Sejarah Kerajaan Kalingga

Sejarah Kerajaan Kalingga

Sejarah Kerajaan Kalingga – Kerajaan Kalingga atau Ho Ling, merupakan sebuah kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang terdapat di Jawa. Berdasarkan sejarah, kerajaan ini berdiri sejak abad ke-6 Masehi.

Sama seperti sejarah Kerajaan Pajang, letak wilayah kekuasaan kerajaan Kalingga juga berada di Provinsi Jawa Tengah, tepatnya di antara Jepara dan Pekalongan.

Para sejarawan menyebut bahwa Kerajaan Kalingga merupakan cikal bakal dari Kerajaan Mataram Kuno dan Sriwijaya yang mana kerajaan ini bertahan sampai abad ke-7 Masehi sebelum pada akhirnya berakhir dengan terpecahnya menjadi dua bagian.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Kalingga

Adapun terdapat beberapa sumber sejarah yang menjelaskan mengenai Kerajaan Kalingga, salah satu sumber sejarah utama dari Kerajaan Kalingga adalah berasal dari berita Cina Dinasti Tong.

Selain itu, ditemukannya Prasasti Tuk Mas di lereng Gunung Merbabu juga sedikit menjelaskan mengenai kerajaan ini.

Untuk lebih jelasnya, mari kita bahas bersama-sama tentang sejarah Kerajaan Kalingga mulai dari letak dan wilayah kekuasaannya hingga ke berita Cina yang menjelaskan tentang kerajaan ini.

Letak dan Wilayah Kekuasaan

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa kerajaan ini terletak di Jawa Tengah. Meski belum ada bukti kuat mengenai dimana letak pastinya, namun Kerajaan Kalingga diperkirakan berada di antara Pekalongan dan Jepara atau di pantai utara Jawa.

Sementara itu, Kerajaan Kalingga didirikan oleh Prabu Washumurti dimana waktu berdirinya ini hampir bersamaan dengan raja ke-8 Kerajaan Tarumanegara.

Raja-Raja yang Pernah Memerintah di Kerajaan Kalingga

Beberapa raja-raja yang pernah menduduki tahta tertinggi di Kerajaan Kalingga adalah:

  • Prabu Washumurti (594-605)

Raja pertama sekaligus pendiri dari kerajaan ini adalah Prabu Washumurti yang memerintah dalam kurun waktu sekitar 11 tahun.

  • Prabu Washugeni (605-632)

Pemegang pemerintahan Kerajaan Kalingga selanjutnya adalah Prabu Washugeni yang mana ia adalah salah satu putra dari Prabu Washumurti.

Prabu Washugeni memiliki dua orang anak, yaitu Wasudewa (Kirathasingha) dan putri Wasumurti (Ratu Shima).

  • Prabu Kirathasingha (632-648)

Prabu Wasudewa atau Kirtathasingha merupakan putra dari Prabu Washugeni. Wasudewa berkuasa selama 16 tahun hingga kemudian wafat pada tahun 648 Masehi.

Setelah wafat, Kerajaan Kalingga dipimpin oleh Kartikeyasingha dimana ia adalah menantu dari Washugeni atau suami dari Ratu Shima putri Washugeni.

  • Prabu Kartikeyashingha (648-674)

Meskipun Prabu Kartikeyashingha bukanlah keturunan asli dari Prabu Washumurti, namun Kartikeyashingha di daulat menjadi raja di Kerajaan Kalingga.

Hal ini karena Prabu Kartikeyasingha merupakan suami dari Ratu Shima sehingga ia memimpin Kalingga dengan didampingi oleh Ratu Shima. Prabu Kartikeyashingha berkuasa hingga akhir hayatnya, yaitu di tahun 674 Masehi.

  • Ratu Shima (674-695)

Ratu Shima merupakan pemimpin terakhir dari Kerajaan Kalingga sekaligus menjadi satu-satunya wanita yang pernah menduduki tahta tertinggi di kerajaan ini sebelum pada akhirnya runtuh.

Putri Wasumurti menjadi ratu di Kerajaan Kalingga menggantikan suaminya yang wafat. Banyak cerita-cerita yang muncul mengenai ketegasan dari Ratu Shima pada saat memimpin Kalingga.

Di antara ketegasannya yang paling terkenal adalah ketika Ratu Shima menghukum putra mahkotanya sendiri yang disebabkan ia mengambil barang yang bukan miliknya.

Pada masa kepemimpinan Ratu Shima, Kerajaan Kalingga dan Kerajaan Galuh memiliki hubungan yang kekerabatan yang cukup erat. Bahkan beberapa keturunan dari kedua kerajaan tersebut saling dinikahkan agar semakin mempererat tali persaudaraan di antara dua kerajaan tersebut.

Nah, salah satu diantaranya bahkan sampai membentuk Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra. Sebelum wafat pada tahun 695 Masehi, Ratu Shima membagi Kalingga menjadi dua bagian yaitu Kerajaan Keling (Bhumi Sambhara) dan Kerajaan Medang (Bhumi Mataram).

Baca Juga : Sejarah Kerajaan Samudera Pasai

Masa Kejayaan Kerajaan Kalingga

Adapun masa kejayaan dari Kerajaan Kalingga terjadi pada periode kepemimpinan Ratu Shima. Sifat jujur dan adil sangat dijunjung tinggi oleh sang ratu.

Bukan hanya itu, dalam penerapannya juga sangat tegas tanpa pandang bulu. Seperti misalnya pemerintah akan memotong tangan siapa saja bagi yang memang telah terbukti mencuri.

Bahkan Dinasti Ta-Shish pada tahun 674 Masehi tercatat pernah mengurungkan niatnya untuk menyerang Kerajaan Kalingga, penyebabnya adalah kerajaan ini dianggap masih terlalu kuat ketika dipimpin oleh Ratu Shima.

Pada masa pemerintahan Ratu Shima, Kerajaan Kalingga juga menjadi pemerintahan yang sangat menjunjung tinggi hukum.

Menurut catatan sejarah, pernah terjadi pelanggaran hukum yang dilakukan oleh salah satu anggota keluarga kerajaan, maka ia tetap diproses secara tegas dan adil sesuai dengan hukum yang berlaku.

Masa Keruntuhan Kerajaan Kalingga

Sepeninggal Ratu Shima, masa kejayaan kerajaan ini semakin hari semakin lemah bahkan berada dalam posisi di ambang kehancuran.

Salah satu faktor penyebab keruntuhan dari kerajaan ini adalah akibat serangan dari Kerajaan Sriwijaya. Saat itu, serangan dari Sriwijaya memaksa pemerintahan hingga rakyat Kalingga untuk mundur hingga ke pedalaman Pulau Jawa.

Peninggalan-Peninggalan Kerajaan Kalingga

Sejarah dari Kerajaan Kalingga dapat ditelusuri dari ditemukannya Candi Angin, Prasasti Tuk Mas dan juga berita Cina Dinasti Tang.

Meski kebanyakan peninggalan dari kerajaan ini tidak berisi informasi yang cukup jelas serta hanya berupa potongan-potongan informasi yang cukup sulit dirunut.

Seperti contohnya dari nama Kerajaan Kalingga yang berasal dari kata Kalinga. Kalinga merupakan sebuah kerajaan di India Selatan. Dengan adanya hal tersebut, bisa diperkirakan menjadi salah satu bukti bahwa Nusantara dan India telah menjalin hubungan diplomatik yang erat.

Namun ada juga sumber lain yang mengatakan bahwa Kerajaan Kalingga sejarahnya sama seperti Kerajaan Tarumanegara. Persamaannya adalah didirikan oleh pengungsi dari India yang kalah perang sehingga mencari perlindungan di Nusantara.

Adapun beberapa bukti peninggalan dari Kerajaan Kalingga adalah:

Prasasti Tuk Mas (Tukmas)

Sejarah Kerajaan Kalingga
Sumber Gambar: kebudayaan.kemdikbud.go.id

Prasasti Tukmas ditemukan di lereng bagian barat Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Prasasti ini ditulis menggunakan huruf Palawa dan bahasa Sansekerta.

Didalam Prasasti Tuk Mas ini berisi mengenai mata air yang sangat bersih dan jernih. Saking jernihnya mata air tersebut bahkan air yang mengalir di sungai dimana airnya berasal dari sumber mata air tersebut sampai diibaratkan sama seperti Sungai Gangga yang terletak di India.

Selain itu, pada prasasti ini juga terdapat gambar-gambar berupa lambang Hindu seperti kendi, trisula, keong, bunga teratai, cakra dan juga tapak.

Prasasti Sojomerto

Terdapat juga peninggalan dari Kerajaan Kalingga, yaitu Prasasti Sojomerto. Diambil dari namanya, prasasti ini ditemukan di Desa Sojomerto, Reban, Batang Jawa Tengah.

Berbeda dengan Prasasti Tukmas yang menggunakan huruf Palawa dan Bahasa Sansekerta, Prasasti Sojomerto menggunakan aksara Kawi dalam bahasa Melayu Kuno yang diperkirakan bahwa prasasti ini telah ada sejak abad ke-7 Masehi.

Dalam prasasti ini memuat tentang keluarga dari tokoh utamanya yaitu Dapunta Salendra yang tertulis sebagai pendiri dari kerajaan tersebut.

Dari penemuan inilah disimpulkan bahwa pendiri dari kerajaan ini adalah berasal dari keturunan Dinasti Syailendra/Sailendra yang mana ia adalah penguasa dari Kerajaan Mataram Kuno.

Candi Bubrah

Sejarah Kerajaan Kalingga
Sumber Gambar: www.artisanalbistro.com

Candi Bubrah adalah salah satu candi bercorak Buddha yang terdapat di dalam kompleks Candi Prambanan. Tepatnya adalah terletak di antara Percandian Roro Jonggrang dan Candi Sewu.

Adapun candi ini ditemukan di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Klaten Jawa Tengah. Diperkirakan, candi ini memiliki ukuran 12 m x 12 m dan terbuat dari batu andesit.

Namun yang ditemukan hanyalah sisa-sisa reruntuhan setinggi 2 meter saja. Pada saat ditemukannya candi ini, terdapat pula beberapa arca Buddha meskipun wujudnya sudah tidak utuh lagi.

Diberi nama Candi Bubrah adalah karena candi ini ditemukan dalam keadaan rusak atau bahasa Jawanya adalah “bubrah”. Para ahli memperkirakan bahwa candi ini dibangun pada abad ke-9 Masehi, yaitu pada zaman Kerajaan Mataram Kuno masih berhubungan dengan Kerajaan Kalingga.

Candi Angin

Sejarah Kerajaan Kalingga
Sumber Gambar: mutarnusantara.files.wordpress.com

Berbeda dengan Candi Bubrah yang ditemukan di Kabupaten Klaten, Candi Angin ditemukan di Kabupaten Jepara, tepatnya adalah di Desa Tempur Kecamatan keling.

Karena candi ini ditemukan di tempat yang sangat tinggi (berangin), maka candi ini diberi nama Candi Angin.

Para peneliti menganggap bahwa Candi Angin memiliki usia yang lebih tua dari Candi Borobudur. Bahkan beberapa ahli menganggap dan berpendapat bahwa candi ini dibangun oleh manusia purba, ini karena belum terdapat ornamen-ornamen bercorak Hindu-Buddha.

Situs Puncak Sanga Likur

Selain prasasti dan candi, keberadaan dari Kerajaan Kalingga juga dapat dilihat dari ditemukannya Situs Puncak Sanga Likur.

Situs ini ditemukan di puncak Gunung Muria, tepatnya di Rahtawu, tidak jauh dari Kecamatan Keling.

Di kompleks situs ini juga ditemukan empat arca batu, diantaranya adalah Arca Batara Guru, Wisnu, Narada dan Togog.

Sampai saat ini belum dapat dipastikan bagaimana keempat arca tersebut bisa diangkut hingga ke puncak gunung, mengingat medan pendakian ke Gunung Muria terbilang cukup berat.

Namun pada tahun 1990, Prof. Gunadi dan empat staffnya dari Balai Arkeologi Nasional Yogyakarta mengemukakan bahwa Prasasti Rahwatun diduga sebagai peninggalan dari Kerajaan Kalingga.

Di kawasan situs juga ditemukan enam tempat pemujaan dimana letaknya ini tersebar dimulai dari arah bawah hingga menjelang ke puncak gunung.

Masing-masing tempat pemujaan ini diberi nama tokoh pewayangan seperti Abiyoso, Bambang Sakri, Dewonoto, Jonggring Saloko, Kamunoyoso dan Sekutrem.

Baca Juga: Kerajaan Islam Tertua di Indonesia

Berita Cina Tentang Kerajaan Kalingga

Terdapat beberapa berita atau catatan yang berasal dari negeri Cina tentang Kerajaan Kalingga, di antaranya adalah Catatan Dinasti Tang, Catatan I-Tsing, naskah Wai-Tai-Ta dan yang terakhir adalah Catatan Dinasti Ming.

Catatan Dinasti Tang

Beberapa catatan atau keterangan yang bersumber dari Dinasti Tang adalah:

  • Letak Kalingga terdapat di Lautan Selatan dimana sebelah utaranya adalah terletak Ta-Hen-La atau Chen-La (Kamboja). Sedangkan di sebelah timur terdapat Po-Li (Pulau Bali), sebelah barat terletak Pulau Sumatra.
  • Pada Catatan Dinasti Tang juga menyebut bahwa ibu kota Kalingga dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari tonggak kayu.
  • Sementara itu, Raja atau Ratu tinggal di suatu bangunan yang besar dan bertingkat, beratap daun palem serta singasananya terbuat dari gading gajah.
  • Rakyat/penduduk Kalingga telah pandai memproduksi sejenis minuman keras yang terbuat dari bunga kelapa.
  • Terakhir adalah Kalingga disebut menghasilkan emas, perak, produk kulit penyu, cula badak dan juga gading gajah.

Catatan I-Tsing

Selanjutnya adalah Catatan I-Tsing (664-665 M) menyebutkan jika pada abad ke-7 Masehi, tanah Jawa menjadi salah satu pusat pengetahuan agama Buddha Hinaya.

Dalam hal ini, pusat yang dimaksud adalah Kalingga yang mana di daerah tersebut terdapat seorang pendeta Bernas Hwining yang menerjemahkan salah satu kitab agama Buddha ke dalam bahasa Mandarin.

Pendeta tersebut bekerja bersama dengan pendeta Jawa yang bernama Janabadra. Kitab yang diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin adalah memuat cerita tentang Nirwana.

Naskah Wai-Tai-Ta

Dalam naskah Wai-Tai-Ta dari Cina, tepatnya di abad ke-12 Masehi, Cou-Ju-Kua menyebut bahwa Chepo (Jawa) disebut juga Poe-Chua-lung.

Menurut perkembangan bahasa dan Sinologi, para ahli bahasa menyebut bahwa Poe-Chua-lung adalah sebutan untuk Pekalongan yang mana Poe-Chua-lung adalah penamaan sebuah daerah pelabuhan yang terdapat di pantai utara Jawa pada masa Dinasti Tsung.

Catatan Dinasti Ming

Berita Cina yang terakhir adalah berasal dari catatan Dinasti Ming. Pada tahun 1439 Masehi, Laksamana Cheng Ho dari Dinasti Ming singgah di Pekalongan. Beliau menyebut bahwa Poe-Chua-lung dengan Wu-Chueh adalah memiliki arti pulau yang indah.

Sebutan ini diketahui dari catatan Hma-Huan, yang merupakan sekretaris dari Laksamana Cheng-Ho yang menulis tentang sebutan Wu-Chueh dari Laksamana ini di dalam bagian Yang-Yai-Sheng-Lan atau berarti pemandangan yang indah-indah.

Demikanlah pembahasan tentang sejarah Kerajaan Kalingga yang diambil dari berbagai sumber. Beberapa peninggalannya bahkan masih dapat kita lihat hingga hari ini sehingga kita wajib untuk menjaganya dengan baik agar generasi selanjutnya masih dapat mengenali dan mempelajarinya.

Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudera Pasai – Pada kesempatan sebelumnya, kita telah membahas bersama-sama mengenai sejarah Kerajaan Pajang yang terletak di Jawa Tengah. Nah, di kesempatan kali ini, kita akan membahas mengenai sejarah Kesultanan Samudera Pasai yang sangat terkenal.

Sejarah berdirinya kerajaan Islam di Indonesia ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah Islam dibawa oleh para pedagang yang berasal dari Arab, Persia dan India yang pada awalnya mereka hanya singgah untuk sekedar berniaga.

Namun lama kelamaan para saudagar tersebut pada akhirnya menetap dan menyebarkan agama Islam sehingga beberapa diantaranya ada yang mendirikan sebuah kesultanan Islam.

Sejarah Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudera Pasai
Sumber Gambar: www.yuksinau.id

Kesultanan yang berdiri dari tahun 1267-1524 Masehi ini terletak di pantai utara Aceh, tepatnya di sekitar muara Sungai Pasangan (Pasai) yang terletak di antara dua kota, yaitu Samudera dan Pasai.

Meurah Silu merupakan orang yang mendirikan Kesultanan Samudera Pasai, tepatnya pada tahun 1267 Masehi. Beberapa bukti arkeologis keberadaan dari kerajaan ini adalah ditemukannya kompleks makam raja-raja Pasai di kampung Geudong, Aceh Utara.

Kompleks makam ini terletak berdekatan dengan sisa-sisa reruntuhan bangunan pusat Kerajaan Samudera di Desa Beuringi, Kecamatan Samudera, tepatnya berjarak sekitar 17 km sebelah timur Lhokseumawe.

Dari beberapa makam-makam tersebut, terdapat salah satu batu nisan yang bertuliskan nama Sultan Malik Al-Saleh, seorang raja pertama dari Kesultanan Samudera Pasai.

Sultan Malik Al-Saleh sendiri adalah nama/gelar dari pendiri kerajaan ini, yaitu Meurah Silu setelah beliau memeluk agama Islam. Beliau berkuasa dalam kurun waktu sekitar 30 tahun, tepatnya dari tahun 1267-1297 Masehi.

Samudera Pasai memiliki peran yang cukup penting dalam penyebaran agama Islam di kawasan Asia Tenggara, salah satunya adalah Malaka yang pada akhirnya bercorak Islam karena memiliki hubungan yang erat dengan Kesultanan Samudera Pasai.

Hubungan diantara wilayah tersebut semakin erat dengan adanya pernikahan antara putra-putri dari sultan di Pasai dan Malaka. Tepat di awal abad ke-15, sekitar tahun 1414 Masehi, berdirilah Kesultanan Islam Malaka yang diawali dengan pemerintahan Parameswara.

Sejarah ini terangkum dalam sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Sumatra.

Daftar Sultan di Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudera Pasai
Sumber Gambar: ips.pelajaran.co.id

Adapun beberapa sultan yang pernah menduduki tahta tertinggi Kesultanan Samudera Pasai adalah:

  • Sultan Malik Malik Al-Saleh. Pendiri sekaligus raja pertama di Kesultanan Samudera Pasai yang memerintah pada pada tahun 1267-1297 Masehi.
  • Sultan Muhammad Malik Az-Zahir, raja kedua Kesultanan Samudera Pasai, memerintah pada tahun 1297-1326 Masehi.
  • Sultan Mahmud Malik Az-Zahir 1326-1345 Masehi.
  • Sultan Manshur Malik Az-Zahir, memerintah pada tahun 1345-1346 Masehi.
  • Sultan Ahmad Malik Az-Zahir, menjadi raja di Kesultanan Samudera Pasai mulai tahun 1346-1383 Masehi.
  • Sultan Zainal Abidin Malik Az-Zahir, menjadi raja di tahun 1383-1405 Masehi.
  • Ratu Nahrasyiyah. Pada masa pemerintahannya, Samudera Pasai mencapai masa kejayaan, tepatnya pada tahun 1405-1420 Masehi.
  • Sultan Abu Zaid Malik Az-Zahir, memerintah pada tahun 1420-1455 Masehi.
  • Sultan Mahmud Malik Az-Zahir, beliau menjadi raja pada tahun 1455-1477 Masehi.
  • Sultan Zain Al Abidin, raja Samudera Pasai pada tahun 1477-1500 Masehi.
  • Sultan Abdullah Malik Az-Zahir. Masa pemerintahan beliau di mulai dari tahun 1500-1513 Masehi.
  • Sultan Zain Al-Abidin adalah raja terakhir di Kesultanan Samudera Pasai pada tahun 1513-1524 Masehi.

Pada masa-masa tersebut, Samudera Pasai dapat mengembangkan ajaran Islam hingga ke wilayah-wilayah seperti Minangkabau, Malaka, Jambi, Jawa, bahkan sampai di daerah Patani Thailand.

Sampai pada akhirnya Kesultanan Samudera Pasai berakhir di tahun 1524 Masehi. Di tahun tersebut, Portugis berhasil menaklukkan kerajaan ini dan menguasainya selama kurang lebih 3 tahun. Sesudah itu, Kesultanan Samudera Pasai berada di bawah Kesultanan Aceh Darussalam.

Struktur Pemerintahan Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudera Pasai
Sumber Gambar: museumnusantara.com

Penguasa atau pimpinan tertinggi di kerajaan ini berada di tangan sultan yang memerintah secara turun-temurun.

Selain itu, terdapat pula jabatan lain di bawah sultan seperti Menteri Besar (Perdana Menteri atau Orang Kaya Besar), Bendahara, Komandan Militer atau Panglima Angkatan Laut (Laksamana), Sekretaris Kerajaan, Kepala Mahkamah Agama (Qadi) dan beberapa orang Syahbandar yang masing-masing mengepalai dan mengawasi pedagang-pedagang asing yang terdapat di kota-kota atau pelabuhan yang berada di Kesultanan Samudera Pasai.

Menurut catatan M. Yunus Jamil, bahwa pejabat-pejabat yang menjabat di Kerajaan Samudera Pasai adalah terdiri dari orang-orang alim dan bijaksana.

Beberapa nama beserta jabatan-jabatannya adalah:

  • Seri Kaya Saiyid Ghiyasyuddin, menjabat sebagai Perdana Menteri.
  • Saiyid Ali bin Ali Al Makaarani, menjabat sebagai Syaikhul Islam.
  • Bawa Kayu Ali Hisamuddin Al Malabari, menjabat sebagai Menteri Luar Negeri.

Aspek Politik

Kerajaan Samudera Pasai
Sumber Gambar: 4.bp.blogspot.com

Pada masa itu, Kesultanan Samudera Pasai berkembang pesat menjadi pusat perdagangan dan studi Islam. Hal ini ditandai dengan banyaknya pedagang yang datang baik itu dari Benggala, India, Arab, Gujarat, China dan lainnya.

Pada saat masih bediri, kesultanan ini memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke daerah pedalaman seperti Balek Bimba, Tamiang, Beruana, Samerlangga dan Buloh Telang. Kemudian berlanjut ke Simpag, Benua, Samudera, Pasai, Perlak, Rama Candhi, Hambu Aer, Pekan dan Tukas.

Dalam rangka Islamisasi, Sultan Malik Al-Saleh akhirnya menikahi seorang putri dari Kerajaan Perlak. Sementara itu, beliau wafat pada tahun 1297 Masehi dan dimakamkan di Kampung Samudera Mukim Blang Me dimana makamnya ini berciri Islam.

Sepeninggal Sultan Malik Al-Saleh, penerus tahta tertinggi Kesultanan Samudera Pasai diteruskan oleh putranya yang bernama Muhammad Malikul Zahir (Malik Al Tahir atau Malik At Tahir).

Sedangkan penerus tahta selanjutnya adalah Sultan Ahmad yang bergelar Sultan Malik Al-Tahir II (1326-1348). Nah, pada masa pemerintahannya ini, Samudera Pasai berkembang dengan pesat serta terus menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan Islam di Arab maupun India.

Dalam catatan kunjungan Ibnu Batutah, terdapat seorang utusan dari Sultan Delhi pada tahun 1345 Masehi bahwa kala itu Samudera Pasai merupakan pelabuhan yang cukup penting dimana istananya disusun dan diatur secara India dan patihnya bergelar Amir.

Pada masa pemerintahan Samudera Pasai selanjutnya, tidak banyak temuan-temuan sejarah yang mengetahuinya. Hal ini karena pada masa pemerintahan Sultan Zaenal Abidin atau Sultan Malik Al-Tahir III juga kurang begitu jelas.

Namun menurut sejarah Melayu, Kesultanan Samudera Pasai diserang oleh Kerajaan Siam. Dengan tidak adanya sejarah yang lengkap, maka keruntuhan Samudera Pasai tidak diketahui secara jelas.

Aspek Sosial Budaya dan Ekonomi

Kerajaan Samudera Pasai
Sumber Gambar: pdfslide.tips

Para pedagang asing yang singgah di Malaka ini pada akhirnya tinggal sementara guna mengurus perdagangan serta berinteraksi dengan penduduk setempat.

Selain berdagang, mereka para pedagang Islam yang berasal dari Gujarat, Arab dan Persia juga sekaligus melakukan penyebaran agama Islam.

Pengaruh Islam di Samudera Pasai ini terlihat dari perubahan aliran Syiah menjadi Syafi’i yang mengikuti perubahan di Mesir. Pada saat itu, negeri Mesir sedang terjadi pergantian kekuasaan dari Dinasti Fatimah yang beraliran Syiah ke Dinasti Mameluk yang beraliran Syafi’i.

Dalam perkembangannya ini, aliran Syafi’i atau Ahlussunah wal Jama’ah di Pasai disesuaikan dengan adat istiadat setempat. Inilah yang menjadikan kehidupan sosial masyarakatnya merupakan campuran Islam dengan adat setempat.

Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudera Pasai
Sumber Gambar: www.sejarah-negara.com

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan Kesultanan Samudera Pasai, seperti:

  • Letak kerajaan yang strategis, yaitu di dekat selat Malaka yang mana pada saat itu menjadi perlintasan perdagangan internasional sehingga sektor maritim menjadi berkembang.
  • Memiliki hasil bumi rempah-rempah seperti lada dan kemiri yang melimpah sebagai produk ekspor unggulan.
  • Menjalin hubungan erat dengan India dan China. Buktinya adalah ketika Ibnu Batutah sebagai utusan dari India diterima dengan baik serta menerima perlindungan Laksamana Cheng Ho dari China.
  • Dipimpin dan diperintah oleh penguasa yang adil dan bijaksana serta bersikap ramah dan juga terbuka, ini terlihat dari diterimanya utusan India yaitu Ibnu Batutah.

Runtuhnya Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudera Pasai
Sumber Gambar: www.artisanalbistro.com

Menjelang masa-masa akhir pemerintahan Samudera Pasai, terjadilah beberapa perselisihan yang mengakibatkan terjadinya perang saudara. Sulalatus Salatin menceritakan bahwa Sultan Pasai meminta bantuan kepada Sultan Melaka untuk meredam pemberontakan tersebut.

Akan tetapi Kesultanan Samudera Pasai sendiri pada akhirnya runtuh setelah ditaklukkan oleh Portugis di tahun 1521 yang mana sebelumnya Portugis juga telah menaklukkan Malaka pada tahun 1511 Masehi.

Sampai pada akhirnya di tahun 1524 Masehi, Kesultanan Samudera Pasai menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Aceh Darussalam.

Demikian penjelasan mengenai sejarah Kerajaan Samudera Pasai dari masa berdiri hingga keruntuhannya. Dengan penjelasan ini, semoga dapat menambah wawasan kita seputar sejarah masuknya Islam di Indonesia.

Sejarah Kerajaan Pajang

Sejarah Kerajaan Pajang

Sejarah Kerajaan Pajang – Dapat dikatakan, jika perkembangan Islam di tanah Jawa tidak terlepas dari sejarah kerajaan Islam yang pernah berdiri di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.

Sementara itu, sejarah berdirinya Kerajaan Pajang pada mulanya berawal dari kekacauan politik di kerajaan Demak, tepatnya setelah Sultan Trenggono (Raja Demak ke-3) wafat.

Kekacauan ini disebabkan oleh pertempuran antara Arya Penangsang dengan Joko Tingkir (Adipati Pajang), yang mana Joko Tingkir adalah menantu dari Sultan Trenggono.

Baca Juga : Kerajaan Islam Tertua di Indonesia

Sejarah Singkat Berdirinya Kerajaan Pajang

Sejarah Kerajaan Pajang
Sumber Gambar: www.arcgis.com

Pertempuran yang terjadi di Kerajaan Demak akhirnya dimenangkan oleh Jaka Tingkir sehingga pada akhirnya Jaka Tingkir memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Demak ke daerah Pajang.

Setelah itu, Jaka Tingkir disahkan oleh Sunan Giri sebagai sultan pertama di Kerajaan Pajang. Sebelum Jaka Tingkir mendirikan Kerajaan Pajang, ia sudah menjabat sebagai penguasa daerah Pajang, tepatnya pada masa Sultan Trenggono.

Sehingga banyak yang mengatakan bahwa Kerajaan Pajang dinilai sebagai lanjutan dari Kerajaan Demak. Letak dari kerajaan ini berada di daerah Kertasura serta menjadi kerajaan Islam pertama yang terletak di daerah pedalaman Pulau Jawa.

Adapun usia dari kerajaan ini terbilang cukup singkat, hal ini terjadi karena munculnya kerajaan Islam baru yang juga terletak di Jawa Tengah, yaitu Kerajaan Mataram Islam.

Pada masa awal berdirinya kerajaan ini, tepatnya pada tahun 1568 Masehi, wilayah kekuasaan Pajang mulanya hanya meliputi sebagian Jawa Tengah saja, ini terjadi karena setelah kematian Sultan Trenggono, banyak wilayah di Jawa Timur yang melepaskan diri.

Namun di tahun yang sama, Sultan Hadiwijaya dan para Adipati Jawa Timur dipertemukan di Giri Kedaton oleh Sunan Prapen. Pada pertemuan itu, para adipati yang berasal dari Jawa Timur bersepakat untuk mengakui kedaulatan Pajang di atas negeri-negeri Jawa Timur.

Hal itu yang menjadi bukti sah bahwa Kerajaan Pajang telah berdiri. Setelah itu, Kerajaan Pajang mulai melakukan ekspansinya ke beberapa wilayah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Setelah berkuasa dalam kurun waktu 1568-1587 Masehi, Kerajaan Pajang mencapai masa kejayaannya di masa raja pertama, yaitu Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir.

Namun tidak lama setelah Sultan Hadiwijawa wafat, tepatnya pada tahun 1582 Masehi, kerajaan ini pada akhirnya mengalami masa disintegrasi.

Raja-Raja di Kerajaan Pajang

Sejarah Kerajaan Pajang
Sumber Gambar: lamonganoke.files.wordpress.com

Sejak awal berdiri hingga keruntuhannya, Kerajaan Pajang tercatat pernah dipimpin oleh 3 sultan, diantaranya adalah:

1. Jaka Tingkir atau Hadiwijaya. Pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Pajang.

2. Arya Pangiri atau Ngawantipura, raja kedua di Kerajaan Pajang.

3. Pangeran Benawa atau dikenal dengan nama Prabuwijaya adalah raja ketiga sekaligus menjadi raja terakhir di Kerajaan Pajang.

Pemberontakan Mataram

Wilayah Mataram dan Pati merupakan dua hadiah dari Hadiwijaya untuk siapa saja yang mampu menumpas Arya Penangsang di tahun 1549. Berdasarkan laporan resmi peperangan, Arya Penangsang akhirnya tewas setelah di keroyok oleh Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi.

Karena berhasil mengalahkan Arya Penangsang, akhirnya Ki Penjawi diangkat sebagai penguasa Pati, tepatnya dimulai pada tahun 1549.

Sementara itu, Ki Ageng Pemanahan baru mendapatkan jatahnya di tahun 1556 berkat bantuan dari Sunan Kalijaga. Ini disebabkan Karena Hadiwijaya mendengar ramalan Sunan Prapen bahwa di tanah Mataram akan lahir kerajaan Islam yang lebih besar dari Kesultanan Pajang.

Hingga pada akhirnya ramalan tersebut menjadi kenyataan tepatnya ketika Mataram dipimpin oleh Sutawijaya yang mana beliau adalah putra dari Ki Ageng Pemanahan dan tokoh Sutawijaya inilah yang sebenarnya membunuh Arya Penangsang.

Dibawah pimpinan Sutawijaya, daerah Mataram semakin hari semakin maju dan berkembang.

Tepat pada tahun 1582 Masehi, terjadilah perang antara Pajang dan Mataram disebabkan oleh Sutawijaya yang membela adik iparnya yaitu Tumenggung Mayang yang terkait dengan hukum buang ke Semarang oleh Hadiwijaya.

Meskipun pasukan Pajang berjumlah lebih besar, namun peperangan tersebut pada akhirnya dimenangkan oleh pihak Mataram.

Keruntuhan Kerajaan Pajang

Sejarah Kerajaan Pajang
Sumber Gambar: www.10travlr.com.au

Setelah Hadiwijaya wafat, terjadilah persaingan untuk memperebutkan tahta tertinggi di Kerajaan Pajang dimana yang memperebutkannya adalah Pangeran Benawa dan Arya Pangiri.

Namun pada akhirnya, Arya Pangiri lah yang di daulat menjadi raja kedua di kerajaan ini karena didukung oleh Panembahan Kudus yang berhasil naik tahta pada tahun 1583.

Masa pemerintahan Arya Pangiri ini hanya disibukkan dengan usaha balas dendam terhadap Mataram hingga mengakibatkan kehidupan rakyat Pajang terabaikan.

Hal inilah yang membuat Pangeran Benawa yang sebelumnya telah tersingkir ke Jipang merasa iba dan prihatin. Pada tahun 1586, akhirnya Pangeran Benawa memutuskan untuk bersekutu dengan Sutawijaya untuk menyerbu Pajang.

Meski sebelumnya pada tahun 1582 Sutawijaya berselisih dan memerangi Hadiwijaya, namun Pangeran Benawa tetap menganggapnya sebagai saudara.

Sampai pada akhirnya perang antara Pajang melawan Mataram dan Jipang berakhir dengan kekalahan Arya Pangiri. Setelah itu, Arya Pangiri dikembalikan ke daerah asalnya yaitu Demak dan Pangeran Benawa dipilih menjadi raja Pajang yang ketiga.

Masa pemerintahan Pangeran Benawa di Kesultanan Pajang berakhir pada tahun 1587. Sejak berakhirnya pemerintahan Pangeran Benawa, Kesultanan Pajang tidak memiliki putra mahkota sehingga Pajang pada akhirnya menjadi negeri bawahan Kerajaan Mataram Islam.

Setelah menjadi negeri bawahan Mataram, Pajang dipimpin oleh seorang bupati dimana yang menjadi bupati pertamanya adalah Pangeran Gagak Baning atau adik dari Sutawijaya.

Sementara itu, Sutawijaya mendirikan Kerajaan Mataram Islam dimana beliau di daulat sebagai raja pertama dengan gelar Panembahan Senopati.

Itulah pembahasan singkat mengenai sejarah Kerajaan Pajang, kerajaan Islam pertama di Jawa yang terletak di pedalaman. Semoga pembahasan ini bermanfaat.

Kerajaan Islam Tertua di Indonesia

Kerajaan Islam Tertua di Indonesia

Kerajaan Islam Tertua di Indonesia – Agama Islam merupakan salah satu agama yang dianut dan diakui oleh bangsa Indonesia. Jejak-jejak penyebaran agama Islam ditandai dengan kemunculan sejarah Islam di Indonesia.

Berdasarkan sejarah, Islam pertama kali masuk ke Nusantara pada akhir abad ke-6 Masehi yang mana di tahun itu Islam mulai berkembang dengan pesat melalui berdirinya beberapa kerajaan-kerajaan Islam.

Kerajaan-kerajaan bercorak Islam ini kian hari kian berkembang serta memperlihatkan pengaruhnya terhadap proses penyebaran Islam di Nusantara. Tercatat,masa kejayaan kesultanan Islam berlangsung antara abad ke-13 sampai abad ke-18 Masehi.

9 Kerajaan Islam Tertua di Indonesia

Asal mula Islam masuk ke Nusantara ini tidak lain adalah dibawa oleh para pedagang muslim yang berasal dari berbagai negara seperti Arab, Persia, India, China dan lainnya.

Pada awalnya, kerajaan Islam hanya terdapat di pulau Sumatra saja sehingga bukan hal yang keliru jika banyak yang mengatakan jika Kerajaan Islam di Sumatra merupakan kerajaan Islam pertama yang terdapat di Indonesia.

Namun seiring berjalannya waktu, Islam telah merambah ke berbagai wilayah lainnya di Indonesia seperti di Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku.

Lantas, kesultanan Islam manakah yang pertama dan tertua yang pernah berdiri di Nusantara? Berikut adalah pembahasan mengenai 9 Kerajaan Islam tertua di Indonesia yang wajib kita ketahui.

1. Kerajaan Perlak (Kesultanan Peureulak)

Kerajaan Islam Tertua di Indonesia
Sumber Gambar: www.orbitmetro.com

Kerajaan Perlak atau Kesultanan Peureulak adalah kerajaan Islam pertama dan tertua yang pernah ada di Indonesia. Kesultanan Islam yang terletak di wilayah Aceh Timur ini berdiri pada tahun 840-1292 Masehi.

Nama kerajaan ini diambil dari kata Peureulak yang mana ini merupakan nama jenis kayu yang digunakan untuk membuat kapal. Raja pertama dari Kesultanan Peureulak adalah Sultan Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah.

Beberapa tanda pernah berdirinya kerajaan ini adalah ditemukannya stempel, mata uang dan makam raja yang pernah menjadi Sultan di Kerajaan Perlak.

2. Kerajaan Ternate

Kerajaan Islam Tertua di Indonesia
Sumber Gambar: www.yuksinau.id

Provinsi yang terletak di Indonesia Timur ini juga pernah berdiri salah satu kerajaan Islam pertama serta menjadi yang tertua di Provinsi Maluku. Ya, kerajaan ini diberi nama Kerajaan Ternate yang berdiri pada tahun 1257-1950 Masehi.

Letak daripada kerajaan ini berada diantara Pulau Sulawesi dan Pulau Papua sehingga menjadikannya memiliki lokasi perdagangan yang strategis.

Puncak kejayaan Kerajaan Ternate terjadi pada masa Sultan Baabullah yang mana beliau berhasil mengusir penjajah Portugis. Adapun beberapa peninggalan dari kerajaan ini adalah bangunan kerajaan, Benteng Tolukko, masjid dan makam Sultan Baabullah.

3. Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Islam Tertua di Indonesia
Sumber Gambar: ips.pelajaran.co.id

Selain Kerajaan Perlak, Kesultanan Samudera Pasai juga menjadi salah satu kerajaan Islam tertua dan terbesar yang pernah berjaya di Indonesia.

Letak dari kerajaan yang berdiri pada tahun 1347-1825 Masehi ini berada di pesisir pantai utara Sumatra, tepatnya di sekitar Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, Provinsi Aceh. Sultan Malik Al Saleh atau Sultan Malikussaleh merupakan raja pertama dari kerajaan Samudera Pasai.

Memiliki wilayah yang strategis yaitu mencakup seluruh Aceh menjadikan kerajaan ini sebagai kerajaan besar yang terkenal di bidang perdagangan.

Beberapa peninggalan dari kerajaan ini adalah ditemukannya koin emas Dirham yang dijadikan sebagai mata uang kerajaan, makam para sultan dan Cakra Donya berbentuk lonceng besar.

4. Kerajaan Gowa

Kerajaan Islam Tertua di Indonesia
Sumber Gambar: www.archipelagos.id

Kesultanan Gowa berdiri sekitar tahun 1300-1946 Masehi. Dari sekian banyak Sultan yang pernah memegang kekuasaan tertinggi di Kesultanan Gowa, Sultan Hasanuddin adalah raja paling terkenal dalam sejarah kesultanan ini.

Disebut menjadi raja paling terkenal karena jasanya beliau yang berani melawan penjajahan yang dilakukan oleh Belanda (VOC) yang dikenal dengan peristiwa Perang Makassar (1666-1669 Masehi).

Dalam perkembangannya, Kesultanan Gowa mengalami pasang surut sejak dari awal berdiri, tepatnya pada pemerintahan Sultan Gowa pertama yaitu Tumanurung.

Puncak kejayaan atau era keemasan dari kerajaan ini adalah terjadi pada abad ke-17 serta pernah mengalami masa penjajahan di bawah kekuasaan VOC Belanda.

Sementara itu, sistem pemerintahan Gowa pernah mengalami transisi, yaitu terjadi pada masa Sultan Gowa ke-36 yang bernama Andi Idjo Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidudin.

Beliau menyatakan bahwa Kesultanan Gowa bergabung dan menjadi bagian dari Republik Indonesia yang telah menyatakan kemerdekaannya. Sejak saat itu, Kesultanan Gowa pun berubah statusnya dari bentuk kerajaan menjadi Daerah Tingkat II Kabupaten Gowa.

Dengan perubahan transisi ini maka Andi Idjo tercatat dalam sejarah sebagai Sultan Gowa terakhir serta sekaligus menjadi Bupati Kabupaten Gowa pertama.

5. Kerajaan Pagaruyung

Kerajaan Islam Tertua di Indonesia
Sumber Gambar: www.minews.id

Sebenarnya tidak banyak yang mengetahui terkait sejarah dari Kerajaan Pagaruyung. Namun terdapat beberapa bukti yang mengerucut pernah berdirinya kerajaan ini, yaitu ditemukannya Prasasti Amoghapasa.

Beberapa sejarawan mengemukakan bahwa Kerajaan Pagaruyung berkuasa pada tahun 1347-1825 Masehi. Kerajaan ini pada masa awal berdirinya adalah bercorak Hindu namun beralih menjadi Islam.

Sementara itu, raja pertama dari kerajaan ini adalah Sultan Alif. Selain prasasti, beberapa peninggalan lainnya dari Kerajaan Pagaruyung adalah ditemukannya makam raja-raja yang terdapat di Ustano Raja Alam serta ditemukan juga Batu Kasur.

Batu Kasur ini dahulu digunakan sebagai tempat ujian para calon raja dari Kerajaan Pagaruyung.

6. Kerajaan Malaka

Kerajaan Islam Tertua di Indonesia
Sumber Gambar: 4.bp.blogspot.com

Pada tahun 1405-1511 Masehi, Kerajaan Malaka berdiri di wilayah tepian Selat Malaka yang mana selat ini sangat ramai didatangi oleh para pedagang dari berbagai negara.

Parameswara merupakan pendiri dari kerajaan ini dimana awalnya memeluk agama Hindu yang kemudian berganti memeluk Islam. Setelah memeluk agama Islam, beliau mengganti nama menjadi Sultan Iskandar Syah.

Saat itu, Sultan Iskandar Syah menjalin hubungan baik dengan China sehingga diantara keduanya saling bekerjasama di beberapa bidang.

Selat Malaka merupakan gerbang penyebaran agama Islam dari Aceh dan wilayah Sumatra lainnya sekaligus menjadikan selat ini sebagai lokasi penting masuknya Portugis.

Meskipun sudah lama runtuh, namun saat ini kita masih dapat menjumpai peninggalan-peninggalan dari kerajaan ini seperti Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Agung Deli dan Johor Baru.

7. Kerajaan Cirebon

Kerajaan Islam Tertua di Indonesia
Sumber Gambar: sky-adventure.com

Banyak yang beranggapan bahwa kerajaan Islam di Jawa yang pertama dan tertua adalah Kerajaan Demak. Anggapan itu sebenarnya masih dapat diperdebatkan karena sebelum Kesultanan Demak berdiri, ternyata terdapat kesultanan Islam lainnya yang lebih dulu berdiri, yaitu Kerajaan Cirebon.

Kerajaan Cirebon berdiri pada tahun 1430-1677 Masehi dan didirikan oleh Pangeran Walangsungsang. Beliau tidak lain adalah putra dari Prabu Siliwangi penguasa Padjadjaran.

Pada awalnya, Cirebon hanyalah suatu pedukuhan kecil namun atas pengaruh dari Sunan Gunung Jati, Cirebon menjadi kerajaan Islam yang besar dan terkenal.

Dalam sejarahnya, kerajaan ini akhirnya terpecah menjadi beberapa bagian yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan dan Keraton Gebang.

Peninggalan-peninggalan dari kerajaan ini adalah istana kerajaan, makam Sunan Gunung Jati, Patung Macan Putih dan Kereta Singa Barong Kasepuhan.

8. Kerajaan Demak

Kerajaan Islam Tertua di Indonesia
Sumber Gambar: 3.bp.blogspot.com

Awal mula berdirinya Kerajaan Demak dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya adalah melemahnya kekuasaan Majapahit sehingga Demak melepaskan diri serta mendirikan pemerintahan sendiri. Kesultanan Demak berdiri pada tahun 1475-1548 Masehi.

Pendiri sekaligus raja pertama dari Kesultanan Demak adalah Raden Patah. Kesultanan ini terletak di pesisir pantai utara Jawa yang mana wilayah ini menjadi lokasi yang strategis dan ramai didatangi pedagang dari berbagai negara.

Sepeninggal Raden Patah, Kesultanan Demak dipimpin oleh Pangeran Sabrang Lor dan dilanjutkan oleh Sultan Trenggono dimana beliau memiliki pengaruh besar menyebarnya Islam di Jawa.

Saat ini kita dapat menjumpai beberapa peninggalan-peninggalan dari Kerajaan Demak, diantaranya adalah Masjid Agung Demak yang meliputi pintu bersejarah yang disebut Pintu Bledek, tiang penyangga atau Soko Guru serta Dampar Kencana yang merupakan tempat khatib berkhutbah.

9. Kerajaan Aceh Darussalam

Kerajaan Islam Tertua di Indonesia
Sumber Gambar: www.artisanalbistro.com

Kerajaan Islam tertua dan terakhir yang akan kita bahas bersama adalah Kerajaan Aceh Darussalam. Seperti namanya, kerajaan ini terletak di Banda Aceh, tepatnya berdiri pada tahun 1496 Masehi.

Sultan pertama yang memerintah kerajaan ini adalah Sultan Ali Mughayat Syah. Di masa kejayaannya, kerajaan ini menunjukkan perlawanannya terhadap imperialisme Eropa. Selain itu, Kesultanan Aceh Darussalam juga terkenal sebagai penghasil lada terbesar di kala itu.

Itulah pembahasan mengenai 9 kerajaan Islam tertua yang pernah berjaya di Indonesia. Kerajaan-kerajaan tersebut merupakan salah satu faktor terbesar yang menjadikan mengapa Islam saat ini menjadi agama yang paling banyak dianut oleh bangsa Indonesia.

Kerajaan Islam di Jawa

Kerajaan Islam di Jawa

Kerajaan Islam di Jawa – Indonesia adalah negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia. Hal ini terjadi karena beberapa faktor dimana salah satunya adalah keberadaan kerajaan Islam di Sumatera yang menjadi titik awal agama Islam menyebar ke berbagai pelosok negeri.

Fakta sejarah keterlibatan kerajaan Islam di Indonesia ini memberikan peran yang cukup penting dalam penyebaran Islam di seluruh Indonesia.

Pada awalnya, kerajaan-kerajaan Islam hanya terdapat di Pulau Sumatra saja, namun seiring berjalannya waktu, Islam mulai masuk ke Pulau Jawa melalui berbagai cara serta didukung oleh faktor kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang sebelumnya menguasai Jawa dimana kekuasaannya mulai melemah.

Sejarah Kerajaan Islam di Pulau Jawa

Pengaruh kerajaan Islam di Jawa ini memiliki peranan yang sangat penting di dalam perkembangan agama yang saat ini menjadi agama paling banyak dianut oleh bangsa Indonesia.

Untuk menambah wawasan kita akan sejarah Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, dibawah ini adalah pembahasan singkat mengenai sejarah kerajaan Islam yang terdapat di Pulau Jawa.

Kerajaan Demak

Kerajaan Islam di Jawa
Sumber Gambar: 3.bp.blogspot.com

Kerajaan Demak atau lebih dikenal dengan Kesultanan Demak merupakan kerajaan Islam pertama dan terbesar di pantai utara Jawa. Menurut sejarah Jawa, Demak sebelumnya merupakan kadipaten dari kerajaan Majapahit.

Meski Demak masih di bawah kekuasaan Majapahit, namun kemudian muncul sebagai kekuatan baru yang mewarisi kebesaran kerajaan Majapahit.

Hal ini terjadi karena faktor melemahnya Kerajaan Majapahit sehingga memberikan peluang untuk tumbuh dan berkembangnya agama Islam.

Pada tahun 1470M, Wali Songo di bawah pimpinan Sunan Ampel bersepakat dan memilih Raden Patah sebagai raja pertama Kerajaan Demak.

Awalnya, area kerajaan ini bernama Bintoro, yaitu wilayah Kerajaan Majapahit yang diberikan kepada Raden Patah. Beberapa sejarawan berpendapat bahwa Raden Patah merupakan salah satu putra dari raja Majapahit dengan istrinya yang beragama Islam keturunan Campa.

Raden Patah berjasa sangat besar dalam penyebaran agama Islam dari Wali Songo di daerah kekuasaannya hingga nantinya menjadi pusat perkembangan Islam.

Beliau memerintah di Kerajaan Demak dari tahun 1478-1518M hingga tahta Kerajaan Demak selanjutnya digantikan oleh anaknya yang bernama Pangeran Sabrang Lor atau Pati Unus (Adipati Yunus).

Setelah menjadi raja, Pati Unus bersiasat untuk merencanakan penyerangan ke Malaka. Rencana penyerangan tersebut kian besar seiring dengan takluknya Malaka oleh tentara Portugis di tahun 1511M.

Namun pada pergantian tahun 1512M ke 1513M, pasukan Pati Unus mengalami kekalahan. Adipati Yunus menduduki tahta Kerajaan Demak hanya sekitar 3 tahun, tepatnya dimulai tahun 1518-1521M.

Sepeninggal Pati Unus, Kesultanan Demak dipimpin oleh Sultan Trenggono yang sebelumnya dilantik menjadi Raja Demak oleh Sunan Gunung Jati.

Nah, pada masa pemerintahan Kesultanan Demak yang ketiga ini Islam berkembang sangat pesat hingga ke seluruh tanah jawa bahkan sampai ke Kalimantan Selatan.

Tepatnya pada tahun 1527M, Sunda Kelapa berhasil ditaklukan berkat pasukan gabungan dari Demak dan Cirebon dimana yang memimpin saat itu adalah Fadhilah Khan.

Masih di tahun yang sama, Tuban dan Majapahit jatuh ditaklukkan oleh Kerajaan Demak.

Sementara itu, Madiun juga takluk oleh Demak di tahun 1529M, disusul Blora pada tahun 1539M, Surabaya di tahun 1531M, Pasuruan di taklukkan di tahun 1535M, Blitar, Lamongan dan Wirasaba sekitar tahun 1541-1542M serta Kediri pada tahun 1544M.

Selain di Jawa, wilayah luar Jawa juga mengakui Kesultanan Demak, yaitu Palembang dan Banjarmasin.

Pada masa Sultan Trenggono, Islam berkembang hingga ke Kalimantan Selatan. Tepat di tahun 1546M, Sultan Trenggono menyebrangi lautan untuk menuju ke Kalimantan Selatan dengan tujuan untuk menyerbu Blambangan.

Namun naas, pada penyerbuan tersebut, Sultan Trenggono tewas terbunuh hingga kemudian pucuk kepemimpinan Kerajaan Demak digantikan oleh adiknya yang bernama Sultan Prawoto.

Sultan Prawoto menjadi Raja Demak tidak berlangsung lama, hal ini karena terjadi pemberontakan oleh para adipati-adipati yang menjabat di sekitar Kesultanan Demak.

Pemberontakan ini mengakibatkan tewasnya Sultan Prawoto yang dibunuh oleh Aria Penangsang yang berasal dari Jipang dimana kejadian ini terjadi pada tahun 1549M.

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kemunduran Kerajaan Demak, salah satunya adalah dipicu oleh perang saudara yang terjadi antara Pangeran Surowiyoto dan Trenggana yang mengakibatkan saling bunuh antar saudara untuk saling memperebutkan tahta tertinggi Kerajaan Demak.

Tepatnya pada tahun 1554, Kerajaan Demak mengalami keruntuhan akibat pemberontakan yang dipimpin oleh Hadiwijaya (Jaka Tingkir) hingga pada akhirnya Hadiwijaya mengalihkan pusat kekuasaan Kerajaan Demak ke daerah Pajang sehingga berdirilah Kerajaan Pajang.

Baca Juga: Sejarah Islam di Indonesia

Kerajaan Pajang

Kerajaan Islam di Jawa
Sumber Gambar: www.arcgis.com

Kerajaan ini berdiri sebagai kelanjutan dari Kerajaan Demak setelah runtuh. Kesultanan Pajang didirikan oleh Sultan Hadiwijaya atau lebih dikenal dengan nama Jaka Tingkir yang berasal dari Pengging di lereng Gunung Merapi.

Jaka Tingkir adalah menantu Sultan Trenggono yang sebelumnya diberi kekuasaan di daerah Pajang.

Setelah membunuh dan merebut tahta kerajaan Demak dari Aria Penangsang, seluruh kekuasaan dan benda pusaka dipindahkan ke Pajang. Jaka Tingkir memperoleh gelar Sultan Hadiwijaya sekaligus didaulat menjadi raja pertama Kerajaan Pajang.

Agama Islam yang awalnya berpusat di Demak, akibat runtuhnya Kerajaan Demak maka otomatis dipindahkan ke pedalaman sehingga membawa pengaruh yang cukup besar dalam penyebarannya, seperti pada bidang politik yang juga mengalami perkembangan.

Pada masa Jaka Tingkir, ia memperluas wilayah kekuasaannya ke arah timur hingga sampai ke daerah Madiun tepatnya di area pedalaman tepi aliran sungai Bengawan Solo.

Sekitar tahun 1554, Jaka Tingkir akhirnya mampu menduduki Blora disusul Kediri di tahun 1577 M.

Karena memiliki hubungan kekerabatan/sahabat antara Kerajaan Pajang dengan kerajaan-kerajaan di Jawa Timur, maka pada tahun 1577 M, Jaka Tingkir mendapatkan pengakuan sebagai sultan Islam oleh para raja yang kala itu menguasai daerah Jawa Timur.

Kerajaan Cirebon

Kerajaan Islam di Jawa
Sumber Gambar: www.goodnewsfromindonesia.id

Kerajaan Cirebon atau dikenal juga dengan nama Kesultanan Cirebon merupakan kesultanan Islam yang cukup besar yang terletak di provinsi Jawa Barat, tepatnya pada abad 15-16 Masehi.

Kesultanan yang satu ini didirikan pada tahun 1430 dimana sultan pertamanya adalah Pangeran Walangsungsang yang menjabat dari tahun 1430-1479 M.

Setelah itu, tepatnya pada tahun 1479, Sultan Cirebon I menyerahkan jabatan kekuasaannya kepada Sunan Gunung Jati dimana beliau adalah keponakan dari Pangeran Walangsungsang sehingga Sunan Gunung Jati didaulat menjadi Sultan Cirebon II.

Penerus tahta Kesultanan Cirebon selanjutnya dipegang oleh Sultan Abdul Karim. Sultan Abdul Karim merupakan Raja terakhir di Kesultanan Cirebon sebelum kesultanan ini terbagi menjadi dua bagian yaitu Kesultanan Kasepuhan dan Kesultanan Kanoman.

Kesultanan Banten

Bergeser ke provinsi paling barat di pulau Jawa, yaitu provinsi Banten. Dahulu, di provinsi ini berdiri sebuah kerajaan Islam yang sangat terkenal, yaitu Kerajaan Islam Banten atau Kesultanan Banten yang berdiri pada tahun 1526.

Adapun sultan pertama yang memimpin Kerajaan Banten adalah Sultan Maulana Hasanuddin. Setelah kewafatan Sultan Banten yang pertama, pucuk kepemimpinannya diteruskan oleh putranya yaitu Pangeran Yusuf.

Sementara itu, kemunduran Kesultanan Banten terjadi di masa kepemimpinan Sultan Abdul Muffakir.

Sedangkan sultan terakhir yang menduduki tahta tertinggi di kerajaan ini sebelum akhirnya dibubarkan oleh kolonial Inggris adalah Sultan Maulana Muhammad Syafiudin.

Namun dari beberapa raja yang pernah memimpin Kesultanan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa merupakan raja yang paling terkenal diantara raja-raja lainnya. Hal ini karena pada masa kepemimpinannya, Kesultanan Banten berada dalam masa kejayaan.

Akhir dari Kesultanan Banten ini terjadi karena beberapa faktor dimana salah satunya adalah terjadinya perang saudara yang terjadi yang mana Sultan Haji (anak dari Sultan Ageng Tirtayasa) berusaha ingin mendapatkan kekuasaan dari tangan ayahnya.

Akibat kejadian ini, akhirnya Kesultanan Banten dibubarkan oleh pemerintah Inggris yang kala itu berkuasa di Indonesia. Kejadian ini terjadi pada tahun 1813 M.

Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan Islam di Jawa
Sumber Gambar: www.yuksinau.id

Kesultanan Mataram Islam merupakan sebuah kerajaan Islam yang ada dan pernah berdiri di Pulau Jawa, tepatnya pada abad ke-16. Pusat pemerintahannya terletak di Kotagede Yogyakarta.

Mataram Islam dipimpin oleh dinasti yang mengaku sebagai keturunan Majapahit, yaitu dari keturunan Ki Ageng Sela dan juga Ki Ageng Pemanahan.

Kesultanan Mataram Islam awalnya dari Kadipaten yang masih berada di bawah kekuasaan Kesultanan Pajang dan berpusat di Bumi Metaok yang kemudian diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan sebagai hadiah atas jasanya.

Raja pertama kerajaan ini adalah Sutawijaya (Panembahan Senapati) yang mana beliau adalah putra dari Ki Ageng Pemanahan. Dibawah pemerintahannya, kerajaan ini pada akhirnya menjadi kerajaan independen.

Masa kejayaan kerajaan ini terjadi pada masa pemerintahan Mas Rangsang atau lebih dikenal dengan Sultan Agung (1613-1645M).

Mas Rangsang berhasil melakukan ekspansi serta menguasai hampir seluruh wilayah di tanah Jawa. Bukan hanya itu, beliau juga melakukan perlawanan terhadap VOC dengan cara menjalin kerjasama dengan Kesultanan Banten dan Cirebon.

Dalam bahasa Jawa, Nagari Kesultanan Mataram menerapkan kerajaan yang berbasis pada pertanian berdasarkan ajaran Islam. Beberapa peninggalan dari kerajaan ini adalah kampung Matraman di Jakarta, penggunaan hanacaraka, sistem persawahan di Pantura Jawa Barat dan lainnya.

Sebelum runtuh, kerajaan ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat

Kerajaan Islam di Jawa
Sumber Gambar: jaringtourtravel.files.wordpress.com

Kesultanan Yogyakarta adalah lanjutan dari Kerajaan Mataram Islam yang terbelah menjadi dua, yakni Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Terbelahnya kerajaan Mataran Islam disinyalir berasal dari konflik perebutan kekuasaan dari dalam dan luar keraton sehingga meruntuhkan Kerajaan Mataram.

Situasi ini dimanfaatkan oleh VOC untuk memperkeruh keadaan dengan cara memecah belah kerajaan hingga mengeluarkan Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755.

Perjanjian ini memutuskan untuk membagi kekuasaan Kerajaan Mataram Islam menjadi dua bagian, yaotu Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Dalam perjanjian ini juga menetapkan Pangeran Mangkubumi sebagai Sultan Pertama di Kesultanan Yogyakarta dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) I.

Selang waktu sekitar satu bulan setelah Perjanjian Giyanti, Sri Sultan HB I yang mana saat itu tinggal di Pesanggrahan Ambar Ketawang akhirnya mendirikan sebuah keraton yang terletak di pusat Kota Yogyakarata. Lokasi ini saat ini menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Yogyakarta.

Sementara itu, pemerintah Hindia Belanda mengakui Kesultanan Yogyakarta sebagai sebuah kerajaan dengan hak mengatur rumah tangga sendiri. Semua itu dituliskan di dalam kontrak politik yang tercantum dalam Staatsblad 1941, No. 47.

Lantas apa yang dimaksud dengan Perjanjian Giyanti?

Perjanjian Giyanti adalah sebuah perjanjian atau kesepakatan yang dilakukan antara pihak Belanda, pihak Kerajaan Mataram Islam yang diwakili oleh Sunan Pakubuwono III serta kelompok Pangeran Mangkubumi. Namun pada perjanjian ini, Pangeran Sambernyawa tidak dilibatkan.

Di dalam perjanjian ini, Pangeran Mangkubumi pada akhirnya malah memutar haluan menyebrang dari mendukung kelompok pemberontak serta bergabung dengan kelompok pemegang legitimasi kekuasaan yang memerangi pemberontak, beliau adalah Pangeran Sambernyawa.

Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Kerajaan Islam di Jawa
Sumber Gambar: koperbunda.com

Perjanjian Giyanti

Keberadaan Kasunanan Surakarta tidak lepas dari sejarah Perjanjian Giyanti yang mana perjanjian tersebut terjadi antara Sunan Pakubuwana III dan Pangeran Mangkubumi yang bersengketa di Kesultanan Mataram Islam.

Hingga pada akhirnya kedua belah pihak kemudian membuat perjanjian dengan Pemerintah Hindia Belanda (VOC). Inti dari perjanjian ini adalah Kesultanan Mataram Islam dibagi menjadi dua, yaitu Yogyakarta dan Surakarta.

Meskipun demikian, Keraton Surakarta tidak dianggap sebagai pengganti dari Kesultanan Mataram Islam meski rajanya masih memiliki darah keturunan dengan Kerajaan Mataram Islam.

Sampai pada akhirnya Keraton Surakarta menjadi sebuah kerajaan sendiri dimana setiap raja dari Kasunanan Surakarta mendapat gelar Sunan.

Tanggal 13 Februari 1755, VOC mengalami kebangkrutan sehingga pada saat itu VOC membujuk Pangeran Mangkubumi untuk bersatu dengan VOC guna melawan pemberontakan yang dilakukan oleh Raden Mas Said.

Raden Mas Said merupakan seorang tokoh yang di kemudian hari disebut dengan Kanjeng Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara I meskipun sebelumnya Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said bersekutu.

Tepat di tanggal 17 Maret 1757, terjadilah perjanjian Salatiga yang mana salah satu pokok dari intinya adalah Kasunanan Surakarta menjadi semakin kecil. Penyebabnya adalah karena Raden Mas Said menang dan diakui sebagai pangeran.

Akibat dari kemenangan itu, ia mendapatkan wilayah di tepi Sungai Pepe yang mana tempat ini menjadi tempat Pura Mangkunegaran berada.

Sejarah Singkat Keraton Surakarta

Pakubuwana IV

Pakubuwana IV adalah seorang raja yang sangat membenci penjajahan. Beliau juga merupakan seorang raja yang memiliki tujuan cita-cita yang tinggi dan keberanian penuh.

Di tahun 1790, terjadilah pengepungan terhadap Keraton Surakarta Solo yang dilakukan oleh para pejabat Negara, VOC, Mangubuwana I dan Hamengkubuwana I.

Kejadian ini dikenal dengan peristiwa Pakepung. Salah satu alasan pengepungannya adalah karena Pakubuwana IV mengusir para pejabat Negara yang tidak sepaham dengannya.

Setelah kejadian itu, Pakubuwana IV akhirnya mengakui kekalahan dan menyetujui untuk dibuang oleh VOC.

Hasil dari kejadian itu, selanjutnya mereka mengadakan perundingan yang mana perundingan tersebut berisi bahwa Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta dan Praja Mangkunegara memiliki kedudukan sama sehingga dilarang saling menyerang antara satu dengan yang lainnya.

Pakubuwana V

Pemegang tahta tertinggi Kasunanan Surakarta selanjutnya adalah Pakubuwana V yang mana beliau mendapat julukan Sunan Ngabehi karena kekayaannya. Dalam hal ini kekayaan yang dimiliki bukan hanya kekayaan harta namun juga kekayaan kesaktian.

Pakubuwana VI

Sepeninggal Pakubuwana V adalah Pakubuwana VI, beliau adalah salah satu pendukung dari Pangeran Diponegoro untuk melawan VOC.

Pakubuwana VII

Saat di bawah pemerintahan Pakubuwana VII, peperangan Diponegoro telah usai yang menyebabkan Keraton Surakarta dalam keadaan damai.

Pada masa ini juga menjadi awal tumbuh dan berkembangnya sastra secara besar-besaran. Para sejarawan menyebut, masa Pakubuwana VII merupakan masa kejayaan sastra di Kasunanan Surakarta.

Pakubuwana VIII dan IX

Era pemerintahan Pakubuwana VIII terbilang cukup singkat, yaitu hanya sekitar 3 tahun setelahnya beliau wafat. Pucuk kekuasaan setelahnya dilanjutkan oleh putra Pakubuwana VI yang bergelar Sri Susushan Pakubuwana IX.

Pakubuwana X

Masa pemerintahan Pakubuwana X, suasana politik di keraton ini sangat stabil sehingga disebut-sebut menjadi masa kejayaan dari pemerintahan Pakubuwana X.

Bukan hanya itu, pada masa ini juga terjadi sebuah transisi, yaitu perubahan dari Kerajaan era tradisional menuju era modern.

Banyak pembangunan infrastruktur pada era ini seperti dibangunnya Stasiun Solo Jebres dan juga Satwa Taru Jurug atau lebih dikenal dengan nama Kebun Binatang Jurug.

Beberapa pembangunan lainnya adalah Pasar Gedhe, Jembatan Jurug dan lain sebagainya.

Akan tetapi pada tanggal 1 Februari 1939, Pakubuwana X tutup usia. Karena pengaruhnya yang sangat besar, oleh rakyatnya, beliau dijuluki sebagai Sunan Panutup atau Raja Besar Surakarta yang terakhir.

Pakubuwana XI

Setelah Pakubuwana X wafat, pemerintahan selanjutnya dilanjutkan oleh Pakubuwana XI yang mana pada masa ini merupakan masa-masa sulit karena pada saat itu bertepatan dengan terjadinya perang dunia kedua.

Bukan hanya itu, pada tahun 1942, Indonesia juga mengalami pergantian penjajahan dari Belanda berganti ke negara Jepang.

Pakubuwana XII

Pemerintahan Pakubuwana XII terjadi dengan momen lahirnya NKRI. Kemudian pada tahun 1945-1947, Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegara patuh dan tunduk pada Pemerintahan Indonesia sehingga statusnya berubah menjadi Daerah Istimewa sama seperti halnya Yogyakarta.

Demikianlah pembahasan mengenai sejarah kerajaan Islam di Jawa. Semoga dapat menjadi rujukan serta dapat menjadi wawasan bagi kamu yang saat ini sedang membutuhkan referensi mengenai sejarah kerajaan Islam di Pulau Jawa.

Kerajaan Islam di Sumatera

Kerajaan Islam di Sumatera

Kerajaan Islam di Sumatera – Jauh sebelum Indonesia merdeka, berdirilah kerajaan-kerajaan yang tersebar di berbagai daerah di Nusantara. Kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara ini ada yang bercorak Hindu, Hindu-Buddha, Budha dan Islam.

Sejarah Islam di Indonesia salah satunya berawal dari saudagar-saudagar muslim yang umumnya berasal dari Timur Tengah dimana pada awalnya mereka datang ke Nusantara untuk berdagang.

Namun seiring berjalannya waktu, saudagar-saudagar muslim ini selain berdagang, mereka juga menyebarkan ajaran yang mereka anut hingga banyak masyarakat yang kala itu tidak mengenal Islam pada akhirnya tertarik untuk belajar tentang ajaran yang dibawa dan dianut oleh mereka.

Sejarah 4 Kerajaan Islam di Sumatera

Dari sekian banyak saudagar muslim yang menetap di Nusantara, beberapa diantaranya ada yang menikah dengan orang pribumi dan putri keturunan raja di wilayah mereka tinggal.

Berawal dari situ, berdirilah beberapa kerajaan-kerajaan Islam yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, seperti misalnya di Pulau Sumatera.

Beberapa kerajaan yang akan kami bahas disini merupakan kerajaan-kerajaan Islam yang pernah berjaya di Indonesia, tepatnya yang berada di Sumatera.

Kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera yang dimaksud adalah Kerajaan Perlak, Kerajaan Samudera Pasai, Kerajaan Malaka dan Kerajaan Aceh Darussalam.

1. Kerajaan Perlak

Kerajaan Islam di Sumatera
Sumber Gambar: i.ytimg.com

Perlak merupakan sebuah wilayah yang berada di Aceh Timur dimana wilayah ini dahulu banyak ditumbuhi oleh kayu perlak. Kayu perlak merupakan jenis kayu yang sangat bagus untuk pembuatan kapal.

Dengan adanya kayu tersebut menjadikan wilayah ini banyak dikunjungi oleh orang luar yang berniat untuk membelinya. Sebagai salah satu pelabuhan yang maju pada abad ke-8 masehi, Perlak menjadi tempat singgah untuk kapal-kapal dari Arab dan Persia.

Seiring berjalannya waktu, maka terbentuk dan berkembanglah masyarakat Islam yang diawali dan didominasi oleh perkawinan antar saudara muslim dan perempuan pribumi.

Sejarah Singkat Berdirinya Kerajaan Perlak

Perkawinan ini melahirkan keturunan-keturunan muslim dari percampuran antara darah Arab, Persia, dengan para putri-putri yang berasal dari Perlak.

Kerajaan Perlak berdiri pada hari Selasa, 1 Muharram 225 H/840 M, dimana yang menjadi raja pertamanya adalah Sultan Marhum ‘Alauudin Sayyid Maulana ‘Abdul ‘Aziz Syah Zhillullah fil ‘Alam.

Pada saat itu, ibukota daripada kerajaan ini langsung berubah dari Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah. Salah satu alasan mengapa diganti adalah untuk mengenang jasa nahkoda khalifah yang kala itu sudah membudayakan Islam terhadap masyarakat Asia Tenggara yang dimulai dari Perlak.

Sultan-Sultan Kerajaan Perlak

Sementara itu, terdapat 3 sultan yang pernah memimpin Kerajaan Perlak, yaitu:

  1. Sultan Marhum ‘Alauudin Sayyid Maulana ‘Abdul ‘Aziz Syah Zhillullah fil ‘Alam (225-249 H/840-864 M).
  2. Sultan ‘Alauddin Sayyid Maulana ‘Abdurrahim Syah Zhillullah fil ‘Alam (249-285 H/864-888 M).
  3. Sultan Marhum ‘Alauddin Sayyid Maulana ‘Abbas Syah Zhillullah fil ‘Alam (285-300 H/888-913 M).

Adapun masa pemerintahan ketiga sultan diatas disebut pemerintahan Dinasti Sayyid Maulana ‘Abdul ‘Aziz Syah, dimana pada masa pemerintahannya (aliran Syi’ah), aliran ahlus Sunnah wal Jamaah mulai berkembang di tengah-tengah masyarakat dan hal ini tidak disukai oleh Syi’ah.

Hingga pada akhir pemerintahan sultan ke-3 terjadilah perang saudara antara kedua golongan tersebut yang mengakibatkan kematian sultan sampai pada akhirnya selama 2 tahun Kerajaan Perlak tidak memiliki sultan.

Pada tahun 302-305 H/915-918 M, Sayyid ‘Ali Mughayat Syah Zhillullah fil ‘Alam diangkat menjadi sultan. Sekitar 3 tahun, tepatnya di akhir masa pemerintahannya, terjadi kembali perselisihan antara dua golongan hingga mengakibatkan peperangan.

Peperangan ini pada akhirnya dimenangkan oleh pihak ahlus Sunnah wal Jama’ah sehingga sultan selanjutnya yang diangkat untuk memerintah Perlak diambil dari golongan itu yaitu berasal dari keturunan Meurah Perlak asli (syahir Nuwi).

Adapun sultan selanjutnya yang memerintah di Kerajaan Perlak adalah:

  • Sultan Marhum ‘Alauddin ‘ Malik Abdul Qadir Syah Johan Berdaulat (306-310 H/928-932 M).
  • Sultan Marhum ‘Alauddin ‘ Malik Muhammad Amin Syah Johan Berdaulat (310-334 H/932-956 M).
  • Sultan Marhum ‘Alauddin ‘Abdul Malik Syah Johan Berdaulat (334-362 H/956-983 M).

Tepat di akhir pemerintahan Sultan Abdul Malik (sultan ke-3), terjadi kembali peperangan diantara kedua aliran. Peperangan ini terjadi dalam kurun waktu 4 tahun hingga pada akhirnya diakhiri dengan perdamaian yaitu dengan membagi wilayah kerajaan menjadi 2 bagian.

Pembagian 2 wilayah ini diberi nama Perlak pedalaman untuk golongan ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Perlak pesisir untuk golongan Syi’ah.

Sementara itu, Sultan Marhum ‘Alauddin ‘Abdul Malik Syah Johan Berdaulat (662-692 H/1263-1292 M) adalah raja/sultan terakhir dari Kerajaan Perlak.

Setelah sultan wafat, Kerajaan Perlak kemudian disatukan dengan Kerajaan Samudera Pasai tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik Al-Zahir putera Al Malik Al-Saleh.

2. Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Islam di Sumatera
Sumber Gambar: www.artisanalbistro.com

Terdapat 2 sumber yang menjelaskan mengenai Kerajaan Samudera Pasai, berikut akan kami jelaskan dengan singkat dan jelas.

Sumber ke-1

Sumber yang pertama mengatakan bahwa Kerajaan Samudera Pasai berdiri pada tahun 433 H/1024 M, dimana pendirinya adalah Meurah Khair yang sebelumnya telah menjadi seorang raja dengan gelar Maharaja Mahmud Syah. Maharaja Mahmud Syah memerintah sampai tahun 470 H/1078 M.

Sepeninggal beliau, pemerintahannya dilanjutkan oleh:

  • Maharaja Mansur Syah, yang berkuasa pada tahun 470-527 H/1078-1133 M.
  • Maharaja Ghiyasyuddin Syah. Beliau merupakan cucu dari Meurah Khair.  memerintah pada tahun 527-550 H/1133-1155 M.
  • Maharaja Nuruddin atau Meurah Noe atau Tengku Samudra atau lebih dikenal dengan nama Sultan Al-Kamil, memerintah pada tahun 550-607 H/1155-1210 M.

Sultan Al-Kamil merupakan sultan terakhir dari keturunan Meurah Khair karena setelah kewafatannya, kerajaan Islam di Sumatera menjadi rebutan para pembesar, hal ini karena tidak lagi mempunyai keturunan.

Dalam kurun waktu 50 tahun, Samudera Pasai berada dalam konflik hingga pada akhirnya Meurah Silu mengambil kekuasaan di kerajaan tersebut.

Dasar rujukan berasal dari dinastinya yang sudah memerintah Kerajaan perlak lebih dari 200 tahun hingga kemudian disatukan dengan Kerajaan Samudera Pasai di masa Sultan Muhammad Al-Zahir (1289-1326 M).

Sumber ke-2

Berbeda dengan sumber pertama, sumber kedua berasal dari berita dari Cina dan catatan Ibnu Batuttah yaitu seorang pengembara dari Maroko yang menyebutkan bawa Kerajaan Samudera Pasai berdiri pada tahun 1282 M dimana pendirinya adalah Al-Malik Al-Saleh.

Pada saat itu beliau mengirim utusan ke Quilon yang terletak di pantai barat India. Disana beliau bertemu dengan para duta dari Cina. Diantara beberapa duta ini, terdapat beberapa duta yang dikirim yaitu Husein dan Sulaiman (nama-nama muslim).

Selain itu, pada saat Marcopolo mengunjungi Sumatra, tepatnya di tahun 1346 M, menyebutkan bahwa di tempat yang ia kunjungi, Islam sudah sekitar 1 abad disiarkan dengan mazhab yang diikuti adalah mazhab Syafi’i.

Waktu itu, Samudera Pasai menjadi pusat belajar agama Islam dan dijadikan sebagai tempat berkumpulnya para ulama dari berbagai negeri untuk membicarakan masalah keagamaan dan masalah keduniaan.

Kala itu, Ibnu Battutah mengatakan bahwa kerajaan Samudera Pasai juga memiliki peran yang cukup penting dalam meng-islam-kan Jawa dan Malaka.

Sultan Al-Malik Al-Zahir adalah seorang pecinta teologi serta senantiasa memerangi orang kafir dan menjadikannya untuk memeluk agama Islam.

Basis perekonomian Kerajaan Samudera Pasai ini lebih tertuju ke pelayaran dan perdagangan sehingga terlihat sebagai kerajaan yang makmur.

Salah satu alasan disebut sebagai kerajaan yang makmur adalah karena dilihat dari segi geografis dan perekonomian pada waktu itu kerajaan ini merupakan daerah penghubung antara pusat perdagangan yang ada di salah satu kepulauan di Indonesia, India, Cina dan Arab.

Sumber kedua ini juga menyebutkan bahwa Kerajaan Samudera Pasai telah dikalahkan oleh Kerajaan Majapahit sehingga menjadi bagian dari kerajaan tersebut.

Namun sebelum tentara Majapahit pergi meninggalkan Samudera Pasai untuk kembali ke Jawa, para pembesar Majapahit akhirnya bersepakat untuk mengangkat salah seorang raja dari bangsawan Pasai yang dipilih dan dipercaya mampu memerintah kerajaan.

Adapun raja yang ditunjuk adalah Ratu Nurullah atau Malikah Nurullah binti Sultan Al-Malik Al-Zahir.

Sedangkan Ratu Nurullah mangkat pada tahun 1380 M, bertepatan dengan masa pemerintahan Kerajaan Majapahit pada kala itu dipimpin oleh Raja Hayam Wuruk.

Pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, Majapahit sedang dalam puncak kejayaannya, hal ini karena dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada.

Raja-Raja yang Memerintah Kerajaan Samudera Pasai

Beberapa raja pernah menduduki singgasana tertinggi di Kerajaan Samudera Pasai, diantaranya adalah:

  1. Sultan Al-Malik Al-Saleh. Beliau di daulat sebagai raja pertama Kerajaan Samudera Pasai yang memerintah pada tahun 1297 M.
  2. Muhammad Malik Al-Zahir, menjadi raja kedua Kerajaan Samudera Pasai, dimulai pada tahun 1297-1326 M.
  3. Muhammad Malik Al-Zahir II, menjadi raja ketiga dimulai pada tahun 1326-1345 M.
  4. Manshur Malik Al-Zahir, adalah seorang raja yang memerintah Kerajaan Samudera Pasai pada tahun 1345 M.
  5. Ahmad Malik Al-Zahir, Raja Kerajaan Samudera Pasai di tahun 1345-1383 M.
  6. Zainal Abidin Malik Al-Zahir, menjadi raja Kerajaan Samudera Pasai selanjutnya, tepatnya di tahun 1383-1405 M.
  7. Nahrasiyah di tahun 1405-?.
  8. Abu Zaid Malik Al-Zahir, menjadi raja Kerajaan Samudera Pasai dimulai pada tahun ?-1455 M.
  9. Mahmud Malik Al-Zahir, di daulat menjadi raja pada tahun 1455-1477 M.
  10. Zainal Abidin, menduduki singgasana raja Kerajaan Samudera Pasai dimulai pada tahun 1477-1500 M.
  11. Abdullah Malik Al-Zahir, raja Kerajaan Samudera Pasai dari tahun 1501-1513 M.
  12. Zainal Abidin, menjadi raja terakhir yang memerintah Kerajaan Samudera Pasai, tepatnya pada tahun 1513-1524 M.

Di masa raja terakhir, tepatnya pada tahun 1521 M, Samudera Pasai dikuasai Portugis selama 3 tahun. Pada tahun 1524 M, penguasaan Kerajaan Islam Samudera Pasai ini digantikan dengan Kerajaan Aceh Darussalam.

3. Kerajaan Malaka

Kerajaan Islam di Sumatera
Sumber Gambar: 4.bp.blogspot.com

Berdasarkan sejarah melayu, terdapat seseorang yang Parameswara. Parameswara adalah seorang keturunan dari Sang Nila Utama (anak Sang Sapurba) dari Kota Palembang yang kemudian dinikahkan dengan Sri Beni Putri.

Sri Beni merupakan permaisuri dari Iskandar Syah ratu Bintan yang sebelumnya hijrah ke Tumasik hingga diangkat  sebagai raja bergelar Tribuwana.

Di masa kekuasaan Parameswara ini, datanglah serangan dari Majapahit yang menjadikan rajanya tersudut dan akhirnya melarikan diri ke Semenanjung Melayu (Trengganu).

Beliau hidup disana sekaligus mendirikan sebuah kerajaan yang diberi nama Kerajaan Malaka. Sekitar tahun 1400 M dan sesudah masuk Islam, beliau memiliki gelar Megat Iskandar Syah, meninggal pada tahun 1424 M.

Sepeninggal beliau, digantikan oleh Sultan Muhammad Syah (1414-1444 M) dan digantikan kembali oleh Sultan Mahmud (1511 M), kemudian Malaka jatuh ke tangan Portugis.

Hingga akhirnya beliau mengungsi ke Pahang dan tinggal di Muara Pulau Bintan. Berawal dari sini beliau terus berusaha untuk melakukan serangan balik ke Malaka namun selalu gagal.

Tepatnya pada bulan Oktober 1512, terjadilah serangan terhadap Bintan oleh tentara Portugis yang dipimpin oleh Albuquerque. Namun pertahanan Bintan terlalu kuat sehingga mengakibatkan Albuquerque mengalami kekalahan.

Penyerangan dari Portugis selanjutnya terjadi pada tahun 1523 yang dipimpin oleh Henriquez dan di tahun 1524 dimana pemimpinnya adalah De Souza, dua penyerangan beruntun tersebut juga mengalami kekalahan.

Namun naas, pada tahun 1525 M, Bintan berhasil dikalahkan oleh Portugis setelah sebelumnya bersekutu dengan Lingga hingga pada akhirnya Sultan Mahmud mengungsi ke Johor.

Meskipun demikian, Sultan Mahmud selalu berusaha untuk dapat kembali merebut Malaka dari tangan Portugis, namun sampai ajal menjemput, usahanya tidak pernah berhasil.

Sampai pada akhirnya, karena usaha putranya, Kerajaan Melayu sukses dilanjutkan dan menjadikan Johor sebagai pusatnya. Berstatus sebagai Sultan Johor pertama, beliau menggunakan gelar Sultan Alaudin Riayat Syah II (1528-1564 M).

Akan tetapi pada masa pemerintahan Sultan Ibrahim (1677-1685 M), pusat kerajaan dipindahkan ke Bintan pada tahun 1678 M.

4. Kerajaan Aceh Darussalam

Kerajaan Islam di Sumatera
Sumber Gambar: upload.wikimedia.org

Tepat pada akhir abad ke-15, arus penjajahan barat ke timur terbilang sangat ramai, khususnya penjajahan barat, yaitu Kristen dari barat terhadap timur Islam.

Diantara bangsa Eropa Kristen yang saat itu sangat berambisi untuk menjajah bumi Nusantara adalah Portugis. Setelah mereka menguasai Goa di India, target selanjutnya adalah Malaka.

Hingga kemudian Malaka dikuasai oleh Portugis pada tahun 1511. Sesudah Malaka jatuh, kemudian Portugis mengatur rencana tahap demi tahap.

Beberapa langkah/cara yang diambil adalah dengan mengirim kaki tangannya ke daerah pesisir utara Sumatra dengan maksud untuk memicu kekacauan dan juga perpecahan sehingga diharapkan dapat memicu perang saudara.

Langkah kedua adalah Portugis bersiasat untuk langsung melakukan penyerangan dan seterusnya menetap serta memaksa raja yang sudah menyerah untuk menandatangani kontrak pemberian hak monopoli dagang.

Sejarah Kerajaan Aceh Darussalam

Sampai pada akhirnya Portugis berhasil memaksa raja-raja dari Kerajaan Islam Jaya, Samudera Pasai dan Islam Pidie untuk menandatangani persetujuannya. Hal itu terjadi menjelang akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16.

Berawal dari situ, muncullah seorang tokoh yang berusaha untuk mempersatukan 6 kerajaan Islam seperti Perlak, Samudera Pasai, Pidie, Indra Purba, Tamiang dan Indra Jaya.

Bertepatan pada tahun 1514, Ali Mughayat Syah dilantik sebagai Sultan (1514-1530 M) dengan nama kerajaannya yaitu Kerajaan Aceh Darussalam.

Wilayah kerajaan ini meliputi Aru sampai Pacu di pantai utara dan Jaya sampai ke Barus di pantai barat dengan ibu kotanya adalah Banda Aceh Darussalam.

Beliau selalu menetapkan satu tekad yang kuat untuk mengusir penjajah Portugis dari Sumatra Utara hingga terjadilah beberapa pertempuran dengan tentara Portugis. Pertempuran-pertempuran ini terjadi pada tahun 1521, 1526, 1528 dan 1542 M.

Akhirnya tentara Portugis berhasil ditaklukkan melalui beberapa pertempuran di berbagai daerah. Sultan Ali Mughayat pada akhirnya meninggal pada hari Selasa, bertepatan dengan tanggal 12 Dzulhijjah 936 H/7 Agustus 1530 M.

Setelah membangun pondasi yang cukup kuat untuk kerajaan Aceh Darussalam, beliau juga menciptakan bendera kerajaan yang diberi nama Alam Zulfiqaar (bendera cap pedang) berwarna merah darah dengan pedang berwarna putih.

Kerajaan Aceh Darussalam mengalami masa puncak pada kepemimpinan Sultan Ali Mughayat Syah, Sultan Alaiddin Riayat Syah II, Sultan Iskandar Muda Darmawangsa Perkasa Alam Syah dan Sultan Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan.

Terhitung setelah sepeninggalan raja-raja tersebut, kerajaan ini mengalami masa suram yang terjadi secara terus menerus. Sementara itu, kerajaan ini menjadikan Islam sebagai landasan dasar negara.

Tercatat, terdapat sekitar 31 raja yang pernah memerintah dimana raja terakhirnya adalah Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah (1870-1904 M).

Nah, itulah pembahasan mengenai sejarah kerajaan Islam di Sumatera. Sebagai bangsa Indonesia, terutama kita yang beragama Islam, maka dengan mengetahui sejarah Islam di masa lampau merupakan suatu hal yang wajib untuk diketahui.

Karena bagaimanapun juga, Islam tidak akan berkembang sampai hari ini jika tanpa adanya kerajaan-kerajaan Islam baik itu kerajaan Islam di Sumatera atau di daerah lain di Indonesia.

Sejarah Islam di Indonesia

Sejarah Islam di Indonesia

Sejarah Islam di Indonesia – Islam merupakan agama terbesar yang dianut oleh bangsa Indonesia. Hal ini karena di dalam pertumbuhannya terbilang cukup pesat, cepat dan masif. Selain itu, Indonesia merupakan negara dengan penduduk pemeluk agama Islam terbesar di dunia.

Sejarah masuknya Islam di Indonesia ini melalui proses yang cukup panjang. Agama Islam pertama kali lahir di kota Mekkah, Arab Saudi. Sejak zaman Nabi Muhammad SAW, Islam telah disebarluaskan ke berbagai negeri.

Bahkan setelah Nabi Muhammad SAW wafat, syi’ar Islam tetap terus dilakukan oleh para khalifah dan para pemimpin Dinasti Islam sepeninggal Rasulullah SAW.

Baca Juga: Keragaman Budaya Indonesia

Sejarah Masuknya Islam di Indonesia

Agama Islam pertama kali dikenalkan di Nusantara yaitu terjadi pada masa Dinasti Umayyah yang mendirikan pangkalan dagang pertama yang terletak di pantai barat Sumatra.

Sejak dahulu, Indonesia terkenal sebagai negara yang kaya akan rempah-rempah sehingga banyak para pedagang dari berbagai penjuru dunia yang berkunjung ke Indonesia.

Para pedagang ini memiliki latar belakang kepercayaan yang berbeda-beda, salah satunya adalah pedagang yang berlatar belakang beragama Islam.

Pedagang yang menyebarkan agama Islam dan kebudayaannya di Indonesia ini melalui proses yang damai sehingga para raja dan rakyatnya dapat menerimanya dengan baik.

Selain melalui jalur perdagangan, Islam masuk ke Indonesia juga melalui beberapa jalur lainnya, seperti jalur perkawinan, pendidikan dan budaya.

Pada umumnya, terdapat tiga teori yang menjelaskan awal mula Islam masuk ke Indonesia, yaitu teori Gujarat, teori Arab dan teori Persia.

Teori Gujarat

Sejarah Islam di Indonesia
Sumber Gambar: 3.bp.blogspot.com

Teori pertama masuknya Islam pertama kali adalah teori yang berasal dari Gujarat India yang dikemukakan oleh para peneliti di Belanda, seperti Snouck Hurgronje, Pijnappel dan Moquette.

Berdasarkan teori ini diceritakan bahwa pada masa itu orang-orang Islam yang berasal dari Arab melakukan perjalanan ke Gujarat, India.

Didaerah tersebut, Islam dengan mazhab Syafi’i berkembang dimana yang mengajarkannya adalah orang-orang tersebut yang berasal dari Arab.

Setelah itu, orang-orang Gujarat membawanya ke Indonesia. Proses ini terjadi dengan damai karena pada masa itu mereka memiliki hubungan dagang dengan Nusantara sehingga Islam sedikit demi sedikit menyebar diantara para kaum pedagang.

Hal ini juga yang menjadi alasan mengapa mazhab di Indonesia dan Gujarat memiliki kesamaan yaitu mazhab Syafi’i.

Selain itu, Moquetta juga menulis bahwa masuknya Islam ke Indonesia dari Gujarat ini diperkuat dengan ditemukannya batu nisan miliki Sultan Malik Al-Saleh di Pasai. Batu nisan dengan model serupa ini ternyata juga ditemukan di Semenanjung Malaya dan Gresik.

Teori Mekkah

Sejarah Islam di Indonesia
Sumber Gambar: static.wixstatic.com

Sementara itu, teori Mekkah menyebut bahwa Islam masuk ke Nusantara terjadi pada abad pertama Hijriah atau pada abad ke-7 Masehi. Pada teori ini, seorang Ulama Buya Hamka menjelaskan bahwa Islam berasal dari tanah Arab atau Mesir yang dibawa oleh para kaum musafir yaitu kaum Sufi.

Ternyata kaum Sufi juga pernah diungkapkan oleh A. H Jhons bahwa mereka sering mengembara ke berbagai tempat di dunia untuk mendirikan suatu kumpulan atau tarekat.

Buya juga menuliskan dalam bukunya Membongkar Kejumudan: Menjawab Tuduhan-Tuduhan Salafi Wahhabi. Didalam bukunya ini menjelaskan bahwa Gujarat merupakan tempat singgah sementara para pedagang yang berasal dari Arab sebelum akhirnya masuk ke Indonesia.

Teori Persia

Sejarah Islam di Indonesia
Sumber Gambar: assets-a1.kompasiana.com

P.A Hosein Djajadiningrat menjelaskan bahwa teori sejarah Islam di Indonesia dari Persia berdasarkan alasan banyaknya persamaan budaya Islam Indonesia dengan Persia.

Beberapa contohnya adalah seperti peringatan 10 Muharram atau Assyura dalam memperingati syahidnya Husain terdapat di kedua negara tersebut. Selanjutnya adalah dalam penggunaan ejaan membaca huruf Arab antara orang Indonesia dan Persia juga memiliki kesamaan.

Kesamaan lainnya adalah terdapat pada ajaran Syaikh Siti Jenar dengan ajaran sufi Iran Al-Hallaj yang berkembang dalam bentuk puisi. Adapun teori ini juga menjelaskan bahwa Islam Persia membawa pengaruh di dalam perkembangan mazhab Syafi’i yang dianut oleh umat muslim di Nusantara.

Perkembangan Islam di Nusantara semakin pesat dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam. Nah, perkembangan kerajaan di Nusantara ini berlangsung antara abad ke-13 hingga abad ke-18 dimana kerajaan-kerajaan ini dibagi berdasarkan lokasi pusat pemerintahannya yaitu di Sumatra, Jawa, Sulawesi dan Maluku.

Berdasarkan Sejarah, kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah Kerajaan Perlak, disusul dengan berdirinya Kerajaan Samudera Pasai dan beberapa kerajaan-kerajaan Islam lainnya yang pernah berdiri dan berjaya di Indonesia.

Kerajaan-kerajaan tersebut adalah Kerajaan Demak, Kerajaan Banten, Kerajaan Mataram Islam, Kerajaan Makassar, Kerajaan Tidore dan Kerajaan Aceh Darussalam.

Demikianlah pembahasan singkat mengenai masuknya Islam di Indonesia berdasarkan beberapa teori. Semoga dapat menjadi referensi bagi kamu yang saat ini ingin lebih jauh mengetahui tentang peradaban keberadaan dan sejarah Islam di Indonesia.

Cara Membuat Pempek

Cara Membuat Pempek

Cara Membuat Pempek – Pempek merupakan salah satu makanan khas Sumatra Selatan yang cukup terkenal karena memiliki rasa yang lezat. Rasa gurih yang dipadukan dengan cuko asam manis pedas membuat jajanan ini sangat kaya rasa.

Saking terkenalnya kuliner ini, bahkan saat ini pempek tidak hanya disajikan di restoran-restoran saja namun juga dijajakan dengan gerobak-gerobak keliling yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Berdasarkan sejarahnya, jajanan khas ini telah ada di kota Palembang sejak abad ke-16. Sementara itu, nama makanan ini diambil dari kata empek-empek atau pek-pek yang menjadi sebutan lelaki tua untuk pria Tionghoa.

5 Cara Membuat Pempek Palembang yang Enak, Empuk, dan Gurih

Makanan yang identik dengan kota Palembang ini mempunyai berbagai macan jenis dimana setiap jenisnya memiliki ciri khas masing-masing baik dari bentuk maupun rasanya.

Meskipun saat ini banyak penjual empek-empek yang tersebar dimana-mana, namun kamu juga dapat membuatnya sendiri di rumah. Hal ini karena di dalam cara membuatnya terbilang cukup mudah, sama seperti halnya cara membuat nugget ala rumahan.

Nah, jika kamu ingin membuat jajanan khas ini di rumah, maka sebelumnya kamu harus mengetahui resep dan caranya.

Untuk membantu kamu yang saat ini sedang mencari referensi tentang resep cara membuat empek-empek, berikut akan kami jelaskan mengenai 5 cara membuat pempek yang enak, empuk, gurih, dan mudah!

1. Pempek Dos Adaan

Cara Membuat Pempek
Sumber Gambar: i.ytimg.com

Bahan-bahan:

– 250 gram tepung terigu
– 500 gram tepung sagu
– 10 siung bawang merah, iris tipis
– 3 butir telur, kocok lepas
– 3 sdt kaldu jamur
– 4 sdt garam
– minyak sayur secukupnya
– 500 ml air

Bahan cuko:

– 50 gram gula pasir
– 250 gram gula merah
– 50 gram bawang putih
– 50 gram cabe rawit
– 1/2 sdm asam jawa/cuka
– 1/2 sdm  garam
– 500 ml air

Cara membuat:

– Langkah awal adalah masak air terlebih dahulu hingga mendidih.
– Campurkan bahan-bahan seperti tepung terigu, kaldu jamur dan garam, tuangkan air panas kemudian aduk-aduk sampai merata.
– Tambahkan telur dan bawang merah yang telah diiris tipis, aduk kembali sampai adonan rata.
– Sesudah itu, masukkan tepung sagu sedikit demi sedikit sambil terus diaduk agar merata.
– Bentuk adonan menjadi bulat dengan berat tiap bulatan sekitar 30 gram atau sesuai selera.
– Panaskan minyak goreng, goreng menggunakan api kecil agar matang secara merata.
– Setelah matang, angkat kemudian tiriskan.
– Buat cuko dengan cara haluskan bawang putih dan cabe.
– Masak air hingga mendidih, masukkan gula merah lalu masak kembali hingga larut, saring.
– Masukkan cabe dan juga bawang putih yang telah dihaluskan ke dalam air gula.
– Tambahkan juga gula pasir, garam dan air asam jawa, aduk merata. Sesekali koreksi rasanya, masak sampai cuko mendidih.
– Angkat dan biarkan hingga dingin, setelah itu masukkan cuko ke dalam botol kemudian tutup rapat lalu simpan di lemari es.
– Sajikan empek-empek dos adaan dengan kuah cuko.

2. Pempek Kapal Selam

Cara Membuat Pempek
Sumber Gambar: 3.bp.blogspot.com

Bahan-bahan:

– 1 butir telur, ambil putihnya saja
– 500 gram ikan tenggiri, giling halus
– 350 gram tepung sagu
– 1 sdt penyedap rasa jamur
– 1 sdm garam
– 250 ml air
– Telur secukupnya untuk isian
– Air secukupnya untuk merebus

Cara membuat:

– Masukkan daging ikan tenggiri giling ke dalam baskom, kemudian beri putih telur, air, penyedap rasa jamur dan garam, aduk merata.
– Selanjutnya masukkan tepung sagu, aduk kembali sampai rata.
– Ambil 150 gram adonan lalu beri isian 1 butir telur.
– Masukkan adonan yang sudah dibentuk dan diberi isian telur ke dalam air mendidih, masak sampai adonan mengapung.
– Angkat lalu tirsikan.
– Sajikan bersama cuko pempek.

3. Pempek Kulit

Cara Membuat Pempek
Sumber Gambar: ecs7.tokopedia.net

Bahan-bahan:

– 1,5 sdm gula pasir
– 400 gram kulit ikan tenggiri
– 1,5 sdt garam
– 1/2 sdt merica bubuk
– 300 gram tepung sagu/tapioka
– 5 siung bawang putih, haluskan
– 125-150 ml air dingin

Bahan cuko:

– 1 sdt gula pasir
– 1 sdm asam jawa, larutkan dengan sedikit air
– 300 gram gula merah
– 10 buah cabe rawit merah
– 8 siung bawang putih
– 700 ml air
– Garam secukupnya
– Cuka putih secukupnya

Cara membuat:

– Haluskan terlebih dahulu kulit ikan tenggiri menggunakan mesin penggiling.
– Campur dengan bahan-bahan kecuali tepung sagu, aduk sampai rata.
– Setelah itu campurkan tepung sagu sedikit demi sedikit.
– Balurkan sedikit tepung sagu di telapak tangan dan di talenan.
– Ambil adonan sesendok, gulingkan pada talenan kemudian bentuk pipih. Lakukan cara ini sampai adonan habis.
– Goreng menggunakan api kecil hingga sedang. Goreng setelah minyak panas, tujuannya adalah agar adonan tidak menyerap minyak terlalu banyak. Jika masih ada sisa adonan, maka dapat disimpan di chiller.
– Buat sambal cuko dengan cara haluskan cabe rawit dan bawang putih, campurkan dengan garam dan cuka/asam jawa. Diamkan selama 30 menit.
– Masak dengan bahan lainnya selama beberapa saat sampai cuko mendidih dan sedikit mengental.
– Diamkan cuko selama semalam kemudian saring.
– Sajikan empek-empek kulit dengan sambal cuko.

4. Pempek Udang

Cara Membuat Pempek
Sumber Gambar: faktualnews.co

Bahan-bahan:

– 1 butir telur, gunakan putihnya saja
– 500 gram udang giling
– 1 sdm garam
– 350 gram tepung sagu
– 1/4 sdt lada
– 1/2 sdt bawang putih bubuk
– 1/4 sdt penyedap jamur
– 50 ml air
– Air secukupnya untuk merebus

Cara membuat:

– Langkah pertama adalah dengan memasukkan udang giling ke dalam baskom, setelah itu masukkan putih telur dan air, aduk rata.
– Tambahkan gula, lada, garam, bawang putih bubuk dan juga penyedap jamur secukupnya, aduk hingga rata.
– Ambil adonan lalu bentuk memanjang, sisihkan.
– Siapkan air bersih untuk merebus, masak sampai mendidih lalu masukkan adonan yang telah dibentuk, masak sampai adonan mengapung dan matang.
– Angkat kemudian tiriskan.
– Sajikan menggunakan saus cuko merah.

5. Pempek Lenggang Panggang

Cara Membuat Pempek
Sumber Gambar: pempeklince.com

Bahan-bahan:

– 300 gram ikan tenggiri
– 75 cc air es
– 1 sdm tepung terigu
– 150 gram tepung sagu
– 1 sdm saus tiram
– 2 siung bawang putih
– 1 sdt garam
– Saus cabe secukupnya

Cara membuat:

– Ambil daging ikan tenggiri menggunakan sendok, pisahkan bagian kulit dan dagingnya.
– Setelah itu haluskan daging menggunakan food processor sampai benar-benar halus dan lembut.
– Beri air es, garam dan juga saus tiram sembari terus diaduk.
– Tuangkan tepung sagu sedikit demi sedikit, uleni sampai adonan tidak lengket di tangan.
– Jika adonan masih terlalu keras dan susah dibentuk, maka dapat menambahkan daging ikan, aduk kembali sampai rata kemudian uleni sampai kalis dan dapat dibentuk.
– Lumuri tangan dengan tepung sagu, bentuk adonan bulat pipih.
– Panggang di atas teflon menggunakan api kecil hingga matang.
– Belah bagian tengah adonan kemudian isi dengan saus cabe.
– Sajikan selagi hangat.

Demikianlah resep dan cara membuat pempek Palembang yang enak, empuk, gurih dan mudah dibuat di rumah. Semoga dapat menjadi referensi. Selamat mencoba di rumah ya!

Cara Membuat Nugget

Cara Membuat Nugget

Cara Membuat Nugget – Nugget merupakan salah satu makanan ringan yang terbuat dari olahan daging giling yang dicetak dalam bentuk potongan kecil yang dilapisi dengan tepung roti.

Sama seperti halnya mi instan, nugget juga termasuk ke dalam makanan cepat saji yang dapat dengan mudah ditemukan di mini market-mini market yang terdapat di sekitar kita.

Biasanya makanan ringan ini dipasarkan setengah matang lalu dibekukkan untuk mempertahankan mutu serta menjadi pengawet alami agar mampu bertahan dalam waktu yang cukup lama.

7 Cara Membuat Nugget Rumahan yang Enak, Sederhana, dan Mudah Dibuat

Saat ini, banyak produsen-produsen besar yang memproduksi nugget dengan menggunakan bahan berbagai macam bahan dasar seperti daging ayam, daging sapi, ikan laut, dan sayuran.

Hal ini menjadikan nugget mempunyai rasa yang tidak hanya enak namun juga menyehatkan. Selain dijual di pasaran, ternyata makanan ringan juga dapat dengan mudah dibuat di rumah lho seperti halnya cara membuat bubur sumsum.

Kamu penasaran bagaimana caranya dalam membuat nugget? Berikut adalah 7 cara membuat nugget rumahan yang enak, sederhana, dan mudah dibuat.

1. Nugget Ayam

Cara Membuat Nugget
Sumber Gambar: www.makanabis.com

Bahan-bahan:

– 300 gram daging ayam (fillet paha), giling halus
– 100 gram tepung roti
– 100 gram tepung terigu
– 1 sdt kaldu bubuk
– 3 butir telur ayam
– 1 sdt merica bubuk
– 1 sdt gula
– 2 siung bawang putih, haluskan
– 1 sdt garam

Cara pembuatan:

– Ambil 2 butir telur kemudian kocok lepas, setelah itu masukkan bawang putih yang sebelumnya telah dihaluskan, kemudian masukkan juga gula, garam, merica, dan kaldu bubuk. Kocok kembali hingga semua bahan tercampur rata.
– Selanjutnya tuang tepung terigu pada wadah kemudian campur dengan kocokan telur tadi.
– Setelah itu masukkan daging ayam giling, aduk kembali hingga rata.
– Bentuk adonan sesuai yang diinginkan.
– Jika adonan telah dicetak atau dibentuk, selanjutnya adalah kukus adonan selama 15 menit.
– Sambil menunggu adonan yang sedang dikukus, tuang tepung roti ke dalam wadah kemudian siapkan nampan kosong.
– Kocok 1 butir telur.
– Setelah 15 menit, angkat adonan yang telah dikukus lalu diamkan dengan suhu ruangan selama 10 menit.
– Langkah selanjutnya adalah masukkan ke dalam kocokan telur kemudian baluri dengan tepung roti hingga menutupi seluruh bagian nugget.
– Taruh nugget yang telah dibaluri tepung roti ke dalam nampan kemudian kukus kembali selama 20 menit agar tepung roti menempel dengan sempurna.
– Jika telah jadi, selanjutnya adalah menggoreng nugget menggunakan minyak goreng.
– Goreng hingga berubah warna menjadi kuning keemasan.
– Tambahkan saus tomat dan sajikan selagi masih hangat.

2. Nugget Daging

Cara Membuat Nugget
Sumber Gambar: i1.wp.com

Bahan-bahan:

– 250 gram daging sapi, giling halus
– 250 gram daging ayam, giling halus
– 2 butir telur ayam
– 50 gram tepung roti
– 50 gram tepung tapioka
– 1/2 buah bawang bombai, cincang halus
– 1 buah wortel, iris halus
– 1 batang daun bawang, iris halus
– 1/2 sdt gula pasir
– 1 sachet penyedap rasa sapi
– 1 sdm saus tiram
– Garam secukupnya

Bahan celup:

– Tepung roti secukupnya
– 2 butir putih telur, kocok lepas
– Minyak goreng secukupnya

Bumbu halus:

– 1 sdt merica
– 3 siung bawang putih

Cara pembuatan:

– Langkah pertama adalah masukkan semua bahan ke dalam wadah besar.
– Beri bumbu halus kemudian aduk hingga tercampur rata.
– Siapkan loyang yang sebelumnya telah diolesi dengan minyak.
– Setelah itu masukkan adonan ke dalam loyang lalu ratakan.
– Kukus adonan selama 45 menit.
– Setelah 45 menit, keluarkan adonan lalu tunggu hingga dingin.
– Potong adonan sesuai selera.
– Masukkan potongan adonan ke dalam wadah yang berisi putih telur.
– Pindahkan potongan adonan nugget ke dalam wadah yang berisi tepung roti, guling-gulingkan hingga tercampur rata kemudian simpan adonan ke dalam kulkas selama 15 menit.
– Panaskan minyak goreng lalu goreng hingga matang.

3. Nugget Ikan Tenggiri

Cara Membuat Nugget
Sumber Gambar: i.ytimg.com

Bahan-bahan:

– 200 gram daging ikan tenggiri non duri, giling halus
– 50 gram tepung terigu
– 100 gram tepung roti
– 1 sdt garam
– 2 butir telur ayam
– 1 sdt merica
– 2 siung bawang putih, haluskan
– 1 sdt gula
– 1 sdt kaldu bubuk

Cara pembuatan:

– Kocok 1 butir telur, masukkan bawang putih, gula, garam, merica, dan kaldu bubuk, kocok sampai rata.
– Tuangkan tepung terigu ke dalam wadah kemudian campur dengan kocokan telur pertama.
– Masukkan daging ikan tenggiri giling, aduk rata.
– Setelah itu masukkan adonan ke dalam loyang yang telah diolesi dengan minyak.
– Kukus adonan selama 15 menit.
– Sembari menunggu adonan yang di kukus, tuang tepung roti ke dalam wadah lalu siapkan nampan kosong.
– Siapkan juga 1 butir telur kemudian kocok lepas.
– Setelah 15 menit, angkat lalu diamkan dengan suhu ruangan selama 10 menit.
– Potong-potong adonan sesuai selera.
– Masukkan adonan yang telah dipotong-potong ke dalam kocokan telur, selanjutnya masukkan ke dalam tepung roti hingga seluruh bagiannya terbalut sempurna.
– Taruh nugget pada loyang kemudian masukkan ke dalam kulkas selama 20 menit, tujuannya adalah agar tepung roti menempel sempurna.
– Panaskan minyak goreng kemudian goreng hingga matang.

Baca Juga: Cara Membuat Martabak Telur

4. Nugget Wortel Keju

Cara Membuat Nugget
Sumber Gambar: www.satu-indonesia.com

Bahan-bahan:

– 1 butir telur
– 4 buah tahu putih
– 1 buah wortel impor
– 50 gram keju parut
– Penyedap rasa secukupnya
– Lada secukupnya
– Tepung panir dan tepung terigu secukupnya
– Garam secukupnya

Cara pembuatan:

– Blender wortel, tahu, telur, dan keju. Tambahkan penyedap rasa, lada, dan garam.
– Tuangkan adonan pada loyang lalu kukus selama 15-20 menit.
– Jika telah matang, angkat lalu dinginkan.
– Setelah dingin, potong-potong sesuai selera.
– Adon tepung terigu, perhatikan kekentalannya.
– Celupkan potongan adonan pada tepung terigu kemudian gulingkan nugget di tepung panir.
– Masukkan adonan ke dalam kulkas.
– Goreng menggunakan minyak panas.
– Sajikan.

5. Nugget Ayam Sayur

Cara Membuat Nugget
Sumber Gambar: resepimasakan.net

Bahan-bahan:

– 300 gram daging ayam (fillet paha), giling halus
– 1 buah wortel, parut kasar
– 3 butir telur ayam
– 2 batang daun bawang, iris halus
– 2 siung bawang putih, haluskan
– 100 gram tepung roti
– 100 gram tepung terigu
– Garam, kaldu bubuk, gula, merica (masing-masing 1 sdt)

Cara pembuatan:

– Kocok terlebih dahulu 2 butir telur, setelah itu masukkan bawang putih yang telah dihaluskan,masukkan juga garam, gula, kaldu bubuk, dan juga merica. Kocok sampai merata.
– Tuangkan tepung terigu pada wadah kemudian campur dengan kocokan telur pertama.
– Masukkan juga daging ayam yang sudah digiling, wortel, dan daun bawang, aduk rata.
– Bentuk adonan sesuai selera namun perhatikan ukurannya, jangan terlalu besar karena dapat mengakibatkan nugget tidak matang sempurna.
– Jika adonan telah dibentuk, selanjutnya adalah kukus adonan selama 15 menit.
– Sambil menunggu adonan yang dikukus, tuangkan tepung roti ke dalam wadah lalu siapkan nampan kosong.
– Siapkan sisa 1 butir telur, kocok.
– Angkat lalu diamkan dengan suhu ruangan selama 10 menit.
– Setelah dingin, masukkan nugget ke dalam kocokan telur kemudian masukkan nugget ke dalam tepung roti sampai terbalut semua.
– Langkah selanjutnya adalah masukkan nugget yang telah dibaluri tepung roti ke dalam kulkas selama 20 menit, tujuannya adalah agar tepung roti menempel sempurna.
– Jika sudah, panaskan minyak goreng lalu goreng hingga berwarna kuning keemasan.

6. Nugget Tahu

Cara Membuat Nugget
Sumber Gambar: www.royco.co.id

Bahan-bahan:

– 1 batang bawang prei
– 3 buah tahu
– 50 gram tepung terigu
– 2 bawang putih, haluskan
– Tepung panir secukupnya
– Garam dan lada secukupnya

Cara pembuatan:

– Hancurkan tahu terlebih dahulu lalu tambahkan tepung terigu, tambahkan juga bawang putih halus, lada, garam, dan bawang prei yang telah di potong halus.
– Setelah tercampur rata dan rasanya pas, bentuk sesuai selera lalu balurkan ke tepung panir.
– Jika semuanya telah terbentuk, simpan di kulkas selama 2 jam.
– Goreng hingga matang.
– Sajikan.

Baca Juga: Cara Membuat Martabak Manis

7. Nugget Tempe

Cara Membuat Nugget
Sumber Gambar: tukangreview.com

Bahan-bahan:

– 500 gram tempe, kukus
– 2 butir telur ayam
– 1 batang bawang polong, cincang halus
– 1/2 sdt merica bubuk
– 3 siung bawang putih, haluskan
– 3 siung bawang merah, haluskan
– 1 batang seledri, cincang halus
– Tepung roti secukupnya
– Garam secukupnya

Cara pembuatan:

– Haluskan tempe yang telah dikukus kemudian campur dengan bumbu halus, telur, dan tepung roti.
– Setelah itu, tambahkan merica bubuk, bawang polong, seledri, dan garam.
– Aduk semua bahan hingga tercampur rata.
– Siapkan loyang yang sudah dioles dengan minyak kemudian masukkan adonan ke dalamnya.
– Kukus sekitar 35 menit hingga matang.

Nah, itulah 7 cara membuat nugget rumahan yang enak, sederhana, dan mudah dibuat. Selamat mencoba ya!

Cara Membuat Bubur Sumsum

Cara Membuat Bubur Sumsum

Cara Membuat Bubur Sumsum – Bubur sumsum merupakan salah satu kuliner khas Nusantara yang dapat dengan mudah dijumpai di pasar-pasar tradisional di Indonesia. Kuliner yang memiliki rasa manis ini sangat identik sebagai hidangan takjil pada saat bulan puasa.

Selain itu, banyak orang yang menjadikan bubur ini sebagai menu sarapan yang praktis dan mudah di dapatkan karena biasanya banyak pedagang keliling yang menjajakannya pada pagi hari.

Meskipun terlihat sederhana, namun dalam cara membuat bubur yang unik ini juga harus memperhatikan bahan yang digunakan agar teksturnya lembut secara merata.

5 Cara Membuat Bubur Sumsum Enak, Gurih, dan Lembut

Seperti halnya cara memasak cumi, selain memperhatikan bahan yang digunakan, dalam membuat bubur jenis ini juga membutuhkan cara yang tidak asal-asalan agar hasilnya enak seperti yang diinginkan.

Penasaran bagaimana caranya membuat bubur yang satu ini? Berikut kami telah merangkum 5 cara membuat bubur sumsum enak, gurih, dan lembut serta mudah yang dapat kamu pratikkan di rumah.

1. Bubur Sumsum Pandan

Cara Membuat Bubur Sumsum
Sumber Gambar: s3.bukalapak.com

Bahan-bahan:

– 20 lembar daun pandan
– 300 gram tepung beras
– 2 liter air
– 3 sdm gula pasir
– 3 sdm garam
– 5 bungkus santan kara

Bahan kuah:

– 1 sdt vanili
– 250 gram gula merah
– 500 ml air

Cara membuat:

– Potong-potong kasar daun pandan kemudian blender dengan 250 ml air, diambil dari 2 liter air yang telah disiapkan.
– Setelah di blender, saring semuanya sampai habis (jangan diperas karena hasilnya akan menjadi pahit)
– Tuangkan tepung beras ke dalam panci, tambahkan sisa air, jus pandan, santan, garam, dan gula. Aduk merata menggunakan baloon whisk.
– Nyalakan api lalu masak hingga meletup-letup sambil terus diaduk agar tidak gosong dan santan tidak pecah.
– Jika bubur sumsum telah matang, selanjutnya adalah membuat kuah gula merah.
– Masukkan semua bahan kuah ke dalam panci, beri sedikit daun pandan agar aromanya harum, aduk sampai mendidih.
– Matikan api, saring kuah yang telah mendidih dan matang.
– Sajikan bubur sumsum pandan menggunakan wadah.
– Siram dengan kuah yang telah di buat lalu sajikan.

Baca Juga: Resep Pepes Ikan

2. Bubur Sumsum Mutiara

Cara Membuat Bubur Sumsum
Sumber Gambar: resepimasakan.net

Bahan-bahan:

– 1 sdt garam
– 100 gram tepung beras
– 200 gram sagu mutiara
– 6 lembar daun pandan
– 850 ml santan
– Gula merah, secukupnya

Cara membuat:

– Langkah pertama adalah siapkan 650 ml santan, bagi ke dalam dua gelas.
– Rebus satu gelas santan dengan 5 lembar daun pandan, gunakan api kecil agar tidak gosong. Jangan lupa aduk-aduk supaya santan tidak pecah.
– Ambil sisa satu gelas santan lalu tuangkan secara perlahan pada tepung beras, aduk agar adonan tidak menggumpal.
– Tambahkan 1 sdt garam ke dalam adonan.
– Setelah itu, masukkan adonan ke dalam santan yang sedang direbus, aduk sampai tercampur rata dan tidak menggumpal.
– Jika semuanya telah tercampur rata dan matang, matikan api.
– Buat juga bahan kuah dengan cara cincang gula merah kemudian masak menggunakan api kecil, masukkan selembar daun pandan lalu tambahkan air secukupnya, aduk hingga gula larut.
– Rebus sisa santan 200 ml untuk dijadikan sebagai kuah putih.
– Kemudian rebus juga air hingga mendidih, lalu masukkan mutiara.
– Tunggu sampai mutiara mengental dan berubah warna.
– Sajikan bubur sumsum dengan cara ambil bubur dan mutiaranya terlebih dahulu kemudian tuang gula merah dan kuah santan.
– Bubur sumsum mutiara siap disajikan.

3. Bubur Sumsum Nangka

Cara Membuat Bubur Sumsum
Sumber Gambar: makramos.files.wordpress.com

Bahan-bahan:

– 1/2 sdt garam
– 1 lembar daun pandan
– 6 cup air
– 1 cup tepung beras

Bahan topping:

– 1,5 bumbung gula jawa/merah
– 1 lembar daun pandan
– 4 buah nangka
– 1 cup air

Cara membuat:

– Larutkan terlebih dahulu tepung beras, 6 cup air, santan, dan garam.
– Masak bubur sumsum hingga mengental dan meletup, jangan lupa masukkan juga daun pandan. Dalam memasak bubur, usahakan untuk terus diaduk agar santan tidak pecah.
– Jika telah matang, angkat bubur lalu masukkan ke dalam wadah, tunggu hingga dingin.
– Buat topingan dengan cara potong-potong buah nangka dan gula jawa.
– Panaskan air secukupnya kemudian masukkan potongan gula jawa, nangka, dan daun pandan. Masak hingga mendidih dan gula larut. Angkat dan dinginkan.
– Sajikan bubur sumsum dengan disiram kuah toping gula jawa dan buah nangka di atasnya.

4. Bubur Sumsum Sederhana

Cara Membuat Bubur Sumsum
Sumber Gambar: resepkoki.id

Bahan-bahan:

– 800 ml santan
– 100 gram tepung beras
– 6 lembar daun pandan
– 1 sdt garam
– Gula merah, secukupnya

Cara membuat:

– Siapkan santan sebanyak 650 ml kemudian bagi menjadi 2 gelas.
– Rebus 1 gelas santan dan tambahkan 5 lembar daun pandan menggunakan api kecil, jangan lupa terus diaduk.
– Setelah itu ambil 1 gelas santan lainnya kemudian tuangkan ke dalam tepung beras sembari terus diaduk agar tidak menggumpal.
– Tambahkan juga 1 sdt garam kemudian masukkan adonan ke dalam santan yang telah direbus. Aduk terus agar adonan tidak menggumpal.
– Jika semuanya telah tercampur rata, matikan api dan angkat.
– Buat kuah dengan cara potong-potong gula merah lalu rebus dengan api kecil.
– Masukkan daun Pandan ke dalam rebusan gula merah, aduk sampai rata kemudian angkat.
– Rebus sisa santan 200 ml tadi untuk dijadikan sebagai kuah.
– Dalam menyajikan bubur sumsum adalah dengan cara tuangkan bubur sumsum ke dalam wadah kemudian beri kuah yang telah dibuat tadi.

Baca Juga: Resep Tempe Mendoan

5. Bubur Sumsum Candil

Cara Membuat Bubur Sumsum
Sumber Gambar: img.qraved.co

Bahan sumsum:

– 6 lembar daun pandan
– 100 gram tepung beras
– 650 ml santan
– 1 sdt garam

Bahan candil:

– 300 cc santan
– 250 gram gula merah, potong-potong
– 300 gram tepung ketan
– 400 cc air
– 300 gram kacang tanah, sangrai
– 50 gram nangka, potong-potong
– 2 lembar daun pandan

Cara membuat bubur sumsum:

– Siapkan 650 ml santan, bagi menjadi 2 gelas.
– Rebus 1 gelas santan dengan 5 lembar daun pandan, gunakan api kecil dan aduk terus agar santan tidak pecah.
– Ambil kembali 1 gelas santan kemudian tuangkan secara perlahan pada tepung beras, aduk terus agar tidak menggumpal.
– Tambahkan 1 sdt garam kemudian masukkan adonan ke dalam santan yang sedang direbus, aduk kembali hingga tercampur rata.
– Jika semuanya telah tercampur dan matang, matikan api dan angkat.

Cara membuat candil:

– Siapkan wadah, masukkan tepung ketan kemudian tuang santan sedikit demi sedikit sambil diaduk.
– Setelah tercampur rata, bentuk adonan sebesar kelereng lalu isi adonan yang sudah dibentuk dengan kacang tanah kemudian bulatkan lagi.
– Rebus air hingga mendidih.
– Masukkan candil ke dalam air mendidih, tunggu hingga candil mengapung.
– Tiriskan candil lalu rendam kembali menggunakan air matang.
– Langkah selanjutnya adalah rebus 400 cc air dengan gula merah dan juga daun pandan, aduk sampai larut lalu angkat dan saring.
– Rebus kembali dengan cara masukkan candil dan buah nangka, rebus sebentar saja.
– Sajikan bubur sumsum dengan toppingan candil yang sudah dibuat.

Dengan bentuknya yang menarik dan rasanya yang nikmat menjadikan bubur ini sangat menggoda selera sehingga banyak digemari oleh orang-orang. Setelah mengetahui cara membuat bubur sumsum, maka saat ini kamu pasti bisa membuatnya di rumah. Semoga bermanfaat.