prajurit yang menjaganya.

Saat itu, Sang Putri berhenti di sebuah batu besar di pinggir pantai. Sang Putri kemudian mengatakan untuk menerima pinangan dari seluruh Pangeran. Setelah Sang Puteri mengatakan hal tersebut, akhirnya Sang Putri meloncat kedalam laut.

Seluruh Pangeran dan rakyatnya kemudian mencarinya namun tidak menemukannya. Beberapa saat setelah Sang Putri melompat, maka datanglah sekumpulan cacing dengan beraneka warna yang kemudian masyarakat mempercayainya sebagai jelmaan dari Putri Mandalika. Dilansir dari wikipedia.org.

Merarik

Contoh Budaya Daerah
Sumber Gambar: basajan.net

Selain Bau Nyale, contoh budaya daerah yang berasal dari Lombok adalah Merarik. Merarik merupakan bahasa sasak yang mempunyai arti Menikah. Masyarakat Lombok memiliki cara unik untuk melangsungkan upacara pernikahan yaitu dimana sang mempelai pria akan menculik mempelai wanita, kemudian mempelai wanita akan dibawa kerumah mempelai pria.

Namun hal tersebut sebelumnya sudah melalui izin dan kesepakatan. Sesaat setelah melakukan penculikan, hari esoknya baru akan dilakukan proses ijab qobul supaya pernikahan kedua mempelai tersebut sah di mata agama atau negara.

Upacara Ngaben

Contoh Budaya Daerah
Sumber Gambar: kulturbangsaindonesia.blogspot.com

Ngaben merupakan sebuah upacara pembakaran mayat yang dipercayai serta dilakukan oleh masyarakat yang menganut agama Hindu khususnya Masyarakat Bali.

Masyarakat Hindu Bali mempercayai jika seseorang yang telah meninggal dunia wajib untuk disucikan menggunakan media api yaitu dengan cara dibakar hingga mayatnya berubah menjadi abu.

Kemudian abu hasil pembakaran mayat tersebut disebarkan atau di larungkan di sungai atau laut. Hal tersebut bertujuan untuk penyucian elemen jiwa dan juga raga.

Tradisi Penguburan Mayat di Desa Trunyan

Contoh Budaya Daerah
Sumber Gambar: www.adventuretravel.co.id

Masih berhubungan dengan upacara kematian, masyarakat Bali juga memiliki tradisi unik lainnya untuk menguburkan orang yang telah meninggal. Tradisi tersebut dilakukan di desa Trunyan.

Jika terdapat waga desa Trunyan yang meninggal, maka mayatnya hanya akan diletakkan disekitar pohon yang terdapat di hutan di sekitar desa Trunyan.

Pohon yang akan dijadikan untuk meletakkan mayat bukanlah pohon sembarangan, melainkan pohon taru dan menyan yang dapat mengeluarkan enzim dan juga bau wangi.

Hal ini dimaksudkan supaya bau busuk dari mayat dapat tersamarkan oleh bau wangi yang dikeluarkan oleh pohon taru dan menyan.

Tradisi Ngurek

Contoh Budaya Daerah
Sumber Gambar: scontent-ams4-1.cdninstagram.com

Ngurek merupakan sebuah tradisi yang berasal dari Provinsi Bali. Tradisi ini mirip dengan Debus yang berasal dari Banten. Para pelaku yang terlibat dalam tradisi upacara ini diharuskan menusuk tubuhnya menggunakan keris.

Tujuan dari tradisi ini adalah untuk meyakinkan manusia akan Tuhan Yang Maha Esa (menurut kepercayaan mereka). Pada saat seseorang melakukan tradisi ini, mereka yakin serta meminta perlindungan atau pertolongan kepada Sang Kuasa.

Melasti

Contoh Budaya Daerah
Sumber Gambar:dominik-photography.com

Berbicara mengenai Provinsi Bali memang tidak ada habisnya, termasuk tradisi budaya daerah didalamnya. Untuk menyucikan manusia sebelum Hari Raya Nyepi, masyarakat Bali diharuskan untuk melakukan upacara Melasti.

Masyarakat Hindu Bali akan melakukan sembahyang dan berdoa di tepi pantai. Mereka percaya, dengan melakukan hal tersebut, maka unsur-unsur jahat dan buruk dalam diri manusia dapat dibuang dan di larung ke lautan lepas.

Mesuryak

Contoh Budaya Daerah
Sumber Gambar: indonesiaindahmenawan.blogspot.com

Mesuryak merupakan sebuah ritual yang dilakukan secara turun-temurun di Desa Bongan, Tabanan, Bali. Upacara ini digelar bertepatan pada Hari Raya Kuningan, yaitu 10 hari setelah Galungan dan dilakukan setiap 6 bulan sekali.

Tujuan diadakannya upacara Mesuryak yaitu untuk memberikan bekal kepada para leluhur yang akan kembali ke alam baka (Suarga Loka). Bekal ini dapat berupa uang atau beras.

Masyarakat bali percaya jika para leluhur mereka akan turun tepat pada hari raya Galungan dan akan kembali lagi ke Nirwana pada hari raya Kuningan.

Mesuryak berasal dari kata suryak yang memiliki arti bersorak atau berteriak. Pada umumnya upacara ini dilaksanakan pada pukul 9 pagi sampai 12 siang. Jika telah lewat jam 12 siang, mereka percaya jika para leluhur telah kembali ke surga.

Sebelum dimulainya upacara ini, semua masyarakat atau warga akan melakukan ritual sembahyang di pura keluarga atau di pura kahyangan tiga yang terdapat di desa setempat.

Para leluhur yang telah dilepas kepergiannya akan dibekali banten pengadegan (sesaji) yang diletakkan di depan pintu gerbang rumah (kori). Biasanya sesajian ini terdiri atas beras, pis bolong, telur, dan juga perlengkapan lainnya untuk disiapkan sebagai bekal leluhur.

Jika semua persiapan telah dilakukan, maka selanjutnya adalah melakukan upacara Mesuryak. Setiap anggota keluarga akan memberi bekal kepada para leluhur sesuai dengan kemampuannya.

Misalnya saja dapat berupa uang logam atau uang kertas dalam pecahan Rupiah. Selanjutnya uang akan dilempar untuk diperebutkan oleh warga. Tradisi upacara Mesuryak yaitu bermakna kemakmuran.

Sedangkan uang yang dilempar untuk leluhur disimbolkan untuk ungkapan rasa syukur kepada Sang Hyang Widi.

Perang Pandan

Contoh Budaya Daerah
Sumber Gambar: yopiefranz.com

Mekare-Kare atau istilah lainnya upacara Perang Pandan merupakan sebuah upacara dimana orang-orang yang terlibat didalamnya akan saling menghantamkan daun pandan berduri dengan tujuan untuk dipersembahkan kepada Dewa Indra.

Meski mereka saling menghantam satu sama lain, mereka tidak akan merasa kesakitan meskipun terdapat luka pada kulit. Setelah upacara tersebut, mereka akan diobati dan juga disucikan oleh para pemangku adat.

Reuneuh Mundingeun

Contoh Budaya Daerah
Sumber Gambar: i.ytimg.com

Tidak kalah dengan masyarakat Bali, masyarakat Sunda juga memiliki ritual adat daerah. Ritual ini dilakukan ketika seorang perempuan mengandung lebih dari 9 bulan bahkan sampai usia kandungan mencapai 12 bulan namun belum melahirkan.

Didalam adat ini, perempuan yang hamil disebut dengan reuneuh mundingeun. Dimana perempuan yang hamil diibaratkan dengan munding atau kerbau yang sedang mengandung.

Maksud dan tujuan daripada upacara ini adalah agar perempuan yang hamil tersebut dapat segera melahirkan dengan selamat dan juga agar dijauhkan dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Tiwah

Contoh Budaya Daerah
Sumber Gambar: ksmtour.com

Contoh budaya daerah yang terakhir adalah berasal dari Suku Dayak yaitu bernama ritual Tiwah. Ritual Tiwah ini dilakukan untuk upacara kematian. Seperti halnya upacara adat lainnya, upacara kematian ini juga bersifat sakral.

Dimana tulang-tulang orang yang telah meninggal akan diambil kemudian diantar untuk diletakkan di Sandung (Rumah kecil yang dibuat khusus hanya untuk mereka yang telah meninggal dunia).

Sebelumnya akan terdapat banyak ritual lain diantaranya seperti tari-tarian, suara gong, dan juga hiburan lainnya.

Demikianlah pembahasan lengkap mengenai contoh budaya daerah di Indonesia yang harus kita jaga bersama-sama agar tidak luntur dimakan oleh zaman.

One Comment

Tinggalkan Balasan