Kerajaan Islam Tertua di Indonesia

Kerajaan Islam Tertua di Indonesia

Kerajaan Islam Tertua di Indonesia – Agama Islam merupakan salah satu agama yang dianut dan diakui oleh bangsa Indonesia. Jejak-jejak penyebaran agama Islam ditandai dengan kemunculan sejarah Islam di Indonesia.

Berdasarkan sejarah, Islam pertama kali masuk ke Nusantara pada akhir abad ke-6 Masehi yang mana di tahun itu Islam mulai berkembang dengan pesat melalui berdirinya beberapa kerajaan-kerajaan Islam.

Kerajaan-kerajaan bercorak Islam ini kian hari kian berkembang serta memperlihatkan pengaruhnya terhadap proses penyebaran Islam di Nusantara. Tercatat,masa kejayaan kesultanan Islam berlangsung antara abad ke-13 sampai abad ke-18 Masehi.

9 Kerajaan Islam Tertua di Indonesia

Asal mula Islam masuk ke Nusantara ini tidak lain adalah dibawa oleh para pedagang muslim yang berasal dari berbagai negara seperti Arab, Persia, India, China dan lainnya.

Pada awalnya, kerajaan Islam hanya terdapat di pulau Sumatra saja sehingga bukan hal yang keliru jika banyak yang mengatakan jika Kerajaan Islam di Sumatra merupakan kerajaan Islam pertama yang terdapat di Indonesia.

Namun seiring berjalannya waktu, Islam telah merambah ke berbagai wilayah lainnya di Indonesia seperti di Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku.

Lantas, kesultanan Islam manakah yang pertama dan tertua yang pernah berdiri di Nusantara? Berikut adalah pembahasan mengenai 9 Kerajaan Islam tertua di Indonesia yang wajib kita ketahui.

1. Kerajaan Perlak (Kesultanan Peureulak)

Kerajaan Islam Tertua di Indonesia
Sumber Gambar: www.orbitmetro.com

Kerajaan Perlak atau Kesultanan Peureulak adalah kerajaan Islam pertama dan tertua yang pernah ada di Indonesia. Kesultanan Islam yang terletak di wilayah Aceh Timur ini berdiri pada tahun 840-1292 Masehi.

Nama kerajaan ini diambil dari kata Peureulak yang mana ini merupakan nama jenis kayu yang digunakan untuk membuat kapal. Raja pertama dari Kesultanan Peureulak adalah Sultan Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah.

Beberapa tanda pernah berdirinya kerajaan ini adalah ditemukannya stempel, mata uang dan makam raja yang pernah menjadi Sultan di Kerajaan Perlak.

2. Kerajaan Ternate

Kerajaan Islam Tertua di Indonesia
Sumber Gambar: www.yuksinau.id

Provinsi yang terletak di Indonesia Timur ini juga pernah berdiri salah satu kerajaan Islam pertama serta menjadi yang tertua di Provinsi Maluku. Ya, kerajaan ini diberi nama Kerajaan Ternate yang berdiri pada tahun 1257-1950 Masehi.

Letak daripada kerajaan ini berada diantara Pulau Sulawesi dan Pulau Papua sehingga menjadikannya memiliki lokasi perdagangan yang strategis.

Puncak kejayaan Kerajaan Ternate terjadi pada masa Sultan Baabullah yang mana beliau berhasil mengusir penjajah Portugis. Adapun beberapa peninggalan dari kerajaan ini adalah bangunan kerajaan, Benteng Tolukko, masjid dan makam Sultan Baabullah.

3. Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Islam Tertua di Indonesia
Sumber Gambar: ips.pelajaran.co.id

Selain Kerajaan Perlak, Kesultanan Samudera Pasai juga menjadi salah satu kerajaan Islam tertua dan terbesar yang pernah berjaya di Indonesia.

Letak dari kerajaan yang berdiri pada tahun 1347-1825 Masehi ini berada di pesisir pantai utara Sumatra, tepatnya di sekitar Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, Provinsi Aceh. Sultan Malik Al Saleh atau Sultan Malikussaleh merupakan raja pertama dari kerajaan Samudera Pasai.

Memiliki wilayah yang strategis yaitu mencakup seluruh Aceh menjadikan kerajaan ini sebagai kerajaan besar yang terkenal di bidang perdagangan.

Beberapa peninggalan dari kerajaan ini adalah ditemukannya koin emas Dirham yang dijadikan sebagai mata uang kerajaan, makam para sultan dan Cakra Donya berbentuk lonceng besar.

4. Kerajaan Gowa

Kerajaan Islam Tertua di Indonesia
Sumber Gambar: www.archipelagos.id

Kesultanan Gowa berdiri sekitar tahun 1300-1946 Masehi. Dari sekian banyak Sultan yang pernah memegang kekuasaan tertinggi di Kesultanan Gowa, Sultan Hasanuddin adalah raja paling terkenal dalam sejarah kesultanan ini.

Disebut menjadi raja paling terkenal karena jasanya beliau yang berani melawan penjajahan yang dilakukan oleh Belanda (VOC) yang dikenal dengan peristiwa Perang Makassar (1666-1669 Masehi).

Dalam perkembangannya, Kesultanan Gowa mengalami pasang surut sejak dari awal berdiri, tepatnya pada pemerintahan Sultan Gowa pertama yaitu Tumanurung.

Puncak kejayaan atau era keemasan dari kerajaan ini adalah terjadi pada abad ke-17 serta pernah mengalami masa penjajahan di bawah kekuasaan VOC Belanda.

Sementara itu, sistem pemerintahan Gowa pernah mengalami transisi, yaitu terjadi pada masa Sultan Gowa ke-36 yang bernama Andi Idjo Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidudin.

Beliau menyatakan bahwa Kesultanan Gowa bergabung dan menjadi bagian dari Republik Indonesia yang telah menyatakan kemerdekaannya. Sejak saat itu, Kesultanan Gowa pun berubah statusnya dari bentuk kerajaan menjadi Daerah Tingkat II Kabupaten Gowa.

Dengan perubahan transisi ini maka Andi Idjo tercatat dalam sejarah sebagai Sultan Gowa terakhir serta sekaligus menjadi Bupati Kabupaten Gowa pertama.

5. Kerajaan Pagaruyung

Kerajaan Islam Tertua di Indonesia
Sumber Gambar: www.minews.id

Sebenarnya tidak banyak yang mengetahui terkait sejarah dari Kerajaan Pagaruyung. Namun terdapat beberapa bukti yang mengerucut pernah berdirinya kerajaan ini, yaitu ditemukannya Prasasti Amoghapasa.

Beberapa sejarawan mengemukakan bahwa Kerajaan Pagaruyung berkuasa pada tahun 1347-1825 Masehi. Kerajaan ini pada masa awal berdirinya adalah bercorak Hindu namun beralih menjadi Islam.

Sementara itu, raja pertama dari kerajaan ini adalah Sultan Alif. Selain prasasti, beberapa peninggalan lainnya dari Kerajaan Pagaruyung adalah ditemukannya makam raja-raja yang terdapat di Ustano Raja Alam serta ditemukan juga Batu Kasur.

Batu Kasur ini dahulu digunakan sebagai tempat ujian para calon raja dari Kerajaan Pagaruyung.

6. Kerajaan Malaka

Kerajaan Islam Tertua di Indonesia
Sumber Gambar: 4.bp.blogspot.com

Pada tahun 1405-1511 Masehi, Kerajaan Malaka berdiri di wilayah tepian Selat Malaka yang mana selat ini sangat ramai didatangi oleh para pedagang dari berbagai negara.

Parameswara merupakan pendiri dari kerajaan ini dimana awalnya memeluk agama Hindu yang kemudian berganti memeluk Islam. Setelah memeluk agama Islam, beliau mengganti nama menjadi Sultan Iskandar Syah.

Saat itu, Sultan Iskandar Syah menjalin hubungan baik dengan China sehingga diantara keduanya saling bekerjasama di beberapa bidang.

Selat Malaka merupakan gerbang penyebaran agama Islam dari Aceh dan wilayah Sumatra lainnya sekaligus menjadikan selat ini sebagai lokasi penting masuknya Portugis.

Meskipun sudah lama runtuh, namun saat ini kita masih dapat menjumpai peninggalan-peninggalan dari kerajaan ini seperti Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Agung Deli dan Johor Baru.

7. Kerajaan Cirebon

Kerajaan Islam Tertua di Indonesia
Sumber Gambar: sky-adventure.com

Banyak yang beranggapan bahwa kerajaan Islam di Jawa yang pertama dan tertua adalah Kerajaan Demak. Anggapan itu sebenarnya masih dapat diperdebatkan karena sebelum Kesultanan Demak berdiri, ternyata terdapat kesultanan Islam lainnya yang lebih dulu berdiri, yaitu Kerajaan Cirebon.

Kerajaan Cirebon berdiri pada tahun 1430-1677 Masehi dan didirikan oleh Pangeran Walangsungsang. Beliau tidak lain adalah putra dari Prabu Siliwangi penguasa Padjadjaran.

Pada awalnya, Cirebon hanyalah suatu pedukuhan kecil namun atas pengaruh dari Sunan Gunung Jati, Cirebon menjadi kerajaan Islam yang besar dan terkenal.

Dalam sejarahnya, kerajaan ini akhirnya terpecah menjadi beberapa bagian yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan dan Keraton Gebang.

Peninggalan-peninggalan dari kerajaan ini adalah istana kerajaan, makam Sunan Gunung Jati, Patung Macan Putih dan Kereta Singa Barong Kasepuhan.

8. Kerajaan Demak

Kerajaan Islam Tertua di Indonesia
Sumber Gambar: 3.bp.blogspot.com

Awal mula berdirinya Kerajaan Demak dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya adalah melemahnya kekuasaan Majapahit sehingga Demak melepaskan diri serta mendirikan pemerintahan sendiri. Kesultanan Demak berdiri pada tahun 1475-1548 Masehi.

Pendiri sekaligus raja pertama dari Kesultanan Demak adalah Raden Patah. Kesultanan ini terletak di pesisir pantai utara Jawa yang mana wilayah ini menjadi lokasi yang strategis dan ramai didatangi pedagang dari berbagai negara.

Sepeninggal Raden Patah, Kesultanan Demak dipimpin oleh Pangeran Sabrang Lor dan dilanjutkan oleh Sultan Trenggono dimana beliau memiliki pengaruh besar menyebarnya Islam di Jawa.

Saat ini kita dapat menjumpai beberapa peninggalan-peninggalan dari Kerajaan Demak, diantaranya adalah Masjid Agung Demak yang meliputi pintu bersejarah yang disebut Pintu Bledek, tiang penyangga atau Soko Guru serta Dampar Kencana yang merupakan tempat khatib berkhutbah.

9. Kerajaan Aceh Darussalam

Kerajaan Islam Tertua di Indonesia
Sumber Gambar: www.artisanalbistro.com

Kerajaan Islam tertua dan terakhir yang akan kita bahas bersama adalah Kerajaan Aceh Darussalam. Seperti namanya, kerajaan ini terletak di Banda Aceh, tepatnya berdiri pada tahun 1496 Masehi.

Sultan pertama yang memerintah kerajaan ini adalah Sultan Ali Mughayat Syah. Di masa kejayaannya, kerajaan ini menunjukkan perlawanannya terhadap imperialisme Eropa. Selain itu, Kesultanan Aceh Darussalam juga terkenal sebagai penghasil lada terbesar di kala itu.

Itulah pembahasan mengenai 9 kerajaan Islam tertua yang pernah berjaya di Indonesia. Kerajaan-kerajaan tersebut merupakan salah satu faktor terbesar yang menjadikan mengapa Islam saat ini menjadi agama yang paling banyak dianut oleh bangsa Indonesia.

Kerajaan Islam di Jawa

Kerajaan Islam di Jawa

Kerajaan Islam di Jawa – Indonesia adalah negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia. Hal ini terjadi karena beberapa faktor dimana salah satunya adalah keberadaan kerajaan Islam di Sumatera yang menjadi titik awal agama Islam menyebar ke berbagai pelosok negeri.

Fakta sejarah keterlibatan kerajaan Islam di Indonesia ini memberikan peran yang cukup penting dalam penyebaran Islam di seluruh Indonesia.

Pada awalnya, kerajaan-kerajaan Islam hanya terdapat di Pulau Sumatra saja, namun seiring berjalannya waktu, Islam mulai masuk ke Pulau Jawa melalui berbagai cara serta didukung oleh faktor kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang sebelumnya menguasai Jawa dimana kekuasaannya mulai melemah.

Sejarah Kerajaan Islam di Pulau Jawa

Pengaruh kerajaan Islam di Jawa ini memiliki peranan yang sangat penting di dalam perkembangan agama yang saat ini menjadi agama paling banyak dianut oleh bangsa Indonesia.

Untuk menambah wawasan kita akan sejarah Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, dibawah ini adalah pembahasan singkat mengenai sejarah kerajaan Islam yang terdapat di Pulau Jawa.

Kerajaan Demak

Kerajaan Islam di Jawa
Sumber Gambar: 3.bp.blogspot.com

Kerajaan Demak atau lebih dikenal dengan Kesultanan Demak merupakan kerajaan Islam pertama dan terbesar di pantai utara Jawa. Menurut sejarah Jawa, Demak sebelumnya merupakan kadipaten dari kerajaan Majapahit.

Meski Demak masih di bawah kekuasaan Majapahit, namun kemudian muncul sebagai kekuatan baru yang mewarisi kebesaran kerajaan Majapahit.

Hal ini terjadi karena faktor melemahnya Kerajaan Majapahit sehingga memberikan peluang untuk tumbuh dan berkembangnya agama Islam.

Pada tahun 1470M, Wali Songo di bawah pimpinan Sunan Ampel bersepakat dan memilih Raden Patah sebagai raja pertama Kerajaan Demak.

Awalnya, area kerajaan ini bernama Bintoro, yaitu wilayah Kerajaan Majapahit yang diberikan kepada Raden Patah. Beberapa sejarawan berpendapat bahwa Raden Patah merupakan salah satu putra dari raja Majapahit dengan istrinya yang beragama Islam keturunan Campa.

Raden Patah berjasa sangat besar dalam penyebaran agama Islam dari Wali Songo di daerah kekuasaannya hingga nantinya menjadi pusat perkembangan Islam.

Beliau memerintah di Kerajaan Demak dari tahun 1478-1518M hingga tahta Kerajaan Demak selanjutnya digantikan oleh anaknya yang bernama Pangeran Sabrang Lor atau Pati Unus (Adipati Yunus).

Setelah menjadi raja, Pati Unus bersiasat untuk merencanakan penyerangan ke Malaka. Rencana penyerangan tersebut kian besar seiring dengan takluknya Malaka oleh tentara Portugis di tahun 1511M.

Namun pada pergantian tahun 1512M ke 1513M, pasukan Pati Unus mengalami kekalahan. Adipati Yunus menduduki tahta Kerajaan Demak hanya sekitar 3 tahun, tepatnya dimulai tahun 1518-1521M.

Sepeninggal Pati Unus, Kesultanan Demak dipimpin oleh Sultan Trenggono yang sebelumnya dilantik menjadi Raja Demak oleh Sunan Gunung Jati.

Nah, pada masa pemerintahan Kesultanan Demak yang ketiga ini Islam berkembang sangat pesat hingga ke seluruh tanah jawa bahkan sampai ke Kalimantan Selatan.

Tepatnya pada tahun 1527M, Sunda Kelapa berhasil ditaklukan berkat pasukan gabungan dari Demak dan Cirebon dimana yang memimpin saat itu adalah Fadhilah Khan.

Masih di tahun yang sama, Tuban dan Majapahit jatuh ditaklukkan oleh Kerajaan Demak.

Sementara itu, Madiun juga takluk oleh Demak di tahun 1529M, disusul Blora pada tahun 1539M, Surabaya di tahun 1531M, Pasuruan di taklukkan di tahun 1535M, Blitar, Lamongan dan Wirasaba sekitar tahun 1541-1542M serta Kediri pada tahun 1544M.

Selain di Jawa, wilayah luar Jawa juga mengakui Kesultanan Demak, yaitu Palembang dan Banjarmasin.

Pada masa Sultan Trenggono, Islam berkembang hingga ke Kalimantan Selatan. Tepat di tahun 1546M, Sultan Trenggono menyebrangi lautan untuk menuju ke Kalimantan Selatan dengan tujuan untuk menyerbu Blambangan.

Namun naas, pada penyerbuan tersebut, Sultan Trenggono tewas terbunuh hingga kemudian pucuk kepemimpinan Kerajaan Demak digantikan oleh adiknya yang bernama Sultan Prawoto.

Sultan Prawoto menjadi Raja Demak tidak berlangsung lama, hal ini karena terjadi pemberontakan oleh para adipati-adipati yang menjabat di sekitar Kesultanan Demak.

Pemberontakan ini mengakibatkan tewasnya Sultan Prawoto yang dibunuh oleh Aria Penangsang yang berasal dari Jipang dimana kejadian ini terjadi pada tahun 1549M.

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kemunduran Kerajaan Demak, salah satunya adalah dipicu oleh perang saudara yang terjadi antara Pangeran Surowiyoto dan Trenggana yang mengakibatkan saling bunuh antar saudara untuk saling memperebutkan tahta tertinggi Kerajaan Demak.

Tepatnya pada tahun 1554, Kerajaan Demak mengalami keruntuhan akibat pemberontakan yang dipimpin oleh Hadiwijaya (Jaka Tingkir) hingga pada akhirnya Hadiwijaya mengalihkan pusat kekuasaan Kerajaan Demak ke daerah Pajang sehingga berdirilah Kerajaan Pajang.

Baca Juga: Sejarah Islam di Indonesia

Kerajaan Pajang

Kerajaan Islam di Jawa
Sumber Gambar: www.arcgis.com

Kerajaan ini berdiri sebagai kelanjutan dari Kerajaan Demak setelah runtuh. Kesultanan Pajang didirikan oleh Sultan Hadiwijaya atau lebih dikenal dengan nama Jaka Tingkir yang berasal dari Pengging di lereng Gunung Merapi.

Jaka Tingkir adalah menantu Sultan Trenggono yang sebelumnya diberi kekuasaan di daerah Pajang.

Setelah membunuh dan merebut tahta kerajaan Demak dari Aria Penangsang, seluruh kekuasaan dan benda pusaka dipindahkan ke Pajang. Jaka Tingkir memperoleh gelar Sultan Hadiwijaya sekaligus didaulat menjadi raja pertama Kerajaan Pajang.

Agama Islam yang awalnya berpusat di Demak, akibat runtuhnya Kerajaan Demak maka otomatis dipindahkan ke pedalaman sehingga membawa pengaruh yang cukup besar dalam penyebarannya, seperti pada bidang politik yang juga mengalami perkembangan.

Pada masa Jaka Tingkir, ia memperluas wilayah kekuasaannya ke arah timur hingga sampai ke daerah Madiun tepatnya di area pedalaman tepi aliran sungai Bengawan Solo.

Sekitar tahun 1554, Jaka Tingkir akhirnya mampu menduduki Blora disusul Kediri di tahun 1577 M.

Karena memiliki hubungan kekerabatan/sahabat antara Kerajaan Pajang dengan kerajaan-kerajaan di Jawa Timur, maka pada tahun 1577 M, Jaka Tingkir mendapatkan pengakuan sebagai sultan Islam oleh para raja yang kala itu menguasai daerah Jawa Timur.

Kerajaan Cirebon

Kerajaan Islam di Jawa
Sumber Gambar: www.goodnewsfromindonesia.id

Kerajaan Cirebon atau dikenal juga dengan nama Kesultanan Cirebon merupakan kesultanan Islam yang cukup besar yang terletak di provinsi Jawa Barat, tepatnya pada abad 15-16 Masehi.

Kesultanan yang satu ini didirikan pada tahun 1430 dimana sultan pertamanya adalah Pangeran Walangsungsang yang menjabat dari tahun 1430-1479 M.

Setelah itu, tepatnya pada tahun 1479, Sultan Cirebon I menyerahkan jabatan kekuasaannya kepada Sunan Gunung Jati dimana beliau adalah keponakan dari Pangeran Walangsungsang sehingga Sunan Gunung Jati didaulat menjadi Sultan Cirebon II.

Penerus tahta Kesultanan Cirebon selanjutnya dipegang oleh Sultan Abdul Karim. Sultan Abdul Karim merupakan Raja terakhir di Kesultanan Cirebon sebelum kesultanan ini terbagi menjadi dua bagian yaitu Kesultanan Kasepuhan dan Kesultanan Kanoman.

Kesultanan Banten

Bergeser ke provinsi paling barat di pulau Jawa, yaitu provinsi Banten. Dahulu, di provinsi ini berdiri sebuah kerajaan Islam yang sangat terkenal, yaitu Kerajaan Islam Banten atau Kesultanan Banten yang berdiri pada tahun 1526.

Adapun sultan pertama yang memimpin Kerajaan Banten adalah Sultan Maulana Hasanuddin. Setelah kewafatan Sultan Banten yang pertama, pucuk kepemimpinannya diteruskan oleh putranya yaitu Pangeran Yusuf.

Sementara itu, kemunduran Kesultanan Banten terjadi di masa kepemimpinan Sultan Abdul Muffakir.

Sedangkan sultan terakhir yang menduduki tahta tertinggi di kerajaan ini sebelum akhirnya dibubarkan oleh kolonial Inggris adalah Sultan Maulana Muhammad Syafiudin.

Namun dari beberapa raja yang pernah memimpin Kesultanan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa merupakan raja yang paling terkenal diantara raja-raja lainnya. Hal ini karena pada masa kepemimpinannya, Kesultanan Banten berada dalam masa kejayaan.

Akhir dari Kesultanan Banten ini terjadi karena beberapa faktor dimana salah satunya adalah terjadinya perang saudara yang terjadi yang mana Sultan Haji (anak dari Sultan Ageng Tirtayasa) berusaha ingin mendapatkan kekuasaan dari tangan ayahnya.

Akibat kejadian ini, akhirnya Kesultanan Banten dibubarkan oleh pemerintah Inggris yang kala itu berkuasa di Indonesia. Kejadian ini terjadi pada tahun 1813 M.

Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan Islam di Jawa
Sumber Gambar: www.yuksinau.id

Kesultanan Mataram Islam merupakan sebuah kerajaan Islam yang ada dan pernah berdiri di Pulau Jawa, tepatnya pada abad ke-16. Pusat pemerintahannya terletak di Kotagede Yogyakarta.

Mataram Islam dipimpin oleh dinasti yang mengaku sebagai keturunan Majapahit, yaitu dari keturunan Ki Ageng Sela dan juga Ki Ageng Pemanahan.

Kesultanan Mataram Islam awalnya dari Kadipaten yang masih berada di bawah kekuasaan Kesultanan Pajang dan berpusat di Bumi Metaok yang kemudian diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan sebagai hadiah atas jasanya.

Raja pertama kerajaan ini adalah Sutawijaya (Panembahan Senapati) yang mana beliau adalah putra dari Ki Ageng Pemanahan. Dibawah pemerintahannya, kerajaan ini pada akhirnya menjadi kerajaan independen.

Masa kejayaan kerajaan ini terjadi pada masa pemerintahan Mas Rangsang atau lebih dikenal dengan Sultan Agung (1613-1645M).

Mas Rangsang berhasil melakukan ekspansi serta menguasai hampir seluruh wilayah di tanah Jawa. Bukan hanya itu, beliau juga melakukan perlawanan terhadap VOC dengan cara menjalin kerjasama dengan Kesultanan Banten dan Cirebon.

Dalam bahasa Jawa, Nagari Kesultanan Mataram menerapkan kerajaan yang berbasis pada pertanian berdasarkan ajaran Islam. Beberapa peninggalan dari kerajaan ini adalah kampung Matraman di Jakarta, penggunaan hanacaraka, sistem persawahan di Pantura Jawa Barat dan lainnya.

Sebelum runtuh, kerajaan ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat

Kerajaan Islam di Jawa
Sumber Gambar: jaringtourtravel.files.wordpress.com

Kesultanan Yogyakarta adalah lanjutan dari Kerajaan Mataram Islam yang terbelah menjadi dua, yakni Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Terbelahnya kerajaan Mataran Islam disinyalir berasal dari konflik perebutan kekuasaan dari dalam dan luar keraton sehingga meruntuhkan Kerajaan Mataram.

Situasi ini dimanfaatkan oleh VOC untuk memperkeruh keadaan dengan cara memecah belah kerajaan hingga mengeluarkan Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755.

Perjanjian ini memutuskan untuk membagi kekuasaan Kerajaan Mataram Islam menjadi dua bagian, yaotu Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Dalam perjanjian ini juga menetapkan Pangeran Mangkubumi sebagai Sultan Pertama di Kesultanan Yogyakarta dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) I.

Selang waktu sekitar satu bulan setelah Perjanjian Giyanti, Sri Sultan HB I yang mana saat itu tinggal di Pesanggrahan Ambar Ketawang akhirnya mendirikan sebuah keraton yang terletak di pusat Kota Yogyakarata. Lokasi ini saat ini menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Yogyakarta.

Sementara itu, pemerintah Hindia Belanda mengakui Kesultanan Yogyakarta sebagai sebuah kerajaan dengan hak mengatur rumah tangga sendiri. Semua itu dituliskan di dalam kontrak politik yang tercantum dalam Staatsblad 1941, No. 47.

Lantas apa yang dimaksud dengan Perjanjian Giyanti?

Perjanjian Giyanti adalah sebuah perjanjian atau kesepakatan yang dilakukan antara pihak Belanda, pihak Kerajaan Mataram Islam yang diwakili oleh Sunan Pakubuwono III serta kelompok Pangeran Mangkubumi. Namun pada perjanjian ini, Pangeran Sambernyawa tidak dilibatkan.

Di dalam perjanjian ini, Pangeran Mangkubumi pada akhirnya malah memutar haluan menyebrang dari mendukung kelompok pemberontak serta bergabung dengan kelompok pemegang legitimasi kekuasaan yang memerangi pemberontak, beliau adalah Pangeran Sambernyawa.

Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Kerajaan Islam di Jawa
Sumber Gambar: koperbunda.com

Perjanjian Giyanti

Keberadaan Kasunanan Surakarta tidak lepas dari sejarah Perjanjian Giyanti yang mana perjanjian tersebut terjadi antara Sunan Pakubuwana III dan Pangeran Mangkubumi yang bersengketa di Kesultanan Mataram Islam.

Hingga pada akhirnya kedua belah pihak kemudian membuat perjanjian dengan Pemerintah Hindia Belanda (VOC). Inti dari perjanjian ini adalah Kesultanan Mataram Islam dibagi menjadi dua, yaitu Yogyakarta dan Surakarta.

Meskipun demikian, Keraton Surakarta tidak dianggap sebagai pengganti dari Kesultanan Mataram Islam meski rajanya masih memiliki darah keturunan dengan Kerajaan Mataram Islam.

Sampai pada akhirnya Keraton Surakarta menjadi sebuah kerajaan sendiri dimana setiap raja dari Kasunanan Surakarta mendapat gelar Sunan.

Tanggal 13 Februari 1755, VOC mengalami kebangkrutan sehingga pada saat itu VOC membujuk Pangeran Mangkubumi untuk bersatu dengan VOC guna melawan pemberontakan yang dilakukan oleh Raden Mas Said.

Raden Mas Said merupakan seorang tokoh yang di kemudian hari disebut dengan Kanjeng Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara I meskipun sebelumnya Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said bersekutu.

Tepat di tanggal 17 Maret 1757, terjadilah perjanjian Salatiga yang mana salah satu pokok dari intinya adalah Kasunanan Surakarta menjadi semakin kecil. Penyebabnya adalah karena Raden Mas Said menang dan diakui sebagai pangeran.

Akibat dari kemenangan itu, ia mendapatkan wilayah di tepi Sungai Pepe yang mana tempat ini menjadi tempat Pura Mangkunegaran berada.

Sejarah Singkat Keraton Surakarta

Pakubuwana IV

Pakubuwana IV adalah seorang raja yang sangat membenci penjajahan. Beliau juga merupakan seorang raja yang memiliki tujuan cita-cita yang tinggi dan keberanian penuh.

Di tahun 1790, terjadilah pengepungan terhadap Keraton Surakarta Solo yang dilakukan oleh para pejabat Negara, VOC, Mangubuwana I dan Hamengkubuwana I.

Kejadian ini dikenal dengan peristiwa Pakepung. Salah satu alasan pengepungannya adalah karena Pakubuwana IV mengusir para pejabat Negara yang tidak sepaham dengannya.

Setelah kejadian itu, Pakubuwana IV akhirnya mengakui kekalahan dan menyetujui untuk dibuang oleh VOC.

Hasil dari kejadian itu, selanjutnya mereka mengadakan perundingan yang mana perundingan tersebut berisi bahwa Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta dan Praja Mangkunegara memiliki kedudukan sama sehingga dilarang saling menyerang antara satu dengan yang lainnya.

Pakubuwana V

Pemegang tahta tertinggi Kasunanan Surakarta selanjutnya adalah Pakubuwana V yang mana beliau mendapat julukan Sunan Ngabehi karena kekayaannya. Dalam hal ini kekayaan yang dimiliki bukan hanya kekayaan harta namun juga kekayaan kesaktian.

Pakubuwana VI

Sepeninggal Pakubuwana V adalah Pakubuwana VI, beliau adalah salah satu pendukung dari Pangeran Diponegoro untuk melawan VOC.

Pakubuwana VII

Saat di bawah pemerintahan Pakubuwana VII, peperangan Diponegoro telah usai yang menyebabkan Keraton Surakarta dalam keadaan damai.

Pada masa ini juga menjadi awal tumbuh dan berkembangnya sastra secara besar-besaran. Para sejarawan menyebut, masa Pakubuwana VII merupakan masa kejayaan sastra di Kasunanan Surakarta.

Pakubuwana VIII dan IX

Era pemerintahan Pakubuwana VIII terbilang cukup singkat, yaitu hanya sekitar 3 tahun setelahnya beliau wafat. Pucuk kekuasaan setelahnya dilanjutkan oleh putra Pakubuwana VI yang bergelar Sri Susushan Pakubuwana IX.

Pakubuwana X

Masa pemerintahan Pakubuwana X, suasana politik di keraton ini sangat stabil sehingga disebut-sebut menjadi masa kejayaan dari pemerintahan Pakubuwana X.

Bukan hanya itu, pada masa ini juga terjadi sebuah transisi, yaitu perubahan dari Kerajaan era tradisional menuju era modern.

Banyak pembangunan infrastruktur pada era ini seperti dibangunnya Stasiun Solo Jebres dan juga Satwa Taru Jurug atau lebih dikenal dengan nama Kebun Binatang Jurug.

Beberapa pembangunan lainnya adalah Pasar Gedhe, Jembatan Jurug dan lain sebagainya.

Akan tetapi pada tanggal 1 Februari 1939, Pakubuwana X tutup usia. Karena pengaruhnya yang sangat besar, oleh rakyatnya, beliau dijuluki sebagai Sunan Panutup atau Raja Besar Surakarta yang terakhir.

Pakubuwana XI

Setelah Pakubuwana X wafat, pemerintahan selanjutnya dilanjutkan oleh Pakubuwana XI yang mana pada masa ini merupakan masa-masa sulit karena pada saat itu bertepatan dengan terjadinya perang dunia kedua.

Bukan hanya itu, pada tahun 1942, Indonesia juga mengalami pergantian penjajahan dari Belanda berganti ke negara Jepang.

Pakubuwana XII

Pemerintahan Pakubuwana XII terjadi dengan momen lahirnya NKRI. Kemudian pada tahun 1945-1947, Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegara patuh dan tunduk pada Pemerintahan Indonesia sehingga statusnya berubah menjadi Daerah Istimewa sama seperti halnya Yogyakarta.

Demikianlah pembahasan mengenai sejarah kerajaan Islam di Jawa. Semoga dapat menjadi rujukan serta dapat menjadi wawasan bagi kamu yang saat ini sedang membutuhkan referensi mengenai sejarah kerajaan Islam di Pulau Jawa.

Kerajaan Islam di Sumatera

Kerajaan Islam di Sumatera

Kerajaan Islam di Sumatera – Jauh sebelum Indonesia merdeka, berdirilah kerajaan-kerajaan yang tersebar di berbagai daerah di Nusantara. Kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara ini ada yang bercorak Hindu, Hindu-Buddha, Budha dan Islam.

Sejarah Islam di Indonesia salah satunya berawal dari saudagar-saudagar muslim yang umumnya berasal dari Timur Tengah dimana pada awalnya mereka datang ke Nusantara untuk berdagang.

Namun seiring berjalannya waktu, saudagar-saudagar muslim ini selain berdagang, mereka juga menyebarkan ajaran yang mereka anut hingga banyak masyarakat yang kala itu tidak mengenal Islam pada akhirnya tertarik untuk belajar tentang ajaran yang dibawa dan dianut oleh mereka.

Sejarah 4 Kerajaan Islam di Sumatera

Dari sekian banyak saudagar muslim yang menetap di Nusantara, beberapa diantaranya ada yang menikah dengan orang pribumi dan putri keturunan raja di wilayah mereka tinggal.

Berawal dari situ, berdirilah beberapa kerajaan-kerajaan Islam yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, seperti misalnya di Pulau Sumatera.

Beberapa kerajaan yang akan kami bahas disini merupakan kerajaan-kerajaan Islam yang pernah berjaya di Indonesia, tepatnya yang berada di Sumatera.

Kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera yang dimaksud adalah Kerajaan Perlak, Kerajaan Samudera Pasai, Kerajaan Malaka dan Kerajaan Aceh Darussalam.

1. Kerajaan Perlak

Kerajaan Islam di Sumatera
Sumber Gambar: i.ytimg.com

Perlak merupakan sebuah wilayah yang berada di Aceh Timur dimana wilayah ini dahulu banyak ditumbuhi oleh kayu perlak. Kayu perlak merupakan jenis kayu yang sangat bagus untuk pembuatan kapal.

Dengan adanya kayu tersebut menjadikan wilayah ini banyak dikunjungi oleh orang luar yang berniat untuk membelinya. Sebagai salah satu pelabuhan yang maju pada abad ke-8 masehi, Perlak menjadi tempat singgah untuk kapal-kapal dari Arab dan Persia.

Seiring berjalannya waktu, maka terbentuk dan berkembanglah masyarakat Islam yang diawali dan didominasi oleh perkawinan antar saudara muslim dan perempuan pribumi.

Sejarah Singkat Berdirinya Kerajaan Perlak

Perkawinan ini melahirkan keturunan-keturunan muslim dari percampuran antara darah Arab, Persia, dengan para putri-putri yang berasal dari Perlak.

Kerajaan Perlak berdiri pada hari Selasa, 1 Muharram 225 H/840 M, dimana yang menjadi raja pertamanya adalah Sultan Marhum ‘Alauudin Sayyid Maulana ‘Abdul ‘Aziz Syah Zhillullah fil ‘Alam.

Pada saat itu, ibukota daripada kerajaan ini langsung berubah dari Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah. Salah satu alasan mengapa diganti adalah untuk mengenang jasa nahkoda khalifah yang kala itu sudah membudayakan Islam terhadap masyarakat Asia Tenggara yang dimulai dari Perlak.

Sultan-Sultan Kerajaan Perlak

Sementara itu, terdapat 3 sultan yang pernah memimpin Kerajaan Perlak, yaitu:

  1. Sultan Marhum ‘Alauudin Sayyid Maulana ‘Abdul ‘Aziz Syah Zhillullah fil ‘Alam (225-249 H/840-864 M).
  2. Sultan ‘Alauddin Sayyid Maulana ‘Abdurrahim Syah Zhillullah fil ‘Alam (249-285 H/864-888 M).
  3. Sultan Marhum ‘Alauddin Sayyid Maulana ‘Abbas Syah Zhillullah fil ‘Alam (285-300 H/888-913 M).

Adapun masa pemerintahan ketiga sultan diatas disebut pemerintahan Dinasti Sayyid Maulana ‘Abdul ‘Aziz Syah, dimana pada masa pemerintahannya (aliran Syi’ah), aliran ahlus Sunnah wal Jamaah mulai berkembang di tengah-tengah masyarakat dan hal ini tidak disukai oleh Syi’ah.

Hingga pada akhir pemerintahan sultan ke-3 terjadilah perang saudara antara kedua golongan tersebut yang mengakibatkan kematian sultan sampai pada akhirnya selama 2 tahun Kerajaan Perlak tidak memiliki sultan.

Pada tahun 302-305 H/915-918 M, Sayyid ‘Ali Mughayat Syah Zhillullah fil ‘Alam diangkat menjadi sultan. Sekitar 3 tahun, tepatnya di akhir masa pemerintahannya, terjadi kembali perselisihan antara dua golongan hingga mengakibatkan peperangan.

Peperangan ini pada akhirnya dimenangkan oleh pihak ahlus Sunnah wal Jama’ah sehingga sultan selanjutnya yang diangkat untuk memerintah Perlak diambil dari golongan itu yaitu berasal dari keturunan Meurah Perlak asli (syahir Nuwi).

Adapun sultan selanjutnya yang memerintah di Kerajaan Perlak adalah:

  • Sultan Marhum ‘Alauddin ‘ Malik Abdul Qadir Syah Johan Berdaulat (306-310 H/928-932 M).
  • Sultan Marhum ‘Alauddin ‘ Malik Muhammad Amin Syah Johan Berdaulat (310-334 H/932-956 M).
  • Sultan Marhum ‘Alauddin ‘Abdul Malik Syah Johan Berdaulat (334-362 H/956-983 M).

Tepat di akhir pemerintahan Sultan Abdul Malik (sultan ke-3), terjadi kembali peperangan diantara kedua aliran. Peperangan ini terjadi dalam kurun waktu 4 tahun hingga pada akhirnya diakhiri dengan perdamaian yaitu dengan membagi wilayah kerajaan menjadi 2 bagian.

Pembagian 2 wilayah ini diberi nama Perlak pedalaman untuk golongan ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Perlak pesisir untuk golongan Syi’ah.

Sementara itu, Sultan Marhum ‘Alauddin ‘Abdul Malik Syah Johan Berdaulat (662-692 H/1263-1292 M) adalah raja/sultan terakhir dari Kerajaan Perlak.

Setelah sultan wafat, Kerajaan Perlak kemudian disatukan dengan Kerajaan Samudera Pasai tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik Al-Zahir putera Al Malik Al-Saleh.

2. Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Islam di Sumatera
Sumber Gambar: www.artisanalbistro.com

Terdapat 2 sumber yang menjelaskan mengenai Kerajaan Samudera Pasai, berikut akan kami jelaskan dengan singkat dan jelas.

Sumber ke-1

Sumber yang pertama mengatakan bahwa Kerajaan Samudera Pasai berdiri pada tahun 433 H/1024 M, dimana pendirinya adalah Meurah Khair yang sebelumnya telah menjadi seorang raja dengan gelar Maharaja Mahmud Syah. Maharaja Mahmud Syah memerintah sampai tahun 470 H/1078 M.

Sepeninggal beliau, pemerintahannya dilanjutkan oleh:

  • Maharaja Mansur Syah, yang berkuasa pada tahun 470-527 H/1078-1133 M.
  • Maharaja Ghiyasyuddin Syah. Beliau merupakan cucu dari Meurah Khair.  memerintah pada tahun 527-550 H/1133-1155 M.
  • Maharaja Nuruddin atau Meurah Noe atau Tengku Samudra atau lebih dikenal dengan nama Sultan Al-Kamil, memerintah pada tahun 550-607 H/1155-1210 M.

Sultan Al-Kamil merupakan sultan terakhir dari keturunan Meurah Khair karena setelah kewafatannya, kerajaan Islam di Sumatera menjadi rebutan para pembesar, hal ini karena tidak lagi mempunyai keturunan.

Dalam kurun waktu 50 tahun, Samudera Pasai berada dalam konflik hingga pada akhirnya Meurah Silu mengambil kekuasaan di kerajaan tersebut.

Dasar rujukan berasal dari dinastinya yang sudah memerintah Kerajaan perlak lebih dari 200 tahun hingga kemudian disatukan dengan Kerajaan Samudera Pasai di masa Sultan Muhammad Al-Zahir (1289-1326 M).

Sumber ke-2

Berbeda dengan sumber pertama, sumber kedua berasal dari berita dari Cina dan catatan Ibnu Batuttah yaitu seorang pengembara dari Maroko yang menyebutkan bawa Kerajaan Samudera Pasai berdiri pada tahun 1282 M dimana pendirinya adalah Al-Malik Al-Saleh.

Pada saat itu beliau mengirim utusan ke Quilon yang terletak di pantai barat India. Disana beliau bertemu dengan para duta dari Cina. Diantara beberapa duta ini, terdapat beberapa duta yang dikirim yaitu Husein dan Sulaiman (nama-nama muslim).

Selain itu, pada saat Marcopolo mengunjungi Sumatra, tepatnya di tahun 1346 M, menyebutkan bahwa di tempat yang ia kunjungi, Islam sudah sekitar 1 abad disiarkan dengan mazhab yang diikuti adalah mazhab Syafi’i.

Waktu itu, Samudera Pasai menjadi pusat belajar agama Islam dan dijadikan sebagai tempat berkumpulnya para ulama dari berbagai negeri untuk membicarakan masalah keagamaan dan masalah keduniaan.

Kala itu, Ibnu Battutah mengatakan bahwa kerajaan Samudera Pasai juga memiliki peran yang cukup penting dalam meng-islam-kan Jawa dan Malaka.

Sultan Al-Malik Al-Zahir adalah seorang pecinta teologi serta senantiasa memerangi orang kafir dan menjadikannya untuk memeluk agama Islam.

Basis perekonomian Kerajaan Samudera Pasai ini lebih tertuju ke pelayaran dan perdagangan sehingga terlihat sebagai kerajaan yang makmur.

Salah satu alasan disebut sebagai kerajaan yang makmur adalah karena dilihat dari segi geografis dan perekonomian pada waktu itu kerajaan ini merupakan daerah penghubung antara pusat perdagangan yang ada di salah satu kepulauan di Indonesia, India, Cina dan Arab.

Sumber kedua ini juga menyebutkan bahwa Kerajaan Samudera Pasai telah dikalahkan oleh Kerajaan Majapahit sehingga menjadi bagian dari kerajaan tersebut.

Namun sebelum tentara Majapahit pergi meninggalkan Samudera Pasai untuk kembali ke Jawa, para pembesar Majapahit akhirnya bersepakat untuk mengangkat salah seorang raja dari bangsawan Pasai yang dipilih dan dipercaya mampu memerintah kerajaan.

Adapun raja yang ditunjuk adalah Ratu Nurullah atau Malikah Nurullah binti Sultan Al-Malik Al-Zahir.

Sedangkan Ratu Nurullah mangkat pada tahun 1380 M, bertepatan dengan masa pemerintahan Kerajaan Majapahit pada kala itu dipimpin oleh Raja Hayam Wuruk.

Pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, Majapahit sedang dalam puncak kejayaannya, hal ini karena dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada.

Raja-Raja yang Memerintah Kerajaan Samudera Pasai

Beberapa raja pernah menduduki singgasana tertinggi di Kerajaan Samudera Pasai, diantaranya adalah:

  1. Sultan Al-Malik Al-Saleh. Beliau di daulat sebagai raja pertama Kerajaan Samudera Pasai yang memerintah pada tahun 1297 M.
  2. Muhammad Malik Al-Zahir, menjadi raja kedua Kerajaan Samudera Pasai, dimulai pada tahun 1297-1326 M.
  3. Muhammad Malik Al-Zahir II, menjadi raja ketiga dimulai pada tahun 1326-1345 M.
  4. Manshur Malik Al-Zahir, adalah seorang raja yang memerintah Kerajaan Samudera Pasai pada tahun 1345 M.
  5. Ahmad Malik Al-Zahir, Raja Kerajaan Samudera Pasai di tahun 1345-1383 M.
  6. Zainal Abidin Malik Al-Zahir, menjadi raja Kerajaan Samudera Pasai selanjutnya, tepatnya di tahun 1383-1405 M.
  7. Nahrasiyah di tahun 1405-?.
  8. Abu Zaid Malik Al-Zahir, menjadi raja Kerajaan Samudera Pasai dimulai pada tahun ?-1455 M.
  9. Mahmud Malik Al-Zahir, di daulat menjadi raja pada tahun 1455-1477 M.
  10. Zainal Abidin, menduduki singgasana raja Kerajaan Samudera Pasai dimulai pada tahun 1477-1500 M.
  11. Abdullah Malik Al-Zahir, raja Kerajaan Samudera Pasai dari tahun 1501-1513 M.
  12. Zainal Abidin, menjadi raja terakhir yang memerintah Kerajaan Samudera Pasai, tepatnya pada tahun 1513-1524 M.

Di masa raja terakhir, tepatnya pada tahun 1521 M, Samudera Pasai dikuasai Portugis selama 3 tahun. Pada tahun 1524 M, penguasaan Kerajaan Islam Samudera Pasai ini digantikan dengan Kerajaan Aceh Darussalam.

3. Kerajaan Malaka

Kerajaan Islam di Sumatera
Sumber Gambar: 4.bp.blogspot.com

Berdasarkan sejarah melayu, terdapat seseorang yang Parameswara. Parameswara adalah seorang keturunan dari Sang Nila Utama (anak Sang Sapurba) dari Kota Palembang yang kemudian dinikahkan dengan Sri Beni Putri.

Sri Beni merupakan permaisuri dari Iskandar Syah ratu Bintan yang sebelumnya hijrah ke Tumasik hingga diangkat  sebagai raja bergelar Tribuwana.

Di masa kekuasaan Parameswara ini, datanglah serangan dari Majapahit yang menjadikan rajanya tersudut dan akhirnya melarikan diri ke Semenanjung Melayu (Trengganu).

Beliau hidup disana sekaligus mendirikan sebuah kerajaan yang diberi nama Kerajaan Malaka. Sekitar tahun 1400 M dan sesudah masuk Islam, beliau memiliki gelar Megat Iskandar Syah, meninggal pada tahun 1424 M.

Sepeninggal beliau, digantikan oleh Sultan Muhammad Syah (1414-1444 M) dan digantikan kembali oleh Sultan Mahmud (1511 M), kemudian Malaka jatuh ke tangan Portugis.

Hingga akhirnya beliau mengungsi ke Pahang dan tinggal di Muara Pulau Bintan. Berawal dari sini beliau terus berusaha untuk melakukan serangan balik ke Malaka namun selalu gagal.

Tepatnya pada bulan Oktober 1512, terjadilah serangan terhadap Bintan oleh tentara Portugis yang dipimpin oleh Albuquerque. Namun pertahanan Bintan terlalu kuat sehingga mengakibatkan Albuquerque mengalami kekalahan.

Penyerangan dari Portugis selanjutnya terjadi pada tahun 1523 yang dipimpin oleh Henriquez dan di tahun 1524 dimana pemimpinnya adalah De Souza, dua penyerangan beruntun tersebut juga mengalami kekalahan.

Namun naas, pada tahun 1525 M, Bintan berhasil dikalahkan oleh Portugis setelah sebelumnya bersekutu dengan Lingga hingga pada akhirnya Sultan Mahmud mengungsi ke Johor.

Meskipun demikian, Sultan Mahmud selalu berusaha untuk dapat kembali merebut Malaka dari tangan Portugis, namun sampai ajal menjemput, usahanya tidak pernah berhasil.

Sampai pada akhirnya, karena usaha putranya, Kerajaan Melayu sukses dilanjutkan dan menjadikan Johor sebagai pusatnya. Berstatus sebagai Sultan Johor pertama, beliau menggunakan gelar Sultan Alaudin Riayat Syah II (1528-1564 M).

Akan tetapi pada masa pemerintahan Sultan Ibrahim (1677-1685 M), pusat kerajaan dipindahkan ke Bintan pada tahun 1678 M.

4. Kerajaan Aceh Darussalam

Kerajaan Islam di Sumatera
Sumber Gambar: upload.wikimedia.org

Tepat pada akhir abad ke-15, arus penjajahan barat ke timur terbilang sangat ramai, khususnya penjajahan barat, yaitu Kristen dari barat terhadap timur Islam.

Diantara bangsa Eropa Kristen yang saat itu sangat berambisi untuk menjajah bumi Nusantara adalah Portugis. Setelah mereka menguasai Goa di India, target selanjutnya adalah Malaka.

Hingga kemudian Malaka dikuasai oleh Portugis pada tahun 1511. Sesudah Malaka jatuh, kemudian Portugis mengatur rencana tahap demi tahap.

Beberapa langkah/cara yang diambil adalah dengan mengirim kaki tangannya ke daerah pesisir utara Sumatra dengan maksud untuk memicu kekacauan dan juga perpecahan sehingga diharapkan dapat memicu perang saudara.

Langkah kedua adalah Portugis bersiasat untuk langsung melakukan penyerangan dan seterusnya menetap serta memaksa raja yang sudah menyerah untuk menandatangani kontrak pemberian hak monopoli dagang.

Sejarah Kerajaan Aceh Darussalam

Sampai pada akhirnya Portugis berhasil memaksa raja-raja dari Kerajaan Islam Jaya, Samudera Pasai dan Islam Pidie untuk menandatangani persetujuannya. Hal itu terjadi menjelang akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16.

Berawal dari situ, muncullah seorang tokoh yang berusaha untuk mempersatukan 6 kerajaan Islam seperti Perlak, Samudera Pasai, Pidie, Indra Purba, Tamiang dan Indra Jaya.

Bertepatan pada tahun 1514, Ali Mughayat Syah dilantik sebagai Sultan (1514-1530 M) dengan nama kerajaannya yaitu Kerajaan Aceh Darussalam.

Wilayah kerajaan ini meliputi Aru sampai Pacu di pantai utara dan Jaya sampai ke Barus di pantai barat dengan ibu kotanya adalah Banda Aceh Darussalam.

Beliau selalu menetapkan satu tekad yang kuat untuk mengusir penjajah Portugis dari Sumatra Utara hingga terjadilah beberapa pertempuran dengan tentara Portugis. Pertempuran-pertempuran ini terjadi pada tahun 1521, 1526, 1528 dan 1542 M.

Akhirnya tentara Portugis berhasil ditaklukkan melalui beberapa pertempuran di berbagai daerah. Sultan Ali Mughayat pada akhirnya meninggal pada hari Selasa, bertepatan dengan tanggal 12 Dzulhijjah 936 H/7 Agustus 1530 M.

Setelah membangun pondasi yang cukup kuat untuk kerajaan Aceh Darussalam, beliau juga menciptakan bendera kerajaan yang diberi nama Alam Zulfiqaar (bendera cap pedang) berwarna merah darah dengan pedang berwarna putih.

Kerajaan Aceh Darussalam mengalami masa puncak pada kepemimpinan Sultan Ali Mughayat Syah, Sultan Alaiddin Riayat Syah II, Sultan Iskandar Muda Darmawangsa Perkasa Alam Syah dan Sultan Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan.

Terhitung setelah sepeninggalan raja-raja tersebut, kerajaan ini mengalami masa suram yang terjadi secara terus menerus. Sementara itu, kerajaan ini menjadikan Islam sebagai landasan dasar negara.

Tercatat, terdapat sekitar 31 raja yang pernah memerintah dimana raja terakhirnya adalah Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah (1870-1904 M).

Nah, itulah pembahasan mengenai sejarah kerajaan Islam di Sumatera. Sebagai bangsa Indonesia, terutama kita yang beragama Islam, maka dengan mengetahui sejarah Islam di masa lampau merupakan suatu hal yang wajib untuk diketahui.

Karena bagaimanapun juga, Islam tidak akan berkembang sampai hari ini jika tanpa adanya kerajaan-kerajaan Islam baik itu kerajaan Islam di Sumatera atau di daerah lain di Indonesia.