Tradisi Budaya Jawa Tengah

Tradisi Budaya Jawa Tengah

Berbicara tentang keragaman budaya Indonesia memang tidak akan ada habisnya. Hampir disetiap provinsi yang ada di Indonesia memiliki budaya yang berbeda-beda. Salah satu provinsi yang kaya akan budayanya adalah Jawa Tengah. Tradisi budaya Jawa Tengah dapat ditemukan di tiap-tiap kabupaten/kota didalamnya.

Kebanyakan tradisi di Jawa Tengah ini tergolong cukup unik yang sepantasnya harus kita lestarikan agar warisan budaya dari nenek moyang kita akan tetap terjaga dan lestari.

Diantara tradisi budaya Jawa Tengah ini melibatkan banyak orang untuk melakukannya. Nah di kesempatan kali ini, kita akan bahas bersama tradisi budaya Jawa Tengah lengkap berikut dengan gambarnya.

19 Tradisi Budaya Jawa Tengah Lengkap dengan Gambar dan Penjelasannya

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: i.ytimg.com

Tradisi upacara adat merupakan suatu kegiatan atau ritual yang dilakukan oleh suku atau kelompok masyarakat. Hal ini karena kebiasaan atau kebudayaan tersebut dilakukan secara turun temurun serta bersumber dari nilai-nilai nenek moyang mereka.

Upacara adat seharusnya diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi agar dapat bertahan dan tidak punah di era modern seperti sekarang ini.

Inilah pembahasan lengkap mengenai tradisi budaya Jawa Tengah yang harus dilestarikan dan dijaga bersama-sama.

1. Tradisi Syawalan

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: fajarbanten.com

Tradisi budaya Jawa Tengah yang pertama adalah tradisi Syawalan. Tradisi Syawalan di Jawa Tengah biasanya diisi dengan berbagai ragam kegiatan oleh warga.

Beberapa diantaranya mengisi dengan mengadakan doa bersama di tempat ibadah seperti masjid atau mushola, mengadakan pengajian akbar dan lain sebagainya. Tradisi Syawalan ini sebenarnya sudah berlangsung lama di tengah-tengah masyarakat kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Asal usul tradisi Syawalan di Jawa Tengah ini bermula pada tanggal 8 Syawal. Dimana masyarakat Krapyak berhari raya kembali setelah melakukan puasa 6 hari. Pada kesempatan ini, mereka membuat acara “open house” yaitu menjamu atau menerima tamu baik itu dari luar desa atau kota.

Hal ini diketahui oleh masyarakat diluar desa Krapyak, sehingga orang-orang diluar desa Krapyak tidak melakukan silaturahmi pada hari-hari antara tanggal 2-7 di bulan Syawal dan menggantinya di tanggal 8 Syawal.

Seiring berjalannya waktu, hal tersebut semakin berkembang luas di tengah-tengah masyarakat sehingga terjadilah tradisi Syawalan hingga seperti sekarang ini.

2. Tradisi Sadranan (Sadran)

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: www.an-najah.net

Selanjutnya adalah tradisi Sadranan. Tradisi Sadranan merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Jawa untuk menyambut bulan suci Ramadhan.

Sebelum hadirnya agama Islam di Nusantara, tradisi Sadranan merupakan tradisi agama Hindu-Budha yang datang dan menyebar lebih dulu di Nusantara.

Sejak adanya Walisongo di tanah Jawa, para Sunan menyebarkan agama Islam dengan cara menggabungkan serta meluruskan tradisi-tradisi tersebut salah satunya tradisi Sadranan.

Hal ini bertujuan agar agama Islam yang dibawa oleh para Sunan dapat mudah diterima oleh masyarakat yang pada saat itu sebagian besar masih memuja roh dan beragama Hindu-Budha.

Para Sunan mengganti doa-doa didalam tradisi tersebut dengan bacaan Al Qur’an. Meski berbenturan dengan tradisi Jawa, namun lambat laun masyarakat Jawa dapat menerima dan pada akhirnya diamalkan oleh masyarakat Jawa hingga sekarang.

3. Tradisi Selikuran

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: denmasdeni.blogspot.com

Tradisi Selikuran merupakan sebuah upacara atau tradisi yang terdapat di Jawa Tengah. Malam 21 Ramadhan adalah waktu dimana tradisi ini dilaksanakan. Pada malam tersebut, masyarakat Jawa akan melakukan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat.

Bagi masyarakat Jawa, Selikur pada bulan Ramadhan mempunyai arti yang sangat spesial dimana waktu tersebut merupakan salah satu waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mendoakan orang-orang Islam yang telah meninggal.

Sebagian masyarakat Jawa menganggap kebiasaan ini sebagai salah satu wujud rasa kecintaan mereka terhadap agama Islam dan Rasulullah SAW.

4. Tradisi Muludan (Maulid Nabi SAW)

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: gdb.voanews.com

Tradisi selanjutnya yang biasanya dilakukan oleh masyarakat Jawa adalah tradisi Muludan. Muludan atau maulid nabi dalam adat Jawa mempunyai arti sebagai hari lahirnya nabi Muhammad SAW. Biasanya perayaan tradisi ini dilakukan pada tanggal 12 Rabiul Awal.

Sebenarnya tradisi maulid nabi Muhammad SAW tidak hanya berlaku di Jawa Tengah saja melainkan di berbagai wilayah di Indonesia bahkan acara maulid ini dilakukan di seluruh dunia.

5. Tradisi Grebeg

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: pengenliburan.com

Saat memasuki bulan Mulud, biasanya sering diadakan acara di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk juga di daerah Solo dan Yogyakarta. Salah satu tradisi yang dilakukan di kedua kota tersebut adalah tradisi Grebeg.

Upacara atau tradisi Grebeg sebenarnya tidak hanya dilakukan pada bulan Mulud saja, melainkan juga dilakukan pada tanggal 1 Syawal dan juga bulan ke-12. Tujuan diadakannya tradisi ini adalah sebagai ungkapan rasa syukur atas rahmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa.

6. Tradisi Sekaten

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: daftarkursusbahasaarab.files.wordpress.com

Tradisi Sekaten sebenarnya merupakan sebuah tradisi yang diadakan untuk memperingati lahirnya Nabi Muhammad SAW. Namun bedanya acara ini diadakan dalam kurun waktu tujuh hari dan biasanya hanya dilakukan di kompleks keraton.

Menurut beberapa sumber, Sekaten berasal dari istilah “Syahadatain“. Istilah ini dikenal sebagai kalimat tauhid didalam agama Islam. Upacara ini akan diselenggarakan dengan penabuhan dua gamelan dari keraton.

Kedua gamelan yang dimaksud adalah gamelan Kyai Guntursari dan gamelan Kyai Gunturmadu. Puncak atau akhir dari tradisi ini adalah tradisi grebeg gunungan di tanggal 12 Rabiul Awal atau Maulud.

7. Tradisi Siraman

Tradisi Budaya Jawa tengah
Sumber Gambar: cdn.idntimes.com

Tradisi Siraman merupakan salah satu tradisi budaya Jawa Tengah dimana calon pengantin harus dimandikan dan juga disucikan dengan air bunga 7 rupa.

Tradisi ini dilakukan dengan cara menguyurkan atau memandikan calon pengantin baik laki-laki atau perempuan dengan maksud agar dirinya suci sebelum proses acara pernikahan digelar.

Setelah tradisi Siraman selesai, biasanya calon pengantin akan di bopong oleh kedua orangtuanya atau keluarganya untuk selanjutnya akan di rias untuk acara sungkeman kepada kedua orangtuanya dengan maksud meminta restu agar pernikahannya dapat berjalan dengan lancar.

8. Padusan

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: asset-a.grid.id

Maksud dari tradisi Padusan adalah ditunjukkan untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Padusan berasal dari kata “adus” yang dalam bahasa Indonesia berarti mandi dan membersihkan diri.

Biasanya tradisi Padusan dilakukan dengan mandi bersama dimana warga setempat akan mandi sekaligus untuk mensucikan diri meliputi jiwa dan raga untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Beberapa orang menyebut bahwa tradisi Padusan merupakan salah satu tradisi peninggalan Walisongo pada saat beliau menyebarkan agama Islam dengan cara mengawinkan budaya Jawa yang saat itu masih didominasi dengan budaya Hindu-Budha.

9. Tradisi Mendak Kematian

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: delikkalbar.com

Selanjutnya adalah tradisi Mendak Kematian. Dalam bahasa Indonesia memiliki arti dan makna yaitu “memperingati kematian setelah satu tahun seseorang meninggal dunia”.

Beberapa orang menyebut bahwa tradisi ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan agama Hindu-Budha karena tradisi ini merupakan salah satu warisan budayanya.

Meskipun berasal dari tradisi Hindu-Budha, tetapi Walisongo menggunakan tradisi ini untuk menyebarkan agama Islam. Sebabnya adalah jika tidak menggunakan tradisi ini sebagai salah satu metode penyebaran agama Islam maka Walisongo akan mengalami kesulitan untuk menyebarkan ajaran Islam.

Sehingga tradisi ini merupakan salah satu strategi atau inisiatif Walisongo yang sangat baik dalam menyebarkan agama Islam di pulau Jawa.

10. Tradisi Nyewu (1000)

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: inpasonline.com

Selain tradisi Mendak untuk memperingati kematian seseorang, terdapat juga tradisi Nyewu atau memperingati kematian seseorang setelah 1000 hari. Tradisi ini masih dilakukan hingga saat ini oleh masyarakat di Jawa Tengah.

Tradisi ini dilakukan dengan cara melakukan doa bersama untuk orang yang telah meninggal dunia. Biasanya orang-orang akan membaca tahlil dan surah Yasin secara bersama-sama dan diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh tokoh agama setempat.

11. Tradisi Upacara Ruwatan

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: suarabaru.id

Ruwatan merupakan salah satu upacara adat di provinsi Jawa Tengah sebagai sarana pembebasan atau penyucian manusia dari kesalahan dan dosa.

Salah satu contoh Ruwatan yang paling terkenal adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat disekitar Dieng.

Anak-anak yang mempunyai rambut gimbal biasanya dianggap sebagai keturunan Buto Ijo dan anak-anak tersebut akan segera di ruwat dengan maksud agar selamat dari marabahaya.

12. Tradisi Upacara Kenduren

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: 14deny.files.wordpress.com

Kenduren termasuk salah satu tradisi budaya di Jawa Tengah. Sebagian masyarakat lebih mengenal dengan sebutan Slametan. Tradisi ini merupakan budaya adat yang pertama sebelum adanya agama Islam di Jawa.

Kenduren merupakan kegiatan doa bersama yang biasanya dipimpin oleh tokoh agama atau sesepuh di daerahnya. Namun di zaman dahulu, makanan dijadikan sebagai sesaji untuk persembahannya.

Setelah adanya budaya Islam, akhirnya tradisi ini mengalami perubahan yang sangat besar. Makanan yang tadinya dijadikan sebagai sesaji untuk persembahan kemudian diubah menjadi hidangan untuk dimakan bersama-sama setelah acara selesai.

13. Tradisi KeboKeboan

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: budayajawa.id

Jawa Tengah memiliki tradisi budaya yang dipercaya bisa untuk menolak bala. Tradisi ini bernama KeboKeboan dan biasanya dilakukan oleh para petani menjelang masa tanam atau masa panen.

Dengan melakukan tradisi ini maka harapannya akan diberi kemudahan untuk menanam supaya tanaman dapat tumbuh dengan baik serta mendapatkan hasil panen yang melimpah.

Didalam upacara ini biasanya ditandai dengan 30 orang yang berdandan menyerupai kerbau yang nantinya akan di arak keliling kampung. Orang-orang ini nantinya akan berjalan menyerupai kerbau yang sedang membajak sawah.

14. Tradisi Larung Sesaji

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: muslimoderat.net

Larung sesaji adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Jawa Tengah bagian pesisir pantai Selatan dan Utara. Tujuan dilakukannya tradisi ini adalah sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta atas hasil tangkapan ikan yang mereka dapat selama melaut.

Selain itu, tradisi ini dilakukan dengan maksud agar selalu diberi kelancaran, keselamatan dan juga hasil yang cukup didalam usahanya.

Tradisi ini ditandai dengan menghanyutkan berbagai bahan makanan dan hewan sembelihan ke laut. Dilaksanakannya tradisi ini yaitu pada tanggal 1 Muharram.

15. Tradisi Ngapati

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: cvfajarhazmee.files.wordpress.com

Ngapati atau Ngupati merupakan tradisi budaya yang dilakukan untuk wanita yang sedang mengandung dimana umur kandungannya telah mencapai 4 bulan.

Masyarakat Jawa melakukan acara ini karena disaat usia kandungan telah mencapai 4 bulan akan diberi nyawa oleh Allah SWT yang menjadikan orang masyarakat Jawa akan mendoakannya. Selain itu juga sebagai bentuk rasa syukur atas karunia yang telah diberikan.

Didalam tradisi Ngapati ini, orang-orang akan berdoa bersama supaya ketika bayi sudah lahir akan menjadi orang yang berguna dan bermanfaat serta dijauhkan dari hal-hal yang dilarang oleh agama.

16. Tradisi Mitoni

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: i.ytimg.com

Selain Ngapati, terdapat juga tradisi yang diperuntukkan untuk wanita yang sedang mengandung, yaitu Mitoni. Upacara Mitoni atau Tingkepan dilakukan ketika usia kandungan seorang wanita telah mencapai 7 bulan.

Salah satu rangkaian acara yang wajib dilakukan saat Mitoni adalah mandi air kembang setaman. Setelah hal itu dilakukan, biasanya para sesepuh akan mendoakan agar bayi yang dikandungnya selamat sampai proses persalinan.

17. Tradisi Dugderan

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: www.infobudaya.net

Dugderan adalah upacara adat yang biasanya dilakukan oleh masyarakat di kota Semarang untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Tradisi atau upacara ini diawali dengan pemukulan beduk yang mengeluarkan bunyi dug dug dug dan kemudian akan disambut dengan suara dentuman meriam yang terdengar kuat hingga masyarakat setempat memberi nama Dugderan.

Pada saat acara Dugderan selesai, kemudian akan digelar pawai keliling kota dimana masyarakat sekitar akan tumpah ruah mengenakan pakaian adat dan juga menyajikan aneka festival tradisional Semarang yang ditunjukkan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

18. Tradisi Wetonan (Wedalan)

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: budayajawa.id

Wetonan atau Wedalan dalam bahasa Jawa mempunyai arti “keluar”, tetapi dalam hal ini yang dimaksud keluar adalah lahirnya seseorang.

Warga setempat biasanya akan melakukan tradisi ini dengan harapan agar diberi panjang umur serta dihindarkan dari berbagai macam mara bahaya dimasa depan. Selain itu dengan dilakukannya tradisi ini yaitu agar cita-cita bayi sang anak dapat dengan mudah tercapai.

19. Tradisi Popokan

Tradisi Budaya Jawa Tengah
Sumber Gambar: merahputih.com

Tradisi budaya Jawa Tengah yang terakhir adalah Tradisi Popokan. Kegiatan tradisi ini dilakukan dengan cara melempar lumpur yang dilakukan oleh warga Beringin di Semarang. Popokan dilakukan pada saat bulan Agustus pada hari Jumat Kliwon.

Berdasarkan sejarah, tradisi ini dimulai pada saat daerah Beringin didatangi oleh seekor binatang jenis macan dimana binatang tersebut dapat memberikan ancaman terhadap warga di desa tersebut sehingga segala macam peralatan digunakan untuk mengusirnya termasuk dengan melemparkan lumpur.

Sejak saat itu, tradisi Popokan ini menjadi dasar yang dilakukan oleh warga. Tujuan daripada tradisi ini yaitu untuk menghilangkan kejahatan dan juga tolak bala di daerah mereka. Sampai saat ini masyarakat didaerah tersebut masih menjaga dengan baik budaya tersebut.

Demikian penjelasan lengkap mengenai tradisi budaya Jawa Tengah. Kita sebagai bangsa Indonesia seharusnya bisa menjaga dan melestarikan tradisi budaya yang diwariskan oleh nenek moyang kita. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan